Jumat, 20 September 2019


Senin, 26 Agustus 2019 15:36 WIB

Manuel Kaisiepo

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Gayanya tidak berubah meskipun lebih dari sepuluh tahun tidak bertemu, bicaranya masih sama, kritis dan memperlihatkan bacaannya yang luas. Saya masih ingat, ketika mencari buku yang baru terbit tidak semudah dan secepat sekarang, Manuel, di pertengahan tahun 1980-an sudah memiliki buku "Interpreting Indonesian Politics: Thirteen contributions to the debate", kumpulan tulisan penting tentang politik Indonesia yang diedit Audrey Kahin, Ben Anderson dan Daniel Lev.



Pada pertengahan tahun 1980-an itu, beberapa anak muda, antara lain, Wiladi Budiharga,  Manuel, Kasiepo, Moeslim Abdurahman, Indro Tjahjono, Hermawan Soelistyo dan lain-lain, membuat terobosan dalam dunia ilmu-ilmu sosial yang dianggap mandeg dengan mengembangkan apa yang dinamakan "Ilmu-Ilmu Sosial Transformatif". Meskipun sebagai kelompok kemudian bubar namun masing-masing anggotanya terus memperjuangkan ide mentransformasi masyarakat.

Manuel Kaisiepo, intelektual publik yang terus bergerak. Pada awal tahun 1990-an bersama Gus Dur, Todung Mulya Lubis, Rahman Tolleng, Marsilam Simanjuntak, dan Bondan Gunawan serta sejumlah tokoh lainnya, mendirikan Forum Demokrasi, sebagai gerakan intelektual penyeimbang menguatnya kecenderungan para intelektual saat itu membuat organisasi berbasis kesamaan agama. Inilah sebuah masa ketika intektual Indonesia seperti melupakan jatidirinya sebagai orang-orang yang bebas berpikir. Mereka rela menyerahkan kemerdekaan berpikirnya kepada organisasi sektarian yang menjanjikan kekuasaan bagi kelompok agamanya sendiri. Forum Demokrasi, meskipun sebuah kelompok kecil namun menjadi bukti bahwa masih ada pemikir-pemikir bebas di negeri ini.

Adalah Abdurahman Wahid, Gus Dur panggilan akrabnya, sebagai figur utama dalam Fordem, seorang tokoh dan pemimpin Islam yang gigih melawan rekan-rekannya sendiri para tokoh Islam, yang memilih mengabdi pada sebuah kepentingan politik jangka pendek saat itu.

Harus diakui bahwa spirit kelahiran Fordem tidak dapat dilepaskan dari "wind of change", yang saat itu berhembus kencang di negara-negara sosialis-komunis di Eropa Timur yang ingin melepaskan diri dari hegemoni Uni-Soviet. Kemunculan Vaclav Havel, seorang penyair dan sutradara teater sebagai pemimpin perlawanan di Cekoslovakia, menjadi inspirasi para intektual Indonesia untuk membuka dan memperluas ruang publik dan tidak menyerah pada dominasi politik identitas. Ketika genggaman Uni-Soviet berhasil dilepaskan, Vaclav Havel terpilih menjadi presiden pertama Republik Cekoslovakia.

Ket: Manuel Kaisiepo. Sumber Foto: Facebook Pribadi.

Ketika angin perubahan politik juga mulai berhembus kencang di tahun 1998, menjadi kebutuhan mendesak siapa yang paling pantas menjadi presiden jika nanti Soeharto tumbang. Setelah melewati masa transisi periode kepresidenan Habibie, melalui berbagai konflik dan ketegangan, pilihan kemudian jatuh pada Gus Dur sebagai presiden pertama versi reformasi. Dalam masa kepresidenan Gus Dur yang pendek, Manuel Kasiepo diangkat menjadi Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Saya kira, saat itu perhatian Gus Dur sudah terarah ke Papua dan melihat urgensi untuk segera memberikan prioritas ke Papua. Manuel Kaisiepo adalah orang yang tepat untuk mewakili Papua dalam kabinet Gus Dur.

Setelah Aceh berhasil didamaikan, memang tinggal Papua yang belum berdamai dengan republik. Inisiatif Gus Dur untuk mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua adalah langkah simbolik penting memberikan respek dan rekognisi terhadap orang Papua dan identitas kulturalnya. Gus Dur memahami identitas kultural melebihi identitas politik. Langkah penting selanjutnya yang diambil Gus Dur adalah melakukan dialog langsung tanpa perantara dengan orang Papua. Gus Dur tidak melarang Bintang Kejora bendera Orang Papua dikibarkan berdampingan dengan republik, sang merah putih, asal dalam posisi lebih rendah.

Gus Dur juga mulai melakukan pendekatan pribadi dengan Theys Hiyo Elue, pemimpin karismatik Papua. Dibunuhnya Theys sebelum melakukan pertemuan dengan Gus Dur menggagalkan usaha Gus Dur untuk mendamaikan Papua. Menyusul digulingkannya Gus Dur dari kursi kepresidenan, menghancurkan jembatan yang mulai dibangunnya untuk menyeberangkan Orang Papua menuju kesetaraan di pangkuan republik. Apa yang kita saksikan belum lama ini, represi dan persekusi terhadap mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya, adalah bukti sebagian dari kita belum mau berdamai dengan Papua.

Sebelum segalanya menjadi terlambat, mungkin sekarang saatnya kita harus kembali mengingat Gus Dur, dan mungkin kita juga harus mendengarkan apa pendapat Manuel Kaisiepo tentang bagaimana kita harus melakukan perdamaian dengan Papua. Bagi Orang Papua, mungkin karena pengalaman sejarahnya yang getir, ada yang lebih berharga dari sekedar kesejahteraan material, yaitu martabat dan harga diri; dan itu yang selama ini diabaikan. Setelah Aceh, Papua adalah tes terakhir mampukah kita berdiri sebagai sebuah republik yang menghargai warga negaranya sendiri.

 *Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #papua #sosok #gus dur #manuel kaisiepo



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,