Selasa, 23 Juli 2019


Sabtu, 15 Juni 2019 10:17 WIB

Tambang Emas di Soengei Begojo dan Soengei Pentoean

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Ternyata, jalan menuruni gunung lebih curam daripada pendakian. Mereka tergelincir, tergulung-gulung dan melompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain yang lebih rendah. Tak seorang pun dapat turun gunung di sini dengan berjalan biasa dengan tubuh yang tegak. Hari sudah menjelang sore. Mereka sudah berjalan cukup jauh. Tiba-tiba terdengar suara air sungai mengalir. Semakin jauh mereka turun, semakin keras terdengar suara itu. Tak lama kemudian, mereka sudah berdiri di tepian Tabe nan Pandjang, sebuah anak sungai Goemanti.



Sebuah pondok—yang tinggal kerangka saja—masih berdiri di dekat tepian sungai. Dalam perjalanan, para kuli semakin lama semakin lamban berjalan dan akhirnya tertinggal sama sekali.

Van Hasselt dan Veth memutuskan untuk menginap saja di pondok itu. Bersama para pemandu, koki dan seorang pembantu lelaki, mereka mulai menyiapkan tempat untuk menginap. Dengan parang, mereka memotong dan membersihkan belukar. Dalam waktu singkat, di atas bebatuan, mereka sudah berhasil membangun sebuah pondok sederhana yang beratap dedaunan dan kain layar.

Matahari mulai tenggelam. Seharusnya para kuli sudah tiba, tetapi tak tampak batang hidung seorang pun. Para penjelajah itu sudah betul-betul lelah. Tidur dininabobokkan oleh suara sungai, di bawah langit beludru biru tua dan kerlap-kerlip cahaya bintang memang sesuatu yang luar biasa. Akan tetapi, bila itu dilakukan dengan merentang badan di atas batu, lain lagi ceritanya!

Malam semakin gelap. Api unggun sudah menyala. Sampai bebayang pohon melebur dengan hitamnya malam, masih saja tak seorang pun muncul. Ke mana para kuli itu? Apakah mereka tak dapat melanjutkan perjalanan dan memutuskan untuk menginap saja di tempat rehat yang terakhir? Tak mungkin mereka tak dapat melanjutkan perjalanan, ungkap seorang pemandu, karena di tempat rehat terakhir itu banyak pohon yang batangnya bagus untuk dibuat obor. Kalau begitu, apakah pemandu itu dapat menjemput para kuli itu? Mendengar pertanyaan ini, pemandu itu menggelengkan kepala. Tidak bisa karena di tempat ini tak ada kayu pohon yang bagus untuk obor. Ia menarik sarungnya menutupi kepalanya dan menggulung diri di dalam sarung itu.

Salah seorang penjelajah Belanda teringat pada waspit (lilin gulung) yang dibawanya. Lilin itu seperti benang tebal yang dapat digulung. Ujungnya dibakar untuk mendapatkan cahaya dan gulungannya terus dibuka bila bagian yang terbakar sudah hampir habis. Pemandu yang tadinya menggulung diri di dalam sarungnya rupanya ikut mendengarkan penjelasan mengenai lilin gulung itu.

Tak lama kemudian, ia berdiri, mengambil lilin gulung itu dan tanpa berkata apa-apa, ia pergi bersama seorang temannya. Masuk ke hutan untuk menjemput para kuli. Langkah-langkah mereka diterangi oleh sinar kecil dari lilin gulung itu.

Sementara menunggu datangnya pemandu itu dan para kuli, Koki menyembelih dan membersihkan seekor ayam yang dibawanya. Ia membelah ayam itu, lalu menjepitnya di antara kayu yang dibelah. Tanpa bumbu apa pun, tak juga garam, ayam dibakar di atas api unggun. Baunya menerbitkan air liur. Dan rasanya memang luar biasa.

Setelah perut kenyang, tak banyak lagi yang diobrolkan. Mereka berbaring. Telentang, telungkup, segala posisi badan dicoba untuk dapat tiduran enak di atas batu. Namun, batu tetaplah batu. Keras dan tak nyaman untuk menjadi alas tidur.

Di dalam gelap, tampak sinar kecil berkelap-kelip. Sang pemandu dan para kuli. Secepat mungkin, perbekalan tidur yang dibawa oleh mereka dibongkar dan dipasang. Sejam kemudian, segala sesuatunya telah siap. Hujan mulai turun.

Hari itu mereka tidak berhasil berjalan sampai ke Soengei Begojo. Besok pagi-pagi tanggal 4 Oktober, setelah beristirahat semalaman, dusun itu menjadi tujuan yang pertama.

Kabut yang kelabu masih menyelimuti daerah tempat mereka menginap. Koki menyiapkan teh dan sarapan pagi. Veth menghilang sebentar untuk membuat foto air terjun yang terdapat tak jauh dari pondok penginapan. Seorang kuli—Si Tair—sakit. Barang-barang yang seharusnya dibawanya dihibahkan kepada Gage, pembantu Veth, yang biasanya bertugas membawa perlengkapan fotografi.

Menjelang pk 10.00, mereka siap berangkat. Etape pertama perjalanan hari itu adalah memanjat dinding tepian yang teramat curam sampai ke punggung gunung dan terus mengikuti jalan, menuruni gunung. Mereka melewati reruntuhan rumah-rumah—sebuah dusun yang telah ditinggalkan warganya. Beberapa pohon pinang dan durian masih tumbuh di sana.

Mereka semakin mendekati daerah pertambangan yang masih diolah dengan sungai kecil yang digunakan sebagai sarana pengairan. Dinding-dinding bukit yang seolah-olah dipotong, curam, hampir tegak lurus dan lembah-lembah buatan manusia menunjukkan bahwa pertambangan itu sudah lama diusahakan.

Menjelang pk 13.00 mereka tiba di Soengei Begojo. Dua buah rumah pekerja tambang terdapat di sini; masing-masing di kedua tepian sungai. Rumah-rumah itu tampak asri, di tengah-tengah kerimbunan hijau di sekitarnya. Sebatang kayu yang ditetak-tetak menjadi tangga mengantarkan orang ke dalam rumah. Di dapur, orang sibuk menyiapkan nasi dan ayam.

Veth segera pergi untuk melihat-lihat tambang. Van Hasselt mencatat segala-sesuatu yang terkait dengan keistimewaan pertambangan emas di daerah ini. Ke arah hulu terdapat Tambang Koeboe, yang kini sudah ditinggalkan, terdapat di tempat yang jauhnya kira-kira sehari berjalan kaki. Dahulu kala, orang dari Sibanang-banang juga datang untuk menambang emas di sini. Namun, mereka kemudian diusir oleh oleh gerombolan bersenjata dari XII Kota. Konon, di tempat ini juga ada tambang yang dinamakan Tambang Betine karena para penambangnya melulu perempuan saja.

Teknik penambangan yang digunakan sederhana saja: dinding-dinding gunung digali dan dikikis untuk sampai ke lapisan bebatuan. Tambang-tambang itu sendiri dimiliki oleh perorangan dan para penambang bekerja untuk pemilik tambang. Mereka berhak atas sebagian emas yang diketemukan. Sejumlah dana bersama digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari: beras, tembakau dan pakaian (Catatan FA: kemungkinan, penginapan—yang tidak disebut dalam laporan--juga tercakup dalam anggaran dana ini.)

Mereka melanjutkan perjalanan sampai ke rumah pekerja tambang berikutnya. Beberapa jam kemudian, menjelang pk 15.00, mereka menelusuri aliran Soengei Doea. Jalan setapak itu mulai menanjak dan kemudian turun lagi, curam sekali, ke lembah berbatu di bawahnya.

Perjalanan itu menuju ke tambang-tambang di Soengei Pentoean. Di kejauhan tampak Boekit Pisang. Soengei Pentoean adalah sungai yang airnya mengalir masuk ke Goemanti. Dusun, yang sekitar tujuh tahun lalu ditinggalkan oleh warganya, juga bernama Soengei Pentoean. Ketika tim penjelajahan itu tiba, yang tertinggal dari dusun itu hanyalah rumah penambang dan keluarganya. Di sinilah mereka menginap.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sumatra tengah #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Sarolangun Smart City
Senin, 22 Juli 2019 20:11 WIB

Pemkab Sarolangun akan Terapkan Tanda Tangan Elektronik, Ini Manfaatnya


Pemkab Sarolangun akan Terapkan Tanda Tangan Elektronik Kajanglako.com, Sarolangun – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sarolangun dibawah kepemimpinan

 

Konflik Warga dan PT WKS
Senin, 22 Juli 2019 19:53 WIB

Polres Batanghari Kembali Amankan 10 Pucuk Kecepek Anggota SMB


Polres Batanghari Kembali Amankan 10 Pucuk Kecepek Anggota SMB Kajanglako, Batanghari - Kepolisian Resor (Polres) Batanghari mengamankan 10 pucuk senjata

 

Paripurna Dewan
Senin, 22 Juli 2019 19:49 WIB

Paripurna DPRD Muarojambi Ranperda ABDP Tahun 2019


Paripurna DPRD Muarojambi Ranperda ABDP Tahun 2019 Kajanglako.com, Muaro Jambi - DPRD Muaro Jambi gelar rapat paripurna Penyampaian secara resmi Nota Keuangan

 

Mencari Pendamping Fachrori
Senin, 22 Juli 2019 19:45 WIB

Pansel Sarankan Pimpinan Dewan Pilih Opsi Kedua, Ada Apa?


Pansel Sarankan Pimpinan Dewan Pilih Opsi Kedua, Ada Apa? Kajanglako.com, Jambi – Hasil rapat tertutup Panitia Seleksi (Pansel) pemilihan Wakil Gubernur

 

Mencari Pendamping Fachrori
Senin, 22 Juli 2019 19:27 WIB

Kebutuhan Wakil Gubernur Jambi Telah Dianggarkan, Nasri: Tak Ada Wagub Berarti Silpa


Kebutuhan Wakil Gubernur Jambi Telah Dianggarkan, Nasri: Tak Ada Wagub Berarti Silpa Kajanglako.com, Jambi – Alih-alih siapa orangnya, ada atau tidaknya