Kamis, 14 Desember 2017
Pencarian


Selasa, 31 Oktober 2017 10:55 WIB

Mitos Adityawarman dan Penaklukan Kerajaan Jawa Terhadap Sumatra

Reporter :
Kategori : Perspektif

Patung Raja Adityawarman di Museum Nasional RI

Oleh: Nirwansyah Putra*

Dalam pembelajaran sejarah nasional seperti yang kerap masuk dalam benak siswa maupun mahasiswa di Indonesia, diketahui bahwa Adityawarman dikenal sebagai pendiri kerajaan Malayupura (Pagaruyung) yang ada di Sumatra Barat. Dia adalah anak dari Dara Jingga yang dipersunting oleh Raden Wijaya, Raja dari Majapahit, sebagaimana yang tercacat dalam kitab Pararaton.



Adityawarman dinyatakan dilahirkan dan dibesarkan di istana Kerajaan Majapahit dan merupakan saudara sepupu dari Jayanegara, raja kedua dari Majapahit. Sewaktu dewasa, Adityawarman ditugasi oleh Raja Majapahit menjadi utusan duta besar perdamaian ke Cina selama dua kali yakni pada tahun 1325 dan 1332, sebagaimana yang tercatat dalam kronik dinasti Yuan, terutama untuk mendamaikan perselisihan Majapahit dengan bangsa Mongol.

Pada masa pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi (adik Jayanegara) di Majapahit, sebagaimana yang dicacat pada prasati Blitar (1330) atau juga pada prasasti Manjustri tahun 1343 masehi, Adityawarman diangkat sebagai Wreddamantri atau perdana menteri.

Pada tahun 1347, Adityawarman ditugasi sebagai bawahan raja Majapahit untuk wilayah Swarnnabhumi (Sumatra) untuk menjalankan misi penaklukan Sumatra bagian Utara yakni kerajaan Silo di Simalungun. Kerajaan Silo saat itu dikuasai oleh Indrawarman, desersi tentara Singasari yang menolak kedaulatan Majapahit.

Selanjutnya pada tahun 1347, Adityawarman disebut mendirikan kerajaan Malayupura seperti yang terpahat pada arca Amoghapasa dan prasasti Kuburajo di Pagaruyung yang beraksara Sansekerta.  Dalam prasati itu, Aditywarman dikenal berasal dari keluarga Indra serta menjadi raja di Kanakamedini (Swarnadwipa) atau Sumatra. Sedangkan dalam prasasti Bukit Gombak, ia dikenal sebagai putra dari Adwayadwaja.

* * *

Prof Uli Kozok punya versi lain soal ini. Dalam ceramah ilmiahnya, 9 Maret 2010, Uli menunjukkan kelemahan sekaligus dilema yang dihadapi oleh sejarahwan nasional seperti Slamet Muljana dalam menafsirkan dan menuliskan sejarah Malayu (Sumatra) dan Majapahit (Jawa) khususnya tentang tokoh Adityawarman.

Mula-mula, Prof Uli menyitir buku yang ditulis sejarahwan nasional Slamet Muljana, mengenai hal ini. Seperti diketahui Slamet Muljana menulis beberapa buku soal kerajaan-kerajaan di Indonesia, di antaranya Tafsir Sejarah Nagarakretagama (2006), Sriwijaya (2006), Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara (2005), dan Kuntala, Sriwijaya dan Suwarnabhumi (1981).

Slamet menuliskan, Adityawarman benar-benar tokoh sejarah, karena namanya tercantum pada pelbagai prasasti di Pulau Jawa dan Sumatra serta  dinasti Yuan. Kitap Pararaton 24, 27 menyatakan bahwa Adityawarman adalah putra Dara Jingga dari Tanah Malayu. Demikian pula bahwa pada tahun  1325 pada Dinasti Yuan dinyatakan bahwa utusan Jawa bernama Seng-kia-lia-yulan berpangkat menteri, datang di istana kaisar. Ironisnya, nama Seng-kia-lia-yulan diidentifikasi dengan Adityawarman. Seharusnya penamaan tersebut adalah sebutan gelar Sang Arya yang banyak digunakan dalam pengaruh Hindu-Budha.

Selanjutnya pada tahun 1332 Adityawarman diutus ke Cina, dan pada tahun 1330 nama Adityawarman disebut pada prasasti Blitar atau pada prasati tidak bertarikh (OJO LXXXIV (D38) serta pada tahun 1343 Adityawarman mengeluarkan prasasti Manjusri di Candi Jago.

Slamet Muljana juga mengemukakan, pada tahun 1347 Adityawarman mengeluarkan prasasti di Dharmasraya di mana arcanya ditemukan di Sungai Langsat. Tidak lama kemudian, Adityawarman memindahkan kerajaan itu ke Pagaruyung dan terakhir pada tahun 1375, Adityawarman mengirimkan utusan ke Cina. Adityawarman meningggal dan dimakamkan di Kubur Raja, Lima Kaum Sumatra Barat.

Namun, Prof Uli tidak sependapat dengan Slamet. Uli yang juga penulis buku Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah: Naskah Melayu yang Tertua (2006), mengatakan, Adityawarman adalah seorang Melayu (Sumatra) yang dilahirkan dan dibesarkan di Sumatra dan tidak ada hubungan dengan Raden Wijaya, raja Majapahit. Ibunya bukanlah Dara Jingga seperti yang ditulis dalam sejarah nasional selama ini, karena menurutnya, bila Dara Jingga adalah Ibunya, maka setidaknya Adityawarman menjadi raja pada usia 45-50 tahun. Dengan demikian, adalah kemustahilan apalagi untuk mendirikan dan memimpin sebuah kerajaan di Sumatra yang baru dibentuk.

Demikian pula bahwa Adityawarman bukan pendiri kerajaan Malayu. Tetapi kerajaan itu didirikan oleh Akarendrawarman yang namanya banyak disebut pada berbagai prasasti di Minangkabau seperti prasasti PGR 7 yang menyebutnya sebagai Maharajadhiraja. Sementara pada Prasati PGR 8 yang dikeluarkan tahun 1316 dan pada prasasti Bandar Bapahat disebutkan, Adityawarman meneruskan pembangunan raja sebelumnya yakni Akarendrawarman. Jadi, sebelum Adityawarman, telah ada dan berdiri kerajaan Malayu di Sumatra yang didirikan oleh Akarendrawarman dan Adityawarman bercita-cita meneruskan pembangunan pendahulunya itu.

Uli mengemukakan, berdasarkan sumber-sumber primer dan analisis kritis yang dilakukannya terhadap sumber-sumber tersebut, Uli menegaskan, Adityawarman kemungkinan adalah keponakan Akarendrawarman yang lahir antara  tahun 1310 dan 1320 di Sumatra dan tidak pernah diutus ke China sebagai duta besar Majapahit.

Demikian juga bahwa Adityawarman tidak pernah mendampingi Majapahit untuk menyerang Bali atau Adityawarman ditugasi untuk menaklukkan Sumatra dalam ekspedisi Pamalayu di era Singhasari. Adityawarman sendiri tidak dimakamkan di Makam Kubu Rajo, karena tidak ditemukannya bukti bahwa Kubu Rajo sebagai makam. Kubu Rajo sendiri adalah kubu atau benteng pertahanan.

Ekspedisi Pamalayu menurut Uli adalah persekutuan dalam rangka menjalin kerjasama antara Jawa dan Sumatra. “Jadi bukan dalam rangka penaklukan sebagaimana yang disebut dalam sejarah nasional seperti selama ini,” kata Uli.

Uli menegaskan, Kertanegara -Raja Singhasari- sedang terancam oleh pasukan Kubilai Khan dari Mongol akibat menolak membayar upeti ke Tiongkok. Akibat penolakan tersebut, posisi Singhasari semakin terancam dan takut bila diserang oleh pasukan Mongol. Menurut dia, hubungan antara Jawa dan Sumatra tersebut tidak menunjukkan bawahan dan atasan di mana raja-raja di Sumatra disebut sebagai vasal dari raja Jawa sehingga memungkinkan untuk menyerang kerajaan Jawa ini. Atas dasar itu, Kertanegara yang menyadari bahwa posisisnya kian terancam, maka ia membentuk persekutuan dengan kerajaan Melayu yang dikenal dengan ekspedisi Pamalayu.

Selanjutnya, prasasti Manjusri yang sekarang berada di kompleks candi Jago meriwayatkan, Adityawarman mendirikan arca di Bhumi Jawa. Itu berarti Adityawarman bukan orang yang dilahirkan dan dibesarkan di Majapahit (Jawa). “Tetapi ia lahir dan dibesarkan di Sumatra dan sewaktu muda dikirim ke Majapahit untuk persahabatan Jawa dan Sumatra,” ujar Uli.

Argumentasi Uli yang lain adalah penggunaan istilah Maharaja dan Maharajadiraja telah menegaskan bahwa tidak ada hubungan taklukan antara Jawa dan Sumatra. Maharaja adalah sebutan atau gelar untuk raja, sedang maharajadiraja adalah gelar raja diatas segala raja atau king of the king. Adityawarman sendiri telah menggunakan maharajadiraja sama seperti  Akarendrawarman. Itu menandakan kerajaan tersebut adalah berdaulat penuh yang tidak memiliki hubungan dengan Majapahit.

Catatan selanjutnya, pada tahun 1293, 1299, 1301 kerajaan Malayu mengirimkan utusan ke Tiongkok dan pada tahun 1295, Kaisar Cina menyuruh Siam untuk tidak menyerang Malayu. Ibu negeri Kerajaan Malayu sendiri menurut Uli adalah berpindah-pindah seperti dari Saruaso, Dhamasraya dan Muara Jambi.

*Penulis adalah jurnalis dan pengajar di FISIP Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Tulisan ini merupakan catatan penulis atas ceramah ilmiah yang disampaikan Prof Uli Kozok pada 9 Maret 2010 di Universitas Negeri Medan, Sumatra Utara, bertajuk “Meruntuhkan Mitos Adityawarman: Tokoh Penting dalam Sejarah Jawa-Sumatra” .


Tag : #Sumatra #Jambi #Dharmasraya #Pamalayu #Ekspedisi #Majapahit #Singhasari



Berita Terbaru

 

OTT KPK di Jambi
Rabu, 13 Desember 2017 22:00 WIB

Zoerman Tak Penuhi Panggilan, KPK Belum Terima Alasannya


Kajanglako.com, Jambi - 2 dari 4 Pimpinan DPRD Provinsi Jambi, tidak memenuhi panggilan KPK sebagai saksi 4 tersangka kasus suap RAPBD Provinsi Jambi 2018,

 

OTT KPK di Jambi
Rabu, 13 Desember 2017 21:32 WIB

Info Terbaru KPK: Penyidik Dalami Keterlibatan Pimpinan dan Anggota DPRD Provinsi Jambi


Kajanglako.com, Jakarta - KPK merilis info terbaru terkait kasus suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi Tahun 2018.  Jubir KPK Febri Diansyah menyebut,

 

OTT KPK di Jambi
Rabu, 13 Desember 2017 20:55 WIB

Keluar dari Gedung KPK, Syahbandar: Asal Kooperatif Insya Allah Nyaman


Kajanglako.com, Jakarta - Dua pimpinan DPRD Provinsi Jambi, Chumaidi Zaidi dan Syahbandar diperiksa KPK sebagai saksi hari ini. Keduanya menjalani pemeriksaan

 

Rabu, 13 Desember 2017 19:43 WIB

Rencana Pembangunan Mini GOR di Pemayung Bakal Tertunda


Kajanglako.com, Batanghari – Pemerintah Kabupaten Batanghari berencana akan membangun mini GOR di Kecamatan Pemayung pada 2018 mendatang. Namun,

 

Rabu, 13 Desember 2017 18:59 WIB

Dinilai Lamban, Pencairan Santunan Kematian Dikeluhkan Warga


Kajanglako.com, Batanghari - Anggota DPRD Kabupaten Batanghari A Butsiyantoni, mengaku telah menerima sejumlah laporan warga terkait santunan kematian