Rabu, 20 November 2019


Sabtu, 31 Agustus 2019 08:59 WIB

Sehari-hari di Moeara Laboeh

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di Moeara Laboeh, para penjelajah itu lebih banyak bertemu dan berhubungan dengan warga setempat dibandingkan dengan di daerah lainnya. Di Silago, mereka tinggal di luar dusun, di tempat yang dikungkung pagar. 



Di Moeara Laboeh, mereka tinggal di pondok-pondok di pasar. Rumah-rumah di dusun itu dibangun berdampingan menghadap ke satu arah, seperti layaknya rumah-rumah di pinggir jalan atau yang mengitari alun-alun.

Di Silago dan Alahan Pandjang, mereka menikmati udara yang segar. Di Moeara Laboeh, tercium segala bebauan yang terkadang jauh dari segar. Bila tetangga-tetangga kiri-kanan sedang sibuk di dapur, para penjelajah itu ikut menikmati segala aroma yang menguap dari dalam panci dan kuali mereka.

Bebauan itu bertambah ketika sedang hari pasar. Angin yang bertiup sedikit saja sudah membawa aroma segala jualan yang ditawarkan di pasar masuk ke dalam pondok, melalui pintu dan jendelanya yang terbuka. Pada hari pasar, terutama ketika anggota tim penjelajahan baru saja menempati pondok-pondok mereka, semua orang yang hendak datang ke atau pulang dari pasar, berhenti dulu untuk mengamati pondok-pondok itu dan lelaki-lelaki Belanda yang tinggal di situ.  

Besarnya perhatian orang pada kehadiran mereka memberikan kesempatan baik untuk berkenalan dan mengenal lebih baik warga dusun itu. Suatu saat, mereka membeli beras 120 soekè ( ± 250 kg) dengan harga ƒ7,- per 100 soekè. Penghoeloe itu agak bingung menghitung berapa banyak uang yang harus diterimanya untuk beras itu. Ia memanggil Mandor untuk membantunya. Pun lelaki ini tak dapat menghitungnya. Akhirnya, penghoeloe itu menyerah. Ia mempercayakan perhitungannya pada para tuan-tuan Belanda itu saja.

Para penjelajah itu juga banyak bertemu dengan para pemuda dusun. Alun-alun pasar itu merupakan tempat mereka berkumpul. Di sanalah, menjelang senja, para pemuda—tua dan muda—ramai berkumpul, tertawa dan bersorak. Mereka bermain dengan ‘ragö’, bola besar yang dianyam dari rotan. Atau, melompat tali. Permainan lain menggunakan dua batang kayu (satu pendek, satu panjang) yang dilempar tinggi-tinggi oleh seseorang dan harus ditangkap oleh lawannya. Ketika sedang bermain, tampaklah sisi lain dari anak-anak muda itu. Alangkah besar bedanya dengan sisi yang tampak ketika mereka sedang duduk rapi di bangku sekolah!

Para penjelajah itu diundang datang ke sekolah. Kontrolir dan Tuan Maidman yang bertugas sebagai Panitera juga datang. Toeankoe di Sambah pun kemudian datang pula. Para petinggi setempat hadir semua, ditambah dengan anggota-anggota komisi sekolah. Lima puluh orang murid duduk rapi menghadap orang-orang penting itu. Pertemuan itu dilakukan di ruangan sekolah berdinding bambu. Dinding bagian dalamnya ditempel rapi dengan kertas koran. Ruangan itu dilengkapi dengan bangku-bangku untuk para murid, papan tulis dan sebuah meja. Di salah satu dinding tergantung peta Sumatra, peta nusantara dan peta negeri Belanda. Di sudut, ada bola dunia. Banyak buku-buku bacaan berbahasa Melayu (yang ditulis dalam aksara Arab gundul) dan buku-buku berbahasa Belanda terletak di atas meja-meja murid-murid itu. Juga sabak (papan tulis kecil terbuat dari lempengan batu hitam) dan grip (alat tulis, seperti kapur,  yang terbuat dari magnesium). Alat-alat tulis seperti itulah yang digunakan di sekolah-sekolah di abad ke-20, sebelum ada buku tulis, pinsil dan pena.

Sore-sore, mereka berjalan-jalan cukup jauh, biasanya ke arah Lolo. Dari sana, tampak pemandangan indah ke lembah. Beberapa kali, ketika berjalan-jalan itu, mereka melihat beberapa perempuan, para gadis dan anak-anak mencari belalang  di rerumputan. Ini terutama dilakukan setelah hujan. Serangga itu--yang disebut bilalang--dikumpulkan di dalam wadah yang dibuat dari labu dan kemudian dipanggang untuk dimakan. Tak jauh dari tempat mereka mengumpulkan belalang, tampak seorang lelaki sedang memancing. Ia berjongkok di dekat sebuah buluh bambu, tempat jaringnya tergantung. Lelaki sedang membetulkan lubang di jaringnya.

Pemandangan itu mengingkatkan pada nelayan dan pemancing ikan di negeri Belanda. Jaring lelaki itu dan alat-alat yang dipergunakannya untuk membetulkan kerusakan jaringnya serupa betul dengan yang biasa digunakan di Belanda. Di sini, setiap orang yang menginginkan ikan harus membuat jaringnya sendiri. Karena itulah, jaring penangkap ikan tak dapat dibeli di pasar. Sulit sekali memperoleh jaring seperti itu untuk koleksi benda-benda etnografi penjelajahan. Pemiliknya biasanya tidak bersedia memberikan jaringnya walau dirayu dan dijanjikan harga yang memadai.

Bila mereka berjalan-jalan sore ke arah sebaliknya, ke tepian Bangko, tampak pemandian warga Moeara Laboeh dan Köta Baroe. Di pulau kecil di tengah sungai (yang hanya muncul ketika air sungai sedang surut), sambil membersihkan diri, kaum perempuan juga memandikan anak-anak mereka di arus sungai yang menderas. Mereka membawa tabung-tabung bambu yang nantinya diisi air dan dibawa pulang, untuk air minum.

Agak lebih jauh lagi adalah tempat mandi para penjelajah itu. Di tempat itu, sebatang pohon kelapa yang tumbang ke dalam sungai, menjadi pegangan yang kokoh di tengah arus sungai yang deras.

Dari tepian, mereka melihat datangnya ‘perahu’ yang aneh. Perahu itu bukan perahu, melainkan balka dari kayu banio. Seorang lelaki duduk di ujungnya, memegang pancang kayu di tangannya. Kayu yang didudukinya berasal dari pohon di hutan yang ditebang, dipotong menjadi balka dan kemudian diceburkan ke dalam sungai. Inilah cara paling mudah untuk mengangkut balka itu (atau kayu-kayu hasil tebangan lainnya). Bila terlalu sulit digotong oleh penebangnya, biasanya potongan-potongan kayu itu diceburkan ke dalam sungai agar terbawa arus. Para penebang kayu itu terkadang ikut menceburkan diri (atau duduk di atas sebatang kayu yang terapung seperti lelaki tadi) atau dari tepian, mereka mengikuti perjalanan batang dan potongan-potongan kayu itu. Bila ada potongan kayu yang tersangkut akar di tepian atau batu di dalam sungai, mereka akan melepaskannya dengan bantuan tongkat supaya kayu tebangan itu dapat terus terbawa arus sampai ke hilir, ke tempat yang dituju.

Sistem pengangkutan seperti ini paling praktis. Cara ini tentunya tak dapat dilakukan di sungai yang dangkal atau di saat air sungai surut. Kesulitan lain yang harus dihadapi adalah arus sungai. Bila sungai itu mengalir deras karena arusnya besar, terkadang kayu-kayu yang diangkat terbawa ke tempat yang lebih jauh dari yang dituju!

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #naskah klasik belanda #ekspedisi belanda ke jambi #sumatra tengah



Berita Terbaru

 

Selasa, 19 November 2019 21:57 WIB

MFA Sebut Ada Hubungan Erat dengan PKB Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Hingga saat ini ada tiga Bacalon Bupati Batanghari yang sudah mengambil formulir penjaringan di kantor DPC PKB Batanghari,

 

Selasa, 19 November 2019 21:44 WIB

Razia Tiga Kecamatan di Batanghari, 143 Botol Miras Diamankan Petugas


Kajanglako.com, Batanghari - Satpol-pp Batanghari bersama tim gabungan Polri, Kejaksaan, BNN dan Pengadilan Negeri, Selasa (19/11), merazia sejumlah tempat

 

Selasa, 19 November 2019 17:36 WIB

Tampil Maksimal, Zian Goncang Smansa Batanghari


Kajanglako.com, Batanghari - Berbagai macam penampilan disuguhkan pelajar SMAN I Batanghari pada acara Pensi yang juga sekaligus memperingati hari jadi

 

Selasa, 19 November 2019 16:34 WIB

Rumah Hariyah Ludes Dilahap Sijago Merah


Kajanglako.com, Sarolangun- Rumah semi permanen milik Hariyah di RT 07 Desa Lubuk Resam Ilir Kecamatan Cermin Nan Gedang, Senin (18/11) malam, ludes dilalap

 

Selasa, 19 November 2019 15:09 WIB

Siap Siaga Antisipasi Banjir, Pemprov dan Stakeholder Bersinergi


Kajanglako.com, Jambi - Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi M.Dianto, mengemukakan, sebelum datangnya musim hujan, Pemerintah Provinsi (Pemrov) Jambi