Selasa, 28 Januari 2020


Senin, 10 Juni 2019 12:17 WIB

George Junus Aditjondro

Reporter :
Kategori : Sosok

Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Sedikit lebih muda dari Goenawan Mohamad (GM) dan Arief Budiman, keduanya lahir 1941, George Junus Aditjondro (GJA), lahir 27 Mei 1946 dan meninggal dalam usia 70 tahun, tepatnya 10 Desember 2016 di Kota Palu.



Tidak seperti GM dan Arief Budiman yang sudah terlibat aktif sebagai intelektual publik di ujung masa pemerintahan Soekarno dan awal masa Soeharto, GJA, intelektual cum aktivis, tumbuh besar bersamaan dengan membengkaknya kekuasaan Soeharto sejak Peristiwa Malari 1974. 

Sepertinya paradox, Soeharto justru semakin menggurita setelah gagalnya kritik paling besar oleh aksi protes mahasiswa tahun 1974. Boleh dikata, GJA tumbuh dalam tradisi jurnalisme kritis majalah berita mingguan Tempo.

Majalah Tempo adalah salah satu mata air (dalam bahasa Jawa Tuk) para intelektual publik Indonesia. Seseorang disebut sebagai intelektual publik jika aktif menuliskan gagasan-gagasannya. Dengan kata lain, tulis menulis adalah dunianya.

Di Tempo, saya kira GJA orang yang memilih menulis soal lingkungan, sebuah bidang yang masih langka saat itu. Lingkungan terbukti merupakan bidang yang menjadi sangat krusial karena pemerintahan Soeharto, dengan Widjojo Nitisastro dan  geng ekonomnya dari FEUI,  menjadikan Sumber Daya Alam (SDA) negeri ini modal dasar pembangunan ekonominya. Tidak aneh jika lingkungan kemudian menjadi rusak parah dijarah oleh Orde-Baru.

Dari isu-isu lingkungan GJA bergerak ke mana-mana, tidak saja secara tematik tetapi secara geografis. Ketika sebagai jurnalis dia merasa tidak cukup efektif melakukan kritik, GJA keluar dan mulai merintis gerakan untuk mengadvokasi persoalan lingkungan hidup. Kerusakan yang parah dari lingkungan hidup tampaknya disadari oleh Widjojo, dan ditunjuklah Emil Salim, salah satu anggota gengnya, menjadi menteri yang mengurusi lingkungan hidup (1978).

Keputusan Widjojo itu saya kira tidak hanya sudah terlambat, tetapi hanya menjadi gincu, karena mesin pembangunan ekonomi Orde Baru tidak mungkin berjalan tanpa merusak lingkungan, menghabiskan minyak bumi dan membabat hutan.

Emil Salim yang keahlian pokoknya, sesungguhnya soal pemerataan pendapatan, sebuah isu yang jika ditangani dengan serius sejak akhir 1970an Indonesia tidak jadi negeri yang sangat timpang pendapatan penduduknya, malah menjadikan isu lingkungan semacam penghibur dukalara rusaknya akibat strategi pembangunan yang dipilihnya. Gunawan Wiradi, ahli reformasi agraria dari Bogor itu secara retorik pernah bilang, kalau zaman Soekarno tidak ada sebatang pohon pun ditebang.

Ket: alm. George Junus Aditjondro. Sumber: Okezone.com

GJA, meskipun kemudian meraih gelar doktor dari Cornell University, dengan disertasi tentang dampak pembangunan dam-dam raksasa, dan sempat mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan University of Newcastle, Australia;  sejak keluar dari Tempo, menghabiskan waktunya sebagai aktivis. Dunia tulis menulis tetap digelutinya, namun kiprahnya langsung mengubah sesuatu di masyarakat. Membangun organisasi, mendirikan kantor LSM dan terlibat langsung dalam berbagai gerakan melawan penindasan oleh Negara.

Sebagai aktivis, GJA yang oleh majalah Time pernah dijuliki“the world’s leading authority on Suharto family wealth” (David Lirbhold. 1999. “Man with a Mission: Find Suharto’s Loot”. Time, May 24), sejatinya seorang pejuang pembela hak-hak asasi manusia, dan dalam berkiprah GJA memilih tempat-tempat yang penuh bahaya dan resiko politik. Ketika Papua masih asing bagi banyak aktifis, GJA membangun LSM yang kemudian terbukti sangat berpengaruh di sana.

Ketika Timor Timur dan Aceh bergolak, GJA mungkin aktivis Indonesia generasi pertama yang masuk daerah yang sarat dengan DOM itu. Entah kenapa, mungkin karena dia dibesarkan di Makasar, dia kemudian memilih tinggal dan aktif di Palu, Sulawesi Tengah; dan bersama sahabatnya Arianto Sangaji membentuk Yayasan Tanah Meredeka, dan ketika wafat kemudian di makamkan di sana pada 12 Desember 2016.

GJA, mungkin, seorang intelektual publik yang paling berani dan kontroversial di Indonesia. Karena kevokalannya, dia harus melarikan diri untuk sementara ke Australia. GJA jelas bukan intelektual yang keluar negeri untuk mencari penghidupan yang lebih baik, memiliki ruang kerja yang nyaman dan bisa menulis serta melakukan riset dengan tenang; diabukan jenis intelektual seperti itu. Dunianya di tempat-tempat yang berbahaya dan penuh konflik di negerinya sendiri.

*Peneliti. Karya tulis Riwanto Tirtosudarmo terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #george junus aditjondro



Berita Terbaru

 

Senin, 27 Januari 2020 16:41 WIB

Fachrori Ingatkan Perusahaan Utamakan K3 Bagi Pekerja


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, bertindak sebagai Inspektur Upacara peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tahun

 

Senin, 27 Januari 2020 15:01 WIB

Cabuli Anak Tiri, Warga Tanjung Marwo Diciduk Polisi


Kajanglako.com, Batanghari - IS (27), warga RT 02 Desa Tanjung Marwo kecamatan Muara Tembesi terpaksa meringkuk di jeruji besi sel tahanan Polres Batanghari.

 

Senin, 27 Januari 2020 14:50 WIB

Mantap..! Merangin Wakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Thailand


Kajanglako.com, Merangin - Kabupaten Merangin akan mewakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Kota Yala Thailand pada 7-9 Februari 2020

 

Senin, 27 Januari 2020 14:37 WIB

Aksi Warga 12 Desa Kecamatan Mandiangin di Kantor Bupati Berakhir, Warga Akan Langsung Duduki Lahan


Kajanglako.com, Sarolangun - Puluhan warga dari 12 desa di Kecematan Mandiangin yang berdemo di kantor Bupati Sarolangun menuntut PT AAS mengambil lahan

 

Senin, 27 Januari 2020 14:25 WIB

Tinjau Pencarian Korban Tenggelam, Al Haris Ingatkan Orang Tua Agar Awasi Anak


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin,  Al Haris, meninjau pencarian korban hanyut di sungai Merangin wilayah Pulau Rayo, Kelurahan Dusun Bangko,