Selasa, 25 Juni 2019


Sabtu, 08 Juni 2019 12:18 WIB

Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani (1876-1956 M)

Reporter :
Kategori : Jejak

Pesantren awal Sa'adatuddaren. Tanpa Tahun. Sumber: tahtoelyaman.blog

Oleh: Widodo*

Martin van Bruinessen, dalam Pesantren dan Kitab Kuning: Pemeliharaan dan Kesinambungan Tradisi Pesantren (Gading, 2012), menulis bahwa sejak abad ke-19 “perhatian sarjana untuk mengkaji Islam Indonesia hampir semuanya mengabaikan Mekah dan pusat-pusat asing lain”. Implikasinya, hasil penelitian menjadi sangat dangkal.



Komentar van Bruinessen tersebut dapat kita pakai dalam lingkup yang lebih sempit untuk membicarakan kajian Islam Jambi saat ini. “Kebanyakan” penelitian tentang Islam Jambi yang sudah saya pelajari mengurung Islam di Jambi sebagai fenomena yang semata-mata lokal, yang seolah-olah tak berkaitan langsung dengan dinamika Islam secara global.

Pendekatan ini menghasilkan penjelasan yang tak menyumbangkan wawasan baru yang segar dan kreatif, lagipula kurang menyajikan kedalaman penafsiran. Senantiasa ditemukan pengulangan tesis dan hipotesis lama yang menjemukan dan menjenuhkan.

Karena itu, saya menulis serial artikel ini, tentang ulama Jambi yang mengajar di Mekah. Saya ingin memahami posisi Islam Jambi dalam bingkai yang lebih luas. Saya hendak menelusuri kedudukan ulama Jambi pada paruh pertama abad ke-20 dalam jaringan ulama global, khususnya dalam jaringan ulama Nusantara (al-Jawi). Saya ingin mencari wawasan yang baru, segar, dan kreatif seputar Islam Jambi.

Tokoh ulama selanjutnya yang akan kita bicarakan, Tengku Mahmud Zuhdi, termasuk figur paling representatif untuk memahami posisi Islam Jambi dalam lingkup global. Sebab, daripada dikategorikan sebagai ulama Jambi, Tengku Mahmud Zuhdi lebih tepat disebut sebagai ulama kosmopolit yang dakwahnya melampaui batasan negeri dan negara.

Secara arbitrer, saya menggolongkan Tengku Mahmud Zuhdi sebagai ulama Jambi karena dia pernah mengajar di Sa’adatuddarain selama lebih kurang empat tahun. Tentu saja, penggolongan dengan dasar yang lemah ini merupakan sesuatu yang problematis.

Tengku Mahmud Zuhdi, dalam buku Pejuang Ulama, Ulama Pejuang Negeri Melayu(2013), disebut sebagai H. Ahmad Zuhdi, lahir di Ban Sim Dip, Bangkok, pada 1876 M/1293 H. Dari jalur ayah, dia masih keturunan bangsawan Kesultanan Patani. Ayahnya adalah Tengku Abdurrahman al-Fathani yang nasabnya bersambung hingga Raja Datu al-Fathani al-Jawi. Ibunya, Kalsum binti H. Sa’id, memiliki darah India.

Ketika Tengku Mahmud masih kecil, tulis Wan Mohd. Shaghir Abdullah, ayahnya ditangkap oleh Kerajaan Siam, lalu “dipenjara” dalam istana tersendiri. Walaupun hidup terbelenggu sebagai tahanan, Tengku Abdurrahman masih bisa mengajari putranya dasar-dasar agama Islam dan adab raja-raja Melayu.

Tengku Abdurrahman lalu mengirim Tengku Mahmud ke Mekah untuk dititipkan kepada Syaikh Ahmad al-Fathani (1856-1908) yang mengajar di Madrasah al-Shaulatiyyah. Syaikh Ahmad adalah keturunan Syaikh Jumadil Kubro, buyut Walisanga di Jawa. Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII mendudukkan Syaikh Ahmad sebagai salah seorang tokoh penting dalam jaringan ulama Nusantara.

Dia memiliki banyak santri dari Nusantara. Di antaranya adalah Syaikh Abdul Hamid Kudus, Syaikh Muhammad Khalil Bangkalan, Syaikh Abdul Muthalib Aceh, Syaikh Ahmad bin Tahir Lampung, Syaikh Muhammad Mahfudz Tremas, Sultan Zainal Abidin III (Trengganu), dan Syaikh Muhammad Mukhtar al-Tharid Bogor. Sementara itu, guru Syaikh Ahmad antara lain Syakh Nawawi Banten, Syaikh Yusuf al-Nabhani, Syaikh Wan Ali Kutan al-Kalantani, Sayyid Husain al-Habsyi, dan Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan.

Boleh dibilang, Syaikh Ahmad termasuk ulama Melayu yang paling maju pada zamannya. Dalam hal ini, dia dapat disandingkan dengan rekan segenerasinya, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Di samping menguasai ilmu-ilmu keislaman klasik, Syaikh Ahmad al-Fathani juga tertarik dengan ilmu-ilmu umum, salah satunya ilmu farmasi.

Berkat upayanya, penerbit Mesir bersedia mempublikasikan kitab-kitab ulama Nusantara. Dia membidani lahirnya percetakan dan penerbitan kitab di Singapura dan Riau. Dan yang lebih penting, dia tampaknya memiliki koneksi intensif dengan gerakan pembaharuan di Mesir yang dimotori Syaikh Muhammad Abduh yang pernah menjabat sebagai Grand Mufti Mesir.

Kepada ulama berwawasan “modern” semacam itulah Tengku Abdurrahman menitipkan putranya untuk diasuh. Ternyata, Syaikh Ahmad tak mengasuh Tengku Mahmud sekadarnya saja. Syaikh Ahmad mengkader murid sekaligus anak angkatnya tersebut dengan serius.

Syaikh Ahmad memasukkan Tengku Mahmud ke Madrasah al-Shaulatiyyah padahal usianya baru sekitar 8-9 tahun. Keputusan ini tak salah. Sebab, Tengku Mahmud adalah anak yang cerdas. Sepuluh tahun kemudian, dia sudah mengajar di al-Shaulatiyyah.

Setelah lima tahun mengajar di madrasah yang didirikan Syaikh Rahmat Allah bin Khalil al-‘Utsmani itu, atas petunjuk dan dorongan Syaikh Ahmad, pada tahun 1900, Tengku Mahmud berangkat ke Mesir untuk melanjutkan studinya. Dia ke Mesir bersama dua pemuda lain yang juga dikader Syaikh Ahmad, yaitu Syaikh Muhammad Nur al-Fathani dan Syaikh Tahir Jalaluddin al-Minangkabawi. Di salah satu pusat keilmuan dan kebudayaan Islam tersebut, Tengku Mahmud belajar ilmu astronomi (falak) dan kaligrafi Arab (khat).

Tidak jelas berapa lama Tengku Mahmud belajar di Mesir. Yang jelas, lima tahun kemudian, dia sudah berada kembali di Mekah, sudah pula memperoleh lisensi untuk mengajar di Masjidil Haram. Sebagai pribadi yang haus ilmu, di samping mengajar di al-Shaulatiyyah dan Masjidil Haram, Tengku Mahmud juga belajar sastra Arab kepada mentornya, Syaikh Ahmad.

Pada periode ini, Tengku Mahmud mulai mendalami tasawuf secara intensif. Dia menerima baiat Tarekat Syathariyyah dan Syadziliyyah dari Syaikh Wan Ali Kutan al-Kalantani. Belakangan, dia pun belajar kepada Syaikh Muhammad Mukhtar al-Tharid Bogor.

Periode ini merupakan kurun kecemerlangan karir intelektual Tengku Mahmud. Namun demikian, periode ini juga merupakan masa krisis dalam kehidupannya yang akhirnya memaksanya untuk hijrah dari Mekah ke Nusantara. Krisis yang saya maksud bukanlah krisis personal, melainkan krisis kolektif yang dialami golongan ulama Sunni Mekah.

Untuk menggambarkan krisis yang menimpa Tengku Mahmud Zuhdi dan ulama Sunni lain di Mekah, saya perlu mengajak Anda mengingat kembali sejarah keruntuhan Kekhalifahan Turki Usmani, kemunculan Kerajaan Arab Saudi, dan kelahiran Nahdhatul Ulama.

Hingga dasawarsa pertama abad ke-20, wilayah Hijaz masih dikuasai Kekhalifahan Turki Usmani secara kokoh. Karena menganut doktrin Sunni yang ortodoks, otoritas Turki Usmani menjalankan kebijakan teologi dan politik yang terbuka di Hijaz. Itulah sebabnya, Mekah, juga Madinah, berkembang menjadi pusat keilmuan Islam yang kosmopolit dan inklusif. Para ulama dari berbagai bangsa, etnis, dan mazhab belajar dan mengajar di sana.

Tapi, mileu intelektual yang sehat tersebut mengalami perubahan sejak aliran Wahabi bangkit kembali, seiring dengan mulai runtuhnya Kekhalifahan Turki Usmani. Pada 1901, Abdul Aziz bin Sa’ud, panglima perang pasukan Wahabi yang bermarkas di Najd, melancarkan ekspedisi militer untuk melawan otoritas Turki Usmani demi menguasai Semenanjung Arabia.

Turki Usmani ternyata gagal membendung arus “pemberontakan” Abdul Aziz. Di antara sebabnya, Turki Usmani tidak berkonsentrasi penuh menghadapi “gerakan separatis” tersebut. Selain tengah mengalami kemelut politik internal, Turki Usmani saat itu juga sedang terlibat dalam Perang Dunia Pertama, yang berujung suram baginya.

Representasi otoritas Turki Usmani di kawasan Hijaz, Syarif Mekah Hussein bin Ali, memimpin pemberontakan pan-Arab terhadap Turki Usmani yang mulai dilancarkan pada tahun 1916. Ambisi gerakan tersebut adalah memerdekaan Jazirah Arabia dari kekuasaan Turki Usmani dan membentuk suatu negara kesatuan Arabia. Meskipun didukung Inggris yang merupakan lawan Turki Usmani pada Perang Dunia Pertama, Syarif Mekah gagal mewujudkan ambisi besarnya.

Tapi, kegagalan itu sama sekali tak mengisyaratkan kejayaan Turki Usmani. Sebab, pada 1918, Turki Usmani mengakhiri perang sebagai pecundang. Situasi negara yang kelam memicu reaksi ofensif dari kaum muda Turki. Bagi mereka, kekalahan Turki Usmani dalam Perang Dunia Pertama membuktikan kegagalan sistem khilafah.

Sejak 1919, mereka melancarkan semacam revolusi politik di bawah pimpinan Mustafa Kemal. Misi besarnya adalah meniadakan sistem khilafah untuk kemudian membangun negara Turki yang modern dan sekular.

Pada 1922, Mehmed VI, sultan Turki yang terakhir, berhasil dilengserkan. Dia lantas meninggalkan tanah airnya. Dua tahun kemudian, institusi kekhalifahan dihapus. Dunia Islam pun kehilangan pusat politiknya.

Kondisi Hijaz yang secara politik sedang lemah dan tak stabil dimanfaatkan dengan baik oleh Abdul Aziz. Dia menaklukkan dan menduduki Hijaz pada 1924/1925. Bani Saud, yang berideologi Wahabi, menjadi penguasa tunggal di wilayah Hijaz dan sekitarnya. Sejak itu, lahirlah Kerajaan Arab Saudi modern. Abdul Aziz dinobatkan sebagai raja.

Berbeda dengan otoritas Sunni Turki Usmani yang menerapkan kebijakan pluralisme mazhab fikih, Kerajaan Saudi pada mulanya ingin memberlakukan mazhab tunggal di Hijaz, yaitu fikih Hanbali versi Wahabi yang berinduk pada pemikiran Ibnu Taymiyyah. Akibatnya, posisi ulama Sunni terancam.

Kerajaan Saudi juga menerapkan doktrin tauhid yang keras dan kaku. Ia berencana menghancurkan semua situs sejarah yang sebelumnya mereka pandang “disembah” umat Islam, termasuk makam ahlul bait, para sahabat, dan para ulama. Kerajaan Saudi bahkan berniat membongkar makam Nabi Muhammad saw.

Mendengar rencana tersebut, pada 1924-1925, para ulama di Jawa membentuk apa yang disebut sebagai Komite Hijaz, yang dipimpin oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah. Komite ini bertugas membujuk Raja Abdul Aziz bin Sa’ud untuk membatalkan rencana pembongkaran makam Rasulullah dan menerapkan kebijakan mazhab tunggal di Hijaz. Karena komite ini memerlukan wadah organisasi yang resmi, didirikanlah Nahdhatul Ulama pada 1926.

Misi diplomasi Komite Hijaz sukses. Tapi, bagaimana pun juga, kebangkitan gerakan Wahabi telah memakan banyak korban. Tercatat sekitar 40.000 orang dieksekusi di depan publik. Sekitar 350.000 orang diamputasi. Mereka adalah muslim yang menganut doktrin teologi dan fikih yang tak sejalan dengan doktrin Wahabi.

Petaka (al-fithnah) ini adalah krisis kolektif yang menimpa para ulama Sunni di Mekah, yang juga menimpa Tengku Mahmud Zuhdi. Merasa keselamatannya terancam, mereka melakukan eksodus dari Mekah dalam beberapa gelombang. Sebagian di antara mereka hijrah ke Nusantara. Tapi, sebagian yang lain, misalnya Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Padang, Syaikh Usman Tungkal, dan Sayyid Muhsin al-Musawa, tetap bertahan di Mekah hingga mereka wafat.

Tengku Mahmud Zuhdi termasuk ulama yang hijrah ke Nusantara. Menurut Fauzi Bafadhal (Disertasi, Sejarah Sosial Pendidikan Islam di Jambi..2008), Tengku Mahmud datang ke Jambi pada tahun 1922. Sementara itu, Wan Mohd. Shaghir Abdullah berpendapat lain. Dia menulis bahwa Tengku Mahmud tiba di Jambi pada 1925, tahun pertama berdirinya Kerajaan Saudi, satu tahun setelah khilafah runtuh.

Foto Pesantren Sa'adtuddaren. sumber: wikimapia.org

Di Jambi, Tengku Mahmud mengajar di pesantren Sa’adatuddarain selama lebih kurang empat tahun. Saat itu, pesantren yang berada di bawah naungan Perukunan Tsamaratul Insan ini dipimpin oleh Syaikh Abu Bakar Syaifuddin. Sangat mungkin bahwa Tengku Mahmud juga mengajar di pesantren-pesantren Tsamaratul Insan yang lain, entah secara formal, entah secara informal.

Selain Tengku Mahmud, Bafadhal mendaftar sembilan ulama Mekah lain yang hijrah ke Jambi. Mereka mengajar di pesantren Nurul Iman. Syaikh Utsman Serawak datang ke Jambi pada 1919. Syaikh Abdullah Dahlan, imam mazhab Syafi’i di Mekah, datang pada 1923. Syaikh Sa’id al-Yamani, mufti mazhab Syafi’i di Mekah, datang pada 1924. Syaikh Muhammad Ali al-Makki, mufti mazhab Maliki di Mekah, datang pada 1925. Syaikh ‘Arif al-Syami datang ke Jambi pada 1928. Syaikh Hasan al-Yamani, Syaikh Shalih al-Yamani, Syaikh Mahmud al-Bukhari, dan Syaikh Muhammad al-Ahdhali datang pada 1930.

Eksodus para ulama Mekah tersebut ternyata menjadi berkah tersendiri bagi perkembangan intelektual Islam di Jambi. Pesantren-pesantren Tsamaratul Insan mendapat sumber daya manusia par excellence dalam berbagai disiplin ilmu keislaman klasik. Kehadiran mereka menjadi magnet bagi para calon santri baik di Jambi maupun di luar Jambi.

Karena tidak memiliki data, saya tak bisa menjelaskan apakah setelah kehadiran mereka jumlah santri pesantren-pesantren Tsamaratul Insan mengalami peningkatan ataukah tidak. Tapi, barangkali jumlah santri di pesantren-pesantren tersebut memang mengalami peningkatan. Apa yang terjadi setelah Tengku Mahmud Zuhdi mengajar di Sa’adatuddarain mengindikasikan hal itu.

Sejak 1925, sepuluh tahun setelah didirikan oleh Syaikh Ahmad Syakur bin Syukur (Guru Gemuk), Sa’adatuddarain mengalami masa keemasan. Cahaya kegemilangan Sa’adatuddarain baru meredup sekitar 20 tahun kemudian saat Jepang menjajah Indonesia.

Terancam oleh tekanan Jepang, guru-gurunya melarikan diri ke luar Seberang. Jumlah santri turun drastis. Bahkan, pemimpin Sa’adatuddarain, Syaikh Abu Bakar Syaifuddin juga hijrah ke kampung halamannya di Teluk Rendah, Kabupaten Tebo.

Setelah lama mati suri, Sa’adatuddarain kelak dihidupkan kembali oleh putra Tengku Mahmud Zuhdi, yaitu Syaikh Muhammad Zuhdi, yang lebih dikenal sebagai Guru Jubah Hitam. Dari sekian anak Tengku Mahmud, Shaghir Abdullah menyebutkan tiga anak Tengku Mahmud yang lain: Tengku Ahmad yang tinggal di Jambu, Patani, Tengku Abdul Hamid yang bermukim di Selangor, dan Tengku Aminah yang menikah dengan Tengku Laksamana Selangor (Tengku Badli Syah bin Sultan Hisyamuddin Alam Syah).

Shaghir Abdullah juga menerangkan bahwa Tengku Mahmud Zuhdi memiliki lima istri. Dua istrinya bermukim di Kedah, satu di Patani, satu di Kelantan (Tengku Maryam), dan satu di Selangor (Tengku Hj. Safiah). Tengku Safiah adalah putri Sultan Abu Samah.

Mengapa Tengku Mahmud Zuhdi yang lahir di Patani, mengajar di Mekah, lalu hijrah ke Jambi, bisa memiliki istri di Selangor? Pada akhirnya, Tengku Mahmud bermukim di Selangor. Jambi hanyalah tempat dakwah transit baginya.

Pada 1929, Tengku Mahmud meninggalkan Jambi. Dia berangkat ke Klang untuk memenuhi panggilan pemimpin Selangor, Sultan Sulaiman Syah. Sampai di Selangor, Tengku Mahmud dilantik menjadi Penasehat Agama Selangor dan tak berapa lama kemudian diangkat menjadi Syaikhul Islam Selangor.

Di tanah dakwah yang baru, Tengku Mahmud melanjutkan aktivisme pedagogisnya. Pada 1933, dia mendirikan pesantren di Klang, bernama Madrasah Marta’ al-‘Ulum al-Diniyyah. Kira-kira satu dekade selanjutnya, pesantren ini terpaksa ditutup karena kondisi darurat Perang Dunia Kedua. Setelah perang, pesantren dibuka kembali oleh muridnya, H. Abdul Ghani bin. H. Usman.  Kepemimpinan Marta’ al-‘Ulum kemudian beralih ke Sayyid Abdul Aziz al-Syami, lalu ke Syaikh Mahmud al-Bukhari. Sebelum memimpin Marta’ al-‘Ulum, Syaikh Mahmud memimpin pesantren Nurul Iman Seberang selama lima tahun (1922-1927).

Setelah bermukim selama 27 tahun di Selangor, pada 1956, Tengku Mahmud wafat pada usia 80 tahun. Sebagai ulama besar pada zamannya, dia meninggalkan sejumlah karya. Shaghir Abdullah mencatat sembilan kitab buah tangan Tengku Mahmud.

Kitabnya yang di kalangan terbatas cukup terkenal di Jambi berjudul Tazkiyat al-Andzhar wa Tashfiyat al-Afkar. Kitab yang dicetak di Patani ini selesai ditulis pada 27 Muharram 1339 H. Seperti halnya Nurul Huda yang ditulis Guru Hasan bin Anang Yahya dan Risalah Bahjah al-Hidayah yang ditulis Syaikh Abdul Majid bin Abdul Ghaffar, Tazkiyat al-Andzhar merupakan kitab polemis. Melalui kitab ini, Tengku Mahmud mendebat pemikiran “kaum muda” Semenanjung Melayu, terutama gagasan yang dilontarkan oleh Mufti Hasan Wan Musa Kelantan.

Sebagai bentuk awal dari gerakan Wahabi di Nusantara, “kaum muda” di sini agaknya mengacu pada golongan muslim puritan dan modernis sebagaimana yang mula-mula muncul dan berkembang di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan, kemudian juga di Jawa. Di luar Hijaz pun ternyata Tengku Mahmud masih harus menghadapi serangan wacana dari kelompok Wahabi. Dan Tengku Mahmud, seperti halnya Syaikh Ihsan Jampes, K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari, Syaikh Abdul Majid bin Abadul Ghaffar, dan Guru Hasan bin Anang Yahya, melayani serangan wacana tersebut dengan gagah dan tangguh.

Selain menulis kitab polemis, Tengku Mahmud juga mengarang kitab gramatika bahasa Arab, yaitu Janiyat al-Tsamarat fi Ta’rif Ba’dh al-Kalimat dan Tamhid al-Manahij al-Adabiyyah fi I’rab al-Maban al-Ujrumiyyah. Keduanya merupakan syarah al-Jurumiyyah, sebuah kitab sintaksis bahasa Arab yang sangat populer di lingkungan pesantren. Kedua kitab ini barangkali menjadi buku daras di Marta’ al-‘Ulum.

Tengku Mahmud menulis satu kitab syarah lain: Syarah Tajrid al-Shibyan ila Tasywiq al-Bayan. Dicetak di Mekah pada 1932, kitab ini merupakan penjelasan dari kitab yang ditulis Syaikh Ahmad al-Fathani.

Kitab-kitab karya Tengku Mahmud berikutnya adalah al-Faridah al-Saniyyah wa al-Khutbah al-Bahiyyah (kumpulan khutbah Jumat), Tsimar al-Khuthab al-Mahbarah al-Minbariyyah (kumpulan khutbah dan wirid), Pemudahan yang Disayang (fikih perbandingan mazhab), Pegangan yang Terutama pada Sedikit daripada Pangkal Ugama (teologi), dan Dua Khutbah bagi Dua Hari Raya Fitrah dan Adha.

*Penulis alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Sempat menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (tidak selesai). Meminati kajian filsafat, sastra dan sejarah Islam lokal (Jambi).

Catatan:

Tulisan di atas merupakan seri lima ulama Jambi yang pernah mengajar di Mekah. Semuanya termasuk jaringan ulama Nusantara yang cenderung moderat dan neo-sufistik dalam wawasan keagamannya. Mereka adalah Syaikh Abdul Majid Jambi, Syaikh Utsman Tungkal, Guru Hasan bin Anang Yahya, Syaikh Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani, dan Syaikh Abdul Wahid Jambi.

 


Tag : #ulama jambi #sejarah pesantren di jambi #Tengku Mahmud Zuhdi



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui