Senin, 19 Februari 2018
Pencarian


Jumat, 03 November 2017 07:21 WIB

Ideologi Roman Silat: Kenangan Warisan Kultural Tionghoa

Reporter :
Kategori : Oase

Ilustrasi: Adegan Pendekar Silat. Sumber: djarumfoundation

Oleh: Saiful Hakam*

Relasi antara Kebatinan Jawa dan Tradisi Tionghoa begitu kuat.  Bahkan boleh dibilang begitu lazim. Di Jawa terdapat beberapa sinkretisme yang sangat terbatas, baik dari segi waktu maupun dari segi ruang. Kemungkinan besar yang lebih mengakar kuat adalah penyebarluasan ideologi silat.



Ideologi ini pada akhirnya meresap dan berpengaruh pada pubik secara luas. Yang menarik, pengetahuan tentang silat bermanfaat untuk memahami mentalitas kontemporer. Ini hampir sama pentingnya dengan pengetahuan klasik tentang wayang yang bermanfaat untuk melihat mentalitas dan perilaku politik masyarakat Jawa di masa kini dan di masa silam.

Istilah Silat, terutama mengacu pada himpunan teknik bela diri. Artinya, seni bela diri sekaligus filsafat. Silat dapat dikatakan padanan Jawa untuk kungfu Tiongkok. Citra klasik silat adalah gambaran seorang guru sepuh namun tetap awet muda. Ia mengasingkan diri jauh dari dunia ramai ke suatu pertapaan atau pesantren, sambil mengajarkan jurus-jurus kepada kelompok kecil murid yang sangat ingin belajar mengendalikan diri dan mendalami ilmu kebal.

Setiap guru mempunyai reputasi sendiri. Pun setiap perguruan memiliki tradisi sendiri. Walaupun tidak sampai membentuk perhimpunan rahasia yang sebenarnya, para anggota satu perguruan merasa dipersatukan oleh persamaan nasib. Tak satu pun alasan dapat menghalangi mereka melakukan kewajiban sebagai bukti kesetiaan yang mengingat mereka pada guru dan rekan seperguruan.

Meskipun dibentuk di luar sistem sosial mana pun, kelompok-kelompok itu terlibat dalam perjuangan nasib dunia. Oleh karena itu, cukup banyak kelompok persilatan yang berperan serta dalam pemberontakan pada abad ke-19 dan ke-20.

Tentu saja sangat sulit mengetahui jumlah dan peran perguruan silat itu. Namun perlu dicatat bahwa sejak hampir seabad, dunia persilatan telah mengilhami karya sastra yang sangat melimpah, yang sebagian berupa terjemahan dari pelbagai roman silat Tiongkok.

Menarik untuk dicermati bahwa karya itu menampilkan cita-cita atau ide-ide khas Tiongkok. Setelah penerjemahan pertama, karya-karya asli segera muncul dan ditulis langsung dalam Bahasa Melayu oleh para penulis peranakan. Para pengarang itu begitu antusias dan sangat ingin menjawab permintaan pasar. Dan, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa di masa lalu terdapat ribuan cerita silat Tiongkok bersambung melalui pelbagai fiksinya.

Tak syak, cerita-cerita silat itu menghembuskan suatu ideologi kemandirian, kepercayaan diri, dan anarkisme, yang sejak Perang Dunia Kedua kecenderungan itu semakin tampak. Bahkan media massa yang baru, yaitu film dan komik melanjutkan penyebaran cerita silat tersebut.

Dalam kaitan itu, di antara pengarang zaman sekarang, yang selain berusaha meng-indonesia-kan cerita-ceritanya dengan menghapus berbagai acuan Tiongkok yang sebelumnya lazim, berbeda di masa lalu, yang masih didapati pengarang-pengarang peranakan, seperti Gan K.L. dan terutama penulis silat Asmaraman-Kho Ping Ho, serta Ganes, pengarang komik.

Jelas bahwa sejak lama pengaruh dunia silat tidak hanya terbatas pada ruang terkungkung kaum minoritas Tionghoa. Pada era 1970-an dan 1980-an hampir semua remaja kota cenderung menggemari cerita silat. Nama Kho Ping Ho, untuk menyebut salah satu contoh, begitu masyhur di kalangan remaja kota.

Jadi perlu ditegaskan peran warisan Tionghoa itu merupakan warisan yang agak khas.  Meskipun tidak mudah meringkas di dalam beberapa baris isi dari korpus yang monumental itu, secara umum dapat dikemukakan bahwa dunia yang tercermin dari cerita silat sama sekali tidak menentramkan. Dalam makna lain, kebatilan merajalela di mana-mana. Kebajikan hanya dapat meminta bantuan dari kekuatannya sendiri.

Sebenarnya, berbeda dengan apa yang kita dapati di dalam cerita detektif Inggris dan Amerika, di dalam cerita silat tidak ada kekuatan pusat, tidak ada negara, tidak ada polisi, tidak ada keadilan yang tertata. Orang-orang jujur sibuk dengan urusan sehari-hari di Desanya atau, di kampungnya terus-menerus dipermainkan oleh bandit-bandit dari daerah sekitar. Para Bandit itu menguasai gunung dan hutan. Mereka dari waktu ke waktu keluar untuk menjarah dan memeras warga Desa dan kampung. Dalam cerita silat dunia itu digambarkan dengan sangat pesimis.

Untungnya, dalam keadaaan demikian itu, muncul beberapa insan pilihan. Yaitu, para pendekar yang hidup mengembara,  soliter, atau kesendirian. Berkat bertapa dan meditasi yang diterapkan dengan sungguh-sungguh mereka memiliki kesaktian. Pun berkat teknik silatnya, mereka berhasil mematahkan untuk sementara jalinan kekuatan jahat. Tak syak, mereka dapat memberi keamanan kepada kaum yang tertindas.

Berdasarkan tema dan alur cerita demikian itu disusun episode yang banyak jumlahnya. Tiap episode menyentuh perasaan atau sekedar menunjukkan kekejaman yang berhasil mematahkan keseharian. Namun yang penting adalah pandangan dunia yan dicerminkan dan disebarluaskannya.  

Di antara dua cakrawala yang membatasi suatu masyarakat yang terjepit itu, ada jalan setapak yang tidak aman serta hutan rimba yang mengancam. Satu-satunya jalan keluar yang memungkinkan adalah bepergian, mengembara, dan berpetualang seorang diri. Bahkan cerita silat jarang berbicara tentang tokoh yang berumah tangga tetap.

Hal itu lebih tepat menggambarkan bahwa kehidupan sebagai petualang dengan segala gangguan yang diakibatkannya adalah kesemestian.  Dalam makna lain, manusia melepaskan diri dari beban ruang dan mendaki jariangan yang lebih tinggi itu yang memungkinkannya melakukan kebajikan sampai akhirnya menemukan rahasianya (M. Bonneff, 1976)

Demikian, cerita silat memang agak mirip dengan tema kuno pembela keadilan yang tejadi di masa silam dan di tempat lain, seperti para Penjahat di Hutan Sherwood atau Bandit dermawan di rawa Liangshan (James J.Y. Liu, 1967; Tjioe Khing Soei, Hikajat garoeda mas Loow Djeng Tie, 1930).

Namun di dalam cerita silat tema itu mendapat warna yang khas. Pahlawan pembela keadilan di dalam cerita silat lazimnya bergerak sendirian. Ia tidak pernah memikirkan tatanan politik yang lebih tinggi, seorang Kaisar di Negeri Tiongkok. Atau, tatanan politik yang dijaga oleh korps polisi dan korps birokrat dalam tatanan negara birokrasi. Dan, satu-satunya kekuasaan yang harus dihormati adalah otoritas Sang Guru yang mengajarkan kepada tokoh utama kekuatan kanuragan itu.

*Penulis merupakan peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Meminati kajian sejarah, budaya dan lintas Agama. 


Tag : #Silat #Kungfu #Bandit #Pluralitas Budaya #Tionghoa #Jawa #Kebatinan #Sinkretisme



Berita Terbaru

 

Senin, 19 Februari 2018 18:13 WIB

Rampok Beraksi, Uang 500 Juta dari Bank Raib


Kajanglako.com. Bungo - Aksi perampokan kali ini memang tergolong nekat. Hanya mengendarai motor, mereka beraksi di siang bolong. Tidak tanggung-tanggung,

 

Dinamika Sejarah Jambi
Senin, 19 Februari 2018 18:05 WIB

Kesultanan Jambi dalam Genggaman VOC


Oleh: Hartono Margono* Sungai Batanghari merupakan sungai yang terkenal di wilayah Jambi. Sungai ini merupakan sungai yang bermuara di selat Pulau Berhala

 

Senin, 19 Februari 2018 17:17 WIB

Sebelum ke Dharmasraya, Tiga Orang Terduga Teroris Dibawa ke Masjid Al Furqon Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Tiga orang terduga pelaku pembakaran Mapolres Dharmasraya beberap waktu yang lalu, hari ini mendarat di Bandara Muara Bungo menggunakan

 

Senin, 19 Februari 2018 16:16 WIB

Demo di Kantor Bupati, Mahasiswa Sampaikan Langsung Tuntutannya ke Romi


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Puluhan mahasiswa yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Tanjab Timur Bersatu dari berbagai kampus perguruan tinggi

 

Senin, 19 Februari 2018 15:59 WIB

Pasca Penipuan Berkedok Travel Umroh, Kakanwil Kemenag Cek Pembuatan Paspor di Imigrasi


Kajanglako.com, Kota Jambi - Pasca penipuan biro perjalanan travel umroh yang terjadi pada puluhan masyarakat Kota Jambi beberapa waktu lalu, Kepala Kantor