Jumat, 20 September 2019


Senin, 01 Juli 2019 12:12 WIB

Sardono W. Kusumo

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis. Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Bagi mereka yang tidak memperhatikan dunia kesenian nama Sardono Waluyo Kusumo tentu tidak dikenal. Sardono tidak mungkin dilupakan jika orang mau mencari intektual cum seniman yang melakukan pemberontakan dari kungkungan tradisi kesenian Jawa dalam penciptaan tari.



Sebagaimana teaterawan cum sastrawan WS Rendra yang melakukan pembaruan dalam dunia teater sambil mengejek kebudayaan Jawa yang diibaratkan sebagai ‘kasur tua’, Sardono juga menjungkirbalikkan pakem tari Jawa dan menciptakan karya-karya tari baru yang membuat para penjaga kebudayaan Jawa geleng-geleng kepala.

Sardono lahir 16 Maret 1945 di Surakarta, nama lain dari Kota Solo, Jawa Tengah; dari keluarga yang hidup dalam tradisi kebudayaan Jawa yang kuat. Sardono memang tidak cocok untuk belajar ilmu ekonomi di UGM, dan karena itu kemudian memang terbukti drop out.

Belajar tari Jawa klasik sejak kecil, menjadi penari andalan sendratari Ramayana yang pentas secara rutin di Candi Prambanan, Sardono tak pelak lagi tumbuh dengan seni tari sebagai darah dagingnya. Tapi Sardono bukan seperti kebanyakan penari Jawa klasik yang takut kualat jika keluar dari pakem, nggak tahu darimana datangnya, dia seperti tidak peduli lagi dengan pakem.

Salah satu eksperimen awalnya, Samgita Pancasona, meskipun dipuji karena semangat pembaharuannya, konon sempat dilempari telur busuk saat dipentaskan di depan publik di kotanya di Solo.

Setelah eksperimen Samgita Pancasona yang kontroversial itu, Sardono pindah ke Jakarta, dan menemukan Jakarta sebagai tempatnya berkiprah, mereguk kemedekaan total dalam menciptakan tari.

Jakarta akhir 1960an dan awal 1970an memang sebuah kota yang aneh. Trauma dan residu peristiwa berdarah 1965 pastilah masih sangat kuat, tapi geliat dan gelegak kreatifitas seperti tak tertahankan, meskipun tetap dalam bayang-bayang represi politik.

Ali Sadikin, sebagai Gubernur baru Jakarta yang penuh karisma itu tentu salah satu faktor, tapi pasti ada banyak faktor lain. Kreatifitas seniman dan intelektual seperti tak terbendung. Taman Ismail Marzuki menjadi kancah lahirnya berbagai pembaharuan kesenian, dan juga pemikiran. Pada masa ini kita catat berkembangnya Majalah Tempo, Jurnal Pemikiran Prisma, Koran Kompas, tapi juga LBH Jakarta, LP3ES dan LSM-LSM.

Dalam suasana kebebasan kreatif kota Jakarta awal tahun 1970an dan1980an inilah Sardono W. Kusumo menciptakan karya-karya tarinya yang mendunia. Karya-karyanya, antara lain, Dongeng dari Dirah, Cak Rina, Hutan Yang Merintih, Mahabutha, Meta Ekologi, Diponegoro, Passage TroughThe Gong dan Soloensisolo

Ket: Sardono W. Kusumo. Sumber foto: Detik.com

Selain menata tari, Sardono juga melukis dan membuat film. Ketika menjadi pembicara dalam sesi seminar di International Gamelan Festival di Solo Agustus 2018 lalu, Sardono, yang masih membiarkan rambut panjangnya tergerai dengan tubuh yang tidak lagi langsing, tampil sebagai laiaknya ilmuwan, keluar dari perannya sebagai maestro tari.

Sepanggung, antara lain, dengan Jenifer Lindsey yang lembut dan Sutanto Mendut yang urakan, dengan Endo Suanda sebagai moderator, Sardono menceritakan perjalannya yang panjang melakukan riset dengan cara hidup bersama berbulan-bulan di tengah masyarakat, tidak saja dengan masyarakat Bali,  tetapi juga dengan masyarakat Dayak di Kalimantan dan masyarakat Asmat di Papua.

Sardono bukan penari atau peñata tari biasa, kesadarannya sebagai cendekiawan sangat kuat, dan baginya bergaul dan mengamati kehidupan langsung para petani, peladang, peramu dan pemburu; adalah satu-satunya cara untuk tidak saja untuk memahami, tetapi untuk dapat melakukan empati total agar bisa masuk, tidak saja dalam kehidupan keseharian namun merasuk ke dunia dalam mereka.

Dalam pemahamannya kesenian tumbuh dalam kebudayaan sebuah masyarakat yang berlangsung pelan dan lama. Setiap masyarakat dan kebudayaannya betapa pun kelihatan sederhana, sesungguhnya telah menghasilkan karya kesenian yang tak ternilai dan tak terbandingkan.

Sardono dengan caranya menunjukkan betapa klise istilah ‘kearifan lokal’ yang gsering terdengar dari mulut birokrat atau peneliti tanpa memahami apa yang dimaksud sebenarnya.

Dalam seminar itu Sardono juga menunjukkan bahwa kraton, meskipun semakin tampak dekaden, dalam sejarahnya merupakan sumber kesenian dan kebudayaan yang berasal dari Desa-Desa; kreasi-kreasi yang menonjol dari Desa-Desa itulah yang kemudian diolah menjadi kesenian kraton.

Lagi-lagi Sardono menujukkan bahwa masyarakat Desa, di manapun, di Jawa, Bali, Kalimantan maupun Papua; yang sesungguhnya menjadi mata-air (tuk) perkembangan dan kemajuan kesenian dan kebudayaan. Kesenian dan kebudayaan bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan dan menjadi muskil ketika kebudayaan dijadikan sebuah program atau proyek.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com.


Tag : #Samgita Pancasona #Tari Jawa



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,