Jumat, 20 September 2019


Sabtu, 29 Juni 2019 08:32 WIB

Misteri Hilangnya Seorang Penjelajah

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Van Hasselt, Veth dan Snelleman berencana untuk berjalan dari Soengei Doerian ke Soengei Soengei Langsè, sebuah dusun yang terletak di tepian Soengei Langsè, anak sungai Batang Hari. Pk 07.00, mereka berangkat. Walaupun jalan yang ditelusuri terkadang menanjak, namun mereka dapat melangkah dengan cepat melalui jalan setapak yang berbelok-belok melewati rawa-rawa dan tanah berlumpur.



Menjelang pk 9.00, mereka sampai di tempat yang jelas-jelas merupakan habitat kawanan gajah. Di sana-sini tampak tumpukan kotoran gajah yang menyerupai baskom-baskom bulat yang tertelungkup di dalam lumpur. Tak jauh dari jalan itu, kulit kayu sebatang pohon hampir hancur karena pohon itu digunakan gajah untuk menggaruk gatal di punggungnya; di dekatnya, tampak batang-batang bambu yang terinjak-injak sampai rata dengan tanah.

Snelleman, bersama para pemandu, mendahului rombongan. Mereka membuka jalan dengan menebas semak-belukar—di mana perlu. Hanya sesekali saja, perjalanan mereka terhalang oleh rotan berduri tajam. Tiba-tiba pemandu tua yang berjalan di depan, mematung. Ia menggerakkan tangannya ke arah kanan: “Gajah!” bisiknya.

Para penjelajah Belanda itu terdiam kagum. Binatang raksasa itu  membelakangi mereka. Kepalanya bergerak mengangguk-angguk dan telinganya yang besar mengepak-epak. Saking terkejut dan senang, Snelleman—ahli biologi—mencengkeram kencang lengan sang pemandu. Tanpa pikir panjang, ia segera menerobos semak-belukar yang membatasi dirinya dengan gajah itu. Tinggal 100 atau 150 langkah lagi dan ia akan dapat menyentuhnya. Melihat Snelleman, para kuli dan pemandu berteriak-teriak: Hati-hati! Awas! Suara mereka mengejutkan gajah itu. Kepalanya berputar dan, menyadari adanya manusia di dekatnya, binatang itu bergerak cepat, menghilang di antara pepohonan. Tentu dapat dibayangkan betapa kesalnya hati Snelleman!

Pada waktu rehat, ketika seluruh tim sudah bergabung kembali, pertemuan dengan gajah tadi menjadi bahan obrolan utama. Van Hasselt dan Veth hanya sempat mendengar suara-suara binatang dan derak ranting patah di dalam hutan (yang mungkin terinjak oleh binatang-binatang yang tak tampak itu). Tentu saja, mereka merasa iri pada keberuntungan Snelleman  melihat gajah dalam jarak begitu dekat. Mereka juga menyayangkan teriakan para kuli dan pemandu yang membuat binatang itu berlari ke dalam hutan.

Anggota rombongan penjelajahan yang berbangsa pribumi—para kuli dan pemandu—berpendapat lain. Menurut mereka, ‘orang gedang’ tak pantas didekati begitu saja. Snelleman terlindung dari kemarahan ‘orang gedang’ itu berkat sembah sebanyak tiga kali yang dilakukan oleh sang pemandu dan Koki.  Bukan rasa takut, melainkan rasa segan dan hormat yang lebih tepat menggambarkan sikap orang Melayu terhadap gajah. Sikap ini juga tampak dari sebutan  ‘orang gedang’ yang digunakan untuk gajah.

Setelah berjalan lagi selama satu setengah jam, suara aliran Batang Hari yang menderas terdengar di kejauhan. Dari punggung gunung, mereka turun menguntit pemandu seperti anak-anak kambing yang mengiringi induknya. Mereka berjalan ke arah kiri, belok ke kanan, dan kemudian berbalik arah lagi. Rupanya pemandu tersesat dan kehilangan arah! Rombongan mereka, yang tadinya beriringan rapi, menjadi tercerai-berai.

Salah seorang kuli, yang berjalan di bagian belakang, bertanya: di mana Toean Veth? Pertanyaan itu seperti bara api yang menyebar, dari mulut ke mulut, sampai ke orang-orang yang berjalan di bagian depan kafilah penjelajahan itu. Di mana Toean Veth? Veth menghilang. Terakhir kali ia tampak adalah ketika pemandu menyadari dirinya tersesat dan memutuskan untuk berbalik arah. Ketika itu, pemandu itu memanjat tebing untuk melihat jalan mana yang harus diambilnya. Ketika itu, masih ada orang yang melihat Veth. Tetapi setelah itu, tak seorang pun ingat melihat sosoknya.

Lebatnya hutan-hutan di sekeliling, membuat mereka seakan tak dapat berpikir. Ke mana Veth? Itu pertanyaan pertama. Pertanyaan kedua membuat mereka bergerak kembali: bagaimana melacak dan mencari keberadaan lelaki itu? Seorang pemandu muda ditugaskan untuk menelusuri kembali jalan setapak tadi, dimulai dari tempat mereka tersesat dan naik tebing. Sementara ia pergi, para kuli meletakkan barang-barang yang mereka gotong di tempat perhentian mereka, yaitu jalan gajah yang cukup lebar. Seorang pemandu tua yang berpengalaman pergi mencari jalan yang nanti harus diikuti. Sebelum berangkat, pemandu itu dan Koki mengucapkan doa-doa, lalu memakan sebiji lada sebagai syarat untuk dapat menemukan jalan yang benar.

Setengah jam berlalu. Pemandu yang pertama kembali. Tanpa Veth. Rekan-rekannya mulai betul-betul khawatir. Bergantian, mereka melepas tembakan untuk menandakan tempat mereka berada. Tentu, suara tembakan itu akan dapat didengar oleh Veth. Tetapi, lelaki itu tak kunjung tampak. Mandur—yang juga khawatir—dan beberapa orang lagi pergi  untuk sekali lagi mencari Veth.

Rehat sambil menunggu bukanlah rehat. Tak ada yang dapat duduk tenang. Setiap bunyi dan setiap gerak ranting membuat mereka menoleh, berharap melihat sosok Veth. Apa yang terjadi? Ke mana penjelajah itu? Apa yang harus dilakukan? Dugaan dan ide-ide yang diungkapkan tentang misteri ini terpotong berkali-kali oleh tembakan yang dilepas dan suara para kuli yang meneriakkan nama Veth.

Jarum jam terus berputar. Lamban sekali, rasanya. Akhirnya, Mandor dan rekan-rekannya muncul lagi. Tanpa Veth! Mereka berhasil menemukan jejak Veth dan mengikutinya sampai jejak-jejak itu menghilang di bebatuan. Pemandu tua yang pergi untuk menemukan jalan setapak yang harus diikuti selanjutnya pun kembali. Ia tak berhasil menemukan jalan itu!

Suara air Batang Hari terdengar di kejauhan. Mereka memutuskan untuk meneruskan perjalanan. Selembar kertas, yang bertuliskan arah perjalanan yang akan ditempuh, diikatkan pada sebatang pohon. Bila Veth muncul lagi dan membacanya, ia akan dapat menemukan rombongan. Jalan setapak yang dicari pasti ada di sekitar sungai itu.

Beberapa waktu habis untuk mencari jalan turun tebing, kea rah sungai. Bebatuan besar yang sulit didaki (tetapi harus didaki untuk melewatinya) menghalangi jalan.  Van Hasselt melangkah dengan berat hati. Ia masih ingin mencari Veth, sementara  Snelleman meneruskan perjalanan bersama para kuli. Itu tidaklah mudah. Ranting semak-belukar dan tanaman-tanaman lainnya saling menjalin. Dengan parang, mereka membabat kiri-kanan untuk membuka jalan. Karenanya, lebih dari sejam kemudian, barulah mereka tiba di tepian Batang Hari. Airnya mengalir deras, menghantam segala bebatuan yang menghalanginya.

Tak lama kemudian, van Hasselt muncul dari arah lain. Wajahnya kuyu. Ia tak menemukan Veth. Serombongan kecil pemandu dan kuli untuk berjalan ke hulu sungai ditugaskan mencari Veth. Mereka membawa bekal makanan, minuman dan veldbed—tempat tidur lipat—yang biasa digunakan Veth. Setiap orang itu dijanjikan akan diberikan uang sebesar ƒ5,- bila dapat menemukan penjelajah yang hilang itu.

Van Hasselt, Snelleman dan anggota rombongan yang tersisa menyiapkan tempat untuk menginap malam itu. Menjelang pk 20.00, ketika matahari sudah lama tenggelam dan kelam malam menyelimuti hutan, tim pelacak kecil kembali ke markas. Tanpa penerangan, mereka tak dapat meneruskan usaha mencari jejak Veth.

Dengan wajah-wajah pucat, mereka merebahkan badan. Kekhawatiran dan pikiran tak karuan membuat tak seorang pun dapat tertidur lelap. Malam itu terasa menakutkan.

* Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.

*Sumber foto: NEDERLANDS-INDIE OP PAPIER: De wetenschappelijke beschrijving van de archipeldoor P.J. Veth (1814-1895) en enkelen van zijntijdgenoten in boeken, prenten, foto's, kaarten en brieve (Hal. 72).


Tag : #Sejarah Jambi #Naskah Klasik Belanda #Ekspedisi Sumatra Tengah 1877



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,