Jumat, 23 Agustus 2019


Rabu, 12 Juni 2019 12:30 WIB

Boekit Koedoek Djawi dan Boekit Sarang Anggang

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Rumah penghoeloe kapala yang baru saja meninggal dunia merupakan rumah yang paling bagus di seluruh negari. Di rumah itulah para penjelajah kita belajar membuat semacam kue, yang mungkin karena kerasnya, disebut karé-karé.



Adonan kue itu dituangkan perlahan dalam curah adonan yang panjang dan tipis, ke dalam minyak goreng panas. Kue yang terbentuk tampak seperti gulungan benang manis yang renyah. Rasanya enak sekali. 

Hari itu, tanggal 2 Oktober, setiap anggota tim penjelajah menyibukkan diri dengan kegiatan yang menjadi tugas masing-masing. Van Hasselt bertugas mencari pemandu yang dapat mengantarkan mereka ke Moeara Laboeh. Ini bukanlah tugas yang mudah karena tak banyak orang yang bersedia menjadi pemandu.

Orang yang memang bekerja sebagai pemandu tak ada di daerah yang jarang sekali didatangi oleh turis dan perjalanan panjang melalui rimba-belantara dengan tiga orang asing tidak diimpikan oleh siapa pun. Bila salah seorang di antara penjelajah asing itu mengalami kecelakaan, tentulah pemandu itu yang akan dianggap bertanggung jawab.  Demikianlah pikiran orang di daerah ini. Tak mengherankan bahwa van Hasselt, dengan susah-payah, akhirnya berhasil menemukan dua orang Melayu yang bersedia menjadi pemandu mereka dengan imbalan uang sebesar ƒ7,- per orang.

Selain dua orang pemandu, van Hasselt juga masih harus mencari satu orang lagi karena Bagindo Sati, salah seorang kuli penjelajahan, jatuh sakit dan tak mungkin memanggul barang. Untunglah ia menemukan seseorang yang bersedia membawakan barang-barang mereka sampai ke Soengei Begojo. Di tempat itu, mereka terpaksa mencari penggantinya lagi.

Perjalanan yang kini hendak dilakukan tidak dapat ditempuh dengan menunggang kuda. Karena itu, kuda-kuda yang selama ini digunakan, diantarkan ke Alahan Pandjang, lalu ke Lolo untuk kembali ke Moeara Laboeh. Perjalanan seterusnya dilanjutkan dengan berjalan kaki. Entah kapan mereka akan tiba di tujuan akhir dan entah berapa kali mereka akan terpaksa menginap di dalam rimba-belantara.

Veth yakin bahwa mereka akan terpaksa menginap di hutan satu kali bila mereka berjalan cepat atau menginap dua kali bila berjalan dengan kecepatan biasa. Kepala laras Alahan Pandjang memperkirakan bahwa mereka harus menginap tiga kali; sedang penghoeloe kapala Soengei Aboe berpikir bahwa mereka harus menginap empat kali di rimba. Tak ada yang tau pasti. Kecepatan perjalanan dan berapa seringnya mereka harus menginap di hutan terutama tergantung dari keadaan jalan setapak yang harus dilalui.

Tak ada yang dapat memberikan informasi mengenai keadaannya karena jalan itu hampir tak pernah dilalui sejak tersedia jalan bagus yang menghubungkan Soengei Aboe dengan Alahan Pandjang dan Moeara Laboeh. Mereka menyiapkan bekal makanan yang diperkirakan cukup untuk kebutuhan selama perjalanan. Tentunya, di daerah yang kaya sungai ini, mereka tak perlu takut akan kesulitan mendapatkan air untuk minum. Segala-sesuatunya pasti akan berjalan lancar bila para pemandu mereka memang menguasai daerah yang akan dilalui. 

Pagi-pagi tanggal 3 Oktober, mereka berkumpul di depan rumah. Mereka sudah siap untuk berangkat. Penghoeloe Kapala dan beberapa orang Kapala Soekoe mengantarkan kepergian mereka sampai ke kaki bukit  yang harus didaki untuk mengawali perjalanan. Di antara semak-semak dan rerumpunan pakis, mereka menemukan jalan setapak yang lumayan bagus—walau jalan itu hampir tak pernah digunakan.

Sungai pertama yang harus diseberangi setelah Soengei Kaloeang (yang mengalir di samping dusun yang bernama sama) adalah Batang Lainoedjen, disusul oleh Soengei Abang. Air dari kedua sungai itu mengalir masuk ke Soengei Goemanti. Di tepian sungai terakhir itu terdapat sebuah pondok beratap dedaunan yang rupanya biasa digunakan sebagai tempat menginap oleh orang yang kemalaman di sana. Jam menunjukkan pk 10.00. Mereka baru berjalan dua jam saja. Walaupun demikian, para pemandu menyarankan agar mereka berhenti menginap di sana saja. Usul mengherankan ini tidak digubris dan setelah beristirahat sejenak, mereka melanjutkan perjalanan. Jalan setapak yang ditelusuri mulai mendaki sampai mereka tiba di punggung Boekit Koedoek Djawi. Sayangnya, tak ada pemandangan bagus yang dapat dilihat karena pepohonan tumbuh rapat di sana. Dari antara beberapa pohon, hanya tampak awan menggantung, sarat dengan hujan.

Mereka berharap tiba dan menginap di Soengei Begojo sebelum matahari terbenam. Sejak dahulu kala, orang sudah banyak menambang di daerah itu. Dan memang, banyak tempat yang dilewati menunjukkan tanda-tanda kegiatan pertambangan: saluran air--dulu digunakan untuk membasuh pasir yang mengandung emas, tetapi kini sudah dibiarkan mengering serta  tempat-tempat terbuka yang dulu penuh dengan tenda atau pondok para pekerja tambang.

Oleh kemarau panjang, jalan setapak yang biasanya licin berlumpur, kini tak terlalu sulit ditelusuri. Sesekali, mereka harus mengeluarkan parang untuk membuka jalan untuk para kuli yang membawa barang-barang berat di atas kepala dan punggung. Sesekali, mereka juga harus merangkak memanjati batang pohon yang tumbang menggelimpang menghalangi jalan. Seringkali pula mereka harus menyingsingkan pantalon untuk menyeberangi sungai-sungai kecil. Dan beberapa kali mereka terpaksa duduk di tanah dan menggeserkan pantat perlahan-lahan karena jalan itu terlalu curam untuk dilalui begitu saja. Tak jarang, bila tergelincir, mereka terburu-buru mencari pegangan—tetapi yang dipegang ternyata tangkai atau ranting yang berduri tajam!

Perjalanan mereka menyerupai perjalanan siput yang maju perlahan, selangkah demi selangkah. Dua jam berjalan, lalu beristirahat sejenak di tempat yang terbuka atau di tepian air. Setiap orang lalu mencari tempat rehat dan  meletakkan barang-barang yang dibawa. Diam yang terdengar selama perjalanan kini terpecahkan oleh obrolan ramai dan kepulan asap rokok. Alangkah nikmatnya!

Rasanya terlalu cepat waktu berjalan. Terlalu pendek waktu untuk beristirahat. Tetapi, tanpa menggerutu, setelah sejam beristirahat, para kuli kembali memanggul beban mereka dan setiap orang berdiri untuk kembali mulai melangkah. Tak banyak pepohonan besar di sini. Pohon terbesar yang mereka lewati hari ini memiliki lingkar sebesar satu meter. Sebatang pohon berdiameter 2 meter—raksasa di antara pepohonan lebih kecil di sekitarnya—menunjukkan tempat mereka harus menuruni Boekit Sarang Anggang. Batang pohon itu berlubang besar yang rupanya cukup besar untuk dijadikan tempat bermalam. Tampaknya, banyak orang yang menumpang tidur di dalam batang pohon itu.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #ekspedisi sumatra tengah



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah