Sabtu, 28 Maret 2020


Senin, 02 September 2019 09:31 WIB

Edi Sedyawati

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis.

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Sekitar pertengahan 1990-an, ketika dunia penelitian dikelola dengan relatif baik oleh Dewan Riset Nasional (DRN), proposal penelitian harus lolos penilaian para reviewer yang ditunjuk sebelum dana penelitian yang diusulkan disetujui.



Dunia penelitian ilmu-ilmu sosial saat itu belum seramai sekarang, ketika teknologi informasi, sosial media dan globalisasi ekonomi dan politik begitu berpengaruh terhadap kehidupan sehar-hari kita. Begitupun jumlah ilmuwan sosial tidak sebanyak dan seberagam seperti saat ini, ketika begitu mudah orang menjadi pakar, pengamat dan komentator sosial-politik dan kebudayaan.

Hari ini pemegang otoritas keilmuan seperti tidak harus berada di menara gading lagi seperti dulu. Otoritas keilmuan bisa datang dari mana saja ketika pengetahuan telah menjadi komoditas dan bagian dari ekonomi pasar. Kemajuan teknologi telah membuat akses terhadap sumber pengetahuan begitu terbuka sejauh tersedia layanan internet. Buku dan artikel jurnal begitu mudah diakses asal mau dan asal mampu membaca dalam bahasa Inggris - bahasa kolonial, yang suka nggak suka harus kita pakai kalau tidak mau ketinggalan jaman. Hari ini begitu mudahnya kita mengikuti kuliah dari profesor paling terkenal dari universitas paling ternama di dunia sekalipun.

Pada tahun 1990an itu, profesor Edi Sedyawati, adalah salah satu dari sedikit ahli ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan dan menjadi reviewer yang ditunjuk oleh Dewan Riset Nasional (DRN) bersama reviewer-reviewer lainnya. Dalam sebuah panel reviewer ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, Bu Edi, begitu beliau biasa dipanggil, pernah duduk bersama Parsudi Suparlan, Loekman Soetrisno dan Nico Kana sebagai ketua panel.

Ket: Bu Edi Sedyawati. Sumber foto: Dodo Karundeng/ANTARA Foto.

Bisa dibayangkan hanya Bu Edi yang bersuara lembut ditengah suara-suara keras, tidak jarang kasar, dalam menguliti proposal penelitian peneliti junior. Parsudi Suparlan, antropolog dari UI dan Loekman Soetrisno, sosiolog dari UGM, keduanya telah almarhum,  adalah ilmuwan sosial legendaris yang terkenal sangat galak dalam menguji proposal penelitian. Menghadapi keduanya tidak hanya dibutuhkan kemampuan menguasai materi, namun juga syaraf yang kuat untuk tidak grogi sebelum menyampaikan isi pikiran.

Bu Edi, dengan penampilannya yang sederhana disertai tutur kata yang tertata, dalam suasana diskusi yang tidak jarang penuh ketegangan itu, seperti oase di padang pasir, menyejukkan dan menenangkan. Bidang keahliannya, arkeologi, yang mengharuskannya meneliti benda-benda purbakala; dan ketrampilannya menarikan tari Jawa klasik dengan bergabung dengan Ikatan Seni Tari Indonesia, mungkin telah menjadikannya seorang empu ilmu dan empu tari sekaligus; dengan disiplin pengendalian diri yang prima.

Yang menarik dari Direktur Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, periode 1993-1999 ini, dan karena itu pula yang menjadikannya seorang intelektual publik, adalah tidak dipagarinya ruang geraknya hanya di menara gading, sebuah universitas yang paling ternama di negeri ini, Universitas Indonesia. Beliau tidak segan-segan menceburkan diri di keramaian dan kegalauan publik intelektual, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), Akademi Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dengan latar belakang ilmu dan tari yang dimiliki, Bu Edi bisa duduk setara dengan para tokoh kebudayaan terkemuka seperti Mochtar Lubis, Toeti Herati Noerhadi, Goenawan Mohamad dan Umar Kayam. Sampai hari ini, Bu Edi di usianya yang semakin senja masih aktif berkiprah di berbagai arena, di akademia maupun di luar akademia. Tidak terhitung lagi mereka yang pernah dibimbingnya. Ketika kebudayaan hari-hari ini seperti ingin diarusutamakan, kita memerlukan orang seperti ibu dua anak ini yang tidak hanya paham, tetapi juga"nglakoni".

Umar Kayam, dalam novelnya "Para Priyayi", seperti hendak mengusulkan sebuah definisi baru tentang apa yang lama diperbincangkan dalam dunia ilmu-ilmu sosial sebagai "priyayi". Kayam dalam cerita rekaan yang dilukiskannya dengan sangat bagus tentang dunia luar maupun dunia dalam para priyayi Jawa itu, seperti menyimpulkan bahwa "priyayi" adalah sebuah sikap dan pandangan hidup, dan bukan sesuatu yang berhubungan dengan keturunan, trah atau darah. Menjadi priyayi dengan demikian tidak menjadi monopoli Orang Jawa, tetapi bisa siapa saja sejauh memiliki sikap dan pandangan kepriyayian.

Sikap dan pandangan kepriyayian, sebagai ruh seorang priyayi inilah, tersirat dari novel Umar Kayam itu, menjadi sesuatu yang semakin langka di tengah gelegak dan gemuruh perubahan sosial dan politik yang menggeser dan menggusur tradisi-tradisi lama, yang tentu saja tidak semuanya baik dan cocok untuk zamannya. Nah, dalam kegelisahan dan kegalauan zaman yang penuh dengan ketidakpastian, ketika para pakar bicara tentang algoritma dan "disruption", ketika kebudayaan dikomodifikasi sebagai pariwisata,  perempuan kelahiran Malang, 28 Oktober 1938, ini tampak seperti mewakili zaman lampau ketika kepriyayian tidak bisa dilepaskan dari tradisi Jawa, namun juga mewakili kepriyayian sebagai sikap dan cara pandang yang baru, yang dilukiskan Umar Kayam dengan baik: jembar, merengkuh, tertata, dan mengayomi.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #sosok #Edi Sedyawati #dewan riset nasional #direktur jenderal kebudayaan #arkeologi



Berita Terbaru

 

Pilkada 2020
Sabtu, 28 Maret 2020 16:00 WIB

Via Aplikasi Zoom Clound, Bawaslu Jambi Bahas Tantangan Pilkada di Tengah Covid 19


Kajanglako.com, Jambi - Ditengah wabah Virus Corona atau Covid-19, Bawaslu Provinsi Jambi menegaskan tidak ada istilah penundaan Pilkada 2020, yang ada

 

Sabtu, 28 Maret 2020 15:37 WIB

Ditangkap Gelapkan Motor, Pelaku Ngaku untuk Penuhi Kebutuhan Ekonomi


Kajanglako.com, Sarolangun - Dani, warga Desa Lubuk Kepayang, Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun, ditangkap aparat Kepolisian Resor Sarolangun, Sabtu

 

Sabtu, 28 Maret 2020 14:18 WIB

Mayat yang Ditemukan Warga Sridadi Ternyata Korban Tabrak Lari


Kajanglako.com, Batanghari - Mayat yang ditemukan warga Kelurahan Sridadi Kecamatan Muarabulian tadi malam ternyata korban tabrak lari. Tidak jauh dari

 

Sabtu, 28 Maret 2020 13:57 WIB

Antisipasi Corona, Kemenag Sarolangun: Peringatan Hari Besar Umat Islam Ditunda Dulu


Kajanglako.com, Sarolangun - Kementerian Agama Kabupaten Sarolangun menginstruksikan kepada masyarakat Sarolangun agar tidak membuat kegiatan yang menghadirkan

 

Sabtu, 28 Maret 2020 13:23 WIB

Kunjungi RSD Kol Abundjani, Al Haris Beri Dukungan untuk Tenaga Medis


Kajanglako.com, Merangin - Petugas kesehatan atau tenaga medis saat ini berjuang di garda terdepan melawan pandemi virus corona (Covid-19). Mereka bekerja