Jumat, 20 September 2019


Selasa, 10 September 2019 12:18 WIB

Max Lane

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Orang asing yang mempelajari Indonesia, dan dianggap ahli Indonesia dikenal dengan sebutan indonesianis. Sebagai indonesianis, Max Lane memiliki posisi yang agak unik,  konsistensi sikapnya yang tidak saja kritis, karena tidak sedikit Indonesianis yang kritis, tetapi totalitasnya dalam membela mereka yang menjadi korban represi dan persekusi politik di Indonesia, yang membuatnya berbeda dari yang lain.



Sebagai warga negara Australia, Max Lane memilih untuk memberikan waktu, tenaga dan pikirannya buat Indonesia, meskipun dia tetap memberikan perhatian pada perpolitikan di negerinya, negara barat yang bertetangga dengan Asia.

Pilihannya untuk selalu berada di sisi ‘kiri’ jalan, membentuk sikap akademiknya dan mengarahkan cara berpolitiknya. Barangkali, ilmu pengetahuan bagi Max cuma alat untuk menganalisa, untuk kemudian membantunya menyusun aksi dan strategi untuk mengubah keadaan. Buat Max, gerakan politik barangkali lebih penting dari analisis politik.

Mungkin, tidak berbeda dengan para remaja Australia lainnya, yang kemudian jatuh hati dengan Indonesia, setelah mempelajari bahasa, sejarah dan karya sastra Indonesia; Max Lane masuk Indonesia ketika rezim militer Orde Baru mulai mengembangkan kekuasaannya. Ketika itu, bangkai para korban persekusi politik yang berlangsung sejak 1 Oktober 1965 masih tercium anyir sangat menusuk hidung baunya. Para korban, yang mati maupun yang masih hidup, represi politik dari rejim Orde Baru  yang terus terjadi, perlawanan-perlawanan yang diam-diam terus dilakukan, adalah sebuah kondisi yang bagi Max, bisa jadi, merupakan gelanggang yang harus dimasukinya, serta pilihan yang membawanya mengarungi haru-biru kehidupan sebuah bangsa, yang secara "biologis", bukan menjadi bagian dari dirinya.

Setelah menyelesaikan "undergraduate" nya, Max sempat beberapa tahun menjadi diplomat, dan ditempatkan di Jakarta, sebelum kemudian diberhentikan karena kegiatannya yang dianggap "politically inaprropiate"; terutama karena mulai menterjemahkan tetralogi karya “pulau buru” dari sastrawan Pramoedya Ananta Toer, yang pada awal tahun 80-an itu, dianggap buku berbahaya oleh rezim Soeharto dan dilarang setelah peredarannya.

Ket: Max Lane. Sumber foto: AJI Yogyakarta.

Pemecatannya sebagai diplomat tampaknya justru membuat semangatnya untuk secara total menyelesaikan penerjemahan karya Pulau Buru semakin membara. Kembali ke Canberra dan mendapat dukungan, berupa bisa dipakainya sebuah kamar kerja yang sangat sempit, dari Profesor Anthony Johns, yang saat itu menjadi Dekan Faculty of Asian Studies, Australian National University (ANU), menjadi pendorong bagi Max Lane untuk segera menyelesaikan proyek penterjemahannya. Sebuah pekerjaan yang tidak saja membutuhkan kemampuan intelektual yang tinggi, namun juga kepekaan naluri dan empati yang dalam terhadap sebuah cerita rekaan, yang sulit dipisahkan dengan realitas sejarah awal kebangkitan kesadaran sebuah bangsa yang dijajah oleh bangsa yang lain.

ANU, sebuah universitas yang ternama, dibangun di ibu kota Australia, Canberra, memang dimaksudkan sebagai pusat akademia yang tidak saja diharapkan menjadi pelopor pengembangan berbagai disiplin keilmuan, namun juga sebagai pusat penelitian dan pemikiran, yang hasilnya bisa dipergunakan oleh para pembuat keputusan dalam pemerintahan Australia.

Kedekatan antara pembuat keputusan dan para akademisi di ANU bukanlah sebuah rahasia, dan dalam konteks hubungan antara pemerintah Australia dan pemerintah Indonesia di bawah Orde Baru, yang oleh Herbeth Feith disebut "repressive developmentalist regime"  menjadikan para akademisi di ANU cenderung konservatif dan pragmatis.

Dibandingkan dengan universitas lain, ANU memiliki jumlah Indonesianis yang terbesar. Diskusi dan seminar tentang Indonesia secara rutin diadakan, kalau tidak di departemen atau jurusan; oleh Indonesia Study Group, yang hampir setiap diskusinya selalu ramai peserta dan perdebatannya.

Presentasi tentang perkembangan politik, ekonomi maupun sosial, yang mutakhir di Indonesia menjadi ajang tukar pikiran yang selalu menarik dalam seminar-seminar di ANU. Di ANU juga sejak tahun 1983 diselenggarakan konferensi "Indonesia Update" yang didanai departemen luar negeri Australia. Dalam setiap diskusi sulit untuk dihilangkan kesan optimisme dari sebagian besar para akademisi ANU tentang perkembangan pembangunan di Indonesia, terutama dari para ahli dan mahasiswa ekonomi, yang merupakan murid-murid dari profesor Heinz Arndt dan untuk bidang politik murid-murid Profesor Jamie Mackie.

Kehadiran Max Lane dalam seminar tentang Indonesia menjadi pemandangan yang selalu menarik. Hampir dalam setiap diskusi tentang Indonesia, Max Lane selalu mempunyai posisi dan suara yang berseberangan dengan rekan-rekannya, yang umumnya berpandangan optimis dengan apa yang terjadi di Indonesia masa Orde Baru itu. Tapi, saya kira pada akhirnya harus diakui bahwa posisi dan sikap Max Lane yang selalu terkesan "ngeyel" dalam mempertahankan pendapatnya, terbukti benar. Orde Baru dan Suharto terbukti tumbang.

Berakhirnya rezim Soeharto dan euforia reformasi, bagi Max Lane jelas bukan tujuan akhir dari sikap kritisnya terhadap rezim-rezim pemerintahan yang menggantikannya sejak Habibie hingga Jokowi sekarang. Sikap dan posisi politik Max Lane seperti tidak bergeser sejengkal pun. Kalau toh ada semacam jeda setelah hampir tiga dekade ikut dalam gerakan-gerakan progresif yang melawan Orde Baru, mungkin itu yang memberinya kesempatan untuk menyelesaikan tesis doktornya, sebuah proyek pribadi yang mungkin tidak dianggapnya sebagai sesuatu yang penting-penting amat.

Sumbangan penulis buku Unfinished Nation: Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan Sejarah Indonesia (Penerbit Djaman Baroe, 2014), ini bagi gerakan progresif di Indonesia cukup banyak. Selain berupa karya tulis, Max menginisiasi jurnal Inside Indonesia, melibatkan diri dalam pengorganisasian kelompok-kelompok resistensi di berbagai tempat, di Indonesi dan Timor Leste. Dalam aktivitasnya, berurusan dengan aparat keamanan adalah hal yang sering dialaminya.

Sudah beberapa tahun ini Max Lane tinggal di Yogyakarta, membangun semacam padepokan dimana dia tinggal bersama istrinya Faiza, mengelola sebuah perpustakaan dan ruang diskusi, yang sengaja dia sediakan untuk anak-anak muda, yang mau belajar tentang apa saja, terutama ilmu sosial dan politik.

Max Lane, seperti halnya Pramoedya Ananta Toer, ketika menciptakan sosok Minke dalam roman Bumi Manusia, sangat menyadari pendidikan politik bagi anak-muda mutlak harus dilakukan. Hanya anak muda yang memiliki masa depan dan ingatan mereka tentang masa lalu, yang banyak disesatkan harus dibongkar jika ingin membangun masa depan yang lebih adil dan bermartabat.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #sosok #max lane #orde baru #tetralogi pulau buru #unfinished nation #bumi manusia #indonesia update



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,