Jumat, 20 September 2019


Senin, 19 Agustus 2019 11:53 WIB

Jalaludin Rakhmat

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis.

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Meskipun usianya akan melalui kepala tujuh pada 29 Agustus 2019 ini, yang untuk ukuran orang Indonesia berarti sudah melebihi rata-rata usia warga sebangsanya, Jalaludin Rakhmat, tampil bersemangat saat menyambut kedatangan rombongan NSD (Nusantara School of Difference), yang siang itu mengunjungi kompleks Sekolah Munthahari di Bandung yang didirikannya sejak 1 Juli 1992.



Berbicara dengan bahasa Inggris yang fasih di hadapan tamu-tamunya, yang sebagian orang asing, cendekiawan bertubuh kecil ramping dengan baju dan celana panjang serba hitam ini, terlihat ceria menceritakan pengalamannya sebagai seorang intelektual muslim beraliran Syiah, sebuah aliran yang dianggap menyimpang dalam sebuah negeri yang mayoritas muslim beraliran Sunni.

Mengetahui tamu-tamunya hari itu adalah peserta dari sebuah "summer school" yang datang dari berbagai latar belakang agama dan bangsa, dan dipimpin oleh seorang penganut agama Yahudi berkebangsaan Amerika, profesor di Faculty of Religious Studies di Boston University; Adam Selligman, Kang Jalal, begitu ia akrab disapa, seperti berbicara dengan teman-temannya sendiri yang telah akrab, disertai humor dan kadang seperti  mengejek dirinya sendiri, yang untuk publik Indonesia dianggap sebagai orang yang berbahaya dan beraliran sesat, tapi juga dengan rasa percaya diri yang besar serta keyakinannya yang kuat akan kebenaran ajaran Islam yang dianutnya.

Kang Jalal pada dasarnya adalah seorang intektual publik yang memiliki posisi penting dalam diskursus Islam di negerinya yang secara statistik 90 persen dari 260 juta penduduknya beragama Islam. Sebagai ahli ilmu komunikasi dan pengajar tetap di Universitas Pajajaran, tidak sedikit buku yang telah dihasilkannya dan sebagian bukunya menjadi bacaan wajib mereka yang belajar ilmu komunikasi. Mendapatkan gelar master dari Iowa University, kemudian melanjutkan program doktor untuk ilmu politik di The Australian National University, di bawah bimbingan Indonesianis ternama Harold Crouch, Kang Jalal tentulah seorang pakar di bidangnya yang patut diperhitungkan. Bahkan, secara khusus ia turut membina kuliah Mysticism (Irfan/Tasawuf) di Islamic College for Advanced Studies (ICAS) - Paramadina University, yang ia dirikan bersama almarhum Nurcholis Madjid, Haidar Bagir, dan Muwahidi sejak tahun 2002. Namun yang menjadikan pria kelahiran Bojong Salam Rancaekek, Bandung, ini istimewa adalah pilihannya bersetia pada sebuah aliran dalam Islam, yang di negerinya dianggap minoritas dan dalam istilahnya sendiri “deviant”, Syiah.

Ket: Jalaludin Rakhmat. Sumber foto: salam-online.com  

Memilih untuk menganut ajaran Syiah sepulang dari muhibahnya ke Iran pasca kemenangan revolusi Iran di bawah Ayatullah Khomeini, Kang Jalal merasa cocok dengan pemikir-pemikir Iran, seperti Ali Syariati dan Muntahari. Ali Syariati merupakan seorang pemikir Islam radikal dan dianggap kiri karena banyak menyerap Marxisme segera menjadi “role model” bagi tidak sedikit intelektual muslim Indonesia, yang sejak awal tahun 1970an mulai mewarnai diskursus maupun praksis keislaman dalam berbagai gerakan swadaya di Indonesia.

Awal 1970-an istilah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) mulai dipakai sebagai versi Indonesia dari istilah NGO (Non GovernmentOrganisation), yang oleh rezim Orde Baru saat itu terdengar agak kurang tepat. Harus diakui bahwa kalangan intelektual muslim merupakan “reservoir” terbesar yang paling banyak kemudian melahirkan intelektual publik dengan berbagai teroboson pemikiran dan eksperimen praksis keswadayaan yang terbesar dibandingkan dengan kalangan lainnya.

Dalam konteks trajektori sejarah ini, Jalaluddin Rahmat dapat disejajarkan peran dan pengaruhnya dengan para intelektual publik sezamannya, seperti Dawam Rahardjo, Nurcholis Madjid, Kuntowijoyo, Abdurahman Wahid dan Adi Sasono - yang saat ini hanya dapat kita baca buku-bukunya karena tokoh-tokoh ini semuanya telah meninggalkan kita.

Setakat hal itu,  sekolah Muntahari yang didirikan dan telah subur berkembang menjadi bukti kegigihan dan kemampuannya sebagai seorang intektual publik yang tidak sekedar berfungsi sebagai komentator politik yang sering kita lihat di berbagai acara “talk show”, namun komitmen dan dedikasinya secara langsung melalui dunia pendidikan yang lembaganya mengambil nama pemikir Syiah Iran terkenal, Muntahari.

Kang Jalal dan upayanya untuk mengembangkan dunia persekolahan yang oleh kalangan Islam "mainstrim" dicurigai sebagai mengajarkan Islam yang "deviant" menjadikannya sebagai intelektual publik yang kontroversial. Tapi barangkali keberadaan orang-orang seperti Kang Jalal, yang justru pada saat ini,  jangan-jangan diperlukan untuk memberikan otokritik pada perkembangan Islam yang oleh pengkaji Islam asal Belanda, Martin Van Bruinnissen, dinilai sedang memasuki sebuah periode yang disebutnya sebagai "conservative turn" alias pergerakan ke arah konservatif. (Lebih lanjut baca: Martin van Bruinessen, ed, Contemporary Development in Indonesian Islam, Explaining the “Conservative Turn”, Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 2013).

Dalam cuaca politik yang sering tidak menentu sejak ambruknya “repressive developmentalist regime” Orde Baru di bawah Jendral Suharto, konservatisme dan ortodoksi berkembang menjadi ancaman baru bagi kehidupan bersama dari sebuah masyarakat yang penduduknya memiliki latar belakang beragam.

Hidup bersama dalam perbedaan sebagai sebuah “public virtue” menjadi tidak mudah karena klaim kebenaran dan klaim paling suci terbukti tidak berhenti pada tataran wacana yang damai, namun bisa terekspresi pada tindakan persekusi dan represi dari yang mayoritas pada yang minoritas.

Kaum minoritas dan ajaran-ajaran yang dianutnya, dianggap sebagai ancaman terhadap klaim-klaim kebenaran dan kesucian yang dianut mayoritas; dan oleh karena itu harus disingkirkan dan dianggap tidak berhak hidup sebagai bagian dari sebuah masyarakat yang beragam.

Dengan demikian, Nusantara School of Difference, sebagai bagian dari CEDAR (Communities Engaging with Difference and Religion - http://www.cedarnetwork.org) yang digagas dan dikembangkan oleh Adam Selligman merupakan upaya rintisan untuk menembus persoalan klasik bagaimana hidup bersama dalam perbedaan keyakinan – yang selama ini tampaknya gagal diatasi oleh apa yang dikenal sebagai“ interfaith dialog”.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #sosok #Jalaludin Rakhmat #Nusantara School of Difference #Adam Selligman #Sekolah Munthahari



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,