Selasa, 28 Januari 2020


Senin, 03 Juni 2019 09:06 WIB

Toeti Heraty Noerhadi

Reporter :
Kategori : Sosok

Dr. Riwanto Tirtosudarmo. Desain by Jhoni Imron

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Terlahir 27 November 1933, sebagai anak dari Dr. Roeseno Soerjohadikoesoemo, yang dekat dengan Bung Karno karena sama-sama lulusan THS (sekarang ITB), Toeti Heraty Noerhadi, dikaruniai usia yang panjang dan kecukupan materi.



Melihat rekam jejaknya di dunia akademis, bisnis (milik keluarga), kesenian dan masyarakat sipil, usia tampaknya bukan penghalang buat perempuan yang akrab disapa Bu Toeti ini. Jejaknya tidak mungkin terhapus karena telah menyentuh begitu banyak orang dan kalangan. 

Bu Toeti jauh lebih tua dari generasi Goenawan Mohamad dan Arief Budiman, yang meskipun masih beruntung merasakan zaman Bung Karno, namun tidak bisa dibandingkan dengan Bu Toeti yang pasti mengenal Bung Karno sejak proklamasi kemerdekaan dan masa kejayaannya.

Perempuan yang juga penyair ini boleh dikata tergolong orang langka hari ini, karena mewakili generasi pasca kemerdekaan yang menguasai bahasa Belanda dengan sangat fasih dan mencerap dengan baik pendidikan barat.

Bu Toeti, perempuan yang telah terliberasi, tidak hanya beruntung karena hidupnya  selalu dekat dengan gravitasi kekuasaan, tetapi memilih terlibat dan dengan caranya sendiri ikut menentukan arah kekuasaan. Tidak banyak orang yang dikaruniai sumberdaya kultural yang melimpah dan mau terlibat dalam gerakan untuk mengubah masyarakat.

Ketika Suharto mulai menunjukkan tanda-tanda keruntuhan, Bu Toeti menyediakan rumah dan sekaligus galerinya di Menteng untuk rapat membentuk MARA (Majelis Rakyat) yang kemudian menjelma menjadi PAN (Partai Amanat Nasional). Konon, Goenawan Mohamad dan Amin Rais di antara yang ikut hadir dalam rapat itu.

Ket: Toeti Heraty ketika berusia 38 tahun. Sumber: majalah.tempo.co

Mungkin di masa Ali Sadikin sebagai gubernur Jakarta di awal Orde-Baru inilah renaissancekesenian Indonesia terjadi dan Taman Ismail Marzuki (TIM) adalah kiblatnya. Pada tahun 70-an ini bisa kita saksikan tampilnya WS. Rendra, Arifin C. Noer, Teguh Karya, Sardono W. Kusumo, Jack Lesmana, Syumanjaya, D. Djajakusuma, Ami Prijono, Nashar, Srihadi Soedarsono.

Dalam masa penuh kreatifitas itu, Bu Toeti ada di dalamnya, terlibat dan ikut memberi arah. Yang menarik dari Bu Toeti, ketika musim berganti di ujung Orde-Baru, Bu Toeti pun ada di sana. Membidani, mendorong dan mengarahkan gerak perubahan yang terjadi.

Riwayat pendidikannya memperlihatkan minatnya pada soal manusia dan kebudayaan, Sebelum menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Psikologi UI (1955-1962), sempat kuliah di Fakultas Kedokteran UI (sarjana muda, 1991-1955). Di Fakultas Psikologi UI, yang didirikan oleh Prof. Slamet Iman Santoso, seorang psikiater, tahun 1952, mungkin Bu Toeti seangkatan dengan Pak Fuad Hasaan dan Bu Saparinah Sadli – yang berturut menggantikan Prof. Slamet Imam Santoso sebagai Dekan F. Psikologi UI.

Adalah Prof. Slamet Imam Santoso – yang mengundang Prof. Beerling, seorang ahli filsafat Belanda, untuk mengajar filsafat di F. Psikologi UI, sebelum kemudian diganti oleh Romo Driyarkara. Terbukti filsafat kemudian menjadi bidang keahlian Bu Toeti, setelah kemudian mendapatkan gelar master bidang filsafat di Rijks Universiteit, Leiden (1974), dan menuntaskan studi doktornya di Universitas Indonesia (1979) dengan pembimbing Prof. Dr. C.A. van Peursen melalui disertasi yang kemudian terbit sebagai buku dengan judul “Aku dalam Budaya” (Pustaka Jaya, 1980).

Ketika di UI dibuka jurusan filsafat, dan kemudian menjadi Fakultas Filsafat, Bu Toeti-lah yang ikut membidani dan kemudian mengetuainya (1991-2000). Pada tahun 1994, Bu Toeti mengikuti jejak sebagaimana ayahnya, dikukuhkan menjadi guru besar luar biasa pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Capaian itu tak membuatnya berhenti, sehingga dua tahun setelahnya, Bu Toeti ikut memprakarai terbitnya Jurnal Perempuan (1996), tanpa kegenitan dan tanpa perlu mendeklarasikan diri, Bu Toeti dari sononya pastilah seorang feminis.

Ket: Prof. Toeti Heraty Noerhadi (1933-sekarang)

Bu Toeti bisa dibilang sebagai "orang lama" yang hidup di "alam baru". Sebagai "orang lama" dia bisa bercerita tentang intektual publik zaman itu: Sutan Takdir Alisahbana (STA), Soedjatmoko, Mochtar Lubis, HB Jassin, Umar Kayam, mungkin juga Natsir dan Buya Hamka. Ketika peralihan zaman terjadi, saya kira Bu Toeti bersama para intelektual zaman itu menjadi penasehat Ali Sadikin yang giat membangun pusat kesenian sekaligus membentuk Dewan Kesenian Jakarta (menjadi Ketua pada 1982-1985) dan Institut Kesenian Jakarta (sebagai rektor periode 1990-1996).

Selain malang melintang di dunia kepenyairan dengan menerbitkan sejumlah buku puisi serta terlibat di beberapa festival internasional, di antaranya, Festival Penyair International di Rotterdam (1981) dan International Writing Program di Universitas Iowa, Iowa City (1984), pendidikan kesenian di IKJ dan filsafat di Universitas Indonesia; tercatat menjadi tempat Bu Toeti menyemai intelektual-intelektual publik Indonesia baru, Seno Gumira Ajidarma dan Karlina Supelli; bisa disebut sebagai contoh yang saat ini menonjol.

 

*Peneliti. Karya tulis Dr. Riwanto Tirtosudarmo terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah (nasional-internasional), dan tulisan populer di media cetak dan online. Seri intelektual publik terbit saban Senin. 


Tag : #jurnal perempuan #filusuf toeti heraty #aku dalam budaya #DKJ #IKJ #intelektual publik



Berita Terbaru

 

Senin, 27 Januari 2020 16:41 WIB

Fachrori Ingatkan Perusahaan Utamakan K3 Bagi Pekerja


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, bertindak sebagai Inspektur Upacara peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tahun

 

Senin, 27 Januari 2020 15:01 WIB

Cabuli Anak Tiri, Warga Tanjung Marwo Diciduk Polisi


Kajanglako.com, Batanghari - IS (27), warga RT 02 Desa Tanjung Marwo kecamatan Muara Tembesi terpaksa meringkuk di jeruji besi sel tahanan Polres Batanghari.

 

Senin, 27 Januari 2020 14:50 WIB

Mantap..! Merangin Wakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Thailand


Kajanglako.com, Merangin - Kabupaten Merangin akan mewakili Indonesia di Festival Kebudayaan Melayu Asean di Kota Yala Thailand pada 7-9 Februari 2020

 

Senin, 27 Januari 2020 14:37 WIB

Aksi Warga 12 Desa Kecamatan Mandiangin di Kantor Bupati Berakhir, Warga Akan Langsung Duduki Lahan


Kajanglako.com, Sarolangun - Puluhan warga dari 12 desa di Kecematan Mandiangin yang berdemo di kantor Bupati Sarolangun menuntut PT AAS mengambil lahan

 

Senin, 27 Januari 2020 14:25 WIB

Tinjau Pencarian Korban Tenggelam, Al Haris Ingatkan Orang Tua Agar Awasi Anak


Kajanglako.com, Merangin - Bupati Merangin,  Al Haris, meninjau pencarian korban hanyut di sungai Merangin wilayah Pulau Rayo, Kelurahan Dusun Bangko,