Selasa, 10 Desember 2019


Sabtu, 03 Agustus 2019 11:38 WIB

Kunang-kunang di Gulita Belantara

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dari tempatnya di tepian Batang Hari, Veth tak dapat melanjutkan perjalanannya melalui jalan darat. Terlalu banyak rintangan. Ia terpaksa masuk ke sungai dan berjalan ke hulu dengan kaki yang terendam sampai sebatas lutut. Lama-lama suara air terdengar semakin lama semakin keras. Suara itu bukan sekedar air mengalir deras di sungai, melainkan suara air terjun! Barangkali karena terkejut mendengar suara air terjun itu atau karena derasnya aliran sungai atau barangkali karena dasar sungai tiba-tiba menjadi dalam, Veth tiba-tiba kehilangan pijakannya di dasar sungai. Ia tercebur sampai sebatas ketiak!



Untunglah, sebongkah batu besar yang bagian atas kering teronggok di tengah sungai. Entah bagaimana caranya, Veth berhasil naik ke atas batu itu. Ia membuka jaketnya (yang relatif kering, apalagi dibandingkan dengan pantalonnya yang basah kuyup). Ia membungkus instrumen penelitian dan buku catatan yang dibawanya di dalam jaket itu, lalu meletakkannya dengan hati-hati di bagian paling tinggi dan paling kering di batu itu.

Bagaimana cara terbaik untuk sampai ke darat? Perlahan, ia menuruni batu itu untuk mempelajari situasi air dan dasar sungai di sekitar batu itu. Tiba-tiba, lagi-lagi, kakinya kehilangan pijakan. Ia terseret oleh derasnya arus sungai sampai ia tersangkut reranting pohon di darat, beberapa puluh meter jauhnya.

Sambil menyeka wajahnya, Veth melihat ke sekeliling. Di satu pihak, ia beruntung karena kini ia sudah berdiri di tepian sungai yang diinginkannya. Namun, di lain pihak, keberuntungan itu belum bisa juga dianggap sebagai keberuntungan mutlak karena instrumen dan buku catatan yang terbungkus jaketnya masih tertinggal di atas batu tadi. Apa boleh buat. Ia terpaksa mencari jalan kembali, masuk lagi ke dalam air sampai ke lehernya dan setengah berenang, setengah berjalan sampai ia dapat mengambil bungkusan jaket, instrumen dan buku catatannya dan selamat membawanya ke tepian Batang Hari yang diinginkannya.

Veth melanjutkan perjalanan ke hulu, ke arah suara air terjun yang tadi didengarnya. Ah, ternyata bukan hanya ada satu air terjun saja, melainkan beberapa air terjun berturut-turut. Air itu berbuih-buih tumpah ke bebatuan yang menyerupai mangkok-mangkok dalam oleh hantaman air terjun itu. Ikan-ikan yang besar tampak berenang-renang di dalam mangkok-mangkok itu. Di udara, ribuan butir air terpental dari atas batu yang dihantamnya. Setiap butir air menangkap secercah sinar mentari sehingga dari tempatnya berdiri, Veth seolah-olah melihat pelangi yang tak terhitung jumlahnya.  

Ia naik ke atas batu yang terletak persis di depan salah sebuah air terjun. Batu itu tingginya kira-kira 3 meter. Bagian bawah batu itu tak henti-henti disiram dan dibasuh oleh air jernih di dalam kolam batu yang melingkunginya. Tempat ini adalah tempat yang pas betul untuk berpikir! Veth duduk lalu berpikir. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Tetap diam di tempat menunggu dirinya dicari rekan-rekannya seperjalanan? Atau terus mencari dan melacak keberadaan mereka? Ia mempertimbangkan segala alternatif yang dapat dilakukannya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak menunggu dan tidak mencari rekan-rekannya. Lebih baik ia mencoba mencapai Moera Laboeh yang terletak di sebelah tenggara batu tempatnya duduk saat itu. Kompas miliknya akan menunjukkan arah langkah-langkahnya. Apakah ia berhasil sampai di Moera Laboeh tergantung dari tenaga dan kekuatan tubuhnya sendiri. Ia tidak memiliki bekal makanan. Karena itu, ia harus segera melaksanakan keputusan yang telah diambilnya. Tak ada jalan lain.

Ia menarik nafas panjang, membuang segala pikiran dan bayangan yang negatif, turun dari batu tempatnya duduk dan mulai melangkah. Perjalanannya lambat karena ia harus berjalan di dalam sungai sampai ia menemukan tempat untuk dapat naik ke tepian. Sedapat mungkin, ia terus berpegang pada arah tenggara seperti yang ditunjukkan oleh kompasnya. Menjelang pk 17.45, ia tiba di anak Batang Hari yang bercabang ke kanan. Sesudahnya, baru diketahuinya bahwa anak sungai itu adalah Pinti Kajoe.

Tiba-tiba ia melihat jejak kaki manusia! Sepertinya, empat atau lima jejak kaki orang pribumi dan satu jejak kaki orang Eropa yang bersepatu. Mungkinkah jejak-jejak kaki itu ditinggalkan oleh sebagian anggota tim penjelajahan? Mungkin orang-orang itu juga melewati tempat ini? Semangatnya langsung terpicu (padahal pada saat itu, sebetulnya van Hasselt dan Snelleman belum sampai ke Pinti Kajoe. Kedua orang itu baru sampai di sana dua hari kemudian sehingga jejak kaki yang tampak di mata Veth, pastilah bukan jejak kaki mereka. Kemungkinan, Veth salah lihat karena selain anggota-anggota tim penjelajahan, tak ada lagi orang berbangsa Eropa yang berkeliaran di hutan-hutan Sumatera tengah!).

Bagaimana pun, dengan langkah ringan, ia berjalan cepat ke arah hulu, terkadang di darat, terkadang menyusur di dalam sungai, terkadang lagi mengikuti jalan gajah. Lama-lama, ia letih juga. Pk 18.30, matahari sudah tenggelam. Kegelapan menyelimuti segala, termasuk jejak-jejak yang serasa tampak di matanya. Pekatnya gelap juga tak memungkinkannya mencari tempat yang baik untuk tidur malam itu. Ia memutuskan untuk tidur di atas sebuah batu besar di dekat sungai. Ia mengumpulkan dedaunan poear sebagai alas tidur dan membaringkan badan.

Ia menutup mata. Ia betul-betul letih dan penat. Tetapi, kantuk tak juga datang menjelang. Air sungai tak henti-hentinya mengalir deras dengan suara kencang di dekat ujung kakinya. Telinganya menangkap suara-suara lain yang memberikan imaji-imaji suram yang membingungkan.  Apakah ada suara gajah yang datang minum di tepian? Veth seolah-olah jelas mendengar suara binatang itu mereguk air sungai. Lalu, ia mendengar ranting-ranting semak=belukar di belakangnya berderak patah-patah. Apakah itu suara macan kumbang yang sedang mencari mangsa?

Matanya membelalak. Gelap gulita. Segala bebayang—pohon, semak, batu—menyatu menjadi hitam semata-mata. Yang tampak hanyalah kunang-kunang seperti bintang-bintang kecil, beterbangan di antara pepohonan. Malam, dari saat matahari terbenam pk 18.30 sampai dengan pk 05.30 ketika matahari terbit,--hanya 11 jam saja--terasa baginya seperti tiada akhir.

Untung saja, tak turun hujan di malam panjang itu. Akhirnya, tanda-tanda kehidupan muncul lagi. Gulita malam luntur oleh sinar mentari. Seekor burung hitam yang teramat besar terbang dan hinggap di atas batu di dekatnya. Kepala berputar perlahan menatap Veth. Agaknya burung itu heran melihat mahluk aneh yang tidur di atas batu.

Jejak-jejak yang kemaren diikutinya, kini mulai tampak lagi. Veth mulai berjalan lagi. Sampai kira-kira pk 07.00, ia terus berjalan ke hulu. Suatu saat, tiba-tiba ia menyadari bahwa jejek-jejak yang diikutinya tak lagi tampak. Ia mendaki bukit yang terdapat di antara dua sungai.

Dua setengah jam kemudian, barulah ia tiba di puncaknya. Sejam kemudian, setelah menerima bukit itu—yang ditumbuhi semak-semak rapat, ia masuk ke dalam sungai untuk menyeberanginya dan melanjutkan perjalanan.

Tepian di seberang ternyata juga curam dan ditumbuhi semak-belukar yang rapat. Veth terpaksa meliuk-liukkan badan untuk menerobos semak-semak, akar gantung dari pepohonan besar dan  rerumpun rotan. Hampir dua jam diperlukannya untuk mendaki bukit di seberang sungai itu. Ia beristirahat sejenak di puncaknya. Pendakian yang baru dilakukannya cukup berat: pakaiannya sobek dan wajah, tangan, lengan dan kakinya luka-luka tertusuk duri-duri tajam.

Ia melanjutkan perjalanan. Kali ini di punggung bukit sambil mencari tempat yang relatif mudah untuk turun ke sungai lagi. Berkali-kali, ia mencoba turun di tempat yang tampaknya agak mudah dilalui, tetapi setiap kali, ia harus naik lagi ke punggung bukit karena rapatnya tanaman di dinding bukit itu. Ketika bertemu dengan aliran air, ia memutuskan untuk menelusurinya karena itulah satu-satunya tempat yang tidak ditumbuhi tanaman dan arahnya pun kira-kira cocok dengan yang diinginkannya.

Namun, air yang tadinya sekedar mengalir membasahi bebatuan di dasarnya lama-lama menjadi kali dan kemudian bahkan menjadi sungai kecil. Arusnya semakin lama semakin deras. Semakin banyak saja rintangan yang harus dihadapinya: di suatu tempat, arus sungai itu telah membuat tanah longsor. Pepohonan kecil dan rumpun-rumpun bambu tumbang terseret arus dan bertumpuk-tumpuk di dalam sungai. Dengan susah-payah ia mencari jalan untuk melewati pepohonan dan bambu tumbang itu.

Di tempat lain, sungai itu mengalir di antara dua tepian yang sangat tinggi. Arusnya menjadi semakin deras. Veth tergelincir dan meluncur ke bawah. Ia terhenti di akar-akar sebuah pohon, di samping seekor ular besar berwarna hitam. Untunglah ular itu lebih takut pada dirinya dan segera menghilang ke balik semak-semak di dekat pohon itu. Ia bangkit dan terus menuruni bukit sampai pk 15.00.

Ia berharap bahwa sungai yang ditelusurinya akan membawanya ke hulu Moeara Laboeh di tepian Soengei Seliti atau setidak-tidaknya, ke tempat di dekat dusun itu. Di sudut pikirannya, ada kekhawatiran bahwa sungai itu mengalir sejajar dengan Soengei Seliti. Bila itu terjadi, maka ia pastilah terpaksa menginap semalam lagi di dalam belantara. Ia sudah betul-betul lapar. Tak ada sesuap apa pun yang dimakannya sejak berpisah dengan rombongan tim penjelajahan. Tambahan pula, ia baru saja melihat jejak harimau!

Di bawah kakinya, alam mulai berubah. Menjelang pk 15.30, daerah itu tidak lagi terlalu curam. Hutan-hutan lebat mulai digantikan oleh pepohonan poear dan ilalang. Jalan-jalan setapak yang saling silang mulai tampak. Sepuluh menit kemudian, lembah Seliti dan Soengei Pagoe terbentang di depan matanya. Veth menarik nafas lega.

Lima menit kemudian, kakinya sudah terendam di dalam Soengei Seliti. Tak lama kemudian, ia naik ke darat. Kakinya berdiri di jalan menuju Moeara Laboeh (yang jaraknya kira-kira 9 km jauhnya dari tempat ini).

Pk 18.00, ia tiba di rumah Kontrolir Welsink. Lelaki Belanda itu menyambutnya dengan hangat. Roti, daging dan segelas bir disajikannya. Alangkah nikmatnya makanan dan minuman itu setelah puasa selama 30 jam!

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #ekspedisi sumatra tengah 1877 #naskah klasik belanda #D.D. Veth #Sungai Batanghari



Berita Terbaru

 

Selasa, 10 Desember 2019 15:40 WIB

Refleksi Hari Korupsi Sedunia, Ketua DPRD Edi Purwanto: Mari Kita Bertaubat, Berkaca dari yang Lalu


Kajanglako.com, Jambi - Untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga legislatif pasca OTT KPK  dalam kasus uang ketok palu RAPBD 2017

 

Selasa, 10 Desember 2019 15:34 WIB

Akhirnya Tapal Batas Merangin Sarolangun Tuntas


Kajanglako.com, Merangin - Penyelesaian tapal batas antara Kabupaten Merangin dengan Kabupaten Sarolangun yang sempat berlarut-larut, sekarang sudah tuntas.    Kedua

 

Selasa, 10 Desember 2019 15:26 WIB

Mashuri Sidak Pegawai Setda, Tujuh Kabag Tak Hadir Apel


Kajanglako.com, Merangin - Wakil Bupati (Wabup) Merangin, Mashuri tiba-tiba muncul ketika Kepala Bagian (Kabag) Hukum, Firdaus memberi pengarahan pada

 

Sosok dan Pemikiran
Selasa, 10 Desember 2019 06:09 WIB

Mayling Oey


Oleh: Riwanto Tirtosudarmo* Pidato pengukuhannya sebagai profesor di Fakultas Ekonomi UI melukiskan kritik sekaligus keprihatinannya sebagai perempuan 

 

Senin, 09 Desember 2019 17:42 WIB

Empat Perwira Polres Sarolangun Dimutasi


Kajanglako.com, Sarolangun - Empat perwira di jajaran Polres Sarolangun dimutasi, Senin (9/12). Prosesi serah terima jabatan berlangsung di halaman mapolres