Sabtu, 28 Maret 2020


Senin, 10 Juni 2019 12:17 WIB

George Junus Aditjondro

Reporter :
Kategori : Sosok

Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Sedikit lebih muda dari Goenawan Mohamad (GM) dan Arief Budiman, keduanya lahir 1941, George Junus Aditjondro (GJA), lahir 27 Mei 1946 dan meninggal dalam usia 70 tahun, tepatnya 10 Desember 2016 di Kota Palu.



Tidak seperti GM dan Arief Budiman yang sudah terlibat aktif sebagai intelektual publik di ujung masa pemerintahan Soekarno dan awal masa Soeharto, GJA, intelektual cum aktivis, tumbuh besar bersamaan dengan membengkaknya kekuasaan Soeharto sejak Peristiwa Malari 1974. 

Sepertinya paradox, Soeharto justru semakin menggurita setelah gagalnya kritik paling besar oleh aksi protes mahasiswa tahun 1974. Boleh dikata, GJA tumbuh dalam tradisi jurnalisme kritis majalah berita mingguan Tempo.

Majalah Tempo adalah salah satu mata air (dalam bahasa Jawa Tuk) para intelektual publik Indonesia. Seseorang disebut sebagai intelektual publik jika aktif menuliskan gagasan-gagasannya. Dengan kata lain, tulis menulis adalah dunianya.

Di Tempo, saya kira GJA orang yang memilih menulis soal lingkungan, sebuah bidang yang masih langka saat itu. Lingkungan terbukti merupakan bidang yang menjadi sangat krusial karena pemerintahan Soeharto, dengan Widjojo Nitisastro dan  geng ekonomnya dari FEUI,  menjadikan Sumber Daya Alam (SDA) negeri ini modal dasar pembangunan ekonominya. Tidak aneh jika lingkungan kemudian menjadi rusak parah dijarah oleh Orde-Baru.

Dari isu-isu lingkungan GJA bergerak ke mana-mana, tidak saja secara tematik tetapi secara geografis. Ketika sebagai jurnalis dia merasa tidak cukup efektif melakukan kritik, GJA keluar dan mulai merintis gerakan untuk mengadvokasi persoalan lingkungan hidup. Kerusakan yang parah dari lingkungan hidup tampaknya disadari oleh Widjojo, dan ditunjuklah Emil Salim, salah satu anggota gengnya, menjadi menteri yang mengurusi lingkungan hidup (1978).

Keputusan Widjojo itu saya kira tidak hanya sudah terlambat, tetapi hanya menjadi gincu, karena mesin pembangunan ekonomi Orde Baru tidak mungkin berjalan tanpa merusak lingkungan, menghabiskan minyak bumi dan membabat hutan.

Emil Salim yang keahlian pokoknya, sesungguhnya soal pemerataan pendapatan, sebuah isu yang jika ditangani dengan serius sejak akhir 1970an Indonesia tidak jadi negeri yang sangat timpang pendapatan penduduknya, malah menjadikan isu lingkungan semacam penghibur dukalara rusaknya akibat strategi pembangunan yang dipilihnya. Gunawan Wiradi, ahli reformasi agraria dari Bogor itu secara retorik pernah bilang, kalau zaman Soekarno tidak ada sebatang pohon pun ditebang.

Ket: alm. George Junus Aditjondro. Sumber: Okezone.com

GJA, meskipun kemudian meraih gelar doktor dari Cornell University, dengan disertasi tentang dampak pembangunan dam-dam raksasa, dan sempat mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan University of Newcastle, Australia;  sejak keluar dari Tempo, menghabiskan waktunya sebagai aktivis. Dunia tulis menulis tetap digelutinya, namun kiprahnya langsung mengubah sesuatu di masyarakat. Membangun organisasi, mendirikan kantor LSM dan terlibat langsung dalam berbagai gerakan melawan penindasan oleh Negara.

Sebagai aktivis, GJA yang oleh majalah Time pernah dijuliki“the world’s leading authority on Suharto family wealth” (David Lirbhold. 1999. “Man with a Mission: Find Suharto’s Loot”. Time, May 24), sejatinya seorang pejuang pembela hak-hak asasi manusia, dan dalam berkiprah GJA memilih tempat-tempat yang penuh bahaya dan resiko politik. Ketika Papua masih asing bagi banyak aktifis, GJA membangun LSM yang kemudian terbukti sangat berpengaruh di sana.

Ketika Timor Timur dan Aceh bergolak, GJA mungkin aktivis Indonesia generasi pertama yang masuk daerah yang sarat dengan DOM itu. Entah kenapa, mungkin karena dia dibesarkan di Makasar, dia kemudian memilih tinggal dan aktif di Palu, Sulawesi Tengah; dan bersama sahabatnya Arianto Sangaji membentuk Yayasan Tanah Meredeka, dan ketika wafat kemudian di makamkan di sana pada 12 Desember 2016.

GJA, mungkin, seorang intelektual publik yang paling berani dan kontroversial di Indonesia. Karena kevokalannya, dia harus melarikan diri untuk sementara ke Australia. GJA jelas bukan intelektual yang keluar negeri untuk mencari penghidupan yang lebih baik, memiliki ruang kerja yang nyaman dan bisa menulis serta melakukan riset dengan tenang; diabukan jenis intelektual seperti itu. Dunianya di tempat-tempat yang berbahaya dan penuh konflik di negerinya sendiri.

*Peneliti. Karya tulis Riwanto Tirtosudarmo terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah dan tulisan populer. Seri intelektual publik ini terbit saban Senin di rubrik SosoK Kajanglako.com


Tag : #george junus aditjondro



Berita Terbaru

 

Pilkada 2020
Sabtu, 28 Maret 2020 16:00 WIB

Via Aplikasi Zoom Clound, Bawaslu Jambi Bahas Tantangan Pilkada di Tengah Covid 19


Kajanglako.com, Jambi - Ditengah wabah Virus Corona atau Covid-19, Bawaslu Provinsi Jambi menegaskan tidak ada istilah penundaan Pilkada 2020, yang ada

 

Sabtu, 28 Maret 2020 15:37 WIB

Ditangkap Gelapkan Motor, Pelaku Ngaku untuk Penuhi Kebutuhan Ekonomi


Kajanglako.com, Sarolangun - Dani, warga Desa Lubuk Kepayang, Kecamatan Air Hitam Kabupaten Sarolangun, ditangkap aparat Kepolisian Resor Sarolangun, Sabtu

 

Sabtu, 28 Maret 2020 14:18 WIB

Mayat yang Ditemukan Warga Sridadi Ternyata Korban Tabrak Lari


Kajanglako.com, Batanghari - Mayat yang ditemukan warga Kelurahan Sridadi Kecamatan Muarabulian tadi malam ternyata korban tabrak lari. Tidak jauh dari

 

Sabtu, 28 Maret 2020 13:57 WIB

Antisipasi Corona, Kemenag Sarolangun: Peringatan Hari Besar Umat Islam Ditunda Dulu


Kajanglako.com, Sarolangun - Kementerian Agama Kabupaten Sarolangun menginstruksikan kepada masyarakat Sarolangun agar tidak membuat kegiatan yang menghadirkan

 

Sabtu, 28 Maret 2020 13:23 WIB

Kunjungi RSD Kol Abundjani, Al Haris Beri Dukungan untuk Tenaga Medis


Kajanglako.com, Merangin - Petugas kesehatan atau tenaga medis saat ini berjuang di garda terdepan melawan pandemi virus corona (Covid-19). Mereka bekerja