Sabtu, 14 Desember 2019


Senin, 29 Juli 2019 14:27 WIB

Bambang Hidayat

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis. Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Bambang Hidayat adalah sebuah teladan bahwa seorang akademisi dan intelektual publik tidak mengenal kata pensiun. Dengan sederet prestasi yang mungkin lebih banyak digoreskan di dunia internasional daripada di dalam negeri, Bambang Hidayat membuktikan bahwa ilmuwan Indonesia bisa memberikan kontribusi pada perkembangan ilmu pengetahuan di dunia internasional.



Profesor astronomi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini kerap tampil necis, mulai rambut yang tetap hitam tersisir rapi, baju, biasanya putih sering dengan jas dan dasi serta celana dengan warna yang serasi, dan licin terseterika;  sampai sepatu yang tampak tersemir mengkilat; wajah ceria dengan senyum yang selalu tersungging di wajahnya yang klimis, tak nampak kumis selembarpun, karena tercukur bersih.

Pada suatu pagi di sebuah hotel, saat sarapan, ketika umumnya orang uluk salam dengan assalamualaikum, beliau dengan gagah menyalami dengan ucapan "merdeka !". Berbicara dengan rendah hati, kadang-kadang disertai guyon, namun tidak menyembunyikan pengetahuannya yang mendalam, tidak saja di bidang keahliannya, astronomi, dan science pada umumnya, tetapi yang membuat saya kegum adalah perhatiannya yang sungguh-sungguh terhadap masalah-masalah sosial dan kebudayaan. Meskipun tidak terlalu sering keprihatinannya terhadap berbagai persoalan bangsanya muncul dalam kolom-kolomnya di Kompas.

Dalam sebuah kesempatan berkumpul dengan kolega-koleganya sesama profesor emeritus dari ITB di sebuah hotel di Bandung, perima The Habibie Award (2013) ini menceritakan memiliki koleksi pribadi majalah berbahasa jawa "Panyebar Semangat" komplit. Dalam kesempatan itu juga diobrolkan soal aksara Jawa dan keris, oleh seorang yang ahli metalurgi. Ini sebuah forum diskusi yang langka, pikir saya.

Prof. Bambang Hidayat. Sumber foto: ANTARA.

Profesor Bambang Hidayat di mata saya adalah seorang intelektual publik yang sangat kosmopolitan, yang bisa berbicara dengan baik tentang Teori Big Bang dan Stephen Hawking sampai ke soal yang bagi banyak orang sudah dilupakan seperti aksara Jawa dan "Panyebar Semangat". Menebarkan semangat, mungkin itu yang diam-diam menjadi misi hidup pria kelahiran Kudus, 19 September 1934 ini. Saya kira, memelihara semangat untuk terus beraktifitas  dan berpikir tanpa batas, juga menjadi kredonya.

Ketika menjelang akhir tahun 1970-an bermalam di rumahnya di kompleks Boscha, di Lembang Bandung, yang saat itu masih terasa sejuk, kami sempat dibawa ke ruang perpustakaan dan diperlihatkannya koleksi lengkap koran mahasiswa UI "Salemba". Selain memperlihatkan perhatiannya pada aspirasi generasi yang lebih muda, juga mencerminkan keseriusannya dalam menjangkau berbagai lingkungan akademia yang sangat luas. Sebuah ilustrasi lain terjadi, ketika suatu saat datang email dari beliau, memberitahukan ada review dari buku saya di sebuah penerbitan di Belanda, yang bahkan saya sendiri belum baca.

Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh Profesor Bambang Hidayat ketika beberapa hari yang lalu, 50 tahun pendaratan manusia pertama di bulan diperingati di mana-mana. Di Kompas, sebuah artikel untuk memperingati peristiwa bersejarah di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi itu, ditulis oleh seorang wartawan seniornya, Ninok Leksono, mantan mahasiswa Profesor Bambang Hidayat di Jurusan Astronomi ITB, yang seperti biasa, kaya dengan nuansa; sekaligus melempar kritik terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang saat ini ada di negeri ini.

Peristiwa pendaratan manusia di bulan jelas memperlihatkan sebuah pencapaian para "scientists" dalam mengkombinasikan pengetahuan dan teknologi. Saat ini berbagai pusat studi di berbagai belahan dunia sedang meneliti apakah ada mahluk setingkat manusia di planet mars, atau di galaksi lain yang tidak terbatas jumlahnya.

Sebagai seorang ilmuwan, Profesor Bambang Hidayat pastilah mengikuti perkembangan itu, mungkin sambil bertanya, kenapa ilmuwan Indonesia seperti semakin tertinggal dan terus hanya berkutat dengan persoalan-persoalan teknis-birokratis yang sebenarnya remeh-temeh?

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #sosok #Astronom Bambang Hidayat #Bambang Hidayat dan The Habibie Award #Sosok dan Pemikiran Bambang Hidayat



Berita Terbaru

 

Sosok dan Pemikiran
Sabtu, 14 Desember 2019 08:33 WIB

Soedjatmoko


Oleh: Manuel Kaisiepo* Membaca ulang pemikiran dalam buku The Fourth Industrial Revolution (2016) karya Klaus Schwab, pendiri dan Ketua World Economic

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:46 WIB

Sidak Limbah PT SGN, Komisi III dan LH Langsung Uji pH


Kajanglako.com, Merangin - Komisi III DPRD Merangin sidak ke PT Sumber Guna Nabati (SGN), Jumat (13/12). Ini merupakan tindak lanjut dari adanya keluhan

 

Jumat, 13 Desember 2019 23:42 WIB

Ketua Organisasi Jurnalis Bungo Kecam Sikap Arogan Oknum Security RSUD H Hanafie


Kajanglako.com, Bungo - Penghalangan peliputan oleh jurnalis di Kabupaten Bungo kembali terjadi. Kali ini dilakukan oleh sucurity RSUD H Hanfie Muara Bungo,

 

Jumat, 13 Desember 2019 16:46 WIB

Dua Tersangka Korupsi Proyek PLTMH Sebesar 2,6 Milyar Diamankan Polres Sarolangun


Kajanglako.com, Sarolangun - Polres Sarolangun merilis tersangka dugaan korupsi proyek Pembangkit Listrik Mikro Hidro (PLMTH) di Desa Batin Pengambang

 

Jumat, 13 Desember 2019 15:08 WIB

Fachrori Beri Reward Atlet dan Pelatih Berprestasi Popnas XV dan Peparnas IX 2019


Kajanglako.com, Jambi - Penyerahan uang pembinaan kepada atlet dan pelatih berprestasi Provinsi Jambi pada penyelenggaraan Popnas XV dan Peparpenas IX