Jumat, 20 September 2019


Senin, 17 Juni 2019 10:35 WIB

Benedict Anderson

Reporter :
Kategori : Sosok

Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo

Indonesianis yang satu ini agak sulit dicari bandingannya, mungkin Herbeth Feith yang rada mirip. Keduanya tidak menjadikan Indonesia sekedar " rice bowl" namun tumpah darahnya yang kedua.



Benedict Richard O'Gorman Anderson seperti juga Herbeth Feith, sudah wafat, tiba di Indonesia ketika Soekarno berada di puncak kekuasaannya, sekitar akhir 50-an dan awal 60-an. Menyaksikan kejatuhan Soekarno, merasakan kebrutalan Soeharto dan menghirup udara kebebasan setelah Soeharto lengser ke prabon.

Mungkin orang yang paling mengerti Benedict Anderson adalah Vedi R. Hadiz yang telah membaca habis buku-buku Ben Anderson dan menganalisisnya dengan kritis, dalam bukunya berjudul Politik, Budaya dan Perubahan Sosial: Ben Anderson dalam Studi Politik Indonesia (Gramedia dan Yayasan SPES, 1992). Mungkin Ben, begitu Ben Anderson biasa dipanggil, menginginkan Vedi jadi muridnya, yang saat melakukan studi tentang karya Ben di Yayasan SPES, sempalan LP3ES, baru S1. Tapi Vedi rupanya memilih Richard Robison sebagai mentornya.

Karena dianggap menyebarkan analisa yang sesat tentang Peristiwa 1965 (baca: ‘The Cornel Paper’), Ben dicekal masuk Indonesia oleh Ali Moertopo, pendiri CSIS sebuah think tank yang sangat berpengaruh di masa kejayaan Soeharto. Total 26 tahun Ben dilarang menginjakkan kaki di tanah air keduanya. Ben harus menunggu, mungkin dengan tidak sabar, sampai Sang Petrus turun tahta.

Ket: Ben Anderson. Sumber foto: timeshighereducation.com

Kembali masuk Indonesia, konon ada dua tempat yang selalu dikunjungi setiap kali ke Indonesia, Sumur Jolotunda dan Candi Tetek, keduanya di  lereng Gunung Penanggungan Jawa Timur. Begitupun, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah hotel di Batu Malang (Sabtu, 15 Desember 2015), Ben baru mengunjungi dua tempat ziarahnya itu.

Sebagai penghargaan terhadap Ben, majalah berita mingguan Tempo membuat upacara penyambutan kembalinya Ben masuk Indonesia dengan memintanya memberikan kuliah umum.

Dalam kuliah umum yang diberi judul “Nasionalisme Kini dan di Masa Depan”, pada Maret 1999 itu Ben mengingatkan yang hadir bahwa Indonesia harus dilihat sebagai sebuah proyek bersama (a common project).

Indonesia menurut Ben bukan warisan dari nenek moyang yang hidup di masa lampau, tetapi sebuah proyek yang harus dibangun bersama untuk masa depan. Indonesia adalah proyek bersama dari seluruh warga negara, tanpa kecuali, yang memiliki posisi setara sebagai warga negara.

Pidato yang disampaikan ketika Indonesia sedang tercabik oleh berbagai konflik komunal dan konflik politik, Ben mengingatkan bahwa Aceh bukanlah hanya milik Orang Aceh; Papua juga bukan hanya milik Orang Papua, keduanya adalah bagian tidak terpisahkan dari Indonesia, dan menjadi milik bersama seluruh waraga negara Indonesia.

Beberapa tahun menjelang wafat, Ben terkesan risau dengan langkanya intelektual publik di Indonesia dan Asia Tenggara. Dia terlihat galau karena hampir semua intelektual yang ada seperti tertelan oleh yang berkuasa.

Ben, yang di masa mudanya dekat dengan Soe Hok Gie dan Onghokham; sangat kehilangan ketika Hok Gie mati muda di puncak Semeru pada 16 Desember 1969. Pramoedya Ananta Toer kemudian jadi heronya, tapi setelah Pram ia sulit mencari yang muda; Pipit si pembangkang di Berlin dan novelis Eka Kurniawan; juga Jokowi dan Ahok sempat disebut-sebutnya, selain itu dia kecewa. Kekecewaan itu bahkan ia ungkapkan ketika diminta untuk memberikan pidato kunci di sebuah acara yang diadakan oleh API (Asian Public Intelectual) di Manila, Filipina, 2009.

Dalam otobiografinya Ben tidak menyembunyikan "love affair" nya dengan Jawa, tapi yang betul-betul dia cintai adalah "the red Java". Membaca karya-karyanya,  antara lain, yang sangat berpengaruh di dunia "The Imagined Communities", sulit dihapus kesan Jawa sebagai sumber inspirasinya. Cerita yang menyaksikan, ketika abunya di tebarkan di laut Jawa setelah dikremasi di Surabaya, tiba-tiba muncul kupu-kupu terbang di atas laut tempat abunya ditebarkan.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektuak publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Ben Anderson #intelektual publik



Berita Terbaru

 

Jumat, 20 September 2019 07:00 WIB

Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap


Pembobol Rumah Sekretaris BPBD Batanghari Ditangkap Kajanglako.com, Batanghari - Pembobol rumah Samral Lubis, Sekretaris BPBD Batanghari, akhirnya ditangkap

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,