Selasa, 23 Juli 2019


Sabtu, 06 Juli 2019 05:27 WIB

Pencarian yang Sia-sia

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sinar mentari baru saja memecah langit. Enam orang, di antaranya pemandu muda dari Soengei Aboe, dipimpin oleh Mandor, berangkat untuk mencari Veth. Cari sampai ketemu! Begitulah kira-kira pesan serius yang mengantar kepergian orang-orang itu. Bila perlu, mereka diharapkan mencari sepanjang Batang Hari sampai ke Soerian.



Ini didasari atas pemikiran bahwa ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, setelah terpisah dari rombongan, mungkin Veth mengikuti aliran air itu sampai ke kebun-kebun kopi di Soerain; atau, kedua, ia berjalan mengikuti petunjuk kompas ke arah jalan besar di antara Lolo dan Moeara Laboeh. Bila yang terakhir itu dilakukannya, ada dua kemungkinan lagi: ia berhasil mencapai jalan itu atau ia tersesat lagi, kelaparan lalu kehabisan tenaga dan meninggal dunia di dalam rimba. Yang terakhir itulah yang membuat seluruh anggota tim penjelajahan itu khawatir.

8 Oktober. Di tepian Batang Hari, tim penjelajahan itu dicekam kekhawatiran. Bagaimana pun, mereka masih berharap Veth dapat menemukan jalan kembali ke rombongan, walau dengan langkah tertatih-tatih. Mereka masih ingin memberi waktu kepada para pemandu untuk menelusuri lagi jalan tempat rekan mereka tersesat. Perkemahan tempat mereka menunggu memang dibangun di tepian sungai, akan tetapi tampaknya tempat itu belum pernah didatangi manusia dan bahkan tidak dikenal oleh para pemandu.

Siang hari, pk 12.00, pemandu yang tua kembali dengan tangan kosong. Tubuhnya basah oleh keringat. Tiba-tiba, ia berseru: ”Kurasa, gajah tadi membuat saya bingung! Jalan yang tadi diikuti Toean Veth, menuju Si Orang Gedang, pastilah itu arah yang benar!”

Ia serta-merta berdiri dan menghilang lagi ke dalam hutan untuk meneruskan pencariannya. Tubuhnya yang kurus baru muncul lagi di perkemahan menjelang malam. Langkah-langkahnya berat dan kepalanya tertunduk. Ia duduk tanpa mengatakan apa-apa. Walau sudah dapat mengira apa jawabannya, van Hasselt masih bertanya apakah ia berhasil menemukan jalan yang dicari.

“Lebh baik saya bunuh diri saja,” katanya. “Saya telah berjanji untuk mengantarkan tuan-tuan ke Moeara Laboeh. Namun, kini saya sama sekali tidak bisa menemukan kembali jalan itu! Padahal sudah lebih dari delapan tahun saya menjelajah di rimba ini! Entah apa yang tuan-tuan pikirkan tentang saya! Saya terpaksa mengaku saja. Saya pikir, saya sudah salah jalan sejak dari Soengei Doerian.”

Van Hasselt dan Snelleman meyakinkannya untuk tidak membunuh diri. Tetapi, kini, apa yang akan dilakukannya? “Saya akan terus ikut ke mana pun tuan-tuan akan pergi!” katanya dengan nada suara yakin. Tetapi, hal itu tidak menghilangkan kekhawatiran anggota-anggota tim penjelajahan.

Dengan peta di tangan, mereka berunding. Ada dua jalan yang dapat ditempuh: kembali ke Soengei Doerian untuk mencari lagi jalan yang benar atau dari perkemahan berjalan terus ke arah selatan, mengikuti kompas, untuk mencapai jalan besar. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengambil pilihan yang kedua. Perjalanan kembali ke Soengei Doerian akan menghabiskan banyak waktu, sementara bekal beras para kuli dan perbekalan makanan van Hasselt dan Snelleman pun semakin menipis.

Kalau perlu, kedua lelaki Belanda itu dapat bertahan tanpa makanan selama beberapa hari, tetapi kuli(-kuli) yang menggotong barang tentunya hanya dapat melakukan itu dengan perut yang terisi nasi. Lagipula, kalau pun mereka kembali ke Soengei Doerian, masih dipertanyakan apakah mereka dapat menemukan jalan yang benar. Bila jalan itu tidak berhasil diketemukan, situasi mereka akan semakin parah.

Di lain pihak, pilihan kedua--perjalanan yang dilakukan mengikuti arah kompas bukannya tanpa risiko. Setiap saat, mereka dapat menghadapi rintangan—tebing curam atau jurang dalam--yang memaksa mereka mengambil jalan lain untuk melewati rintangan itu.

Seorang kuli mendekat. Ia membetulkan letak penutup kepalanya dan setelah memberikan salam: “tabé toean,” ia duduk. Jarang sekali seorang kuli menyapa dengan sikap resmi seperti ini. Hal ini hanya dilakukan oleh para kuli bila mereka mengharapkan persekot honornya, menginginkan cuti atau bila mereka mengharapkan saran untuk menyelesaikan perkara/masalah dengan sesama kuli. Dengan sapa dan sikap resmi itu, ia menyampaikan bahwa para kuli pun telah berunding dan sepakat mengusulkan bahwa pilihan terbaik adalah berusaha mencapai jalan besar.

Pada malam hari, katanya, sekawanan kalong beterbangan di atas air sungai. Ini menunjukkan bahwa perkemahan mereka tidak jauh lagi dari jalan itu karena konon, binatang-binatang itu selalu berada di dekat permukiman manusia (baru di kemudian hari diketahui bahwa tempat kalong-kalong itu masih cukup jauh dari dusun mana pun!).

Demikianlah akhirnya tercapai semacam kesepakatan bersama untuk meneruskan perjalanan sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh kompas. Pada umumnya, orang pribumi, yang sudah mengenal alat navigasi kompas, tidak terlalu mempercayai alat itu. Di mata orang Eropa, sungguh mengherankan bahwa orang-orang yang hidup sehari-hari di alam ternyata tidak banyak menyadari arah dan ternyata pula, tampaknya tidak memiliki naluri untuk menemukan arah yang dituju.

Namun, mereka memiliki kemampuan pengamatan untuk  ‘menangkap’ tanda-tanda di alam sehingga mereka dapat memilih jalan yang tepat. Seorang dapat menceritakan dengan tepat sudah berapa hari lamanya sebuah ranting terpatah dari pohonnya atau kapan persisnya sebatang pohon ditebang, akan tetapi ketika ditanya arah ke Moeara Laboeh, ia justeru menunjuk ke Alahan Pandjang, arah sebaliknya.

Anggota rombongan penjelajahan yang berbangsa pribumi mengira bahwa jarum tak bergerak di kompas menunjukkan arah dan nama tempat yang dituju. Mereka juga mengira bahwa kompas itu juga menunjukkan nama setiap sungai yang harus diseberangi. Suatu saat, dalam perjalanan, van Hasselt mempelajari kompasnya. Seorang kepala adat yang sedang bersamanya ketika itu, bertanya: berapa lama yang diperlukan untuk sampai di suatu tempat. Sambil berpikir, van Hasselt terus mengamati kompas di tangannya, dan kemudian menjawab: kira-kira setengah jam lagi. Mendengar jawaban yang memang tepat itu, kepala adat tadi berdecak heran dan kagum bahwa alat itu ternyata dapat memberikan jawaban benar atas pertanyaannya.

Malam itu, mereka mempersiapkan segala-sesuatu yang diperlukan untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Barang-barang yang tak benar-benar diperlukan, dibungkus dan disimpan di tempat tinggi (supaya tidak terendam luapan air sungai), di bawah akar-akar sebuah pohon besar. Bungkusan barang itu kemudian ditutup lagi dengan kain layar sebagai pelindung. Dengan cara ini, para kuli dapat bergantian membawa beban. Ini akan memudahkan bila mereka harus melewati jalan yang belum dikenal.

Untuk Veth, yang mungkin tiba di perkemahan itu selalu mereka meninggalkannya, mereka menuliskan surat yang menguraikan rencana perjalanan selanjutnya. Surat itu kemudian digulung dan dimasukkan ke dalam sebuah botol yang lalu digantungkan di sebuah tonggak yang jelas terlihat dari segala arah.

Malam semakin larut. Pertanyaan-pertanyaan yang memberati pikiran memenuhi kepala. Tak ada lagi yang dapat dilakukan hari itu. Kekhawatiran yang menggumpal mengantar tidur.

**Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #naskah klasik belanda #sejarah jambi #ekspedisi sumatra tengah



Berita Terbaru

 

Sarolangun Smart City
Senin, 22 Juli 2019 20:11 WIB

Pemkab Sarolangun akan Terapkan Tanda Tangan Elektronik, Ini Manfaatnya


Pemkab Sarolangun akan Terapkan Tanda Tangan Elektronik Kajanglako.com, Sarolangun – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sarolangun dibawah kepemimpinan

 

Konflik Warga dan PT WKS
Senin, 22 Juli 2019 19:53 WIB

Polres Batanghari Kembali Amankan 10 Pucuk Kecepek Anggota SMB


Polres Batanghari Kembali Amankan 10 Pucuk Kecepek Anggota SMB Kajanglako, Batanghari - Kepolisian Resor (Polres) Batanghari mengamankan 10 pucuk senjata

 

Paripurna Dewan
Senin, 22 Juli 2019 19:49 WIB

Paripurna DPRD Muarojambi Ranperda ABDP Tahun 2019


Paripurna DPRD Muarojambi Ranperda ABDP Tahun 2019 Kajanglako.com, Muaro Jambi - DPRD Muaro Jambi gelar rapat paripurna Penyampaian secara resmi Nota Keuangan

 

Mencari Pendamping Fachrori
Senin, 22 Juli 2019 19:45 WIB

Pansel Sarankan Pimpinan Dewan Pilih Opsi Kedua, Ada Apa?


Pansel Sarankan Pimpinan Dewan Pilih Opsi Kedua, Ada Apa? Kajanglako.com, Jambi – Hasil rapat tertutup Panitia Seleksi (Pansel) pemilihan Wakil Gubernur

 

Mencari Pendamping Fachrori
Senin, 22 Juli 2019 19:27 WIB

Kebutuhan Wakil Gubernur Jambi Telah Dianggarkan, Nasri: Tak Ada Wagub Berarti Silpa


Kebutuhan Wakil Gubernur Jambi Telah Dianggarkan, Nasri: Tak Ada Wagub Berarti Silpa Kajanglako.com, Jambi – Alih-alih siapa orangnya, ada atau tidaknya