Jumat, 23 Agustus 2019


Senin, 12 Agustus 2019 13:28 WIB

Sinta Nuriyah Wahid

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis. Dr. Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Tumbuh dalam keluarga kiai dan pesantren yang kuat, Bu Sinta, demikian beliau biasa dipanggil, anak tertua dari delapan bersaudara, mengenal dengan baik apa yang disebut sebagai komunitas Islam dan masalah-masalah yang dihadapi. Kemudian, menjadi istri Abdurahman Wahid, seorang extraordinary intelektual Muslim, pastilah menempatkan dirinya dalam sebuah situasi yang tidak selalu nyaman karena kontroversi yang hampir selalu menyertai sepak terjang Gus Dur, panggilan akrab Abdurahman Wahid.



Bu Sinta, dugaan saya, sangat menyadari posisinya, dan tidak ingin sekedar sebagai istri dari seorang tokoh nasional yang sempat menjadi presiden republik Indonesia.

Namun yang menjadikannya menarik adalah kiprahnya sebagai tokoh perempuan dalam sebuah masyarakat yang belum menempatkan perempuan dalam posisi setara dengan laki-laki. Terutama dalam komunitas Islam yang sering dipersepsi sebagai sebuah masyarakat yang masih menempatkan perempuan dalam posisi dibawah laki-laki. Membesarkan keempat putrinya tumbuh menjadi dewasa dan memilih kiprahnya masing-masing; tentu dalam bayang-bayang kebesaran peran ayahandanya yang telah tergores begitu dalam sebagai tokoh pembaharu dalam perjalanan sejarah bangsanya.

Selain sebagai seorang ibu, perempuan kelahiran Jombang, 8 Maret 1948, ini adalah seorang yang sejak muda telah berkecimpung di ruang publik, tidak saja untuk menambah penghasilan sebagai sebuah keluarga muda, tetapi juga dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan.

Ket: Sinta Nuriyah Wahid. Sumber foto: Media Indonesia/Sumaryanto.

Ketika masih tinggal di Jombang, selain mengajar, untuk membah pendapatan keluarga, Bu Sinta dan Gus Dur tidak segan-segan untuk berjualan makanan-makanan kecil. Ketika sudah pindah ke Jakarta, Bu Sinta sempat bekerja di Majalah Zaman dan kemudian di Majalah Tempo, dimana pada tahun 1970-an dan 1980-an, Gus Dur, suaminya, secara rutin menulis kolom-kolomnya yang penuh humor, antara lain, serialnya tentang para kyai sepuh NU yang dikupasnya dengan gaya jenaka. Dari lingkungan intelektual sekitar Majalah Tempo inilah bisa kita bayangkan dunia publik telah menjadi bagian hidup dari Sinta Nuriyah Wahid sejak muda.

Pada 1999, Bu Shinta bersama para aktifis perempuan Muslim yang lebih muda mendirikan Puan Amal Hayati sebuah LSM yang bergerak seputar isu-isu perempuan. Melalui LSM inilah, antara lain, beliau membuat program-program yang bertujuan untuk memberikan ruang gerak yang lebih luas buat kaum perempuan. Tetapi tidak hanya itu, Puan Amal Hayati terbukti telah menjadi semacam platform bagi berbagai kegiatan untuk merayakan keragaman dan memihak mereka yang terpinggirkan. Belum lama ini, Puan Amal Hayati merayakan ulang tahunnya yang ke 20, dari salah satu kegiatan yang secara rutin dilakukan, yaitu acara buka puasa bersama - yang memang selalu dilakukannya setiap tahun secara berkeliling dari satu kota ke kota lain.

Mungkin, pilihan ibu empat anak ini untuk terlibat secara langsung ke dalam berbagai upaya untuk mengubah keadaan, terutama yang dihadapi oleh kaum perempuan merupakan sesuatu yang tidak terbayangkan oleh banyak orang. Keputusannya untuk belajar lagi di program studi jender di Universitas Indonesia memperlihatkan kesadaran akan perlunya memperluas cakrawala dengan menambah khazanah pemikiran dari barat.

Sebagai anak pesantren khazanah pemikiran yang berbasis pada Kitab Kuning tentulah sangat kuat. Inilah mungkin yang membuat Sinta Nuriyah Wahid memiliki otoritas, yang tidak dimiliki oleh para aktifis muslim segenerasinya atau yang lebih muda dalam melakukan penafsiran terhadap teks-teks yang ada dalam kitab suci dan hadis nabi, khususnya yang menyangkut posisi perempuan.

Ketika konservatisme seperti mendung yang menutup cakrawala dan ortodoksi sedang melanda masyarakat, kiprah dan sosok Sinta Nuriyah Wahid yang selalu tampil dengan wajah segar dengan kerudung sederhana yang sejak lama telah biasa dipakai umumnya perempuan di negeri ini, seperti mengingatkan bahwa tidak selaiaknyalah jika keberagamaan mematikan keragaman dan upaya-upaya untuk keluar dari ketertindasan dan ketertutupan tidak dibuka untuk memperbaiki keadaan.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #Sinta Nuriyah Wahid #Puan Amal Hayati #Gus Dur #majalah tempo #majalah zaman



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah