Jumat, 23 Agustus 2019


Sabtu, 13 Juli 2019 08:37 WIB

Pemandu yang Kehilangan Arah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Malam kedua di tepian Batang Hari. Walaupun letih, tak seorang pun tertidur nyenyak. Air sungai yang menderas terdengar seperti hantu yang mengusir kantuk dan membuat mereka takut.



Berkali-kali sepertinya terdengar suara yang memanggil-manggil, samar tertangkap telinga di antara gemuruh air sungai. Berkali-kali seolah-olah terdengar pekik berbagai suara yang menyatu ramai dengan kegaduhan sungai. Tegang, semua orang hanya dapat berusaha tetap memejamkan mata.

Menjelang pk. 04.00 dini hari, 9 Oktober, hujan mulai turun. Awalnya hanya gerimis, tetapi semakin lama rintik hujan itu semakin deras membasahi atap tenda. Di sana, tenda itu mulai bocor dan mereka terpaksa bangun untuk menyelamatkan barang-barang di dekat tempat yang bocor. Pagi hari, di luar tenda, hutan tampak gelap. Kabut bergantung di atas sungai dan pepohonan. Semuanya basah. Udara pun terasa dingin. Suasana di tepian sungai itu sungguh menakan perasaan.

Mereka cepat-cepat membereskan barang-barang. Sarapan pagi sekedarnya disiapkan dan terburu-buru dimakan. Tak seorang pun ingin berlama-lama lagi di tempat itu. Hujan masih saja turun. Yang pertama-tama harus dilakukan adalah masuk ke dalam sungai untuk menyeberanginya karena jalan yang dituju terletak di seberang sungai.

Akan tetapi, hal itu tak mudah dilakukan dan sangat berbahaya. Arus sungai yang teramat deras mengancam akan menyeret segala-sesuatu yang tidak dipegang atau diikat kencang-kencang. Karena itu, sebatang rotan yang panjang diikatkan pada pohon di kedua tepian sungai sebagai alat bantu menyeberang. Sebelum menceburkan diri ke dalam sungai, van Hasselt menengok lagi ke belakang. Botol berisi surat untuk Veth masih tergantung di pohon tempatnya digantungkan.

Jalan yang basah dan berlumpur di seberang sungai  kini mulai menanjak. Mereka tergelincir berkali-kali. Pada saat itu, tanah kering yang biasanya dijejak dalam penjelajahan selama ini terasa seperti suatu kemewahan. Hujan sudah lama sekali tidak turun di daerah ini dan mereka terlena dan melupakan licinnya tanah yang basah. 

Pun, hujan mengundang datangnya lintah yang selama ini tidak banyak tampak. Tak terhitung banyaknya lintah yang menempel di batang pohon, dedaunannya dan tanah di bawah pohon-pohon itu. Binatang-binatang itu memanjangkan tubuhnya yang kecil-panjang, mencari mangsa. Selalu saja, lintah-lintah itu berhasil  merayap masuk ke dalam pakaian. Tak ada lubang baju yang terlalu kecil untuknya! Terkadang, rasa perih sedikit terasa ketika sungutnya yang tajam menusuk kulit; akan tetapi, lebih sering lagi korbannya baru menyadari keberadaan lintah itu ketika tubuhnya sudah membulat dengan darah yang diisapnya.

Semak-belukar dan pepohonan kecil yang dilewati sengaja ditebas dengan cara tertentu untuk menandakan jalan yang dilewati. Ini akan memudahkan orang-orang yang nantinya akan kembali lagi untuk mengambil barang-barang yang ditinggalkan. Selangkah demi selangkah mereka berjalan. Perlahan-lahan. Tak ada kemungkinan untuk berjalan lebih cepat. Tak jarang mereka terpaksa berhenti sama sekali untuk menunggu para pemandu membabat dengan parang yang tajam, akar-akar pohon yang sepertinya telah keras membatu.

Sampai saat itu, mereka tidak terlalu banyak menyimpang dari arah tenggara yang ditunjukkan oleh kompas. Van Hasselt berjalan di muka dan Snelleman menutup barisan. Kedua lelaki itu memegang kompas masing-masing. Setiap perintah untuk mengarah ke kiri atau kanan, diulang lagi oleh para kuli yang rupanya merasa harus mengulangnya dengan suara keras supaya terdengar oleh para pemandu.

Berbagai rintangan alam di jalan memaksa mereka untuk mengambil jalan yang semakin lama semakin mengarah ke kiri, sehingga akhirnya mereka hampir saja berjalan ke arah timur. Karena Snelleman berpendapat bahwa van Hasselt salah jalan, dari arah belakang kafilah, ia berteriak-teriak agar temannya terus mengarah ke kanan. Van Hasselt hanya dapat berteriak: “Tidak bisa!” ketika ia lagi-lagi menghadapi rintangan yang tak memungkinkannya berjalan ke arah yang sebetulnya diinginkan.

Tak lama kemudian, sebuah dinding batu yang curam—hampir lurus ke atas, menghadang. Mereka terpaksa berhenti. Beberapa jam berlalu mencari jalan berputar mengelilingi dinding batu itu sebelum akhirnya mereka dapat melangkah ke arah yang benar.

Menghindari pendakian dinding batu itu membuat perjalanan mereka semakin panjang. Akan tetapi, susah-payah itu memberikan berkah juga. Mereka menemukan sebuah gua besar yang dindingnya bergurat-gurat dalam. Aneka tanaman tumbuh menghiasi dinding-dinding itu. Di atas gua, yang barangkali belum pernah dilihat oleh seorang manusia pun, tumbuh dua buah pohon cemara. Pucuk-pucuknya tinggi mencakar langit, sementara akar-akarnya tergantung di dalam gua.

Hujan telah berhenti. Waktu menunjukkan pk 11.45. Mereka berdiri di atas punggung gunung. Para kuli menurunkan barang-barang yang dibawanya dan mulai menyiapkan untuk beristirahat. Namun, sebelum mereka duduk, seseorang berteriak. Ada jalan setapak! Jalan setapak itu cukup lebar dan mengarah ke tenggara. Niat untuk beristirahat sejenak langsung urung. Dengan langkah ringan, mereka meneruskan perjalanan. Di jalan setapak! Tentunya, jalan setapak itu pasti akan mengantarkan mereka ke suatu tempat. Mungkin ke sebuah rumah? Atau mungkin sebuah dusun? 

Para kuli yang tadi berjalan dengan diam, kini ramai berbicara. Suara-suara mereka seperti bergema, dipantulkan oleh batang-batang pohon di dekat jalan setapak itu. Setelah setengah jam berjalan, jalan setapak itu berakhir di tepian sebuah sungai. Mereka menyusuri tepian itu sampai ke sebuah celah gunung. Di bawah, di kejauhan terdengar suara air sungai yang mengalir deras. Dengan susah-payah, mereka menuruni dinding curam gunung itu dan akhirnya sampailah di bawah. Sungai itu adalah sungai yang lebar.

Batang Hari, kata seorang pemandu yang kehilangan rasa percaya dirinya karena melihat van Hasselt dan Snelleman lebih menaruh kepercayaan kepada kompas daripada kepada dirinya. Bagi para kuli, tepian sungai tampaknya sudah sinonim dengan istirahat, perkemahan dan menginap. Di tepian sungai itu, mereka langsung menurunkan barang-barang yang dipanggul. Akan tetapi, van Hasselt dan Snelleman menggelengkan kepala. Belum waktunya mencari tempat untu menginap.

Barangkali sambil menggerutu di dalam hati, para kuli itu berkemas lagi dan mengikuti langkah rombongan, ke hulu, ke daerah yang tampak lebih terang karena pepohonan di hutan lebih sedikit. Hampir sejam lamanya mereka berjalan. Beberapa ratus meter di atas mereka, sebuah batu besar menjorok dari dinding gunung. Dari sumbernya di gunung, air mengalir dan terjun dari atas batu itu, ke dalam sungai di bawahnya.

Sebuah perangkap ikan setengah terendam di dalam sungai; di darat tampak sisa-sisa api unggun dan bebatuan yang menghitam oleh api. Rupanya, sesekali ada orang yang datang ke tempat ini. Tak jauh, sebuah jalan setapak ke atas bukit. Seorang pemandu mengenali tempat itu. Pinti Kajoe. Dari sini, mereka harus mengikuti aliran sungai ke hulu untuk sampai ke Soengei Langsè dan jalan besar menuju  Moeara Laboeh.

Tentu saja van Hasselt dan Snelleman merasa senang bahwa jalan yang dicari-cari akhirnya ketemu juga. Tetapi rasa senang itu ditandai getir di hati karena rekan seperjalanan mereka, Veth, masih belum diketemukan. Malam hampir tiba. Tempat itu dirasa baik untuk bermalam dan semua orang sudah letih.

Besok, mereka akan melanjutkan perjalanan. Moeara Laboeh.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.                  


Tag : #sejarah jambi #askah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah 1877



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah