Sabtu, 19 Oktober 2019


Sabtu, 20 Juli 2019 00:35 WIB

Penjemput di Tengah Hutan

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Moeara Laboeh. Sudah waktunya untuk sampai kembali di Moeara Laboeh. Setelah sarapan pagi tanggal 10 Oktober itu, tak sebutir beras, tak sekerat daging yang tersisa. Pagi ini, dengan pikiran yang diberati oleh bebayang sosok Veth, yang masih saja raib, mereka meneruskan perjalanan. Arloji dan kompas menjadi pegangan untuk menentukan arah dan untuk nantinya, menggambarkan rute perjalanan itu di atas peta.



Tak lama berjalan, mereka sudah sampai di Pinti Kajoe, menyusurinya. Jalan di tepian kiri sungai itu mulai mendaki. Seluruh daerah ini dibelah-belah oleh jalan gajah. Oleh berat badannya, kawanan gajah itu membuat semacam mangkok yang dalam dan lebar di tanah, yang sulit dilalui. Setiap kali kawanan gajah itu datang lagi, mangkok-mangkok itu semakin dalam, semakin besar dan semakin sulit dilewati. Setiap kali menemui mangkok-mangkok gajah seperti itu, rombongan terpaksa menyeberangi sungai untuk menghindarinya, lalu menyeberangi sungai lagi untuk kembali menelusuri jalan setapak yang diikuti.

Penduduk setempat memang biasanya menghindari tempat-tempat yang banyak dilalui gajah karena sangat takut pada binatang itu, apalagi bila dalam jumlah banyak. Untunglah, mereka tak bertemu dengan seekor gajah pun. Hanya rumpun-rumpun bambu yang tergencet rata dengan tanah oleh kaki gajah dan tumpukan kotorannya yang menggunung, membuktikan bahwa kawanan gajah sering datang di daerah ini.

Berkali-kali mereka bolak-balik menyeberangi sungai. Terkadang kaki hanya terendam sampai sebatas pergelangan, namun tak jarang, di tempat lain, tingginya air sungai itu sampai  ke atas lutut. Beberapa kali, van Hasselt dan Snelleman tergelincir. Sepatu yang selalu dikenakan kedua orang itu tak dapat menjejak atau mencengkeram tanah yang diinjaknya. Sepatu-sepatu itu juga tidak banyak membantu ketika mereka menginjak bebatuan licin di dasar sungai. Jatuh-bangunnya kedua penjelajah Belanda itu membuat para kuli dan pemandu terkekeh geli. Mereka berjalan santai dengan kaki telanjang di daratan yang kering atau pun berlumpur dan santai pula menyeberangi sungai dengan bebatuan licin di dasarnya!

Menjelang pk 08.30, mereka sudah tiba di Soengei Langsè, anak sungai di sebelah kanan Pinti Kajoe. Di suatu tempat, mereka terpaksa menebas semak-belukar supaya dapat meneruskan perjalanan. Tiba-tiba, terdengar suara orang yang juga sedang menebas semak dan menebang pepohonan kecil!

“Sia iko?” Pertanyaan bernada curiga dari rombongan penjelajah terdengar bersamaan dengan pertanyaan sama yang muncul dari balik semak-semak. Siapa lagi yang ada di rimba ini? Apa yang dicari di sini? Setelah diam sejenak, dedaunan semak dikuakkan oleh tangan-tangan tak dikenal. Sosok PenghoeloeKapala Pasir Talang, Bandara Besar muncul. Di belakangnya, muncul pula sejumlah lelaki warga dusunnya. Mereka mencari tim penjelajahan yang diduga tersesat! Tersesat? Siapa yang mengatakan hal itu?

Penghoeloe Kapala mendengar sendiri cerita perihal tersesatnya rombongan tim penjelajahan itu dari Toean Veth. Rupanya penjelajah yang hilang itu sudah tiba di Moeara Laboeh. Ia sudah berada di dusun itu sejak tanggal 8 Oktober!  Dan, ia sehat-walafiat!  

Ramailah orang berseru, bertanya dan terheran-heran mendengar kabar gembira itu. Penghoeloe Kapala dan anak buahnya tak dapat menceritakan apa saja yang dialami oleh Veth dalam perjalanannya ke Moeara Laboeh seorang diri. Akan tetapi, setelah van Hasselt dan Snelleman betul-betul yakin dan percaya bahwa rekan mereka masih hidup dan sehat, mereka semakin menggebu-gebu untuk segera bertemu dengannya dan mendengar sendiri cerita-ceritanya.

Semua orang sebetulnya sudah tak sabar meneruskan perjalanan, tetapi hujan turun. Semakin lama semakin deras. Angin kencang bertiup pula. Setelah hujan badai itu berlalu, mereka melanjutkan perjalanan dengan bersemangat. Lelaki-lelaki dari Pasir Talang berjalan di depan. Orang-orang itu berkali-kali diam-diam mengamati van Hasselt dan Snelleman. Jarang sekali mereka dapat bertemu dengan orang asing yang berhari-hari lamanya berada di hutan!

Menjelang pk 9.00, mereka tiba di perkemahan tempat para penjemput itu menginap semalam, yaitu di dekat pohon andoeren besar yang batangnya berlubang. Di sini, beras yang dibawa oleh orang-orang Pasir Talang itu dimasak untuk para kuli yang langsung menghabiskannya dengan lahap.

Pemandu van Hasselt rupanya berhasil mendapatkan beras segenggam. Dari dalam sarung yang selalu disandang di punggungnya, ia mengeluarkan sebuah panci kecil. Ia menyalakan api dan mulai memasak nasi untuk dirinya sendiri. Dari dalam lipatan penutup kepalanya, ia mengeluarkan bungkusan kecil berisi garam. Dari balik lipatan lain, ia mengeluarkan cabai kering. Keduanya ditaburkannya di atas nasi yang mengepul-ngepul di dalam pancinya. Setelah kenyang, ia menyimpan kembali pancinya, lalu mengeluarkan sebatang rokok dari lipatan tutup kepalanya. Van Hasselt dan Snelleman berdecak kagum. Alangkah praktisnya lelaki itu memenuhi kebutuhannya.

Setelah beristirahat kira-kira sejam, mereka melanjutkan perjalanan sampai tengah hari. Mereka mengikuti aliran Soengei Langsè. Jurang yang mereka lewati semakin menyempit, dengan sungai di sebelah kiri dan dinding bukit Perhitian Teling di sebelah kanan. Jalan itu perlahan mendaki sampai ke punggung bukit. Tak banyak yang dapat dilihat karena rapatnya pepohonan yang tumbuh di situ. Hanya sesekali saja, di tempat yang pohonnya jarang, tampak sawah-sawah yang terbentang di lembah  Soengei Pagoe.

Pk 13.30, mereka keluar dari rimba, di tepian Soengei Pangkoer, kali kecil yang airnya mengalir masuk ke Soengei Seliti. Setelah berhari-hari lamanya terkurung di dalam rimba yang gelap, mereka merasa seperti terlepas dari belenggu. Di depan mata, sawah membentang tanpa akhir dan padang rumput dengan semak-semak rendah tempat sapi dan kerbau merumput. Lembah itu terang-benderang dibasuh cahaya matahari. Mereka mengerjapkan mata. Ada rumah! Tak hanya satu, tetapi beberapa dengan halaman di depannya dan lumbung-lumbung padi de dekatnya! Dan, tampak pula para pemilik rumah-rumah itu! Manusia!

Mereka melewati sumber air panas. Saking panasnya airnya, tangan orang akan terbakar bila dicelupkan ke dalamnya. Tak jauh dari tempat itu, mereka berbasah-basah menyeberangi Soengei Seliti. Sampailah mereka di jalan besar di antara Lolo dan Moeara Laboeh (kira-kira 4 pal jauhnya dari dusun terakhir itu).

Pemilik rumah-rumah pertama yang dilewati mengajak mampir dan menyuguhkan kelapa muda sebagai pelepas dahaga. Air buahnya yang dingin sungguh menyejukkan. Kaum perempuan dan para gadis, yang biasanya berlari menyembunyikan diri bila bertemu dengan orang Eropa, kini berkumpul—duduk dan berdiri—di dekat orang-orang berkulit putih itu.

Mereka memperhatikan van Hasselt dan Snelleman dari ujung kaki sampai ke ujung rambut dan mendengarkan cerita-cerita pengalaman hari-hari terakhir di dalam hutan. Banyak sekali pertanyaan warga dusun itu! Mereka mengangguk-angguk, menyetujui tindakan dan keputusan yang diambil oleh tim itu selama berada di dalam hutan.

Dan, Veth? Bagaimana nasib rekan mereka itu? Apakah warga dusun itu melihatnya? Ramai orang menjawab. Ya! Ya! Mereka melihatnya. Veth muncul dari dalam hutan. Pakaiannya sobek-sobek dan tangannya berlumur darah! Tetapi ia tidak berhenti di dusun itu. Ia terus melangkah, tanpa meminta makan atau pun minum.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #ekspedisi sumatra tengah #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:24 WIB

Al Haris Lepas Ribuan Peserta Kirab Hari Santri Nasional 2019


Al Haris Lepas Ribuan Peserta Kirab Hari Santri Nasional 2019 Kajanglako.com, Merangin - Ribuan santri dari berbagai Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten

 

Sabtu, 19 Oktober 2019 09:49 WIB

Merangin Akan Miliki Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama


Merangin Akan Miliki Desa Sadar Kerukunan Umat Beragama Kajanglako.com, Merangin - Kabupaten Merangin akan memiliki desa sadar kerukunan umat beragama.

 

Perspektif
Sabtu, 19 Oktober 2019 05:15 WIB

Sakti Alam Kerinci, dari Catatan Menuju Aksi Pemajuan Kebudayaan


Oleh: Asyhadi Mufsi Sadzali* “Sakti Alam Kerinci”, selain alamnya bertuah, bentang lahannya diibaratkan bak sepenggal tanah surga yang jatuh

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Sabtu, 19 Oktober 2019 03:58 WIB

Pemburu Burung Dara


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Van Hasselt dan timnya berjalan-jalan berkeliling dusun atau kota itu, bersama Toeankoe dan pamannya,

 

Jumat, 18 Oktober 2019 18:40 WIB

Sidak Proyek Irigasi Dam Betuk, Dewan Temui Banyak Kejanggalan


Sidak Proyek Irigasi Dam Betuk, Dewan Temui Banyak Kejanggalan Kajanglako.com, Merangin- Ketua DPRD Merangin, Herman Efendi berasama Ketua Komisi III Mulyadi