Jumat, 23 Agustus 2019


Senin, 15 Juli 2019 17:54 WIB

Karlina Supelli

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis. Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudamo*

Menempuh pendidikan strata satu di jurusan astronomi ITB (1981), MSc di bidang Space Science di University College London (1989), dan meraih gelar doktor filsafat dari UI dengan judul disertasi "Kosmologi empiris konstruktif: suatu telaah filsafat ilmu terhadap asas antropik kosmologis" (1997), memperlihatkan luasnya cakupan ilmu yang dimiliki Karlina Supelli.



Kerisauannya yang mendalam melihat paradoks akan rendahnya literasi wargabangsanya, sementara begitu besar sesungguhnya potensi nalar manusia untuk memahami kosmos - mencari jawab dari mana dan mau kemana kita yang seolah-olah begitu saja terlempar ke planet bumi, mestinya menjadi keprihatinan bersama. Dalam kaitan ini, selebrasi yang begitu besar diberikan kepada apa yang disebut sebagai Generasi Mileneal mungkin perlu dilihat kembali secara kritis.

Tetapi yang membuat istimewa perempuan kelahiran Jakarta, 15 Januari 1958, ini adalah pilihan politiknya melibatkan diri dengan persoalan-persoalan praktis yang dihadapi bangsanya, seperti membentuk Suara Ibu Peduli (SIP): kumpulan ibu-ibu yang  merasa prihatin dengan imbas kekacauan politik menjelang dan pasca lengsernya Soeharto dari tampuk kekuasaan yang telah dikangkanginya lebih dari tiga dasawarsa - sebuah prestasi yang hanya dikalahkan oleh Mugabe di Afrika. 

Akibat protes SIP pada 23 Februari 1998 di bundaran HI, Karlina bersama dua rekannya, yakni Gadis Arivia dan Wilarish, sempat ditahan polisi. Meskipun bisa saja, inspirasi untuk membentuk SIP datang dari belahan dunia lain, tapi memang apa yang harus baru dan otentik ketika dunia sudah terkoneksi sedemikian rupa sehingga tak mungkin lagi rasanya sebuah ide seperti wangsit yang turun begitu saja dari langit.

Ket: Karlina Supelli. Sumber foto: salihara

Ketika ide-ide tentang asal-usul kosmos diperdebatkan seolah-olah tanpa batas lagi antara ilmu dan filsafat, antara naluri dan nalar; orang seperti Karlina Supelli mungkin menjadi "exception" karena kemampuannya untuk terlibat dalam menembus dan melampaui batas-batas itu.

Dalam sebuah masyarakat yang semakin dikuasai oleh media massa dan media sosial yang sesak dengan demagogi, tidak aneh jika berpikir kritis dan bersikap rasional bisa dianggap menghina atau merendahkan derajat sementara kalangan.

Ruang publik yang semestinya menjadi ajang pertukaran pikiran untuk mencari kemungkinan-kemungkinan hidup bersama yang lebih setara dan bermartabat tanpa terasa menjadi semakin sempit dan dangkal. Berbagai pertanyaan tanpa rasa risi seperti telah mendapatkan kepastian jawaban dari para demagog, sementara hipokrisi  seolah menjadi kenormalan.

Beberapa waktu lalu, kritiknya terhadap kecenderungan kita yang cuma sebagai pengguna buta "smart phone", meskipun sepintas juga menjadi "concerned" banyak pihak, namun mungkin hanya Karlina yang bisa menjelaskan dengan gamblang implikasi-implikasinya bagi kelangsungan sebuah komunitas kebangsaan. Mengungkapkan kritik-kritiknya dengan suara yang jernih dan halus, menunjukkan Karlina Supelli sangat menyadari betapa sensitif sesungguhnya sebuah publik yang kesadarannya telah terobsesi dengan politik identitas.

Mungkin itu pula yang membuat pengagum karya petualangan Karl May, puisi Chairil Anwar, cerita detektif-dan tentu saja Carl Sagan dan Stephen Hawking- ini bekerja keras dalam sebuah akademia yang masih memberi ruang kebebasan untuk merambah dan merintis ide-ide serta gagasan-gagasan kritis di keluasan kosmos yang tidak bertepi, dalam sebuah planet dimana umat manusia mungkin hidup sebatang kara.

Hanya dalam sebuah akademia yang masih menghargai kemerdekaan berpikir, perbincangan tentang buku-buku karya para pemilik "dangerous mind", seperti Richard Dawkins, Sam Harris, Daniel Dennet dan Yuval Noah Harari, dimungkinkan.

Tapi mungkin juga Karlina masih membaca puisi penyair Subagio Sastrowardoyo "Manusia pertama di angkasa luar" yang seperti mengeluh: "...berilah aku satu kata puisi daripada seribu rumus ilmu yang penuh janji yang menyebabkan aku terlontar keluar bumi yang kukasih". 

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #Filusuf Karlina Supelli #Suara Ibu Peduli #Reformasi



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah