Jumat, 20 September 2019


Sabtu, 17 Agustus 2019 10:31 WIB

Memoetjoek di Air Terjun Ombajan

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Tak lama setelah mereka kembali, Toeankoe di Sambah datang berkunjung. Pada waktu itu, ia bercerita tentang pengalamannya menjelajah bersama Schouw-Santvoort. Van Hasselt, Snelleman dan Veth merasa sudah sepantasnya mereka membalas kunjungan itu. Pada tanggal 17 Oktober mereka datang ke rumah raja itu. Kedatangan mereka disambut ramah dan dijamu dengan bermacam-macam kudapan Melayu yang enak-enak dan berbagai aneka bebuahan.



Toeankoe di Sambah memperkenalkan ketiga orang anak perempuannya (yang berumur 3, 5 dan 7 tahun). Ketiga mengenakan kain sarung dan kebaya. Rambut mereka tersisir rapi dalam gelung kecil. Gadis-gadis kecil itu sama sekali tidak takut atau pun malu-malu dan tanpa ragu-ragu, menjawab segala pertanyaan yang diajukan kepada mereka.

Ayah mereka, Toeankoe di Sambah, dengan bangga juga menunjukkan arloji emas yang dihadiahkan kepadanya oleh  Schouw-Santvoort, medali anugerah dari pemerintah Hindia-Belanda atas jasa-jasanya dan kotak sirih untuk doebalangnya, Pak Dogan, dari Schouw-Santvoort.

Sebagai selingan kerja, sesekali mereka melihat-lihat daerah di sekitar Moeara Laboeh. Kontrolir Welsink banyak memberikan masukan dan terkadang juga ikut menemani mereka.

Pada tanggal 17 Oktober, mereka beranjangsana ke Ombajan, sebuah air terjun besar di Seliti Pada waktu ini, Mully juga ikut. Lelaki ini bekerja sebagai Pengawas Jalan yang bertugas mencari rute terbaik untuk pembuatan jalan ke XII Kota dan sekitarnya. Beberapa orang Melayu juga ikut. Mereka akan dapat memberikan banyak informasi mengenai ‘memoetjoek’, yaitucara memancing tradisional.

Mereka berangkat. Naik perahu. Pemandangan hutan di kiri-kanan sungai indah, tapi mereka tak sempat menikmatinya. Perahu yang mereka tumpangi bocor. Kalau tak ingin tenggelam di sungai itu, mereka harus terus-menerus menimba air yang masuk ke dalam perahu. Pun, perahu itu sarat dengan penumpang. Terlalu banyak penumpangnya sehingga tak seorang pun dapat bergerak terlalu banyak, apalagi sekedar untuk melihat-lihat pemandangan saja!

Sambil menimba dan membuang air di perahu, seseorang menjelaskan teknik memancing dengan cara memoetjoek, orang menggunakan tali ijuk sepanjang lebarnya sungai. Di tali itu, dalam jarak yang berdekatan, diikatkan daun enau yang muda—pucuk enau. Dedaunan itu dibiarkan tergantung dengan bebas. Tali ijuk dengan dedaunan itu diturunkan ke dalam air. Dengan sendirinya, tali itu mengapung-apung di permukaan. Di kedua tepian sungai, dua orang memegang ujung-ujung tali ujuk itu. Bersama-sama, mereka berjalan ke hilir. Karenanya, ikan-ikan di dalam sungai terpaksa berenang ke hilir, ke tempat yang lebih rendah. Di sini sudah disiapkan semacam bendungan.

Kemudian, ikan-ikan itu ditangkap dengan jaring di bendungan itu. Orang Melayu (di daerah ini) sangat piawai menyelam. Pada waktu memotjoek itu, beberapa kali seseorang menyelam—semata-mata untuk memastikan bahwa ikan-ikan yang sedang diburu betul-betul berenang ke arah bendungan yang sudah disiapkan.

Teknik lain digunakan untuk menangkap ikan yang bersembunyi di antara bebatuan ketika tali ijuk dan dedaunan enau tadi menggiring ikan-ikan lainnya ke bendungan. Seseorang masuk ke dalam sungai dengan jaring berbentuk bulat. Dengan tangannya, ia menangkapi ikan-ikan itu dan membawanya ke darat.

Tanpa terasa, mereka sudah dekat dengan air terjun Ombajan. Mereka menepi dan naik ke darat. Dengan susah-payah, mereka menerobos semak-belukar untuk sampai ke air terjun itu. Dari ketinggian, air yang mengalir deras itu menggelegar terjun ke bawah. Saking kuatnya gemuruh air terjun itu, setiap orang yang ingin mengatakan sesuatu harus berteriak-teriak keras agar kata-katanya terdengar.

Di tempat ini, di antara buih-buih air terjun itu tampak batu-batu raksasa yang bertumpuk-tumpuk. Air sungai dengan mudahnya mencari jalan, menelusup di antara bebatuan, akan tetapi batang-batang pohon yang tumbang dan reranting terjepit di antaranya. Hanya banjir yang dapat membebaskan batang-batang dan reranting itu.

Sungguh indah pemandangan di tempat itu. Entah berapa lama mereka duduk  di atas sebuah batu, menikmatinya. Beberapa orang Melayu memancing dengan pancing dan kail, namun tak seekor pun ikan yang terpancing. Lambat-laun, sinar matahari,  yang tadinya menyeruak di antara dedaunan pohon-pohon di darat, mulai bergerak turun. Sudah hampir tiba waktunya untuk pulang.

Bagaimana kabarnya orang-orang yang tadi memoetjoek? Apakah mereka berhasil menangkap ikan? Melalui jalan setapak di tepian kanan sungai, mereka berjalan kaki ke hilir. Para penjala ternyata sedang duduk di bawah pohon koebang yang rindang, di tempat yang mengering dan menjadi semacam pulau oleh rendahnya permukaan air. Liana yang panjang melilit dan saling menjalin, lalu tergantung dari cabang-cabang dan ranting pohon koebang itu.

Tak jauh dari pulau tempat para penjala itu duduk, di tepian kiri, terdapat sebuah mata air panas. Panasnya, yang tak memungkinkan orangmerendam kaki telanjang di situ, masih terasa di air sungai di tepian kanan! Di dekat mata air itu terdapat sebuah pondok kecil yang terbuat dari ranting pohon dan dedaunan. Pondok kecil itu tempat Toeankoe di Sambah menunggu kedatangan rusa bila ia sedang berburu. Rupanya, rusa-rusa itu suka minum air panas di tempat itu.

Mereka pulang. Untuk sementara, istilah ‘pulang’ dapat diterapkan untuk pondok-pondok yang mereka tempati di pasar. Pondok-pondok itu cukup nyaman. Hanya bila hujan turun deras, bagian dalamnya tidak bertahan kering. Air hujan merintik masuk ke dalam, sedikit-sedikit, dari bocor di atapnya.

Parahnya, semakin lama hujan turun semakin sering. Ketika baru tiba di Moeara Laboeh, matahari hanya bersinar sebentar-sebentar saja. Kabut bergantung rendah dan menyelimuti dinding-dinding gunung. Puncak Kerinci diketahui pasti ada, tetapi puncak itu jarang sekali terlihat. Kalau pun tampak, para penjelajah itu seolah-olah merasa mengamati fenomena alam yang baru pertama kali disaksikan.

Kabut dan suasana yang cenderung gelap itu tidak memberikan suasana yang ceria. Cuaca itu juga menghambat ahli geografi yang tidak dapat melakukan pengukuran yang harus dilakukannya. Pun fotograf, yang memerlukan sinar yang terang untuk merekam gambar-gambarnya, terhambat. Cuaca itu merintangi pekerjaan ahli zoologi yang putus asa mencari binatang-binatang yang biasanya tak terhitung banyaknya bila mentari bersinar.

Untunglah ada area perburuan di dekat pondok-pondok mereka. Di belakang deretan pondok tempat mereka tinggal, terdapat rimba yang disebut hutan kecil oleh warga Melayu di Moeara Laboeh. Istilah itu membedakannya dengan rimba besar yang biasa disebut hutan perawan. Hutan kecil itu diapit oleh Sungai Bangko dan Seliti. Banyak jalan setapak yang saling-silang melintas di dalam hutan kecil itu sehingga menjelajahinya sangat mudah.

Sekawanan monyet tinggal di puncuk-pucuk pepohonan yang tinggi. Aneka burung hinggap di ranting dan cabang pohon yang menjuntai di atas sungai dan di antara semak-belukar yang tumbuh lebih rendah, aneka serangga menggerumut.

Penebangan pepohonan dan pembukaan hutan untuk membuat jalan (yang sedang dilakukan ketika tim ekspedisi Sumatera Tengah sedang di sana) membuat mamalia dan burung berpindah ke hutan-hutan yang tidak terganggu oleh manusia. Sebaliknya bagi serangga. Binatang-binatang kecil itu malahan semakin ramai mengeriap di bawah sinar matahari yang sesekali menerangi habitat mereka.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #naskah klasik belanda #sumatra tengah #ekspedisi belanda #Schouw-Santvoort #Van Hasselt #Snelleman #D.D. Veth



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,