Selasa, 12 Desember 2017
Pencarian


Senin, 30 Oktober 2017 13:49 WIB

Kearifan Orang Rimba Bukit Dua Belas

Reporter :
Kategori : Jejak

Orang Rimba di Bukit Dua Belas, Jambi. Sumber foto:indonesiatravelingguide

Oleh: Musri Nauli*

Pembicaraan mengenai Orang Rimba Bukit Dua Belas kembali menarik perhatian publik, utamanya setelah kedatangan Jokowi menemui Suku Anak Dalam (SAD) dari kelompok Ninjo, kelompok Tumenggung Grip dan Tumenggung Tarib akhir tahun 2015.



Orang Rimba Bukit Dua Belas adalah komunitas/masyarakat hukum adat yang tinggal secara semi nomaden di kawasan hutan Bukit Dua Belas Provinsi Jambi. Orang Rimba disebut komunitas semi nomaden karena kebiasaannya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya.

Perpindahan Orang Rimba dari satu tempat ke tempat lainnya disebabkan oleh beberapa hal, seperti melangun, menghindari musuh, dan membuka ladang baru. Orang Rimba tinggal di pondok-pondok yang mereka sebut sesudungon yaitu bangunan sederhana yang terbuat dari kayu hutan, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal.

Persekutuan hidup Orang Rimba disebut Rombong. Satu rombong terdiri beberapa kerabat perempuan beserta suami dan anak-anaknya. Sama seperti di Minangkabau, sistem kekerabatan Orang Rimba adalah Matrilineal. Meskipun sistem kekerabatannya matrilineal, pemimpin setiap rombong tetaplah seorang laki-laki. Setiap rombong mempunyai wilayah kelola sendiri yang terpisah dengan wilayah kelola rombong lain.

Seorang pemimpin Rombong dipanggil dengan sebutan Tumenggung. Tugas utama  seorang Tumenggung adalah memastikan dipatuhinya hukum adat oleh anggota-anggota rombongannnya. Di dalam melaksanakan tugas, sang Tumenggung dibantu oleh Wakil Tumenggung, Depati, Mangku, Debalang batin, dan Menti. Wakil Tumenggung bertugas mewakili Tumenggung apabila seorang Tumenggung berhalangan hadir untuk melaksanakan tugasnya.

Seorang Depati bertugas menangani kasus-kasus yang berkaitan dengan hukum. Pembantu lainnya adalah Mangku. Tugas Mangku hampir sama dengan Depati yaitu mengurus masalah-masalah yang berkaitan dengan hukum. Bedanya kasus-kasus hukum yang ditangani oleh Mangku biasanya lebih kecil bobotnya apabila dibandingkan dengan kasus-kasus hukum yang ditangani oleh seorang Depati.

Debalang Batin bertugas menjaga dan menegakkan keamanan apabila terjadi situasi tak menentu, seperti konflik dengan orang/warga Desa. Menti adalah orang yang bertugas memanggil seorang warga apabila diperlukan oleh Tumenggung atau oleh tokoh Orang Rimba lainnya. Dalam bertugas seorang menti bisa meminta bantuan kepada Anak Dalam.

Jabatan lain yang juga cukup penting adalah dukun, tengganai dan penghulu. Dukun dipercaya dapat menyembuhkan penyakit dan berhubungan dengan mahluk halus. Petunjuk seorang Dukun, juga diperlukan oleh warga yang akan membuka ladang. Tengganai bertugas sebagai penasehat warga dalam urusan rumah tangga dan masalah hubungan antar anggota kelompok rombong. Seorang tengganai pada saat tertentu bisa memberi nasehat atau masukan pada Tumenggung di saat Tumenggung harus menghadapi tugas yang sangat berat. Penghulu bertugas memimpin upacara-upacara keagamaan seperti upacara perkawinan, kematian, kelahiran bayi dan lain sebagainya.

Di luar semua itu adalah keluarga-keluarga inti yang merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat Orang Rimba. Tidak ada tugas khusus bagi keluarga-keluarga inti, dan mereka hanya harus menjadi warga yang baik dengan mematuhi hukum adat yang berlaku.

Struktur sosial di komunitas Orang Rimba Bukit Dua Belas Depati, Mangku dan Menti dikenal di dalam berbagai struktur sosial Marga/Batin di Jambi. Hanya Tumenggung yang tidak terdapat di dalam struktur Marga/Batin di Jambi.

Walaupun kelihatannya sangat sederhana, organisasi sosial yang dibangun oleh Orang Rimba itu terbukti mampu bertahan sampai hari ini.

Sebagai masyarakat yang tidak terpisahkan dari hutan, maka Orang Rimba Bukit Dua Belas mengenal tempat-tempat yang dihormati. Dikenal sebagai tempat keramat, untuk menyebut contoh berikut ini, yaitu Tano Peranakon (Tempat orang Rimba melahirkan putra-putrinya), Tano Pasoron (Tempat orang rimba menyimpan jenazah anggota keluarga), Tano Terban (Tanah yang terdapat di sisi-sisi jurang. Dengan sendirinya tanah itu mudah sekali mengalami longsor), Sentubung Budak (Tempat orang Rimba menanam bali (plasenta), Balo Balai (Tempat orang Rimba melangsungkan pernikahan), Balo Gajah (Tempat yang dipercaya oleh Orang Rimba didiami oleh Dewa penguasa hutan (gajah), Inum-inuman (Mata air yang terdapat dalam hutan), dan Tempelanai (Tanah yang berbentuk seperti tonjolan-tonjolan).

Selain itu, dipercaya oleh Orang Rimba sebagai kuburan penguasa hutan, yaitu tempat tumbuh Sialang (Kawasan tempat tumbuhnya jenis-jenis pohon yang dijadikan sarang oleh lebah madu), tempat tumbuh Jernang (Kawasan tempat tumbuhnya sejenis rotan yang sangat berharga bagi orang rimba, dan diambil buahnya bukan batangnya), tempat tumbuh buah-buahan (Kawasan tempat tumbuhnya pohon buah-buahan yang bernilai ekonomi tinggi, tempat tumbuh Tenggiris (Kawasan tempat tumbuhnya sejenis pohon yang berhasiat sebagai obat-obatan tradisional (berfungsi mengeraskan ubun-ubun bayi), Jemban Budak (Tempat untuk pertama kalinya bayi dimandikan), Bendungan atau Tebat (Tempat  yang dipercaya oleh Orang Rimba sering didatangi Dewa-dewa untuk mandi), Tanah Bersejarah (Kawasan yang dipercaya oleh Orang Rimba memiliki kaitan sejarah dengan kehidupan leluhur mereka), Payo lebor (Tanah basah yang banyak ditumbuhi tumbuhan-tumbuhan air. Bisa juga disebut rawa hutan).

Kesemua tempat keramat itu, kini masih ada sampai sekarang, dan tidak ada orang Rimba yang melanggarnya. Di luar dari tempat-tempat keramat itu, maka dibuka untuk berladang dan berkebun.  Adapun langkah-langkah dalam sebuah pembukaan ladang adalah seperti berikut ini, memilih lokasi; meminta pendapat dari dukun; penebasan; pembakaran; pembersihan; penugalan; nenanaman; pemeliharaan, dan pemanenan.

Setelah lokasi ditetapkan, adalah wajib hukumnya untuk bertanya kepada Dukun. Sang Dukun akan memberi restu apabila menurut pandangan batinnya, lokasi tersebut cocok untuk dijadikan ladang. Tapi sebaliknya Sang Dukun akan melarang Orang Rimba membuka ladang apabila menurut pandangan batinnya lokasi tersebut tidak cocok untuk dijadikan ladang. Apabila Sang Dukun memberi restu untuk membuka ladang baru, Orang Rimba akan segera melakukan penebasan atau dalam bahasa kami “mancah”.

Langkah berikutnya adalah “nobong” (penebangan). Setelah pohon-pohon besar ditebang, setelah batang-batang yang besar dibersihkan, Orang Rimba membiarkan lokasi tersebut terbakar sinar matahari selama satu bulan. Penjemuran tersebut dimaksudkan mengeringkan batang-batang kayu yang masih basah supaya dalam proses pembakaran, batang-batang itu mudah dilalap api.

Sedangkan proses pembakaran diawali dengan membuat parit-parit pembatas. Orang Rimba tidak ingin hutan di sekitar mereka ikut terbakar. Selain sanksinya berat, kebakaran hutan juga akan sangat merugikan Orang Rimba karena sebagian besar kebutuhan hidup mereka dipenuhi oleh hutan.

Pembakaran itu biasanya dilakukan pada saat letak matahari persis berada di atas kepala, sekitar jam satu siang. Untuk menghindari kebakaran hutan, harus diperhatikan juga arah mata angin dan kecepatan angin yang berhembus pada saat itu. Apabila anginnya terlalu besar dan mengarah pada hutan, kami harus menunda dulu pembakaran sampai anginnya tenang. Pembakarannya sendiri tidak berlangsung lama, paling lama hanya sekitar dua jam.

Setelah ladang bersih dari batang-batang yang berserakan, kaum laki-laki Orang Rimba mulai membuat lubang-lubang untuk menanam biji biji padi ataupun biji-biji jagung. Untuk tugas menaburkan biji, baik padi atau pun jagung, kaum  perempuan lebih dipercaya. Mereka dianggap lebih sabar dan teliti dibanding kaum laki-laki. Biji-biji ditaburkan kemudian ditutup dengan tanah.

Selain itu, orang Rimba tidak punya tradisi memelihara ternak seperti Orang Desa. Ada ungkapan yang terkenal di lingkungan Orang Rimba, “Adat kami adalah rimba yaitu berkambing kijang, berkerbau ruso, berhayom kua, berhatop serdang, berdinding kulit. Dengan tidak diperbolehkannya memelihara ternak, Orang Rimba mendidik  dirinya sendiri untuk menjadi pemburu handal. Tak syak, berburu merupakan keterampilan yang wajib dimiliki oleh setiap laki-laki dewasa Orang Rimba.

Ada dua teknik berburu yang dikembangkan oleh Orang Rimba, yaitu pertama memasang jerat dan kedua menangkap langsung hewan buruan.   

Selain itu, kehidupan Orang Rimba tidak dapat dipisahkan dari sungai. Hal itu dapat dilihat melalui nama-nama kelompok Orang Rimba, yang umumnya diambil dari nama Sungai. Rombong Makekal, rombong Terap, rombong Kejasung Besar, rombong Kejasung Kecik, semuanya diambil dari nama-nama sungai yang terdapat di kawasan Bukit Dua Belas. Begitu pula letak rombong-rombong Orang Rimba di tepi sungai, baik sungai besar atau pun sungai kecil.

Dengan demikian, sungai bagi Orang Rimba di Bukit Dua Belas, bukan hanya tempat mereka mengambil air, mandi, atau mencuci, tetapi sungai juga menyimpan banyak harta yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup mereka hingga sekarang, seperti tersedianya berbagai jenis ikan, kura-kura, katak, biawak, siput, kepiting dan belut.

 *Penulis adalah pengacara juga aktivis lingkungan.


Tag : #Suku Anak Dalam #Orang Rimba #Jambi #Sumatra #Bukit Dua Belas



Berita Terbaru

 

Senin, 11 Desember 2017 23:27 WIB

Pemayung Masih 'Takut' Gunakan Excavator Bantuan Provinsi, ini Penyebabnya


Kajanglako.com, Batanghari - Beberapa waktu lalu, Pemerintah Provinsi Jambi sudah memberikan bantuan dua Excavator mini untuk dua kecamatan di Kabupaten

 

Senin, 11 Desember 2017 23:15 WIB

Bank Indonesia Terbitkan Ketentuan Penyelenggaraan Teknologi Finansial


Kajanglako.com - Bank Indonesia (BI) menerbitkan ketentuan penyelenggaraan teknologi finansial untuk mendorong lahirnya berbagai inovasi dan mendukung

 

Pertemuan Bakohumas se-Provinsi
Senin, 11 Desember 2017 23:03 WIB

Melalui Bakohumas, Zola: Cerdas Menyikapi Berita Hoax


Kajanglako.com, Jambi  - Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli mengemukakan bahwa Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) merupakan saluran penyebaran

 

Senin, 11 Desember 2017 22:37 WIB

Zola Terima Apresiasi dari LPPM IPB


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi, Zumi Zola menerima apresiasi dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Institut Pertanian Bogor

 

Senin, 11 Desember 2017 22:19 WIB

Pengadaan Sapi Bermasalah, Kontrak CV Minang Vodia Utama Diputus


Kajanglako.com, Batanghari - CV Minang Vodka, selaku rekanan proyek pengadaan sapi gaduhan untuk kelompok tani di Batanghari, kontraknya resmi diputus. Sebelumnya,