Selasa, 23 Juli 2019


Senin, 17 Juni 2019 10:35 WIB

Benedict Anderson

Reporter :
Kategori : Sosok

Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo

Indonesianis yang satu ini agak sulit dicari bandingannya, mungkin Herbeth Feith yang rada mirip. Keduanya tidak menjadikan Indonesia sekedar " rice bowl" namun tumpah darahnya yang kedua.



Benedict Richard O'Gorman Anderson seperti juga Herbeth Feith, sudah wafat, tiba di Indonesia ketika Soekarno berada di puncak kekuasaannya, sekitar akhir 50-an dan awal 60-an. Menyaksikan kejatuhan Soekarno, merasakan kebrutalan Soeharto dan menghirup udara kebebasan setelah Soeharto lengser ke prabon.

Mungkin orang yang paling mengerti Benedict Anderson adalah Vedi R. Hadiz yang telah membaca habis buku-buku Ben Anderson dan menganalisisnya dengan kritis, dalam bukunya berjudul Politik, Budaya dan Perubahan Sosial: Ben Anderson dalam Studi Politik Indonesia (Gramedia dan Yayasan SPES, 1992). Mungkin Ben, begitu Ben Anderson biasa dipanggil, menginginkan Vedi jadi muridnya, yang saat melakukan studi tentang karya Ben di Yayasan SPES, sempalan LP3ES, baru S1. Tapi Vedi rupanya memilih Richard Robison sebagai mentornya.

Karena dianggap menyebarkan analisa yang sesat tentang Peristiwa 1965 (baca: ‘The Cornel Paper’), Ben dicekal masuk Indonesia oleh Ali Moertopo, pendiri CSIS sebuah think tank yang sangat berpengaruh di masa kejayaan Soeharto. Total 26 tahun Ben dilarang menginjakkan kaki di tanah air keduanya. Ben harus menunggu, mungkin dengan tidak sabar, sampai Sang Petrus turun tahta.

Ket: Ben Anderson. Sumber foto: timeshighereducation.com

Kembali masuk Indonesia, konon ada dua tempat yang selalu dikunjungi setiap kali ke Indonesia, Sumur Jolotunda dan Candi Tetek, keduanya di  lereng Gunung Penanggungan Jawa Timur. Begitupun, sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir di sebuah hotel di Batu Malang (Sabtu, 15 Desember 2015), Ben baru mengunjungi dua tempat ziarahnya itu.

Sebagai penghargaan terhadap Ben, majalah berita mingguan Tempo membuat upacara penyambutan kembalinya Ben masuk Indonesia dengan memintanya memberikan kuliah umum.

Dalam kuliah umum yang diberi judul “Nasionalisme Kini dan di Masa Depan”, pada Maret 1999 itu Ben mengingatkan yang hadir bahwa Indonesia harus dilihat sebagai sebuah proyek bersama (a common project).

Indonesia menurut Ben bukan warisan dari nenek moyang yang hidup di masa lampau, tetapi sebuah proyek yang harus dibangun bersama untuk masa depan. Indonesia adalah proyek bersama dari seluruh warga negara, tanpa kecuali, yang memiliki posisi setara sebagai warga negara.

Pidato yang disampaikan ketika Indonesia sedang tercabik oleh berbagai konflik komunal dan konflik politik, Ben mengingatkan bahwa Aceh bukanlah hanya milik Orang Aceh; Papua juga bukan hanya milik Orang Papua, keduanya adalah bagian tidak terpisahkan dari Indonesia, dan menjadi milik bersama seluruh waraga negara Indonesia.

Beberapa tahun menjelang wafat, Ben terkesan risau dengan langkanya intelektual publik di Indonesia dan Asia Tenggara. Dia terlihat galau karena hampir semua intelektual yang ada seperti tertelan oleh yang berkuasa.

Ben, yang di masa mudanya dekat dengan Soe Hok Gie dan Onghokham; sangat kehilangan ketika Hok Gie mati muda di puncak Semeru pada 16 Desember 1969. Pramoedya Ananta Toer kemudian jadi heronya, tapi setelah Pram ia sulit mencari yang muda; Pipit si pembangkang di Berlin dan novelis Eka Kurniawan; juga Jokowi dan Ahok sempat disebut-sebutnya, selain itu dia kecewa. Kekecewaan itu bahkan ia ungkapkan ketika diminta untuk memberikan pidato kunci di sebuah acara yang diadakan oleh API (Asian Public Intelectual) di Manila, Filipina, 2009.

Dalam otobiografinya Ben tidak menyembunyikan "love affair" nya dengan Jawa, tapi yang betul-betul dia cintai adalah "the red Java". Membaca karya-karyanya,  antara lain, yang sangat berpengaruh di dunia "The Imagined Communities", sulit dihapus kesan Jawa sebagai sumber inspirasinya. Cerita yang menyaksikan, ketika abunya di tebarkan di laut Jawa setelah dikremasi di Surabaya, tiba-tiba muncul kupu-kupu terbang di atas laut tempat abunya ditebarkan.

*Peneliti. Karya tulisnya terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektuak publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #Ben Anderson #intelektual publik



Berita Terbaru

 

Sarolangun Smart City
Senin, 22 Juli 2019 20:11 WIB

Pemkab Sarolangun akan Terapkan Tanda Tangan Elektronik, Ini Manfaatnya


Pemkab Sarolangun akan Terapkan Tanda Tangan Elektronik Kajanglako.com, Sarolangun – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sarolangun dibawah kepemimpinan

 

Konflik Warga dan PT WKS
Senin, 22 Juli 2019 19:53 WIB

Polres Batanghari Kembali Amankan 10 Pucuk Kecepek Anggota SMB


Polres Batanghari Kembali Amankan 10 Pucuk Kecepek Anggota SMB Kajanglako, Batanghari - Kepolisian Resor (Polres) Batanghari mengamankan 10 pucuk senjata

 

Paripurna Dewan
Senin, 22 Juli 2019 19:49 WIB

Paripurna DPRD Muarojambi Ranperda ABDP Tahun 2019


Paripurna DPRD Muarojambi Ranperda ABDP Tahun 2019 Kajanglako.com, Muaro Jambi - DPRD Muaro Jambi gelar rapat paripurna Penyampaian secara resmi Nota Keuangan

 

Mencari Pendamping Fachrori
Senin, 22 Juli 2019 19:45 WIB

Pansel Sarankan Pimpinan Dewan Pilih Opsi Kedua, Ada Apa?


Pansel Sarankan Pimpinan Dewan Pilih Opsi Kedua, Ada Apa? Kajanglako.com, Jambi – Hasil rapat tertutup Panitia Seleksi (Pansel) pemilihan Wakil Gubernur

 

Mencari Pendamping Fachrori
Senin, 22 Juli 2019 19:27 WIB

Kebutuhan Wakil Gubernur Jambi Telah Dianggarkan, Nasri: Tak Ada Wagub Berarti Silpa


Kebutuhan Wakil Gubernur Jambi Telah Dianggarkan, Nasri: Tak Ada Wagub Berarti Silpa Kajanglako.com, Jambi – Alih-alih siapa orangnya, ada atau tidaknya