Jumat, 20 September 2019


Minggu, 01 September 2019 15:31 WIB

Mestika Zed: Bintang Sejarawan Indonesia Generasi 80-an

Reporter :
Kategori : Sosok

Prof. Mestika Zed. Sumber foto: Tribunmedan.

Oleh: Muhammad Nursam*

Siapakah "bintang" utama sejarawan Indonesia? Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) menyematkan kepada Sartono Kartodirdjo sebagai bintang utama sejarawan Indonesia. Sartono merupakan sarjana sejarah pertama di Indonesia. Sejak Oktober 1950, Sartono terdaftar sebagai mahasiswa Geschiedenis Richting (Jurusan Sejarah), Fakultas Sastra, Universitas Indonesia dan pada Februari 1956, Sartono merampungkan studinya.



Sebagai bintang utama, Sartono banyak menghasilkan sejarawan generasi baru di Indonesia.  Taufik Abdullah, T. Ibrahim Alfian, AB Lapian, Djoko Suryo, Kuntowijoyo, untuk menyebut beberapa contoh nama, adalah generasi awal sekaligus menjadi bintang, sejarawan Indonesia. Mereka semua pernah merasakan sentuhan Sartono.

Untuk sejarawan generasi 80-an, Sartono menyebut tiga nama: Muhammad Gade Ismail, Edward L. Poelinggomang, dan Mestika Zed.

Gade Ismail lahir dan bermukim di Aceh. Ia menyelesaikan disertasi doktoralnya di Academisch de Rijksuniversiteit te Leden pada 1991 dengan judul disertasi “Seuneubok Lada, Ulebalang, dan Kompeni: Perkembangan Sosial Ekonomi di Daerah Batas Aceh Timur, 1840-1942”.

Edward L. Poelinggomang lahir di Kabir, Nusa Tenggara Timur (NTT), 21 Oktober 1948. Berkarier di UNHAS, Makassar. Disertasinya mengenai Kebijakan Perdagangan Maritim di Makassar pada Abad XIX, di Vrije Universitet Amsterdam, Belanda, pada 1991.

Sedangkan Mestika Zed lahir di Batu Hampar, Lima Puluh Kota, Sumatra Barat pada 19 September 1955. Bermukim di Padang. Pada 1991 dia mendapatkan gelar Ph.D dalam bidang sejarah di Vrije Universiteit. Disertasinya sudah diterbitkan pada 2003 dengan judul Kepialangan Politik dan Revolusi: Palembang 1900-1950.

Ket: Karya Mestika Zed, LP3ES, 2003.

Gade, Edward, dan Mestika, ketiganya berguru di kampus yang sama sewaktu menyelesaikan doktorandusnya. Mereka dididik oleh guru yang sama di Sejarah UGM, yakni oleh Prof. Sartono, dan diberi rekomendasi untuk studi lanjut di Belanda, serta mendapatkan gelar doktor di tahun dan kota yang sama: 1991 di Belanda.

Perkenalan saya dengan Pak Mes, panggilan saya kepadanya, sudah berlangsung cukup lama. Sebagai senior dan “bintang” di Jurusan Sejarah UGM, tentu nama beliau sering disebut-sebut oleh dosen dan senior di kampus. Pertemuan fisik terjadi kira-kira pada 1993 dalam sebuah diskusi revolusi lokal di Ambawara.

Kesan pertama saya saat bertemu pertama kali dengan beliau, orangnya hangat. Tidak pelit ilmu dan selalu menginformasikan buku-buku terbaru dalam ilmu sejarah dan ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Sejak saat itu pada setiap kegiatan kesejarahan, kami sering bertemu dan berdiskusi tentang sejarah dan ilmu-ilmu sosial serta kebudayaan dalam pengertian luas.

Untuk “mengakhiri” perkuliahan di sejarah UGM, saya menulis skripsi “Pergumulan Seorang Intelektual: Biografi Soedjatmoko”. Skripsi itu dibimbing oleh Kuntowijoyo. Pada 2002, buku itu diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Tampaknya buku itu dibaca oleh Pak Mes. Saat saya ketemu dalam suatu acara di Jakarta, beliau memberi apresiasi atas buku saya itu. Dan beliau bercerita kalau beliau sedang menggarap semacam “Rumah Soedjatmoko” di Sawahlunto. Rumah itu sedang dikomunikasikan dengan Bapak Amran, Wali Kota Sawahlunto ketika itu. Dan saya akan diundang untuk bertemu dengan Pak Amran dan akan diusulkan agar saya menjadi semacam konsultan dari “Rumah Soedjatmoko” itu.

Ketika sang bintang utama, Prof Sartono, wafat pada 2007, kami membuatkan semacam buku obituari dan meminta murid-murid dan kolega Sartono untuk menulis kesan-kesannya. Saya menghubungi Pak Mes agar menyumbangkan tulisan dalam buku yang akan diluncurkan pada 100 Hari Sartono. Pak Mes menyanggupi. Tetapi sampai pada deadline terakhir, beliau tidak bisa mengirimkan tulisannya. Pada 14 Maret 2008, saat acara 100 Hari Sartono hampir selesai, saya kaget melihat Pak Mes di Boulevard UGM, depan UC, tempat acara dilangsungkan. Beliau merasa bersalah tidak bisa mengirimkan tulisan untuk acara 100 hari Pak Sartono. Dan atas rasa bersalahnya itu, Pak Mes memilih datang ke acara di hari itu meski datang pada saat acara sudah (hampir) selesai. “Kenapa terlambat, Pak?” tanya saya. “Saya salah jadwal tiket.”

Terakhir saya berkomunikasi dengan Pak Mes via email pada 11 Maret 2019, terkait dengan rencana penerbitan ulang disertasinya. Penerbit Ombak meminta agar Kepialangan Politik dan Revolusi: Palembang 1900-1950 diterbitkan ulang. Dan beliau setuju.

Tadi pagi, sekitar pukul 08:45 WIB, Mestika Zed menghembuskan nafas terakhirnya. Ia menyusul guru dan sahabat-sahabatnya yang lebih dulu berangkat: Gade yang wafat pada 2001 dan Edward pada 2017 lalu. Sedangkan gurunya, Prof Sartono, wafat dua belas tahun yang lalu.

Kepergian Pak Mes, yang juga Guru Besar sejarah Universitas Negeri Padang (UNP) ini, tentu menjadi kabar duka bagi Masyarakat Sejarawan Indonesia. Namun, kini Pak Mes bersama dua sejawatnya, dan juga sang guru, Prof. Sartono, sudah menjadi bintang di langit. Mereka semua mewarisi karya-karya, yang dengannya, membuatnya abadi!

*Sejarawan sekaligus Direktur penerbit buku-buku sejarah: Ombak.


Tag : #sosok #mestika z #sejarawan



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,