Jumat, 20 September 2019


Selasa, 27 Agustus 2019 16:21 WIB

Tikar hias, Periuk Tembikar dan Pewarna Alam

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Penebangan hutan untuk membuat jalan membuat Moeara Laboeh ramai. Ketika Snelleman ke lokasi pembangunan jalan itu, pada tanggal 24 November, sekitar 300 orang sedang sibuk menebang pepohonan di lahan selebar 12 meter, menepikan batang-batang yang tumbang itu dan membersihkan semak-belukar. Banyaknya orang di tempat itu merupakan pemandangan yang hampir tak pernah tampak sebelumnya. Pekerja-pekerja itu terutama berasal dari Köta baroe, Pasar Talang dan Kapau.



Sejauh ini, di dalam laporan-laporan yang sudah ditulis mengenai jalannya ekspedisi, seseorang belum banyak disebut-sebut. Orang itu adalah Bandaro Koening, Juru Tulis. Ia selalu ikut ke mana-mana dan bahkan ditugaskan sebagai utusan ekspedisi untuk menghadap ke para tetua dan pemimpin di Sigoentoer. Walaupun agak lamban, pekerjaannya dilakukannya dengan baik. Ia juga memberikan banyak bantuan kebahasaan dan pencarian informasi etnologis.

Namun demikian, entah mengapa, para penjelajah ekspedisi itu merasa tidak dapat memberikan kepercayaan penuh kepadanya. Pandang Alam, Juru Tulis yang membantu Santvoort, sebetulnya juga bukanlah orang yang langsung membuat orang merasa dapat menaruh kepercayaan padanya. Kedua orang itu berbangga hati karena dapat membaca dan menulis. Kemampuan itu membuat mereka merasa diri lebih dibandingkan dengan penduduk dusun lainnya atau kepala dusun (yang tidak dapat membaca/tulis). Mereka agak melecehkan para kuli dan merasa tak pantas bila harus membawa barang-barangnya sendiri dalam penjelajahan.

Pada suatu siang, di Alahan Pandjang, ketika orang-orang yang biasanya sibuk di dapur tidur siang, seorang pemuda melihat Bandaro Koening masuk ke dapur dan membuka-tutup panci-panci yang ada di sana. Bandaro Koening lalu membuka suatu bungkusan kertas yang kecil dan menumpahkan isinya ke dalam panci sop yang sudah disiapkan untuk santap siang itu. Ketika dipanggil dan ditanya, Bandaro Koening mengakui bahwa memang ia memasukkan sesuatu ke dalam panci sop. Ia memasukkan ramuan ‘pakasiè', yaitu ramuan pekasih untuk membuat orang yang memakan sop itu jatuh cinta atau menyukai dirinya. Para penjelajah dari belanda itu sudah mendengar perihal ramuan pekasih itu dan apa saja yang dipergunakan untuk membuatnya (terkadang benda-benda menjijikkan).

Siang itu, tak seorang pun bersedia makan sop itu. Bandaro Koening dilarang untuk masuk lagi ke dapur. Apakah benar ia memasukkan ramuan pekasih ke dalam sop itu? Tak ada yang tahu. Yang jelas, perbuatannya justeru membuat para penjelajah itu semakin tidak menyukai dirinya!

Pada tanggal 29 September, Bandaro Koening meminta izin meninggalkan tugasnya di Alahan Pandjang. Ia ingin menghadiri perayaan sunatan anaknya. Ia berjanji akan menyusul tim penjelajahan ke Moera Laboeh pada tanggal 16 Oktober. Sejujurnya, para penjelajah Belanda itu merasa lega bahwa ia akan pergi, tetapi bagaimana pun, mereka menunggu kedatangannya kembali. Tunggu punya tunggu, pada tanggal 16 Oktober, ia tak muncul.

Seminggu kemudian, kemenakannya—seorang lelaki muda--muncul di Moeara Laboeh. Bandaro Koening sakit, katanya. Benarkah? Biasanya orang Melayu menggunakan alasan sakit untuk tidak datang ke suatu tempat. Lelaki muda itu akan menjalankan tugas-tugas pamannya, Bandaro Koening. Dan memang, pemuda Melayu yang bersahaja itu berusaha bekerja sebaik-baiknya. Hal ini membuat van Hasselt menyukai dirinya. Akhirnya, ia dipertahankan sebagai Juru Tulis ekspedisi sampai para penjelajah itu meninggalkan Pantai Barat Sumatera.

Dari Moeara Laboeh, mereka mengunjungi Kota Baroe. Kunjungan pertama ini segera disusul dengan kunjungan kedua. Yang pertama-tama dilakukan adalah mampir di rumah isteri pertama Toeankoe di Sambah. Perempuan itu tinggal di sebuah rumah besar berdinding bambu. Karena Toeankoe di Sambah juga ikut serta, para penjelajah itu berkesempatan melihat benda-benda berharga yang biasanya tidak diperlihatkan kepada orang lain, yaitu kain-kain yang ditenun dengan benang-benang emas dan pakaian mewah lainnya. Beberapa di antara pakaian bagus itu berwarna merah hati dan dihiasi dengan renda-renda emas.

Alat tenun yang tampak di rumah isteri Toeankoe di Sambah serupa dengan alat-alat tenun yang ada di Siloengkan. Hanya ada beberapa perbedaan kecil saja.

Di dalam rumah, beberapa tikar hias terbentang. Tikar-tikar itu terbuat dari bahan flanel yang dihiasi dengan lempengan-lempengan tembaga. Warna dasar merah membuat hiasan-hiasan itu tampak menyolok dan indah. Tikar-tikar itu dibuat oleh kaum perempuan yang tinggal di rumah itu. Toeankoe di Sambah, kepala laras, menjanjikan akan membuatkan beberapa tikar untuk koleksi Ekspedisi. Harga tikar-tikar itu sudah disetujui bersama. Namun, sayangnya di nusantara terkadang ada kesenjangan besar di antara janji dan pemenuhan janji itu. Sampai ekspedisi itu usai, tikar-tikar yang dijanjikan belum juga diterima.

Setelah puas melihat-lihat, mereka pamit dan berjalan lagi sampai ke rumah seorang penghoeloe yang dikenal sebagai perajin periuk tembikar (walau sebetulnya kaum perempuanlah yang membuat periuk itu). Periuk-periuk seperti itu berperan besar dalam setiap rumah tangga Melayu. Untuk membuat, sebongkah tanah liat yang lembab dibentuk menjadi mangkok berdinding tebal. Dengan cara mengetuknya perlahan dan hati, dinding-dinding mangkok menjadi semakin tipis dan lebih besar dan mulai tampak sebagai periuk.

Ket: perkakas rumah tangga. sumber: buku ekspedisi sumtera tengah

Sebuah batu bulat dimasukkan ke dalam wadah itu untuk menunjan dindingnya. Dengan tangan kanannya, perempuan yang membuat periuk itu menghaluskan dan meratakan tanah liat yang masih bertumpuk. Kemudian, ia memasang lengkung tepi yang merupakan khas periuk itu. Setelah itu, periuk tembikar siap dibakar di dalam api. Periuk-periuk itu rapuh dan mudah pecah bila dipakai secara kasar. Akan tetapi, seorang perempuan Melayu selalu berhati-hati dengan tembikar yang termasuk barang pecah-belah. Tak pernah tampak perempuan Melayu yang melempar atau membanting sesuatu.

Yang tertangkap mata dalam acara berjalan-jalan itu bukan hanya itu saja. Di bawah sebuah rumah, mereka orang mencat kain putih yang baru selesai ditenun. Kain itu dicat biru dengan cat alami yang dibuat dari tanaman Marsdenia tinctoria, tanaman merambat yang biasanya digunakan untuk zat pewarna biru (tanaman ini lebih sering digunakan sebagai pewarna biru daripada tanaman indigo). Marsdenia tinctoria itu ditanam sebagai semak-semak di halaman rumah penenun kain itu. Zat berwarna biru akan keluar tangkainya dipencet. Kain yang sedang dikerjakan hanya akan dicat biru, tanpa motif apa pun.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,