Senin, 17 Februari 2020


Senin, 02 September 2019 09:31 WIB

Edi Sedyawati

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis.

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Sekitar pertengahan 1990-an, ketika dunia penelitian dikelola dengan relatif baik oleh Dewan Riset Nasional (DRN), proposal penelitian harus lolos penilaian para reviewer yang ditunjuk sebelum dana penelitian yang diusulkan disetujui.



Dunia penelitian ilmu-ilmu sosial saat itu belum seramai sekarang, ketika teknologi informasi, sosial media dan globalisasi ekonomi dan politik begitu berpengaruh terhadap kehidupan sehar-hari kita. Begitupun jumlah ilmuwan sosial tidak sebanyak dan seberagam seperti saat ini, ketika begitu mudah orang menjadi pakar, pengamat dan komentator sosial-politik dan kebudayaan.

Hari ini pemegang otoritas keilmuan seperti tidak harus berada di menara gading lagi seperti dulu. Otoritas keilmuan bisa datang dari mana saja ketika pengetahuan telah menjadi komoditas dan bagian dari ekonomi pasar. Kemajuan teknologi telah membuat akses terhadap sumber pengetahuan begitu terbuka sejauh tersedia layanan internet. Buku dan artikel jurnal begitu mudah diakses asal mau dan asal mampu membaca dalam bahasa Inggris - bahasa kolonial, yang suka nggak suka harus kita pakai kalau tidak mau ketinggalan jaman. Hari ini begitu mudahnya kita mengikuti kuliah dari profesor paling terkenal dari universitas paling ternama di dunia sekalipun.

Pada tahun 1990an itu, profesor Edi Sedyawati, adalah salah satu dari sedikit ahli ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan dan menjadi reviewer yang ditunjuk oleh Dewan Riset Nasional (DRN) bersama reviewer-reviewer lainnya. Dalam sebuah panel reviewer ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan, Bu Edi, begitu beliau biasa dipanggil, pernah duduk bersama Parsudi Suparlan, Loekman Soetrisno dan Nico Kana sebagai ketua panel.

Ket: Bu Edi Sedyawati. Sumber foto: Dodo Karundeng/ANTARA Foto.

Bisa dibayangkan hanya Bu Edi yang bersuara lembut ditengah suara-suara keras, tidak jarang kasar, dalam menguliti proposal penelitian peneliti junior. Parsudi Suparlan, antropolog dari UI dan Loekman Soetrisno, sosiolog dari UGM, keduanya telah almarhum,  adalah ilmuwan sosial legendaris yang terkenal sangat galak dalam menguji proposal penelitian. Menghadapi keduanya tidak hanya dibutuhkan kemampuan menguasai materi, namun juga syaraf yang kuat untuk tidak grogi sebelum menyampaikan isi pikiran.

Bu Edi, dengan penampilannya yang sederhana disertai tutur kata yang tertata, dalam suasana diskusi yang tidak jarang penuh ketegangan itu, seperti oase di padang pasir, menyejukkan dan menenangkan. Bidang keahliannya, arkeologi, yang mengharuskannya meneliti benda-benda purbakala; dan ketrampilannya menarikan tari Jawa klasik dengan bergabung dengan Ikatan Seni Tari Indonesia, mungkin telah menjadikannya seorang empu ilmu dan empu tari sekaligus; dengan disiplin pengendalian diri yang prima.

Yang menarik dari Direktur Jendral Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, periode 1993-1999 ini, dan karena itu pula yang menjadikannya seorang intelektual publik, adalah tidak dipagarinya ruang geraknya hanya di menara gading, sebuah universitas yang paling ternama di negeri ini, Universitas Indonesia. Beliau tidak segan-segan menceburkan diri di keramaian dan kegalauan publik intelektual, seperti Taman Ismail Marzuki (TIM), Akademi Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dengan latar belakang ilmu dan tari yang dimiliki, Bu Edi bisa duduk setara dengan para tokoh kebudayaan terkemuka seperti Mochtar Lubis, Toeti Herati Noerhadi, Goenawan Mohamad dan Umar Kayam. Sampai hari ini, Bu Edi di usianya yang semakin senja masih aktif berkiprah di berbagai arena, di akademia maupun di luar akademia. Tidak terhitung lagi mereka yang pernah dibimbingnya. Ketika kebudayaan hari-hari ini seperti ingin diarusutamakan, kita memerlukan orang seperti ibu dua anak ini yang tidak hanya paham, tetapi juga"nglakoni".

Umar Kayam, dalam novelnya "Para Priyayi", seperti hendak mengusulkan sebuah definisi baru tentang apa yang lama diperbincangkan dalam dunia ilmu-ilmu sosial sebagai "priyayi". Kayam dalam cerita rekaan yang dilukiskannya dengan sangat bagus tentang dunia luar maupun dunia dalam para priyayi Jawa itu, seperti menyimpulkan bahwa "priyayi" adalah sebuah sikap dan pandangan hidup, dan bukan sesuatu yang berhubungan dengan keturunan, trah atau darah. Menjadi priyayi dengan demikian tidak menjadi monopoli Orang Jawa, tetapi bisa siapa saja sejauh memiliki sikap dan pandangan kepriyayian.

Sikap dan pandangan kepriyayian, sebagai ruh seorang priyayi inilah, tersirat dari novel Umar Kayam itu, menjadi sesuatu yang semakin langka di tengah gelegak dan gemuruh perubahan sosial dan politik yang menggeser dan menggusur tradisi-tradisi lama, yang tentu saja tidak semuanya baik dan cocok untuk zamannya. Nah, dalam kegelisahan dan kegalauan zaman yang penuh dengan ketidakpastian, ketika para pakar bicara tentang algoritma dan "disruption", ketika kebudayaan dikomodifikasi sebagai pariwisata,  perempuan kelahiran Malang, 28 Oktober 1938, ini tampak seperti mewakili zaman lampau ketika kepriyayian tidak bisa dilepaskan dari tradisi Jawa, namun juga mewakili kepriyayian sebagai sikap dan cara pandang yang baru, yang dilukiskan Umar Kayam dengan baik: jembar, merengkuh, tertata, dan mengayomi.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #sosok #Edi Sedyawati #dewan riset nasional #direktur jenderal kebudayaan #arkeologi



Berita Terbaru

 

Minggu, 16 Februari 2020 21:00 WIB

Dishanpan Provinsi Jambi Launching 3,3 Ton Bawang Putih Murah


Kajanglako.com, Jambi - Minggu (16/2/20) pagi, di Area Car Free Day depan Kantor Gubernur Jambi, Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Provinsi Jambi melaunching

 

Minggu, 16 Februari 2020 12:50 WIB

Grand BSC Jambi, Hidup Sehat Ala HNI Produk Herbal Halal


Kajanglako.com, Jambi - Hallal Network Indonesia (HNI), menggelar Business Skill Course (BSC) dalam rangka Sosialiasi Success Plan Rev 3.0, Training For

 

Sabtu, 15 Februari 2020 20:14 WIB

Lilik Gunawan "Rider For Mom" Indonesia Mekkah Saksi Peluncuran All New NMAX 155 Terbaru 2020 di Jambi


Kajanglako.com, Jambi – Kabar gembira datang bagi para pecinta Maxi Yamaha di wilayah Jambi dan sekitarnya dengan telah diluncurkannya skuter matik

 

Sabtu, 15 Februari 2020 18:59 WIB

Bawaslu Provinsi Jambi Lounching Pengawasan Pemilu Gubernur, Bupati/Walikota 2020, Waspadai Racun Demokrasi


Kajanglako.com, Jambi - Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jambi, melounching Pengawasan Pemilihan Umum (Pemilu) Serentak Kepala Daerah tahun 2020,

 

Ekspedisi Sumatra Tengah 1877
Sabtu, 15 Februari 2020 03:58 WIB

Puncak Gunung: Dekat, tapi Jauh


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Di sebelah tenggara, ada danau besar. Danau itu terletak di Goenoeng Toedjoeh, dikelilingi oleh dinding-dinding