Jumat, 23 Agustus 2019


Sabtu, 10 Agustus 2019 09:33 WIB

Pertemuan Kembali di Moeara Laboeh

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Akhirnya. Ketiga penjelajah Ekspedisi Sumatera Tengah yang tercerai-berai, bersatu lagi. Bantuan yang diberikan oleh Kontrolir Welsink sejak dari awal kedatangan tim itu tak terkira banyaknya. Mereka berhutang budi padanya.



Ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar dan menyambut kedatangan mereka dengan ramah. Di malam pertama setelah pertemuan kembali, ketiga penjelajah itu menginap di rumahnya. Atas permintaan mereka, keesokan harinya, Kontrolir Welsink menyewa dua buah pondok kecil di pasar. Lima belas gulden untuk keduanya. Pada tanggal 11 oktober, kedua rumah itu disiapkan sebagai tempat tinggal sementara.

Kedua pondok itu terletak berdampingan di salah satu jajaran di pasar. Pasar itu sendiri berbentuk alun-alun persegi empat yang berukuran kira-kira 150 X 50 m. Tiga sisi pondok-pondok itu tertutup dan tidak berhalaman. Pondok terkecil ditempati oleh Veth sendiri.

Pondoknya hanya terdiri dari satu kamar saja. Dari dalam pondok, tak banyak yang dapat dilihat karena jendelanya hanya satu, 70cm tingginya. Jendela itu dibuat persis di atas lantai sehingga tak ada sinar (matahari) yang masuk untuk menerangi meja, kecuali sinar yang menyeruak masuk melalui celah-celah atap. Namun, hal ini tak menjadi masalah karena walau tingginya (panjangnya) hanya 70 cm, jendela itu terbentang hampir selebar bagian depan pondok itu. Pintunya sama tinggi dengan jendela itu, sehingga untuk masuk ke dalam, orang harus berjongkok dan menundukkan kepala.

Pondok kedua, yang ditempati oleh van Hasselt dan Snelleman, lebih besar. Selain ruangan yang agak besar, di lantai yang kira-kira 50cm lebih rendah, terdapat kamar kecil yang cukup untuk memuat dua buah tempat tidur lipat. Dibandingkan dengan tempat mereka menginap di Alahan Pandjang, kedua pondok ini sebetulnya agak menyedihkan. Walaupun demikian, mereka cepat menyesuaikan diri dengan situasi yang ada.

Barang dan perbekalan penjelajahan pun sudah tiba. Hari-hari pertama di Moeara Laboeh diisi dengan membongkar dan mengatur perbekalan dan barang-barang itu. Van Gussem, yang datang juga, memperoleh tempat untuk tidur di pondok yang besar. Para kuli menginap d salah sebuah lapau di pasar.

Di bagian belakang pondok yang besar terdapat ruangan yang dulunya digunakan sebagai dapur. Snelleman menggunakan ruangan itu untuk mengawetkan binatang-binatang koleksinya. Rak-rak dipasang di ruangan yang besar. Sebuah meja dan beberapa kursi pinjaman dari Kontrolir Welsink melengkapi ruangan itu.

Pada tanggal 12 Oktober, kedua pemandu dari Soengei Aboe dan tujuh orang kuli diutus untuk mengambil barang-barang yang beberapa hari sebelumnya ditinggalkan di tepian Batang Hari. Pada waktu berangkat, kedua pemandu itu sekalian mohon diri. Pemandu yang muda, tampaknya agak enggan kembali masuk ke hutan, dengan malu-malu mengaku bahwa ia sebetulnya belum pergi jauh-jauh. Sebelumnya, perjalanannya yang paling jauh adalah pergi dari Soengei Aboe ke Soengei Pentoean!

Moeara Laboeh adalah nama permukiman yang terdapat di sekitar pasar di tempat itu, termasuk rumah dinas Kontrolir, sekolah dan gudang kopi. Dusun itu baru berdiri ketika Kontrolir Lolo dan Soengei Pagoe mulai bertugas di situ. Di dekat Moeara Laboeh dan terpisah oleh Bangko (anak sungai Seliti) terdapat dusun bernama Kota Baroe—perluasan wilayah dusun Moeara Laboeh.

Dusun itu luas dengan rumah-rumah yang terpisah agak jauh satu sama lain. Beberapa di antaranya dihiasi dengan ukiran-ukiran yang bagus. Walaupun demikian, banyak pula rumah yang terlantar dan hampir runtuh. Ada pula yang atapnya sudah bocor atau dindingnya rusak.

Tak ada halaman di sekitar rumah-rumah itu, kecuali lahan kecil yang biasanya ditanami dengan tebu, pohon kelapa, lada dan keladi. Lahan-lahan itu dibatasi dengan pagar bambu sebagai penghalang babi (hutan).

Bila menyusuri jalan ke arah Bangko, di sebelah kanan, yang pertama-tama terlihat adalah rumah Toeankoe di Sambah. Lelaki ini dulu mendampingi Santvoort pergi ke Rantau Ikir. Tak jauh dari rumah itu, terdapat surau kecil beratap genteng dan beberapa rumah yang terletak agak jauh dari jalan. Rumah-rumah itu tersembunyi di balik pepohonan dan semak-semak.

Setelah melewati rumah-rumah ini, orang akan tiba di sebuah jembatan rotan yang menghubungkan kedua tepian sungai. Di bawah jembatan itu, sungai itu kira-kira 50-60 meter lebarnya. Bila airnya sedang surut, bebatuan di dasar sungai akan muncul dan mongering di bawah sinar matahari. Kerangka jembatan itu terbuat dari rotan manau yang dibentangkan di atas sungai. Di kedua tepiannya, ujung-ujung rotan itu diikatkan pada tonggak dan batang pohon yang besar. Kedua bilah rotan itu diapit lagi oleh semacam pagar terbuat dari tiga bilah rotan yang diikatkan pada rotan-rotan manau yang menjadi dasar kerangka jembatan. Pagar tiga rotan di kiri-kanan jembatan itu berfungsi sebagai pegangan. Langkah pertama di atasnya, membuat jembatan itu bergoyang-goyang. Semakin mendekati bagian tengah, goyangannya akan semakin menjadi-jadi! Sungguh diperlukan kelincahan untuk menyeberang tanpa tergelincir atau terperosok di celah di antara dua rotan manau yang sedang diinjak. Karena ternyata kaki yang bersepatu lebih cenderung tergelincir, maka para penjelajah dari Belanda itu terpaksa berpegangan kencang pada pagar jembatan itu.

Di seberang sungai, di sebelah kiri tampak surau kecil yang belum lama dibangun. Beberapa orang pemuda duduk-duduk di depan surau itu. Mereka menyapa dengan menggerakkan tangan ke arah kopiah putih di atas kepala mereka. Kira-kira 50 langkah atau sekitar 50 meter dari surau itu terdapat beberapa pohon beroki dan beringin dengan akar-akar gantung yang menjulai panjang. Kedua pohon tua pastilah sudah banyak menyaksikan orang datang dan pergi; dan sampai sekarang pun, kerindangannya masih menjadi tempat kaum perempuan berkumpul untuk menampi beras dan berbagi kabar. Semakin dekat, semakin terdengar suara alu menumbuk padidi lesung. Ayam-ayam,  yang selalu mengitari lesung pada saat itu, mematuk bulir-bulir padi yang terpelanting keluar lesung. Beberapa anak kecil yang telanjang, bermain di dekat ibu mereka.

Ke kanan, jalan di dusun itu lewat di depan mesjid—bangunan besar dengan anak-anak tangga yang dilabur kapur putih. Ke kiri, jalan itu mengarah ke dusun. Rumput pait—yang hanya cocok untuk makanan kerbau—tumbuh subur di jalan berlumpur itu. Di sana-sini, tampak beberapa kebun dengan pohon-pohon kopi yang kurus. Pohon-pohon itu berdaun jarang dan buahnya pun tak banyak.

Anak-anak berkumpul untuk mengamati penjelajah-penjelajah berkulit putih itu. Akan tetapi, bila seseorang mengarahkan mata untuk membalas tatapan mata-mata itu, mereka segera berteriak dan berlari pergi. Selama berjalan-jalan, seseorang menunjuk pada seorang lelaki yang tidak waras. Kaki kanannya dipasung di dalam balok kayu yang berat. Dengan pandangan mata yang liar, lelaki itu mengawasi mereka, lalu menyembunyikan wajahnya di balik tangannya dan terbahak-bahak tak karuan. Lelaki itu sudah bertahun-tahun menderita sakit jiwa. Setelah ia berkali-kali menghilang, keluarganya memasungnya. Mula-mula, ia dipasung di dalam rumah; akan tetapi, karena ia mengganggu keluarganya  dan mengotori rumah, keluarganya lalu memasungnya di bawah kolong rumah. Tubuhnya hanya dililit oleh sehelai karung goni dan rambut serta janggutnya panjang tak terawat, namun ia tampak sehat.

Selama berjalan-jalan itu, warga dusun yang mendampingi mereka bercerita tentang kerajinan tangan yang dilakukan di sana: membuat tembikar dan menenun. Hal itu dicatat baik-baik. Pada suatu hari, mereka akan mencari dan melihat para perajin tembikar dan tenun itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah 1877



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah