Jumat, 23 Agustus 2019


Sabtu, 27 Juli 2019 10:19 WIB

Cerita Veth, Penjelajah yang Tersesat

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Walaupun warga dusun itu sangat ramah, mereka tak dapat berlama-lama. Mereka harus meneruskan perjalanan. Yang menjadi tujuan adalah Moeara Laboeh. Bukan rumah pertama dengan pemilik yang ramah! Setelah minta diri, mereka meninggalkan rumah itu. Alangkah ramainya jalan itu. Ramai dan ceria. Mereka berpapasan dengan kelompok-kelompok lelaki, perempuan dan anak-anak berpakaian bagus. Orang-orang itu tidaklah berbondong-bondong menyambut kedatangan para penjelajah.



Puasa sudah berakhir dan penduduk Pasir Talang dan Kota Baroe beramai-ramai pergi silaturahmi ke rumah Kontrolir.  Mereka membawa buah tangan berupa kekuehan dan makanan yang manis-manis. Ada yang baru hendak pergi; ada pula yang sudah dalam perjalanan pulang.

Di bawah cerahnya matahari, pakaian mereka yang aneka warna, perhiasan emas serta pinggan-pinggan tembaga bertutup kain-kain yang dihiasi dengan manik-manik dan potongan-potongan kaca yang kecil di atas kepala, tampak gemerlap dan sangat menarik.

Dibandingkan dengan orang-orang itu, van Hasselt, Snelleman dan para kuli mereka tampak kumuh dan lusuh. Rombongan penjelajah itu bertambah dengan beberapa orang remaja lelaki dari Soengei Pagoe yang meramaikan barisan. Sesekali mereka berhenti sebentar untuk menjawab sapa atau pertanyaan orang, tetapi lebih sering orang mengarahkan pertanyaan kepada Penghoeloe Kapala: “Dapè?" (harfiah, ‘dapat’—maksudnya: ‘sudah didapatkah orang-orang yang dicari?’).

Kepala dusun, yang segera menyediakan warganya untuk ikut mencari penjelajah-penjelajah yang ‘hilang’ di hutan, tetap mengikuti mereka. Tentu saja ia ingin mengantarkan mereka agar selamat sampai di tujuan, walaupun ia sebetulnya berniat ke tempat lain.

Pk 16.00. Moeara Laboeh tampak di kejauhan. Tak lama kemudian, rumah-rumah penduduk dusun itu pun tampak. Bendera merah-putih-biru berkibar di pucuk sebatang bambu yang dipancangkan di halaman Kontrolir, menyambut mereka. Sungguh sambutan yang membesarkan hati. Namun, yang paling menggembirakan adalah sebuah wajah yang tersenyum lebar: Veth! Di samping rekan mereka itu berdiri Welsink, Kontrolir Lolo dan Soengei Pagoe.

Pertanyaan-pertanyaan memberondong Veth seperti tembakan mitraliur. Barangkali pembaca pun ingin tau apa yang dialami lelaki itu setelah ia terpisah berhari-hari dari rekan-rekan seperjalanannya? Di bawah ini adalah cerita yang disampaikan oleh Veth.

Pagi tanggal 7 Oktober, ketika mereka kehilangan jalan, ia memutuskan untuk mencoba mendekati tepian sungai karena memperkirakan bahwa jalan yang dicari takkan jauh dari sana. Dengan susah-payah, ia menerobos semak-belukar yang memisahkannya dengan tepian itu. Jalan itu tak diketemukannya dan lebih parah lagi, ketika ia kembali ke tempatnya tadi masuk ke dalam semak-semak, ternyata tak seorang pun  tampak lagi!

Di dalam semak-semak, rasanya ia masih mendengar suara kampak menebang pohon. Namun, ia terkejut setengah mati. Ternyata dalam waktu yang diperlukannya untuk menerobos semak-semak sampai ke tepian sungai dan kembali lagi, ia sudah terpisah jauh dengan yang lainnya. Ia tak lagi mendengar suara-suara mereka dan teriakannya sendiri tampaknya tak terdengar oleh mereka.

Karena ingat bahwa pemandu kehilangan jalan, ia pun sama sekali tak memiliki bayangan arah mana yang dipilih oleh rombongan. Ia memutuskan untuk menelusuri jalan setapak yang diikuti sehingga sampai ke tempat mereka terpencar-pencar. Tak seorang pun tampak. Lalu, ia menelusuri lagi jalan yang mulanya diikuti tetapi dianggap salah oleh sang pemandu. Lagi-lagi, tak tampak seorang pun! Ia bahkan tak melihat jejak-jejak rombongannya!

Ia mencoba menenangkan hati dan pikiran. Saat ini, ia berada di punggung gunung di tepian kiri Batang Hari. Di kejauhan terdengar airnya yang mengalir deras. Sungai itu mengalir ke arah timur-laut, sementara selama ini mereka mengarah ke tenggara. Apa yang sebaiknya dilakukan? Bertahan di sini dan berharap bahwa orang akan segera menyadari bahwa dirinya tak ada dan segera pula mengirim tim untuk melacak keberadaannya?

Tetapi, kalau ia memilih menunggu dicari orang, mungkin ia akan harus menunggu lama sekali karena pastilah rombongan itu tidak akan segera menyadari bahwa dirinya tak ada. Orang-orang yang berjalan di depan akan mengira bahwa ia berjalan di belakang; sementara yang di belakang, mengira ia berjalan di depan!

Veth sama sekali tidak menduga bahwa sang pemandu bukan hanya kehilangan jalan, melainkan juga sama sekali kehilangan arah! Berbeda dengan dirinya, tim penjelajahan itu tidak langsung turun ke tepian Batang Hari karena dinding gunung terlalu curam untuk dituruni oleh kuli-kuli yang membawa barang.

Kendala ini tidak dirasakan oleh Veth. Tanpa beban barang, walau sulit, ia berhasil menuruni tebing dan kemudian mengikuti aliran Batang Hari ke arah hulu. Dalam pikirannya, cepat atau lambat, tim penjelajahan itu pasti akan sampai juga di tepian sungai itu.

Seperti cicak, ia menuruni tebing yang hampir tegak lurus di bumi. Menjelang tengah hari, pk 11.30, kakinya menjejak tanah yang lembab oleh air sungai. Ia menyusuri sungai.

Akan tetapi, karena permukaan airnya rendah, ia justeru mengalami banyak hambatan. Bebatuan besar di tepian menghalangi jalannya. Bila batu yang dihadapinya terlalu besar untuk dipanjati, ia terpaksa masuk ke dalam air. Tak jarang, ia terpaksa mencebur sampai sepinggang untuk memutari batu yang menghalangi jalannya.

Di tempat lain, tepian sungai itu begitu curam dan air sungai di dekatnya begitu dalam sehingga ia terpaksa terus mendaki untuk mencari jalan tembus. Rintangan alam seperti ini semakin lama semakin banyak. Veth memutuskan untuk menyusuri sungai dari tepian seberang saja, mendaki gunung di seberang sungai itu dan meneruskan jalan ke arah tenggara.

Pun keputusan ini tidaklah memudahkan perjalanannya. Ia terpaksa menjadi seperti kucing yang memanjat dinding gunung dan bergantungan di akar-akar pohon serta tanaman merambat sambil mencari tempat untuk menjejakkan kaki. Akhirnya, ia sampai juga di puncak gunung. Karena takut sudah terlalu jauh menyimpang dari arah yang ditujunya, ia segera mengayunkan langkah lagi untuk turun gunung, mendekati sungai.

Pukul 15.30, ia sudah kembali berdiri lagi di tepian Batanghari; tak jauh dari tepian tempatnya mulai berjalan tadi pagi.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #ekspedisi sumatra tengah 1877 #naskah klasik belanda #sejarah jambi



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah