Jumat, 20 September 2019


Sabtu, 17 Agustus 2019 12:05 WIB

Isi Museum Penyusunan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Reporter :
Kategori : Jejak

Ruang tamu bekas rumah Laksamana Maeda. Dok.JP

Oleh: Jumardi Putra*

Museum Penyusunan Naskah Proklamasi (disingkat Munasprok) beralamat di Jalan Meiji Dori (sekarang Jalan Imam Bonjol No. 1, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat). Gedung Munasprok ini dirancang arsitek Belanda J.F.L Blankenberg dan dibangun pada 1920-an.



Setelah mengalami beberapa kali renovasi dan berpindah kepemilikan, pada 24 November 1992, berdasarkan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0476/1992, bangunan bersejarah ini ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis di bidang Kebudayaan di bawah Dirktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (baca di sini: http://kajanglako.com/id-8926-post-sejarah-museum-penyusunan-naskah-proklamasi.html).

Bekas rumah Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang (Kaigun), Laksamana Muda  Admiral Tadashi Maeda, ini menjadi saki bisu atas peristiwa bersejarah 74 tahun lalu, yakni mulai dari persiapan, perumusan naskah, pengetikan, hingga pengesahan dan penandatangan naskah proklamasi lahirnya naskah proklamasi yang dibacakan oleh pemimipin Besar Soekarno dan Hatta pada Jumat, 17 Agustus 1945.

Memasuki museum di lantai I, pengunjung akan menemukan ruangan utama. Ruangan utama ini dahulu digunakan sebagai ruang diplomasi antara Indonesia dengan Belanda  paska kemerdekaan RI.

Selain tempat disetujuinya dan disahkannya naskah proklmasi oleh seluruh hadirin yang hadir, sekitar 4—50 orang jelang jelang subuh, Jumat, 17 Agustus 1945, ruangan ini juga pernah digunakan sebagai tempat perundingan antara pihak Indonesia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan pihak Belanda yang dipimpin oleh Dr. H.J. Van Mook, sedangkan dari pihak sekutu diwakili oleh Let. Jen. Christisson. Begitu juga perundingan kedua kalinya, 7 Oktober 1946, antara pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Sutan Sjahrir dan pihak Belanda oleh Prof. Schermerhorn, sedangkan sebagai penengah dari pihak Inggris, yaitu Lord Killearn.

Di ruang pengesahan ini, tersedia tiga komputer yang menyajikan informasi digital. Substansi materinya berkisar pada peristiwa dan tokoh-tokoh seputar Proklamasi. Karena digital, pengujung cukup mengklik gambar atau foto tokoh sesuai keinginan.

Pada sisi kiri pintu masuk terdapat sebuah ruangan berisikan meja dan kursi tamu. Di sinilah tempat Laksamana Maeda menerima Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo, setibanya mereka dari Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 pukul 22.00 WIB. Di sana, ketiganya, tidak termasuk Maeda, mempersiapkan perumusan naskah Proklamasi.

Di sebelah ruang pertemuan ada meja makan tempat dirumuskannya naskah Proklamasi. Di sinilah pada 17 Agustus 1945, dini hari pukul 03.00 WIB, Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo merumuskan konsep naskah Proklamasi. Pada momen ini, Laksamana Maeda juga tidak terlibat.

Untuk menambah kesan nyata terhadap peristiwa 74 tahun lalu, di ruangan ini terdapat tiga patung lilin sosok Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo. Ketiga tokoh bangsa ini tampak berembuk merumuskan naskah Proklamasi. Tak jauh dari ketiga patung tiruan tiga tokoh itu, terpajang naskah Proklamasi tulisan Soekarno dalam ukuran besar, yang dibingkai kaca tebal.

Selanjutnya, di bawah tangga lantai 2, tepat dihadapan pintu utama Museum, terdapat sebuah ruangan kecil yang dahulu digunakan sebagai tempat Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi ditemani oleh BM Diah. Ketika memasuki ruangan ini, pengunjung secara otomatis mendengar suara (audio) yang menjelaskan aktivitas Sayuti Melik dan BM. Diah jelang dinihari 17 Agustus 1945.

Menaiki tangga bergaya art deco, menuju lantai dua bangunan ini, tak jauh dari tangga, terdapat kamar mandi yang sudah tidak difungsikan. Keramiknya jelas keramik berusia tua, namun sudah ada bathtubwastafel, dan juga kloset duduk.

Di lantai dua ini, terdapat berbagai benda bersejarah seputar masa pergerakan yang tersimpan rapi dalam etalase, antara lain, Buku-buku (Buku Naskah Persiapan Undang-undang Dasar RI Jilid I dan Buku Pembahasan Undang-undang Dasar RI karangan M. Yamin, Documenta Historica tentang Sejarah Pertumbuhan dan Perjuangan Negara Republik Indonesia, 1951, dan Buku dari Proklamasi sampai Gesuri/ Genta Suara Revolusi Indonesia: berisi pidato proklamasi yang diucapkan oleh P.J. M. Presiden RI pada tiap tanggal 17 Agustus sejak Agustus 1945 sampai 1963 (terbitan Yayasan Prapantja, 1963); majalah (Madjalah Djawa Baroe); piringan hitam yang pertama kali merekam proklamasi kemerdekaan Indonesia; kaset proklamasi, serta hasil scan terhadap tulisan tangan dan ketikan naskah proklamasi.

Selain itu, juga terdapat mata uang kertas seri “Dai Nippon Teikoku Seihu” (Imperial Japanse Goverment)-seri uang yang pertama yang menggunakan satua “roepiah” menggantikan seri sebelumnya yang masih menggunakan gulden. Seri ini tidk memiliki seri pengaman seperti seri-seri lainnya, dan terdiri dari 5 pecahan, yaitu 1 / 2 roepiah, 1 roepiah, 5 roepiah, 10 roepiah, dan 100 rioepiah. Juga terdapat mata uang kertas senilai 10 Rupiah Pemerintah RI sebagai tanda pembayaran yang sah, 17 Oktober 1945, yang ditanda tangani Menteri Keuangan.

Di ruangan lainnya terdapat cetakan poster bergambar Soekarno; jam tangan dan kacamata Soekarno; pakaian Laksamana Maeda; piagam tanda kehormatan dan lencana Bintang Mahaputera milik Dr. Soetardjo Kartohadikoesoemo; plakat pahlawan nasional Iwa Koesoema Soemantri tahun 2002 dan koleksi dua jilid buku Sejarah Revolusi Indonesia miliknya; topi dan dasi milik Prof. Dr. Mr. R. Soepomo; destar, ikat kepala dan dasi milik I Gusti Ketut Poedja; tas kulit milik Suwiryo; serta jas, peci, dan tongkat milik Teuku Moehammad Hasan, dan bahkan tak kalah menariknya, pengunjung juga dapat melihat setelan baju mantel merek Tuxedo dan tongkat milik Anang Abdul Hamidhan.

Adapun keseluruhan dinding di ruangan di lantai dua ini terpajang penggalan-penggalan sejarah dan tokoh masa pergerakan hingga detik-detik menjelang proklamasi kemerdekaan. Tentu bagi Anda penyuka sejarah, mengunjungi gedung yang berdiri di atas tanah seluas 3.914 m2 dengan luas bangunan 1.138,10 m2 ini menjadi sangat berarti.

*Catatan ini merupakan buah dari rangkaian kunjungan penulis ke Museum Penyusunan Naskah Proklamasi pada19 Juli 2019. Sumber bacaan:  Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran, dan Keterlibatan Jepang, Hendri F. Isnaeni (editor), Kompas: 2015 dan Booklet Musemum Penyusunan Naskah Proklamasi (Munasprok): 2019.


Tag : #Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia #Laksamana Maeda #Soekarno #Hatta #Achmad Soebardjo



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,