Jumat, 20 September 2019


Selasa, 25 Juni 2019 14:22 WIB

Soengei Sape dan Senyap Belantara

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di depan rumah penambang di Soengei Pentoean itu tumbuh sebatang pohon limau loenggoet dan sebatang pinti kajoe dengan bebuahan yang menyerupai mangga pauh. Halaman rumah itu tampak lumayan rapi. Seketika mereka, para penjelajah yang lelah berjalan, merasa nyaman melihatnya.



Sesampainya di tempat itu, sekitar pk 17.00 sore, para kuli segera membangun sebuah pondok kecil untuk tempat menginap para penjelajah yang berbangsa Belanda. Mandor membangunnya dengan cekatan, menempel di dinding rumah penambang yang sudah ada. Yang akan tidur di dalam rumah itu adalah para kuli. Dan memang, mereka memilih untuk tidur di bangunan rumah dengan dapur. Dalam waktu sejam, pondok penginapan itu sudah selesai, hampir bersamaan waktu dengan selesainya makan malam.

Setelah mandi, ketika mereka bercengkerama santai, salah seorang pemandu datang tergopoh-gopoh. Ia meminta agar van Hasselt dan Veth memakai penutup kepala. Di daerah ini, di belantara di antara Soengei Aboe dan Moeara Laboeh memang tak ada harimau.

Akan tetapi, daerah ini dijaga oleh roh Ampang Lima. Orang yang berada di daerah ini sebaiknya menunjukkan penghormatan kepada roh itu dengan menutup kepala. Walaupun agak heran mendengar permintaan ini, kedua penjelajah Belanda itu menurut dan segera mencari dan mengenakan penutup kepala.

Mereka bersemangat meneliti keistimewaan fauna di tempat itu. Beberapa orang menceritakan bahwa roh Ampang Lima terkadang mewujud dalam bentuk binatang berkaki empat dengan bulu-bulu yang berwarna hitam dan coklat-kemerahan. Binatang itu pasti bukan harimau karena tentunya semua orang sudah tahu bahwa harimau tidak datang ke daerah ini. Karena itu, binatang itu pastilah perwujudan roh Ampang Lima.

5 Oktober. Pagi-pagi, pk 08.00, mereka meninggalkan rumah penambang di Soengei Pentoean. Awalnya, jalan setapak yang ditelusuri sulit dilalui. Di seberang sungai, dinding gunung yang curam menghijau oleh tanaman. Setelah melewati punggung bukit, jalan itu mulai menurun dan mereka lebih mudah melangkah.

Perjalanan yang direncanakan untuk hari itu pendek saja. Menjelang pk 14.00, mereka sudah tiba di Soengei Sapé yang sangat cantik. Pada saat musim kemarau, lebar sungai itu berkurang sampai separuh. Di tepiannya, para kuli membangun pondok untuk menginap malam itu. Koki pun segera menyalakan api untuk masak.  

Sepanjang jalan setapak yang tadi diikuti, menuju sungai, banyak tumbuh pepohonan kopi, durian, manggis dan jambu. Pepohonan itu jelas tampak bukan pepohonan belantara, melainkan ditanam oleh warga sebuah dusun yang kini sudah menghilang. Tak sedikit dusun seperti itu. Tak ada lagi sisa-sisa rumah atau bangunan lainnya dan tak ada lagi pula orang yang dapat berbagi cerita mengenai kehidupan dan daerah tempat tinggal mereka. Yang tersisa hanyalah pepohonan buah itu tadi.

Di sebelah kiri pondok, tampak air sungai mengalir tenang, melewati bebatuan dan kemudian menghilang di kelokan sungai. Di sebelah kanan, lain lagi. Di bagian itu, air sungai menderas dan tanpa henti, terjun dari batu yang tinggi ke dalam sebuah palung di sungai. Airnya sungguh dingin. Alam menyediakan pemandian yang indah, bersih dan menyegarkan.

Soengei Doerian, dusun yang hendak dituju keesokan harinya (6 Oktober) tidak terlalu jauh. Air Soengei Doerian mengalir masuk ke dalam Batang Hari. Pk 13.00 mereka sudah tiba. Tanah lapang di tempat itu dan matahari yang cerah memberi kesempatan bagus untuk menjemur pakaian. Hal itu betul-betul perlu dilakukan. Walaupun pakaian itu tidak basah oleh hujan, namun keringat membuatnya lembab.

Sungai itu lebar dan airnya mengalir tenang di tepian yang dipilih untuk membangun pondok penginapan. Aneka burung dan kupu-kupu beterbangan di atasnya. Burung dan kupu-kupu jarang tampak di dalam hutan. Pun, binatang lainnya jarang sekali terlihat dalam perjalanan. Hanya sesekali tampak jejak badak atau tapir, akan tetapi binatang-binatang itu sendiri tak tampak dan tak terdengar suaranya.

Berbeda halnya dengan dunia flora. Tanaman di hutan-hutan Eropa sama sekali tak dapat diperbandingkan dengan aneka tanaman yang tersaji di depan mata di hutan-hutan Sumatera Tengah. Sebagian akar pepohonan tinggi tergantung dari cabang dan rantingnya seperti tirai dan sebagian akarnya terbenam dalam-dalam di tanah seolah-olah pohon itu hendak mempertahankan diri agar tidak ditumbangkan oleh musuh-musuhnya. Tanaman-tanaman merambat melingkari batang-batang pepohonan dan tergantung, berputar-putar seperti spiral yang semakin lama semakin kencang mengikat pohon tempatnya menempel.

Tak jarang, saking kencangnya, pohon yang ditumpangi parasit-parasit merambat itu, akhirnya mati, membusuk dan tumbang dengan sendirinya, sementara tanaman parasitnya tetap tumbuh subur. Tak satu pun tanaman bebas dari parasit yang hidup dan tumbuh di batang pohon, kulit kayu, dan dedaunan. Terkadang sulit pula memisahkan yang mana tanaman parasit dan yang mana tanaman yang ditumpangi parasit. Batang dan daun seolah bergelut dan tumpuk-menumpuk untuk sampai di pucuk agar dapat mereguk sinar mentari.

Rerumpunan bambu memberikan variasi yang menarik di hutan. Tanaman-tanaman itu tumbuh tinggi sampai pucuknya—yang masih berbatang halus—menunduk. Pohon raksasa yang tumbang di tengah jalan pun menarik dan mencengangkan. Di sisi yang satu, belukar dan pepohonan yang lebih kecil ikut tercabut oleh akar-akar pohon raksasa itu. Di sisi yang lain, belukar dan pepohonan lain patah-patah dan hancur tertimpa. Penduduk setempat paham betul bahwa waktu dan alam akan membuka kembali jalan yang terhalang batang pohon raksasa yang tumbang. Karena itu, mereka menebang dan menebas pepohonan dan belukar sampai jalan setapak yang lama diketemukan lagi.

Senyap menggema di hutan-hutan belantara ini—rimba yang jarang dijejak oleh manusia, Melayu maupun Eropa. Tak ada yang perlu ditakutkan, apalagi di siang hari. Penjelajah-penjelajah Belanda itu dikelilingi oleh orang-orang setempat. Namun demikian, ranting patah, jatuhnya selembar daun atau terguling-gulingnya kerikil kecil ke dalam jurang, membuat semua orang mengangkat kepala. Suara-suara itu mendadak terasa nyaring memecah senyap. Sesaat, berdiri bulu kuduk yang orang yang mendengarnya.

 

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #ekspedisi Belanda ke Jambi #naskah klasik belanda #sejarah jambi



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,