Minggu, 20 Oktober 2019


Sabtu, 14 September 2019 07:40 WIB

Menuju Puncak Korintji

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Tujuan penjelajahan berikutnya: Gunung Kerinci. Korintji. Sepanjang yang diketahui, belum ada orang berkulit putih yang pernah mendaki gunung itu. Tak ada informasi tertulis yang dapat dijadikan bekal oleh para penjelajah KNAG itu. Informasi yang dikumpulkan dari penduduk setempat, tampaknya rute paling baik untuk memulai pendakian itu adalah dari dusun Loeboe Gedang di daerah XII Kota. Ke sanalah mereka kini mengayunkan kaki.



Di seberang jembatan rotan dan setelah berjalan melewati mesjid Kota Baroe, ada jalan yang menelusuri tepian kanan aliran Soengei Bangko dan terus mengikuti aliran Soengei Pelaké. Sebuah jembatan kecil menyeberangi sungai terakhir itu  ke tepian kiri, ke jalan yang lebih lebar. Jalan itu mengarah ke selatan, melewati sawah-sawah. Jalan inilah yang ditelusuri oleh van Hasselt dan rekan-rekannya.

Dusun Pelaké yang terdapat di tepian kiri sungai terdiri dari beberapa buah rumah dan lumbung padi. Dusun itu kecil saja. Tak jauh, terdapat reruntuhan sebuah benteng. Dusun Kampong Kasih terdapat di dekatnya. Dusun ini pun hanya terdiri dari beberapa pondok sederhana. Pematang-pematang di persawahan dusun ini ditanami pohon-pohon pinang berjajar-jajar.

Dusun berikutnya adalah dusun Pinang Si Nawar. Sebetulnya penduduk daerah ini dan sekitaran Soengei Pagie memiliki banyak sawah yang hasil produksinya memenuhi kebutuhan pangan XII Köta, Soerian dan Lolo. Namun demikian, rumah-rumah penduduk di dusun-dusun bersawah subur  itu sama sekali tidak tampak mewah, bahkan sebaliknya, rumah-rumah itu terkesan tak terawat.

Lembah tempat mereka berjalan menyempit dan jalan yang ditelusuri semakin mendekat ke Soengei Bangko. Negari Kapau terletak di anak sungai Bangko yang sebelah kiri. Lesoeng Batoe—yang masih termasuk ke dalam wilayah Kapau, terdapat di sebelah hilir sungai itu. Setelahnya, mereka tiba di Djandjang Kambing. Di sini terdapat kandang-kandang besar tempat kerbau bermalam. Lebih dari 200 kerbau terdapat di teratak ini. Pondok-pondok tempat tinggal para penggembala kerbau-kerbau itu terletak di dekatnya.

Jalan itu melewati teratak ini menuju ke Teratak Boekare' yang berbatasan dengan rimba. Teratak itu--yang hanya memiliki tiga buah rumah beratap ijuk yang lumayan bagus--tampak lebih kumuh lagi dibandingkan dengan teratak sebelumnya. Warganya sedang membangun sebuah mesjid. Rumah-rumah yang terakhir dilewati sebelum memasuki rimba termasuk bagian dari Köta Toewa.

Menjelang pk 16.00, setelah perjalanan yang melelahkan, mereka tiba di tepian Soengei Liki, percabangan Soengei Sangir. Mereka meneruskan perjalanan. Kira-kira sejam perjalanan lagi, mereka dapat beristirahat di sebuah pondok yang terdapat di tepian sungai itu. Dari Moeara Laboeh, jalannya sudah mendaki, walau tidak terjal. Tepian menjulang curam kira-kira 30 meter dari sungai. Pohon poear tumbuh subur di beberapa tempat di hutan. Juga pohon samboeng yang lebih besar namun tampak mirip dengan pohon poear. Di mana-mana tampak pula pepohonan besar yang mencengangkan seperti kapé rimboe (kapuk liar), meranti, andalé, banio, kale, soerian dan pohon boenga antoei. Aneka bentuk dan jenis pepohonan dengan keragaman warna dedaunan yang luar biasa. Buah paroe-paroe anggang dan toemboeng baroek serta batang-batang putih kayoe dadie tampak menyolok di antara warna hijau di atas hijau di dalam hutan.

Beberapa kuli tinggal di tepian Liki ketika keesokan harinya, 19 Oktober, perjalanan dilanjutkan lagi. Alam yang dilewati tidak banyak berbeda, namun pada hari ini, lebih banyak sungai-sungai kecil dan aliran air yang harus dilewati dan diseberangi. Batang-batang pohon besar dengan rotan yang diikatkan di kedua tepian untuk tempat berpegang, membentang di atas sungai-sungai yang (lebih) lebar. Pada umumnya sungai-sungai itu sangat mendangkal karena kemarau yang berkepanjangan.

Di tanah, banyak terlihat jejak-jejak binatang berkaki empat, namun binatang-binatang itu sendiri tak tampak. Mereka hanya melihat beberapa ekor siamang dan burung enggang.

Setelah tiba di Timboeloen, mereka meninggalkan jalan setapak dan menelusuri sungai selama beberapa ratus meter untuk melihat air terjun yang tumpah ke sungai itu dari sumbernya, Soengei Pasimpai. Air terjun itu jatuh ke kolam yang membuat mereka ingin terjun, menyegarkan badan, ke dalamnya. Tetapi sayangnya, hal itu tak dapat dilakukan. Mereka harus meneruskan perjalanan menuju Doerian Taroeng dan Loeboe Gedang. Lagipula, seseorang bercerita bahwa seekor kerbau dan seekor rusa yang dikejar harimau pernah jatuh dari air terjun itu! Setelah mendengarkan cerita itu, tak ada yang berniat terjun indah dari atas air terjun ke kolam di bawahnya.

Menjelang siang, mereka tiba di Doerian Taroeng, negari pertama di XII Kota. Doerian Taroeng termasuk ke dalam wilayah laras Pasimpai. Di sini, hanya ada beberapa rumah yang letaknya menyebar. Hanya beberapa rumah saja yang terawat baik, seperti misalnya rumah tinggal Toeankoe dan isterinya. Seperti juga rumah-rumah di  Poelau Poendjoeng, banyak rumah memiliki ruang depan terbuka yang hanya dilindungi oleh tralis. Untuk atap, warga Doerian Taroeng menggunakan daun saló yang dapat bertahan selama kira-kira dua tahun.

Mereka beristirahat sebentar di rumah Toeankoe dan isterinya. Di rumah itu, lantai yang lebih tinggi tertutup oleh tikar dan permadani. Dua buah kursi goyang, yang pernah dibeli dalam pelelangan di Moeara Laboeh, tersedia pula. Mereka dijamu dengan kekuehan, aneka buah-buahan dan minuman dengan gula enau.  Tuan rumah, Toeankoe  Jang dipertoean Radja Bongsoe, adalah lelaki yang ramah dan berpikiran luas. Ia menyodorkan banyak pertanyaan kepada para tetamunya. Menurut adat, lelaki itu merupakan salah seorang dari tiga orang raja, Tiga Silo, di XII Kota. Memang, ia merupakan keturunan dari raja Menangkabo.

Tentu saja, ia bertanya mengenai rencana pendakian ke Puncak Korintji. Toeankoe  Jang dipertoean Radja Bongsoe berjanji akan membantu rencana itu. Pucuk dicinta ulam tiba! Itulah yang diharapkan oleh para penjelajah itu. Setelah memperolah janji bantuan itu, mereka minta diri dan meneruskan perjalanan ke Loeboe Gedang, yang berjarak setengah jam berjalan kaki dari rumah itu.

Mereka menapaki jalan tua dan kemudian juga melewati jalan baru yang sedang dibangun. Jalan setapak yang tua melewati sawah dan tanah-tanah lapang tempat ternak merumput.Loeboe Gedang terletak di aliran dua sungai, yaitu Lompatan Gedang dan Lompatan Ketjil. Tak jauh dari negari itu, aliran kedua sungai itu menyatu dengan air Soengei Liki. Walaupun kandungan airnya  cukup banyak, sungai itu tidak dapat dilayari karena alirannya terputus oleh air terjun Timboeloen.

Rumah negari Loeboe Gedang dibangun menghadap sebuah tanah lapang atau alun-alun. Rumah itu kecil dan tampak jauh lebih sederhana daripada rumah Penghoeloe soekoe Melajoe. Penghulu adalah lelaki kaya yang memiliki sekitar 25 buah lumbung padi di halamannya. Selain itu, ia masih sedang membangun tiga buah lumbung lagi.  

Penduduk daerah ini sangat memperhatikan dan merawat rumah-rumah ibadah mereka. Dalam perjalanan, dua kali mereka melewati tempat orang sedang membangun mesjid. Warga Doerian Taroeng dan Loeboe Gedang sibuk memperbaiki mesjid negari.

Kedatangan penjelajah-penjelajah berkulit putih itu menarik perhatian penduduk. Setiap saat, selalu saja ada sekumpulan pemuda yang memperhatikan dan mengiringi setiap langkah mereka. Pemuda-pemuda itu bahkan ikut menceburkan diri ke dalam air Soengei Liki ketika para penjelajah itu mandi. Tempat itu memberikan kesan tenteram. Manusia dan binatang hidup dalam kedamaian. Hal ini terbuktikan oleh datangnya simpai dan tjiga (dua jenis monyet yang berhabitat di daerah itu).  

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #Kerinci #Korintji #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877 #Naskah Klasik Belanda



Berita Terbaru

 

Minggu, 20 Oktober 2019 11:50 WIB

Sekda Buka Pesparani Katolik Provinsi Jambi 2019


Sekda Buka Pesparani Katolik Provinsi Jambi 2019 Kajanglako.com, Jambi - Sabtu (19/10) malam, bertempat di Aula Balai Prajurit Makorem 042/Garuda Putih,

 

Sabtu, 19 Oktober 2019 20:01 WIB

Puncak HUT ke-54 Kabupaten Bungo, Fachrori : 28,7 Miliar APBD 2019 Provinsi Dikucurkan untuk Bangun 4 Ruas Jalan


Puncak HUT ke-54 Kabupaten Bungo, Fachrori : 28,7 Miliar APBD 2019 Provinsi Dikucurkan untuk Bangun 4 Ruas Jalan Kajanglako.com, Jambi – Dewan Perwakilan

 

Sabtu, 19 Oktober 2019 15:00 WIB

Forkompimda Provinsi Jambi Deklarasi Kebangsaan Jelang Pelantikan Presiden RI


Forkompimda Provinsi Jambi Deklarasi Kebangsaan Jelang Pelantikan Presiden RI Kajanglako.com, Jambi – Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda)

 

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:24 WIB

Al Haris Lepas Ribuan Peserta Kirab Hari Santri Nasional 2019


Al Haris Lepas Ribuan Peserta Kirab Hari Santri Nasional 2019 Kajanglako.com, Merangin - Ribuan santri dari berbagai Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten

 

Sabtu, 19 Oktober 2019 09:49 WIB

Merangin Akan Miliki Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama


Merangin Akan Miliki Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama Kajanglako.com, Merangin - Kabupaten Merangin akan memiliki desa sadar kerukunan umat beragama.