Selasa, 25 Juni 2019


Jumat, 07 Juni 2019 08:59 WIB

Guru Hasan bin Anang Yahya (1895-1940 M)

Reporter :
Kategori : Jejak

ilustrasi. Pesantren Nurul Iman di Seberang Kota Jambi.

Oleh: Widodo*

Sependek penelusuran saya, ada lima ulama Jambi yang pernah mengajar di Mekah. Semuanya termasuk jaringan ulama Nusantara yang cenderung moderat dan neo-sufistik dalam wawasan keagamannya. Mereka adalah Syaikh Abdul Majid Jambi, Syaikh Utsman Tungkal, Guru Hasan bin Anang Yahya, Syaikh Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani, dan Syaikh Abdul Wahid Jambi. Kali ini, saya mengetengahkan sosok Guru Hasan bin Anang Yahya (1895-1940 M), setelah edisi sebelumnya tentang Syaikh Abdul Majid dan Syaikh Utsman Tungkal.



 

Guru Hasan bin Anang Yahya (1895-1940 M)

Penggalan riwayat hidupnya saat belajar dan mengajar di Mekah, memang menarik. Tapi, jejak langkahnya saat sudah pulang ke Jambi lebih menarik lagi untuk dibicarakan.

Guru Hasan lahir di Kampung Tengah, kawasan Seberang Kota Jambi, pada 1895 M. Dia putra pedagang kitab dan tekstil, Anang Yahya. Menurut Fauzi Bafadhal (2008: 116-117), Guru Hasan adalah keturunan Qadhi Nashruddin, pelopor pendidikan di Kesultanan Jambi abad ke-15. Jika keterangan ini benar, kita dapat mengatakan bahwa sejarah pendidikan Islam di Jambi sama tuanya dengan sejarah pendidikan Islam di Pasai, Barus, Cirebon, Banten, dan Demak, yang semuanya merupakan wilayah pesisir.

Saat berusia sekitar 25 (tahun 1920-an), Guru Hasan merantau ke Mekah untuk mencari ilmu. Tak diketahui pasti di madrasah mana saat itu dia belajar. Namun demikian, sebagai pendatang Melayu, dia secara alamiah tentu berkumpul dengan rekan-rekan sekampung-halamannya. Mereka rata-rata belajar di Madrasah al-Shaulatiyyah. Apakah Guru Hasan belajar di madrasah ini? Harus ada penelitian khusus untuk menjawabnya.

Walaupun belum bisa dipastikan di madarasah mana dia belajar, ada keterangan tentang kepada siapa dia belajar saat di Mekah. Dia berguru kepada Syaikh Muhammad Mukhtar al-Tharid Bogor, Syaikh Muhammad Arsyad Sumbawa, Syaikh Muhammad bin Daud al-Fathani, Syaikh Sa'id al-Yamani, dan Syaikh Abdullah Qasim Senggora.

Kepada para gurunya, secara intensif Guru Hasan belajar selama kira-kira lima tahun. Setelah itu, selama lebih kurang tiga tahun, dia mengajar di Masjidil Haram.

Berbeda dengan Syaikh Utsman Tungkal yang hingga wafatnya bermukim dan mengajar di Mekah, pada usia sekitar 28, Guru Hasan pulang ke kampung halamannya. Berkat reputasinya sebagai syaikh di Masjidil Haram, ketika pulang ke Jambi, Guru Hasan langsung diminta mengajar di Madrasah Nurul Iman yang didirikan dan dikelola para seniornya. Dimulailah babak kedua riwayat hidupnya: sebagai pendidik yang dinamis, kreatif, dan cenderung modern.

Tak perlu waktu lama baginya untuk "magang" di madrasah tersebut. Baru mengajar setahun, Guru Hasan ditunjuk untuk memimpin Madrasah Nurul Iman. Posisi ini memberinya otoritas untuk mengadakan pembaharuan pedagogis di pesantren salafiah yg secara kurikulum tampaknya mengikuti model al-Shaulatiyyah itu.

Guru Hasan mengubah metode evaluasi akhir bagi santri Nurul Iman yang akan lulus. Dia menerapkan metode ujian yang disebut “imtihan waqaf”.

Dalam imtihan waqaf, santri yang mengikuti ujian kelulusan disidang oleh dewan penguji. Dewan penguji ini terdiri dari guru-guru Nurul Iman sendiri dan tokoh-tokoh di luar Nurul Iman. Setiap anggota dewan penguji melontarkan pertanyaan yang harus dijawab oleh santri. Pertanyaan inilah yang dikategorikan sebagai waqaf ilmiah dlm frasa "imtihan waqaf".

Guru saya yang pernah nyantri di Nurul Iman, K.H. Murtadhi Aziz, menceritakan bagaimana suasana imtihan waqaf. Salah seorang tokoh yang mengujinya adalah Abdurrahman Sayoeti, Gubernur Jambi kala itu, putra Guru H.M. Ja'far bin H. Abdul Jalil. Setelah Guru Hasan mengundurkan diri sebagai pemimpin Nurul Iman, pesantren ini dinahkodai oleh Guru Ja'far.

Imtihan waqaf tentu menegangkan dan mendebarkan. Sebab, santri yang bertahun-tahun hidup di enclave pesantren, tak memiliki cukup wawasan tentang kehidupan sosial di luar pesantren. Karena itu, dia tak dapat memprediksi pertanyaan apa yang akan dilontarkan para tokoh. Pertanyaan tersebut boleh jadi bukan masalah keagamaan yang selama ini sudah mereka pelajari di kitab-kitab kuning, melainkan masalah keagamaan aktual yang muncul dan berkembang di masyarakat.

Di sinilah terletak keistimewaan imtihan waqaf sebagai metode evaluasi akhir untuk santri. Guru Hasan mengondisikan dan memaksa santri untuk mendialogkan dan mendialektikakan ilmunya dengan realitas.

Imtihan waqaf, sebagaimana bahtsul masail di pesantren-pesantren salafiah NU, merupakan jembatan yang menghubungkan tradisi keilmuan pesantren dengan perubahan sosial dan modernitas kehidupan. Imtihan waqaf, dengan demikian, menunjukkan kejeniusan Guru Hasan bin Anang Yahya, sekaligus mencerminkan gagasan keislamannya yang modern, tanpa mengabaikan warisan tradisi Sunni.

Guru Hasan selanjutnya bergerak lebih jauh dalam usahanya untuk mereformasi dan mendinamiskan Nurul Iman. Dia memasukkan mata pelajaran umum dalam kurikulum pesantren, antara lain matematika, geografi, dan bahasa Indonesia. Dia pun mulai menerapkan sistem pembelajaran klasikal, sebagai ganti dari sistem pembelajaran bandongan (halaqah) dan sorogan khas pesantren.

Guru Hasan juga mencita-citakan suatu manajemen pendidikan peaantren yang modern dan profesional. Tapi, dia mengeksekusi cita-citanya ini terlalu dini saat para seniornya belum siap menerima gagasannya.

Demi survivalitas dan kontinyuitas pesantrennya, kepada majelis sesepuh Tsamaratul Insan yang menaungi Nurul Iman, Guru Hasan mengajukan usul yang segera menjadi polemik dan menimbulkan perpecahan di kalangan internal Nurul Iman. Dia mengusulkan, para santri harus membayar iuran untuk biaya operasional Nurul Iman, termasuk untuk honor para guru.

Usul Guru Hasan kontan ditolak oleh para kiai senior yang masih memegang teguh nilai keikhlasan. Kebanyakan dari mereka memang adalah sufi yang hidup zuhud.

Maksud Guru Hasan jelas bukan mau merobohkan tata nilai pesantren yang tentu juga dia hayati. Sebagai pendidik, dia berpikir jangka panjang, visioner, dan antisipatoris. Dia melihat tantangan masa depan yang akan dihadapi Nurul Iman khususnya dan Tsamaratul Insan umumnya. Karena itu, dia hendak membangun sistem preventif untuk menjawab tantangan tersebut.

Namun, pemikiran Guru Hasan yang jauh ke depan itu, tak dipahami para sesepuhnya. Kecewa karena usulnya ditolak, Guru Hasan lantas mengundurkan diri sebagai pemimpin Nurul Iman.

Untuk merealisasikan ide pedagogisnya, dibantu keluarga Bafadhal, pada 1937/1938, Guru Hasan mendirikan madrasahnya sendiri, yaitu Madrasah al-Khairiyyah. Lokasinya berada di area pasar Kota Jambi saat ini. Nurul Iman dan al-Khairiyyah dipisahkan oleh Sungai Batanghari.

Melihat tahun berdirinya, Madrasah al-Khairiyyah merupakan madrasah modern pertama di Jambi. Karena itu, Guru Hasan adalah pelopor pendidikan Islam modern di Jambi. Dalam konteks ini, namanya dapat disejajarkan dengan Haji Rasul (Syaikh Abdul Karim Amrullah), K.H. Imam Zarkasyi, Syaikh Ahmad Surkati, dan K.H. Ahmad Dahlan.

Hingga setakat ini, klaim madrasah modern pertama di Jambi dipegang oleh Pesantren As'ad. Padahal, Guru Abdul Qadir baru mendirikan As'ad pada tahun 1950/1951, lebih dari 10 tahun setelah al-Khairiyyah berdiri.

Uniknya, dua madrasah modern ini, al-Khairiyyah dan As'ad, sama-sama pecahan dari Nurul Iman. Sebelum mendirikan As'ad, Guru Abdul Qadir pernah memimpin Nurul Iman sejak 1944 hingga 1948.

Gagasan modernisasi pesantren rupanya sudah lama mendekam di tubuh Nurul Iman. Syaikh Abdus Shomad yang memimpin Tsamaratul Insan, di mana Nurul Iman berafiliasi, ternyata juga memiliki ide-ide modern tetapi dia menyimpannya. Dia tidak terburu-buru merealisasikannya. Dia berlangganan majalah al-Hilal, sebuah berkala ber-content modern yang diterbitkan di Mesir sejak 1892 oleh Jurjy Zaidan.

Syaikh Abdus Shomad, yang adalah Hoofd Penghulu pertama di Jambi, menyatakan bahwa dia belum mengembangkan ide-ide modernnya di Jambi karena masyarakat Jambi belum siap menerima perubahan. "Teori" Syaikh Abdus Shomad ini terbukti benar dengan adanya gejala perpecahan internal di tubuh Nurul Iman yang akhirnya memicu kelahiran dua madrasah modern: As'ad dan al-Khairiyyah.

Di al-Khairiyyah, Guru Hasan bin Anang Yahya leluasa mengembangkan ide-ide modernnya. Al-Khairiyyah masih bertahan hingga sekarang. Kini, ia memiliki tiga jenjang pendidikan: madarasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah. Setelah Guru Hasan meninggal, pengelolaan al-Khairiyyah sepertinya diwariskan kepada keluarga Bafadhal.

Sejauh ini, sebagaimana tergambar dalam paparan di atas, kita baru melihat potret modern dari Guru Hasan bin Anang Yahya. Patut digarisbawahi, di samping berwawasan luas dan berpikiran maju, Guru Hasan adalah sosok penjaga tradisi Sunni yg tangguh dan teguh.

Suatu hari, seorang haji dari Pulau Pandan, Haji Abdul Mutholib, menemui Guru Hasan di Nurul Iman. Mutholib menyodorkan sebuah kitab yang disebarkan golongan Syamsul Huda di Palembang. Setelah menelaah kitab tersebut, Guru Hasan menemukan bahwa kitab tersebut berisi larangan membacakan talqin bagi mayit.

Guru Hasan lantas menulis kitab polemis, berjudul Nurul Huda, untuk meng-counter wacana puritan dan modern itu. Guru Hasan membangun argumentasi, didukung dalil al-Quran, hadis, dan pendapat empat mazhab Sunni, yang menegaskan bahwa hukum membaca talqin bagi mayit adalah sunah (Bafadhal, 2008: 120). Kitab Nurul Huda, yang ditulis dengan bahasa dan aksara Arab Melayu, sudah diterbitkan. Anda dapat menemukannya di Museum Gentala Arasy, Kota Jambi.

Karya Guru Hasan bin Anang Yahya yang lain adalah Taqrib al-'Awwam (fikih), Nail al-Mathlub (astronomi), Ta'lim al-Shibyan (teologi), dan Tamrin al-Lisan (tajwid). Barangkali, Guru Hasan memiliki karya lain yang masih tersimpan dalam bentuk manuskrip.  

*Penulis alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Sempat menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (tidak selesai). Meminati kajian filsafat, sastra dan sejarah Islam lokal (Jambi).


Tag : #pesantren nurul iman seberang #ulama jambi #sejarah islam di jambi



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui