Rabu, 20 November 2019


Minggu, 08 September 2019 14:08 WIB

Enam Buah Rebana

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Banyak pegawai pemerintah Hindia-Belanda di Sumatera memiliki semacam kebun binatang. Banyak orang membawakan binatang yang ditangkap di hutan untuk Toean Kommandoer yang diketahui tertarik pada dunia binatang di sekitar tempatnya tinggal. Lagipula, biasanya orang yang membawakan binatang itu pasti mendapatkan uang sekedarnya dari Sang Toean.



Halaman rumah pegawai-pegawai Belanda dipenuhi sangkar berisi aneka burung dan kandang-kandang bambu atau kayu yang dihuni oleh rusa, tupai dan entah binatang apa lagi.  Suatu saat, Kontrolir Welsink menangkap dan membawa pulang seekor rusa betina. Ia membuatkan pagar di sekeliling kandang rusa itu. Semakin lama, binatang itu menjadi semakin jinak. Rusa itu juga menjadi semakin besar sehingga dengan mudah dapat melompati pagar di sekeliling kandangnya dan menghilang di dalam hutan. Tak lama kemudian—mungkin karena rusa itu jinak, warga setempat berhasil menangkapnya lagi dan membawanya pulang.

Beberapa bulan sebelum tim penjelajahan itu tiba, rusa itu melompati pagarnya, lalu menghilang lagi di dalam rimba. Lama sekali, ia tak menampakkan diri. Lalu tiba-tiba, rusa itu muncul lagi di semak-semak di dekat dusun. Beberapa orang berhasil menangkapnya dan membawanya pulang. Walaupun telah beberapa bulan melanglang di hutan, ketika Kontrolir mengupas sebuah pisang, rusa itu dengan jinaknya mendekat dan mulai mengunyah buah di tangan Kontrolir.

Cerita mengenai rusa  yang selalu saja melompati pagar tidak diketahui oleh van Gussem yang datang bersama rombongan penjelajah Sumatera Tengah. Suatu pagi, ia melihat dua ekor rusa di antara pepohonan di hutan di belakang pasar. Secepat kilat ia memburunya kedua binatang itu. Seekor ditembaknya dan seekor lagi, yang betina, dibawanya pulang. Kebanggaannya membawa daging rusa dan seekor rusa hidup-hidup cepat sirna ketika seseorang memberitahu bahwa rusa betina itu merupakan rusa peliharaan Kontrolir Welsink. Kemungkinan besar, rusa itu bertemu jodoh dengan seekor rusa jantan di hutan. Rusa jantan itulah yang mati ditembak van Gussem. Tak pelak, semua yang mendengar penjelasan menyayangkan matinya rusa jantan itu. Walaupun demikian, mereka semua dengan lahap menghabiskan daging rusa bakar yang dihidangkan oleh Koki malam itu! 

Tinggal di dusun Moeara Laboeh jauh lebih mengasyikkan daripada di dusun Silago yang sepi dan sunyi. Di sini tak ada ancaman akan dicabik-cabik oleh binatang buas. Walau demikian, 13 November, seorang warga dusun menjadi korban seekor harimau ketika lelaki malang itu sedang mengumpulkan kayu.

Satu-satunya ‘gangguan’ tinggal di tengah-tengah permukiman penduduk Melayu hanyalah gangguan musikal para tetangga. Pada waktu-waktu tertentu, di malam hari, terdengar suara rebana dan suara-suara melantunkan lagu-lagu bernuansa keagamaan. Selama suara rebana dan nyanyian yang mengiringinya terdengar sayup-sayup sampai dari rumah tetangga yang jauh, tak ada masalah. Akan tetapi, lain lagi halnya bila warga dusun berlatih di rumah tetangga yang bersebelahan dengan pondok para penjelajah itu. Awalnya lagu-lagu dan rebana terdengar lembut. Semakin lama, para penyanyinya semakin bersemangat. Suara mereka semakin keras dan rebana pun dibunyikan semakin keras agar terdengar di balik suara nyanyian yang diiringinya. Kerasnya pukulan di rebana-rebana itu membuktikan betapa kokoh dan kuatnya alat-alat musik itu.

Suara-suara itu membuat semua orang terdiam. Tak ada gunanya berbicara karena mereka tak mungkin dapat mendengar apa yang dikatakan lawan bicaranya. Suara rebana dan nyanyian itu tiba-tiba menghilang. Para penjelajah Belanda itu menarik nafas lega. Sesaat. Lalu, perlahan, terdengar lagi suara rebana dipukul. Semakin lama semakin cepat dan semakin keras! Tak guna berbicara. Tidur pun tak bisa karena ramainya suara-suara itu.

Keesokan harinya, van Hasselt dan rekan-rekannya bertandang ke rumah tetangga mereka. Setelah mengobrol beberapa saat, mereka berhasil membawa enam buah rebana untuk koleksi etnologi penjelajahan! Malam itu, mereka tidur dengan lelap.

Selama tinggal di Moeara Laboeh, para penjelajah itu berunding tentang rencana selanjutnya: menjelajahi daerah XII Kota dan pendakian Puncak Korintji. Dari informasi yang dikumpulkan, jelas bahwa pendakian gunung itu bukanlah hal yang sepintas lalu dapat digagas hari ini dan dilakukan esok harinya.

Karena gunung itu belum pernah didaki (setidak-tidaknya oleh orang berbangsa Eropa), pepohonan dan belukar lebat di dindingnya harus dipampas untuk membuat semacam jalan setapak supaya pendakian itu tidak menghabiskan waktu beberapa minggu. Dusun Loeboe Gedang di daerah XII Kota dianggap sebagai tempat yang cocok untuk pemberangkatan orang-orang yang akan mencari jalan.

Pada tanggal 18 Oktober, Veth dan van Hasselt berangkat menuju Loeboe Gedang untuk mempersiapkan detil-detil pendakian. Kontrolir Welsink dan Mully (pegawai Hindia-Belanda yang sedang  ada di situ) ikut bersama mereka. Selain keempat orang Belanda itu, sembilan belas orang kuli juga ikut untuk menggotong segala bekal dan perbekalan yang diperlukan selama pendakian.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #ekspedisi sumatra tengah #Veth #van Hasselt #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Selasa, 19 November 2019 21:57 WIB

MFA Sebut Ada Hubungan Erat dengan PKB Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini ada tiga Bacalon Bupati Batanghari yang sudah mengambil formulir penjaringan di kantor DPC PKB Batanghari,

 

Selasa, 19 November 2019 21:44 WIB

Razia Tiga Kecamatan di Batanghari, 143 Botol Miras Diamankan Petugas


Kajanglako.com, Batanghari - Satpol-pp Batanghari bersama tim gabungan Polri, Kejaksaan, BNN dan Pengadilan Negeri, Selasa (19/11), merazia sejumlah tempat

 

Selasa, 19 November 2019 17:36 WIB

Tampil Maksimal, Zian Goncang Smansa Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Berbagai macam penampilan disuguhkan pelajar SMAN I Batanghari pada acara Pensi yang juga sekaligus memperingati hari jadi

 

Selasa, 19 November 2019 16:34 WIB

Rumah Hariyah Ludes Dilahap Sijago Merah


Kajanglako.com, Sarolangun- Rumah semi permanen milik Hariyah di RT 07 Desa Lubuk Resam Ilir Kecamatan Cermin Nan Gedang, Senin (18/11) malam, ludes dilalap

 

Selasa, 19 November 2019 15:09 WIB

Siap Siaga Antisipasi Banjir, Pemprov dan Stakeholder Bersinergi


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi M.Dianto, mengemukakan, sebelum datangnya musim hujan, Pemerintah Provinsi (Pemrov) Jambi