Kamis, 12 Desember 2019


Sabtu, 28 September 2019 08:08 WIB

Dari Boeloeh Kasab dan Padang Ajer Dingin ke Loeboe Melaka

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Pk 8.45 pagi. Sebuah jembatan rotan terbentang di atas Soengei Liki. Jembatan serupa dengan jembatan yang ada di  Moeara Laboeh. Namun, karena kuda-kuda yang ditunggangi tidak dapat berjalan di rotan-rotan jembatan itu, mereka terpaksa turun dan menuntun binatang-binatang itu menyeberang sungai.



Untung saja, air sungai tidak terlalu tinggi. Pun pada waktu surut, kedalaman sungai itu satu meter dan arusnya deras. Di seberang, di tepian kiri, jalan yang diikuti melewati ladang-ladang yang hampir saja bersemi. Ladang-ladang itu tampak tidak dirawat dengan baik. Rumput liar atau gulma tidak dibersihkan sehingga tumbuh hampir setinggi batang padi di sana.

Mereka melewati negari Kota Rembah yang tidak banyak berbeda keadaannya dengan Doerian Taroeng dan Loeboe Gedang. Rumah-rumah warganya tampak tak terawat. Hanya ada beberapa rumah saja yang dindingnya dihiasi ukiran. Selain jagung, halaman rumah-rumah itu ditanami aneka pohon buah seperti durian, manggis, jeruk asam, cubadak, kelapa, pinang dan ambacang.

Sebagian besar sawah di tepian kiri Soengei Liki tidak diolah dan dibiarkan sebagai tempat sapi dan kerbau merumput. Sisanya ditanami, tetapi tidak teratur. Sementara tanaman biji-bijian di lahan yang satu sudah mulai berkembang, di lahan lainnya orang baru mulai menyemai bibit. Sawah yang diolah dilingkungi oleh pagar kokoh yang terbuat dari kayu dan bambu.

Padang Maliau adalah dataran yang terletak di luar negari, di dekat tepian sungai yang bernama sama. Air sungai ini menyatu dengan aliran Soengei Sangir, setelah menyerap air Liki. Dataran ini ditumbuhi oleh semak-belukar rendah dan ilalang. Pk 09.45, mereka menyeberangi Soengei Maliau. Tak banyak airnya. Lembah tempat mereka berada semakin semakin dan bukit-bukit kedua sisi sungai itu semakin mendekati Soengei Sangir. Jalan yang tadi menanjak curam, kini turun—curam pula. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di Boeloeh Kasab. Lembah itu tampak melebar lagi.

Boeloeh Kasab terletak di dataran yang terbentang luas. Seorang lelaki dewasa memerlukan waktu selama 35 menit untuk menjalani panjangnya dan kira-kira 10 menit untuk menjalani lebarnya. Menurut Penghoeloe Kapala, dataran itu merupakan gelanggang gajah, yaitu tempat kawanan gajah berkumpul. Sekarang sebagian dataran itu diolah sebagai sawah dan sisanya ditumbuhi ilalang. Semak-belukar tumbuh di pinggiran dataran terbuka itu. Di sana-sini, tampak beberapa pohon djaring (maksudnya, jering-- Pithecolobium) dan durian.

Pondok-pondok kayu yang sederhana dibangun bersandar pada beberapa pohon. Pondok-pondok itu ditempatkan 3 atau 4 meter di atas tanah. Pada ketinggian itu, gembala sapi dan kerbau dapat leluasa mengawasi ternaknya dan aman pula dari ancaman sergapan harimau. Ladang-ladang di sini hanya diolah sebagian saja. Seperti juga yang seringkali tampak di tempat lain, gulma—semacam tanaman gandum yang disebut andjalei--tumbuh di antara tanaman padi dan  tidak dibersihkan.

Melalui jalan berlumpur yang melewati persawahan, mereka tiba di Soengei Sangir setelah menyeberangi Batang Simpirie, perbatasan di antaraLoeboe Gedang dan Loeboe Melaka. Sebuah jembatan terbentang di atas sungai itu. Bagi para kuli dan kuda-kuda, jembatan gantung yang bergoyang-goyang oleh setiap langkah di atasnya, tidak cocok dipakai menyeberang. Lagipula, jembatan itu digantungkan teramat tinggi supaya tidak diterjang banjir air sungai. Semua orang yang hendak menyeberangi jembatan itu terpaksa memanjat tangga yang tersedia untuk mencapai jembatan itu.

Di seberang, tertambat sebuah rakit yang kokoh. Tetapi, tak ada orang yang dapat menyeberangkan rakit itu. Mereka berteriak-teriak. Suara mereka terpantul dan menghilang di antara pepohonan. Akhirnya, setelah hampir serak berteriak, beberapa orang lelaki muncul di seberang. Melihat kuda-kuda yang menunggu diseberangkan, mereka menggelengkan kepala. Rupanya lelaki-lelaki gagah itu takut melihat kuda!

Tanpa banyak bicara, van Hasselt memanjat tangga jembatan dan berhati-hati menyeberang di atas jembatan yang bergoyang-goyang hebat oleh langkah-langkahnya. Di seberang, ia meneruskan langkah ke rumah-rumah di Padang Ajer Dingin. Untunglah ia berhasil membujuk beberapa lelaki lain untuk membantunya menyeberangkan rakit di sungai. Dengan bantuan warga negari itu, seluruh rombongan berhasil  menyeberang dengan selamat.

Sementara menunggu van Hasselt kembali, tim penjelajahan itu dikejutkan oleh kedatangan Mantri Kopi Abei. Ia diiringi oleh kepala laras Abei. Penampilan Mantri Kopi itu mencengangkan para penjelajah itu. Lelaki itu mengenakan pakaian tradisional yang mewah ditambah dengan embel-embel yang jelas berasal dari perlengkapan pakaian Eropa. Barangkali hal itu dilakukannya untuk menunjukkan statusnya yang tinggi. Tampaknya, hal itu berhasil dilakukannya. Walaupun para penjelajah Belanda itu tersenyum geli melihat pakaiannya, warga tempatnya tinggal terkesan sekali dengan penampilannya. Pun, kapala laras yang mengiringinya tertunduk-tunduk menghormatinya.

Dengan gaya seorang ahli, ia menceritakan cara berkebun kopi: bagaimana menanamnya, memangkasnya, memetiknya dan mengeringkan biji-biji kopi itu. Mendengar uraiannya, orang akan yakin bahwa ia sendiri (pernah) mengerjakannya. Barang dan perbekalan yang dibawanya untuk perjalanannya juga mencengangkan. Mantri Kopi itu membawa teko teh dari Cina. Teko itu terbungkus di dalam keranjang berlapis kapuk agar teh di dalamnya tetap panas. Selain itu, enam orang kuli membawa barang-barang lainnya: keranjang berisi bantal-bantal empuk, peti berisi pakaian dan barang-barang pecah-belah. Seekor kuda menutup barisannya. Bukan main. Tentulah, Toeankoe dari Abei, Jang di pertoean Bagindo Pajoeng Poetih bukanlah lelaki yang miskin!

Di Padang Ajer Dingin, mereka beristirahat dan menyegarkan diri dengan minuman air kelapa. Penghoeloe Laras dan Kapala Laras yang mengiringi Mantri Kopi Abei sibuk mencari orang untuk membawa barang-barang bawaan pejabat itu. Tampaknya tak banyak orang yang bersedia menjadi kuli untuknya. Melihat itu, Van Hasselt teringat pada cerita yang didengarnya di Moeara Laboeh. Di sana, dua orang mantri datang menghadap ke Kontrolir untuk menanyakan perihal rumah untuk mereka berdinas. Supaya tidak berhutang budi, kedua mantri itu tidak ingin meminta bantuan dari kepala-kepala adat setempat.

Setengah jam kemudian, mereka memulai perjalanan lagi—menunggang kuda-kuda yang juga telah beristirahat. Rumah-rumah Padang Ajer Dingin berjajar sepanjang sungai. Rumah-rumah itu sangat sederhana dan jauh dari terawat, namun halamannya dilingkungi pagar yang rapi.

Dalam perjalanan, sesekali mereka melewati dan berjalan bersama dengan orang-orang yang menggotong beras dan garam. Mereka menuju ke Moeara Ekoer dan  Abei. Akhirnya mereka tiba di Djapang. Penduduk negari itu sedang membajak dan menanam padi di sawah.

Perjalanan dilanjutkan melewati hutan-hutan kecil dan Soengei Moeau yang airnya menyatu dengan Soengei Sangir. Loeboe Melaka, negari berikutnya, tak jauh dari tempat itu. Jalan dari Djapang ke Loeboe Melaka melewati beberapa bukit yang berdinding curam. Jalan yang tidak mudah dilalui, akan tetapi, tanpa terlalu banyak kesulitan,  jalan itu dapat dibangun agar dapat dilalui oleh kendaraan beroda.

Loeboe Melaka memiliki banyak sawah dan hampir semuanya sedang diolah oleh pemiliknya. Penghoeloe Kapala negari itu sudah menanti kedatangan mereka di rumah negari. Ia menanyakan rencana penjelajahan ke puncak Korintji. Ia menyangsikan keberhasilan menemukan jalan ke puncak gunung itu. Gunung Korintji adalah gunung yang keramat, katanya.

Rumah-rumah warga Loeboe Melaka terdapat di kiri-kanan rumah negari. Dari tempat mereka duduk di bangunan itu, tampak pohon-pohon kopi yang ditanam rapat. Tanah di antara pepohonan itu digunakan untuk membibit pepohonan baru dan untuk menyimpan buah-buah kopi yang sudah matang. Penduduk negari itu merawat kebun mereka dengan baik.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Telusur #Naskah Klasik Belanda #Sejarah Jambi #Ekspedisi Sumatra Tengah



Berita Terbaru

 

Rabu, 11 Desember 2019 20:01 WIB

Pemda Siapkan 61 Ton Cadangan Pangan Pasca Bencana di Musim Penghujan


Kajanglako.com, Jambi - Memasuki musim penghujan, sejumlah wilayah di Provinsi Jambi rentan terjadi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan/banjir,

 

Rabu, 11 Desember 2019 19:52 WIB

Pelajar SMA di Tanjabtim Gantung Diri Samping Rumah


Kajanglako.com, Tanjung Jabung Timur - Pelajar salah satu SMA negeri di Tanjung Jabung Timur ditemukan tewas mengenaskan. Pemuda berusia 17 tahun yang

 

Rabu, 11 Desember 2019 19:31 WIB

Amir Hasbi: Jambi Punya Cold Storage, Konter Pendingin Komoditi Pangan Segar


Kajanglako.com, Jambi - Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Amir Hasbi mengatakan, kini Jambi patut berbangga, karena telah memiliki Cold Storage,

 

Rabu, 11 Desember 2019 16:12 WIB

Tes CPNS Tidak di Merangin, Pemkab Siapkan Anggaran Rp 500


Kajanglako.com, Merangin - Pelaksanaan tes CPNS dengan sistem CAT pada tahun 2019 tidak dilaksanakan di Kabupaten Merangin, informasinya tes akan dilakukan

 

Rabu, 11 Desember 2019 16:04 WIB

Prestasi MTQ Kurang Membanggakan, Wabup Gelar Rakor


Kajanglako.com, Merangjn - Prestasi Merangin di ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Provinsi Jambi ke-49 di Bungo lalu, kurang memuaskan. Kabupaten