Sabtu, 19 Oktober 2019


Sabtu, 20 Juli 2019 02:09 WIB

Dunia Seni Indonesia Berduka, Sastrawan Arswendo Atmowiloto Tutup Usia

Reporter :
Kategori : Sosok

Arswendo Atmowiloto. Sumber: Kapanlagi.com

Kajanglako.com:  Jumat, 19 Juli 2019, pukul 17.50 WIB, tersiar kabar meninggalnya sastrawan dan budayawan Arswendo Atmowiloto. Setahun terakhir ini Arswendo beberapa kali dirawat di rumah sakit berjuang melawan kanker prostat. Kondisinya sempat membaik sehingga bisa kembali ke rumah.

Sontak saja kabar berpulangnya pria kelahiran 26 November 1948 di Solo, Jawa Tengah, ini membuat jagad kesenian tanah air berduka. Di jejaring media sosial facebook dan twitter, ucapan bela sungkawa silih berganti datang dari berbagai kalangan, baik sahabat sesama seniman, sastrawan, budayawan, artis, pengajar/akademisi hingga mereka yang pernah berinteraksi langsung dengan pria berusia 70 tahun itu.



Saat ini, jenazah Arswendo Atmowiloto masih disemayamkan di Rumah Duka, Kompleks Kompas B-2, Jalan Damai, Petukangan Selatan, Jakarta Selatan. Misa Requiem sekaligus pelepasan jenazah akan dilaksanakan di Gereja St Matius Penginjil, Paroki Bintaro, Pondok Aren pada hari Sabtu, 20 Juli 2019, pukul 10.00. Selesai misa, jenazah akan dibawa ke tempat peristirahatan terakhir di Sandiego Hill, Karawang (Sastrawan dan Wartawan Senior Arswendo Atmowiloto Meninggal Dunia, Kompas.com, 19/07/2019, 18:26 WIB).

Arswendo Atmowiloto mempunyai nama asli Sarwendo. Nama itu diubahnya menjadi Arswendo karena dianggapnya kurang komersial dan terkenal. Lalu, di belakang namanya itu ditambahkan nama ayahnya, Atmowiloto, sehingga namanya menjadi apa yang dikenal luas sekarang. 

Arswendo Atmowiloto menganut agama Kristen. Ia menikah dengan wanita yang seiman, Agnes Sri Hartini, pada tahun 1971. Dari pernikahannya itu, mereka memperoleh tiga orang anak, yaitu Albertus Wibisono, Pramudha Wardhana, dan Cicilia Tiara.

Setelah lulus sekolah menengah atas, Arswendo masuk ke Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, IKIP Solo, tetapi tidak tamat. Aswendo semula bercita-cita menjadi dokter, tetapi tidak tercapai. Ia pernah mengikuti program penulisan kreatif di Lowa University, Amerika Serikat.

Setelah keluar dari Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, ia bekerja di pabrik bihun dan kemudian di pabrik susu. Ia juga pernah bekerja sebagai penjaga sepeda dan sebagai pemungut bola di lapangan tenis.

Arswendo mulai merintis kariernya sebagai sastrawan sejak tahun 1971. Cerpen pertamanya berjudul “Sleko”, yang dimuat dalam majalah Mingguan Bahari. Di samping sebagai penulis, ia juga aktif sebagai pemimpin di Bengkel Sastra Pusat Kesenian Jawa Tengah, Solo (1972).

Setelah itu, ia bekerja sebagai konsultan penerbitan Subentra Citra Media (1974—1990), sebagai pemimpin redaksi dalam majalah remaja Hai, sebagai pemimpin redaksi/penangung jawab majalah Monitor (1986), dan pengarah redaksi majalah Senang (1998).

Arswendo Atmowiloto adalah pengarang serba bisa yang sebagian besar karyanya berupa novel. Isi ceritannya bernada humoris, fantatis, spekulatif, dan suka bersensasi. Karyanya banyak dimuat dalam berbagai media massa, antara lain Kompas, Sinar Harapan, Aktual, dan Horison. Karangannya antara lain diterbitkan oleh penerbit Gramedia, Pustaka Utama Grafiti, Ikapi, dan PT Temprint. Puluhan karyanya telah dibukukan, sebagian diangkat ke layar televisi dan film.

Ketika menjabat sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia ditahan dan dipenjara karena satu jajak pendapat. Ketika itu, tabloid Monitormemuat hasil jajak pendapat mengenai tokoh pembaca. Arswendo terpilih menjadi tokoh nomor 10, satu tingkat di atas Nabi Muhammad SAW, yang terpilih menjadi tokoh nomor 11. Sebagian masyarakat muslim marah dan terjadi keresahan di tengah masyarakat. Arswendo kemudian diproses secara hukum dan divonis hukuman lima tahun penjara karena tulisannya dianggap subversi dan melanggar Pasal 156 A KUHP dan Pasal 157 KUHP. Setelah itu, ia menyatakan penyesalannya dan meminta maaf kepada masyarakat melalui media TVRI dan beberapa surat kabar ibu kota.

Ketika ia berada di dalam tahanan, ia menulis cerita bernada absurditas, humoris (anekdot), dan santai. Cerita tersebut bertema kehidupan orang tahanan beserta masyarakat umum di ibu kota yang mengalami keputusasaan dalam menghadapi sesuatu yang sulit. Arswendo pernah mendapat kecaman dan dianggap sebagai pengkhianat karena pendapatnya yang dianggapnya keliru oleh para pengamat sastra. Aswendo berpendapat bahwa “Sastra Jawa telah mati”. Ia sangat menghargai penulis komik, khususnya komik wayang dan silat yang dianggap banyak berjasa dalam pendidikan anak.

Karya Arswendo antara lain berupa naskah drama, cerpen, novel, dan puisi. Berikut adalah karyanya:

1. Sleko (1971)

2. Ito (1973)

3. Lawan Jadi Kawan (1973)

4. Bayiku yang Pertama: Sandiwara Komedi dalam 3 Babak (1974)

5. Sang Pangeran (1975)

6. Sang Pemahat (1976)

7. Bayang-Bayang Baur (1976)

8. 2 x Cinta (1976)

9. The Circus (1977)

10. Semesta Merapi Merbabu (1977)

11. Surat dengan Sampul Putih (1979)

12. Saat-Saat Kau Berbaring di Dadaku (1980)

13. Dua Ibu (1981)

14. Saat-Saat (1981)

15. Pelajaran Pertama Calon Ayah (1981)

16. Serangan Fajar (1982)

17. Airlangga (1985)

18. Anak Ratapan Insan (1985)

19. Pacar Ketinggalan Kereta (skenario dari novel Kawinnya Juminten,1985)

20. Pengkhianatan G30S/PKI (1986)

21. Dukun Tanpa Kemenyan (1986)

22. Akar Asap Neraka (1986)

23. Garem Koki (1986)

24. Canting: Sebuah Roman Keluarga (1986)

25. Indonesia from the Air (1986)

26. Telaah tentang Televisi (1986)

27. Lukisan Setangkai Mawar: 17 Cerita Pendek Pengarang Aksara (1986)

28. Tembang Tanah Air (1989)

29. Menghitung Hari (1993)

30. Oskep (1994)

31. Abal-abal (1994)

32. Berserah Itu Indah: Kesaksian Pribadi (1994)

33. Auk (1994)

34. Projo & Brojo (1994)

35. Sebutir Mangga di Halaman Gereja: Paduan Puisi (1994)

36. Khotbah di Penjara (1994)

37. Sudesi: Sukses dengan Satu Istri (1994)

38. Suksma Sejati (1994)

39. Surkumur, Mudukur, dan Plekenyun (1995)

40. Kisah Para Ratib (1996)

41. Darah Nelayan (2001)

42. Dewa Mabuk (2001)

43. Kadir (2001)

44. Keluarga Bahagia (2001)

45. Keluarga Cemara 1

46. Keluarga Cemara 2 (2001)

47. Keluarga Cemara 3 (2001)

48. Pesta Jangkrik (2001)

49. Senja yang Paling Tidak Menarik (2001)

50. Dusun Tantangan (2002)

51. Mencari Ayah Ibu (2002)

52. Mengapa Bibi Tak ke Dokter (2002)

53. Senopati Pamungkas (1986/2003)

54. Fotobiografi Djoenaedi Joesoef: Senyum, Sederhana, Sukses (2005)

Sedangkan penghargaan yang diraih Arswendo selama kerja kepengarannnya, antara lain, berikut ini:

1.Hadiah Zakse (1972) untuk esainya yang berjudul “Buyung Hok dalam Kreativitas Kompromi”, (2) Hadiah Perangsang Minat Menulis dalam Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ   (1972 dan 1973) untuk dramanya yang berjudul “Penantang Tuhan” dan “Bayiku yang Pertama”, (3). Hadiah Harapan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara DKJ  (1975) untuk damanya “Sang Pangeran” dan “Sang Penasehat”, (4) Penghargaan ASEAN Award di Bangkok untuk bukunya Dua Ibudan Mandoblang (buku  anak-anak).

*Ket: Profil Arswendo Atmowiloto diambil utuh dari laman Badan Pengembangan Bahasa, Kemdikbud RI: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/lamanbahasa/node/741


Tag : #sosok #Arswendo Atmowiloto Tutup Usia #Keluarga Cemara #Budayawan Arswendo Meninggal Dunia



Berita Terbaru

 

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:24 WIB

Al Haris Lepas Ribuan Peserta Kirab Hari Santri Nasional 2019


Al Haris Lepas Ribuan Peserta Kirab Hari Santri Nasional 2019 Kajanglako.com, Merangin - Ribuan santri dari berbagai Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten

 

Sabtu, 19 Oktober 2019 09:49 WIB

Merangin Akan Miliki Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama


Merangin Akan Miliki Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama Kajanglako.com, Merangin - Kabupaten Merangin akan memiliki desa sadar kerukunan umat beragama.

 

Perspektif
Sabtu, 19 Oktober 2019 05:15 WIB

Sakti Alam Kerinci, dari Catatan Menuju Aksi Pemajuan Kebudayaan


Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali* “Sakti Alam Kerinci”, selain alamnya bertuah, bentang lahannya diibaratkan bak sepenggal tanah surga yang jatuh

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Sabtu, 19 Oktober 2019 03:58 WIB

Pemburu Burung Dara


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Van Hasselt dan timnya berjalan-jalan berkeliling dusun atau kota itu, bersama Toeankoe dan pamannya,

 

Jumat, 18 Oktober 2019 18:40 WIB

Sidak Proyek Irigasi Dam Betuk, Dewan Temui Banyak Kejanggalan


Sidak Proyek Irigasi Dam Betuk, Dewan Temui Banyak Kejanggalan Kajanglako.com, Merangin- Ketua DPRD Merangin, Herman Efendi berasama Ketua Komisi III Mulyadi