Jumat, 23 Agustus 2019


Senin, 22 Juli 2019 08:17 WIB

Masri Singarimbun

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis. Riwanto Tirtosudarmo.

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Orang Karo yang menghabiskan waktu hidupnya di kota gudeg Yogyakarta ini seorang yang penuh senyum sekaligus memiliki etos kerja yang luar biasa kuat. Secara akademis dia seorang antropolog, tesis doktornya tentang sistem kekerabatan di kampungnya sendiri, Karo, yang diselesaikannya di The Australian National University (ANU), Canberra (1966), di bawah bimbingan antropolog terkenal Derek Freeman.



Sebelum berangkat untuk menempuh program doktor di universitas yang sama dengan Pak Masri tahun 1986, saya menyempatkan untuk menemui beliau yang saat itu menjadi country representative The Population Council di kantornya di Kemang, Jakarta.

Saya tahu bahwa menjadi kandidat doktor melalui program riset pasti tidak mudah dan saya ingin belajar dari Pak Masri kiat-kiat apa yang harus dipersiapkan agar bisa selesai sesuai dengan waktunya. Meskipun saya tidak pernah menjadi anak buah Pak Masri, saya menganggap beliau sebagai guru dan nasihatnya sangat saya perlukan.

Di dunia studi kependudukan di Indonesia yang menjadi dunia akademis saya, Pak Masri figur yang menarik dan menjadi model buat saya. Meskipun keahlian formalnya adalah antropologi, apa yang dikerjakannya jauh dari apa yang kita bayangkan dari kerja antropolog yang konvensional.

Sejak di Canberra, setelah lulus dari program doktornya, pria kelahiran 19 Juni 1931 ini memfokuskan perhatiannya pada masalah-masalah kependudukan, khususnya yang berkaitan dengan berbagai upaya untuk menurunkan laju pertumbuhan penduduk, yang tahun 70 dan 80-an menjadi perhatian dunia. Pada saat itu, dunia barat sangat khawatir dengan laju pertumbuhan penduduk yang sangat cepat di negara-negara miskin di Asia, Afrika dan Amerika Latin.

Negara-negara seperti Cina, India, Indonesia, Mexico, Brazil dan Nigeria menjadi momok bagi dunia Barat karena negara-negara yang berpenduduk besar, tapi mayoritas warganya miskin ini jika tidak dicegah laju pertambahan penduduknya akan mengancam kestabilan dan kedamaian planet bumi - a doomsday scenario – yang bakal mengganggu kenyamanan tidur penduduk negara-negara barat yang makmur.

Dana-dana dalam jumlah yang besar digelontorkan oleh negara-negara kaya melalui berbagai lembaga internasional, antara lain, UNFPA dan The Population Council, untuk mencegah peledakan penduduk di negeri-negeri miskin berpenduduk besar seperti Indonesia. Di ANU, didirikan Department of Demography, dipelopori oleh Professor David Borrie dan kemudian dilanjutkan oleh Professor Jack Caldwell, yang ditujukan untuk mendidik para ahli di bidang kependudukan (demography) melakukan riset dan memberikan rekomendasi kebijakan dalam mengendalikan kelahiran, kematian dan migrasi penduduk. Sebagai negara imigran Australia merupakan negara menarik untuk studi migrasi dan masyarakat multikultural.

Sebelum kembali ke Indonesia, Pak Masri, beberapa tahun bekerja sebagai research fellow di Department of Demography ANU, tempatnya melakukan kajian-kajian kependudukan bersama Professors David Borrie dan Jack Caldwell.

Dalam sebuah kesempatan Jack Caldwell, seorang ahli demografi dengan reputasi internasional, mengakui pengaruh Pak Masri dalam mengembangkan sebuah metode riset yang diberi nama “quasi anthropology”. 

Di UGM setelah melalui proses yang panjang Pak Masri berhasil mendirikan Pusat Studi Kependudukan (kini, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan atau PSKK-UGM), tempatnya mencurahkan segenap tenaga dan pikirannya melakukan riset dan publikasi tentang berbagai isu kependudukan. Di bawah kepemimpinan Pak Masri, Pusat Studi Kependudukan UGM menghasilkan penerbitan hasil-hasil riset yang bermutu, tidak sedikit yang merupakan kolaborasi dengan peneliti-peneliti asing.

Ket: Masri Singarimbun (kiri). Dok. PSKK UGM. Foto diambil dari Historia.id.

Perpektif lintas batas negara yang dianut Pak Masri terbukti menjadikan Pusat Studi Kependudukan UGM sebagai tempat persemaian peneliti-peneliti muda dari berbagai belahan dunia yang kemudian menjadi terkenal, seperti Patrick Guiness, Chris Manning, Terry dan Valerie Hull, juga Benjamin White. Pak Masri juga bisa dikatakan menjadi mentor dari generasi peneliti-peneliti Indonesia yang tangguh seperti Sofian Effendy, Tajuddin Noer Effendy, Muhadjir Darwin, PM Laksono, Sukamdi, Irwan Abdullah dan Pujo Semedi – yang semuanya telah menjadi professor-profesor di UGM.

Riset sosial merupakan bidang yang ditekuni oleh Pak Masri. Bersama Sofian Effendy yang kemudian menjadi penerusnya, menerbitkan buku tentang metode penelitian yang hingga sekarang masih menjadi rujukan para peneliti, dosen dan mahasiswa. Bersama istrinya, Ibu Ira Singarimbun sebuah perpustakaan tentang kependudukan dan ilmu sosial berhasil dikembangkan dan menjadi tempat belajar yang menyenangkan.

Kolaborasi riset jangka panjangnya di Desa Sriharjo, DIY bersama David H Penny, seorang ahli ekonomi pertanian dari ANU melahirkan monografi berjudul Population and Poverty in Rural Java Some Economic Arithmetic from Sriharjo(1973). Monografi ini sempat dilarang diedarkan oleh rezim Soeharto karena dianggap memberikan citra buruk dari keberhasilan strategi pembangunan ekonomi Indonesia di bawahWidjojo Nitisastro yang dianggap berhasil menurunkan tingkat kemiskinan secara masif.

Masri Singarimbun merupakan seorang ahli ilmu sosial yang tidak menjadikan riset sebagai sekedar profesi untuk menaikkan pangkatnya di perguruan tinggi. Riset juga bukan cara untuk mencari uang bagi dirinya, tetapi bagi pengembangan lembaga dan stafnya. Publikasi hasil riset baginya sesuatu yang memang seharusnya dilakukan untuk kepentingan publik dan mencerdaskan bangsanya.

Sebagai seorang intelektual publik Masri Singarimbun memiliki keprihatinan yang mendalam terhadap nasib orang-orang miskin di negerinya. Tulisan-tulisannya dimuat oleh berbagai media cetak, seperti Kompas, Sinar Harapan, Kedaulatan Rakyat, hingga majalah Tempo. Begitu juga karya tulis ilmiah, jurnal penelitian, hingga buku. Menulis soal kemiskinan dan ketimpangan sosial di jaman yang penuh represi bukanlah perkara yang mudah, namun dengan gaya tulisannya yang kadang disertai humor hal-hal yang sensitif itu mampu diungkapkannya.

Masri Singarimbun, meskipun namanya telah dijadikan penanda sebuah gedung yang megah di UGM, mungkin apa yang pernah dilakukannya sudah banyak dilupakan orang. Patung separuh badannya bisa kita lihat di lobi gedung yang megah itu, namun raut mukanya tampak seperti orang yang kesepian.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #PSKK UGM #quasi anthropology #Masri Singarimbun



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah