Minggu, 19 Januari 2020


Sabtu, 17 Agustus 2019 10:14 WIB

Sejarah Museum Penyusunan Naskah Proklamasi

Reporter :
Kategori : Sudut

Museum Penyusunan Naskah Proklamasi. Dok. JP.

Oleh: Jumardi Putra

Sebulan lalu, sebelum mengunjungi Museum Sasmitaloka Jendral Ahmad Yani (baca di sini: http://kajanglako.com/id-8780-post-sasmitaloka-jenderal-anumerta-ahmad-yani-tragedi-pagi-buta-1-oktober-1965-.html), saya berkesempatan ke Museum Penyusunan Naskah Poklamasi (disingkat Munasprok) di Jalan Imam Bonjol No. 1, Kec. Menteng, Kota Jakarta Pusat.



Terang saja, kunjungan kali pertama ini menyembulkan rasa bahagia, sama halnya ketika saya bertandang ke Gedung Joang 45 di Cikini, Kelurahan Menteng, Jakarta Pusat dan Museum Sumpah Pemuda di Jl. Kramat Raya No.106, RW.9, Kwitang, Kec. Senen, Kota Jakarta Pusat, beberapa bulan lalu.

Selama ini, bangunan bersejarah ini hanya saya ketahui melalui tayangan televisi dan buku-buku sejarah di bangku sekolah dasar, hingga ramai diabadikan oleh pengunjung museum melalui media youtube.

Sesampai di gedung bergaya arsitektur Eropa (Art Deco) ini saya tak segera masuk. Sejenak saya bercengkrama dengan dua orang Satpam. Dari arah pos keamanan, tampak beberapa pekerja sedang memperbaiki plafon bagian depan lantai dua bangunan. Gedung ini memiliki pintu-pintu dan jendela-jendela berukuran besar, tidak seperti bangunan pada umumnya.

Bangunan tua ini, seperti tertera di booklet Munasprok 2019, berdiri di atas tanah seluas 3.914 m2 dengan luas bangunan 1.138,10 m2. Gedung yang didirikan sekitar tahun 1920-an ini merupakan rancangan arsitek Belanda J.F.L Blankenberg.

Gedung ini mengalami beberapa kali renovasi sekaligus berpindah kepemilikan. Pada tahun 1931, gedung ini pernah digunakan oleh PT Asuransi Jiwasraya, lalu didiami  oleh Kepala Kantor Penghubung antara Angkatan Laut dengan Angkatan Darat Jepang (Kaigun), Laksamana Muda  Admiral Tadashi Maeda, selama masa pendudukan Jepang.  Saat terjadi Perang Pasifik, gedung ini dipakai British Consul General sampai Jepang menduduki Indonesia.

Paska Proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, gedung ini masih dihuni oleh mantan Atase Jepang di Den Haag dan Berlin pada 1930 itu sampai Sekutu mendarat di Indonesia, September 1945.

Usai kekalahan Jepang pada sekutu, bangunan ini sempat menjadi markas besar tentara kerajaan Inggris. Selanjutnya, hasil dari nasionalisasi terhadap aset miliki bangsa asing di Indonesia,  kepemilikan gedung ini diserahkan kepada Departemen Keuangan, dan pengelolanya adalah Perusahaan Asuransi Jiwasraya pada September 1945.

Berselang enam belas tahun setelahnya (1961), gedung ini dikontrak oleh Kedutaan Inggris, dan pada 28 Desember 1981 dipakai oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, hingga  setahun setelahnya (1982) digunakan oleh Perpustakaan Nasional sebagai perkantoran untuk karyawan.

Selanjutnya, menyadari arti sejarah gedung ini, pada 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode Prof. Nugroho Notosusanto menginstruksikan kepada Direktorat Permuseuman agar merealisasikan gedung ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Akhirnya, berselang delapan tahun pasca instruksi Prof. Nugroho Notosusanto itu, berdasarkan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0476/1992, tanggal 24 November 1992, bangunan ini ditetapkan sebagai Unit Pelaksana Teknis di bidang Kebudayaan di bawah Dirktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Nah, apa saja isi Museum Penyusunan Naskah Proklamasi ini. Selengkapnya baca di sini: http://kajanglako.com/id-8928-post-isi-museum-penyusunan-naskah-proklamasi-kemerdekaan-indonesia.html

*Catatan ini merupakan buah dari rangkaian kunjungan penulis ke Museum Penyusunan Naskah Proklamasi pada19 Juli 2019. Sumber bacaan:  Hendri F. Isnaindi (editor), Seputar Proklamasi Kemerdekaan: Kesaksian, Penyiaran, dan Keterlibatan Jepang, Kompas: 2015 dan Booklet Musemum Penyusunan Naskah Proklamasi (Munasprok): 2019.


Tag : #naskah proklamasi #soekarno #hatta #achmad subardjo #laksamana maeda #proklamasi kemerdekaan indonesia



Berita Terbaru

 

Minggu, 19 Januari 2020 10:37 WIB

Al Haris dan Adi Rozal Berbagi Kisah Perjalanan Hidup, Tukang Martabak dan Kuli Bangunan


Kajanglako.com, Merangin - Hubungan baik Al Haris dengan kepala daerah di Jambi terus dibina Bupati Merangin dua periode ini. Terutama dengan grup lima

 

Sabtu, 18 Januari 2020 22:16 WIB

Meriahnya Penyambutan Al Haris di Koto Tebat Kerinci


Kajanglako.com, Merangin - Al Haris bakal calon kuat Gubernur Jambi disambut meriah warga di Koto Tebat, Kecamatan Air Hangat Timur, Kabupaten Kerinci,

 

Sabtu, 18 Januari 2020 15:55 WIB

Soal 4 Mobnas yang Belum Dikembalikan Saihu, Wabup: Semua Kita Serahkan ke Jaksa


    Kajanglako.com, Sarolangun - Persoalan aset bergerak milik Pemerintah Kabupaten Sarolangun berupa mobil dinas (mobnas) yang dikuasai pihak

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 18 Januari 2020 11:13 WIB

Su'aidi Asy'ari


Oleh: Jumardi Putra* Tersebab sakit mendera, niat saya merampungkan lembar singkat ini setelah mendapat kabar Prof. Su’aidi Asy’ari terpilih

 

Ekspedisi Sumatra Tengah 1877
Sabtu, 18 Januari 2020 09:30 WIB

Snelleman kembali ke Loeboe Gedang


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Seorang Penghoeloe Soekoe menunggunya di rumah. Lelaki itu merupakan utusan Penghoeloe Kapala yang memerlukan