Jumat, 20 September 2019


Senin, 24 Juni 2019 08:27 WIB

Paramita Abdurachman

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis. Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Ruth McVey, dalam obituari mengenang Paramita Abdurachman, menceritakan, salah satu yang menyenangkan setiap kali berkunjung ke Indonesia adalah bercakap-cakap dengan Paramita Abdurachman. ”one of the most knowledgeable and generous guides to Indonesia”.



Ruth McVey yang bersama Ben Anderson menulis Cornel Paper yang membuat marah antek-antek Suharto; mengatakan generasi yang kemudian akan kehilangan orang seperti Paramita Abdurachman. Saya kira Ruth McVey benar.

Di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), saya tidak termasuk mereka yang beruntung mengenal Ibu Yo, begitu Paramita Abdurachman biasa dipanggil, secara dekat. Saya tahu, teman-teman yang biasa ngariungdengan perempuan kelahiran Bogor, 29 Februari 1920, itu begitu akrab dan sangat menyayangi IbuYo, laiaknya ibu mereka sendiri. Ada kehangatan, berdekatan dengan orang seperti IbuYo, dugaan saya, beliau membimbing tapi tidak menggurui.

Latar belakangnya sebagai ningrat dan keterlibatannya yang total pada perjuangan bangsanya, menjadikannya arif dalam melihat masalah-masalah sosial dan kebudayaan, meskipun gelar akademis yang mentereng tidak disandangnya.

Ket: Paramita Abdurachman. Sumber: riezki-scmith.blogspot.com

Pak Adri Lapian, sobat dekatnya, suatu ketika bilang, setelah Bu Yo tak ada, Indonesia barangkali akan kehilangan ahli yang menguasai, tidak hanya bahasa Portugis dan Spanyol, tetapi juga sejarahnya. Pak Adri memiliki passion yang sama dengan Bu Yo tentang sejarah maritim yang erat kaitannya dengan perdagangan rempah-rempah di kepulauan Maluku.

Setelah Bu Yo dan Pak Adri Lapian tiada; mengikuti ramainya orang-orang berceloteh tentang negara maritim, sepertinya lebih banyak retorik, ngomong tanpa data, an empty concept. Ketika tahun 1980 saya melamar masuk Leknas-LIPI di Jl. Gondang dia Lama 39 Jakarta Pusat, orang yang saya temui karena pintu kamarnya kebetulan terbuka, adalah Pak Edi Masinambouw.

Pak Edi menyarankan jika nanti diterima, untuk ikut Pak Adri Lapian yang sedang melakukan penelitian tentang masyarakat maritim. Tentu saya cuma bisa mengiakan, meskipun setelah saya benar-benar masuk Leknas-LIPI, oleh direktur saat itu, Pak Suharso, ditempatkan ke bidang penelitian yang lain, kependudukan.

Pak Adri Lapian, Pak Edi Masinambouw dan Bu Yo adalah peneliti-peneliti yang tidak menjadikan penelitian sekedar proyek tetapi kegiatan yang dilakukan dengan penuh gairah rasa ingin tahu dan kecintaan, tapi ada kedalaman di sana–sesuatu yang tampaknya semakin hilang sekarang.

Sebagai penghormatan terhadap mentornya, 5 Maret 2008, para peneliti bekas bimbingannya, Thung Julan, Yasmin Sungkar dan Musiana Adenan; mengumpulkan tulisan dari Bu Yo yang sebelumnya terserak, menjadi sebuah buku dan diberi judul “Bunga Angin Portugis di Nusantara: Jejak-Jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia” (LIPI Press dan Yayasan Obor Indonesia). Buku ini memperlihatkan minat Bu Yo yang mendalam tentang salah satu fase penting dalam sejarah Indonesia yang terlupakan, dan hari-hari ini orang seperti merindukan seolah-olah kita benar-benar pernah menjadi negeri bahari yang besar.

Pak Adri Lapian, seperti Bu Yo, yang hampir seluruh hidupnya didedikasikan untuk melakukan penelitian sejarah maritim; bagi generasi sekarang hanya sayup-sayup kedengaran namanya, tetapi kita sesungguhnya tidak pernah serius melanjutkan jejak penelitiannya. Satu hal yang masih menarik buat sejarawan tentang IbuYo adalah justru cerita gosipnya tentang kedekatannya dengan tokoh legendaris sejarah Indonesia Tan Malaka.

Ket: Tan Malaka.

Ibu Yo semasa mudanya memang pernah menjadi sekretaris Tan Malaka dan diduga menjalin hubungan percintaan dengan Tan Malaka. Sejarawan Harry Poeze dan Asvi Warman Adam termasuk yang berusaha mengorek kebenaran cerita gossip tersebut. Tentu, menjadi kekasih tokoh sebesar Tan Malaka adalah cerita bersejarah tersendiri bagi Paramita Abdurachman.

Tan Malaka adalah sebuah enigma dalam sejarah politik negeri ini. Alfian, almarhum, ahli politik dari Leknas-LIPI, dalam sebuah tulisan menyebut Tan Malaka sebagai “pejuang revolusioner yang kesepian”.

Meskipun diakui sebagai pahlawan nasional, kita tahu, akhir hidupnya diakhiri secara tragis. Paramita Abdurahman, mungkin orang yang mengetahui dari dekat kedalaman hati dan pikiran Tan Malaka.

Simpatinya, dan mungkin juga cintanya, yang mendalam pada Tan Malaka; dibawa terus menapaki sejarah politik Indonesia yang tragis, bisa jadi ini yang telah memaksa Paramita Abdurachman untuk menyimpan kenangannya tentang Tan Malaka hanya untuk dirinya sendiri, sampai akhir hayatnya.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Jo Paramita Abdurachman #Tan Malaka



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,