Selasa, 25 Juni 2019


Minggu, 02 Juni 2019 16:23 WIB

Syaikh Abdul Majid Jambi

Reporter :
Kategori : Jejak

ilustrasi. pemuka agama di muara kumpeh ilir 1914-1921. sumber: Tropenmuseum

Oleh: Widodo*

Sependek penelusuran saya, ada lima ulama Jambi yang pernah mengajar di Mekah. Semuanya termasuk jaringan ulama Nusantara yang cenderung moderat dan neo-sufistik dalam wawasan keagamannya. Mereka adalah Syaikh Abdul Majid Jambi, Syaikh Utsman Tungkal, Guru Hasan bin Anang Yahya, Syaikh Tengku Mahmud Zuhdi al-Fathani, dan Syaikh Abdul Wahid Jambi.



(1) Syaikh Abdul Majid

Sebagai kolega intelektual Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Abdul Majid juga mengambil sikap konfrontatif terhadap kolonialisme Belanda. Dia adalah penasihat Sultan Thaha Syaifuddin, panglima tertinggi (Senapati ing Alogo) rakyat Jambi saat berperang melawan Belanda. Belanda menamai perlawanan ini sebagai “Perang Jambi".

Sultan Taha mengutus Syaikh Abdul Majid untuk meminta bantuan kepada Kekhalifahan Turki Usmani. Misi tersebut gagal. Turki Usmani enggan membantu Kesultanan Jambi.

Dalam disertasinya, Sejarah Sosial Pendidikan Islam di Jambi: Studi Terhadap Madrasah Nurul Iman, Fauzi MO Bafadhal mengisahkan bahwa Syaikh Abdul Majid dihalang-halangi Belanda saat hendak pulang ke Jambi. Dia tertahan di Batu Pahat, Malaysia, lalu kembali ke Mekah dan bermukim di sana. Syaikh Abdul Majid mengajar di serambi Masjidil Haram.

Putranya, Guru Haji Ibrahim kemudian berangkat ke Mekah. Dia belajar langsung kepada Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau. Didikan dari Syaikh Ahmad Khatib, di samping pula didikan dari ayahnya, meradikalkan sikap Guru Haji Ibrahim terhadap Belanda.

Saya perlu mengulas sedikit biografi Guru Haji Ibrahim untuk menerangkan sikap konfrontatif Syaikh Abdul Majid terhadap Belanda. Kepada santri-santrinya, Syaikh Abdul Majid memberikan pesan khusus terkait pandangan antikolonialnya.

Sudah bukan zamannya melawan Belanda dengan senjata seperti yang dijalankan Sultan Taha dan tentaranya, juga seperti yang diperjuangkan laskar rakyat Jambi yang tergabung dlm Sarekat Islam/Sarekat Abang. Hal itu tak efektif.

Perlu strategi baru untuk melawan Belanda, yaitu melalui jalur pendidikan. Rakyat Jambi harus dicerdaskan melalui pendidikan. Bila telah terdidik, mereka dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Kecerdasan, kesadaran, dan kekritisan tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan semangat juang rakyat Jambi menentang Belanda (Bafadhal, 2008: 103).

Rampung belajar di Mekah, para santri Syaikh Abdul Majid pulang ke Jambi. Dipimpin Syaikh Abdush Shomad, mereka mendirikan organisasi Perukunan Tsamaratul Insan. Organisasi ini mirip seperti Nahdhatul Wathan di Lombok dan NU di Jawa.

Didampingi Syaikh Datuk Abdul Kafi yang lebih banyak berperan sebagai pemimbing spiritual, Perukunan Tsamaratul Islam mendirikan empat pesantren tua di Jambi, yaitu Nurul Iman, Nurul Islam, Sa'adatuddarain, dan Jauharain. Lokasinya di kawasan Seberang Kota Jambi, berhadapan langsung—dalam jarak yang cukup jauh—dengan benteng Belanda.

Itu artinya, sama seperti jejaring pesantren di Buntet (Jawa Barat) dan di Mlangi (Yogyakarta), jejaring pesantren di Seberang dalam sejarahnya menjadi markas “tentara intelektual” muslim pribumi yang sengaja dikader untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Itulah sebabnya, hingga kini pesantren di Seberang masih mengajarkan kitab tauhid dan tasawuf yang ditulis Syaikh Nawawi Banten.

Syaikh Nawawi secara halus diusir Belanda dari kampung halamannya karena dituduh memprovokasi rakyat Banten untuk melakukan pemberontakan terhadap Belanda. Syaikh Nawawi kemudian hijrah ke Mekah. Hingga wafatnya, dia tinggal di Mekah dan mengajar di Masjidil Haram.

Beberapa santri Syaikh Nawawi adalah tokoh kunci dalam peristiwa Geger Cilegon. Oleh sejarawan Sartono Kartodirdjo, peristiwa ini disebut "pemberontakan petani Banten 1888".

Dari uraian yang cukup melebar di atas, tergambar jelas di mana posisi Syaikh Abdul Majid dalam peta resistensi antikolonial ulama Nusantara pada paruh pertama abad ke-20. Syaikh Abdul Majid tak sekadar guru agama yang mengajar di Mekah. Lebih dari itu, dia adalah pahlawan kemerdekaan yang namanya tak tercatat dalam kitab sejarah perjuangan kebangsaan Indonesia.

Selama hidupnya, apakah Syaikh Abdul Majid menulis kitab? Belum bisa dipastikan. Muhamad Rosadi, dalam artikelnya yang berjudul Menelusuri Kitab Karya Ulama Pondok Pesantren di Provinsi Jambi (2014), memang menyatakan bahwa ada ulama Jambi bernama Syaikh Abdul Majid yang menulis sejumlah kitab. 

Tapi, Syaikh Abdul Majid yang dia sebutkan bukanlah Syaikh Abdul Majid yang sedang kita bicarakan. Kita sedang membicarakan Syaikh Abdul Majid bin Muhammad Yusuf. Sementara itu, yang ditulis Rosadi adalah Syaikh Abdul Majid bin Abdul Ghaffar. Di Jambi, ada satu lagi Abdul Majid lain yang juga merupakan tokoh ulama lokal, ialah Syaikh Abdul Majid bin Abul Hasan. Pada 1944, Guru H.M. Ja’far bin Abdul Jalil diangkat menjadi Hoofd Penghulu Jambi, menggantikan posisi Syaikh Abdul Majid bin Abul Hasan.

*Penulis alumnus Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Meminati kajian filsafat, sastra dan sejarah Islam lokal (Jambi).

 

Sumber rujukan:

Azyumardi Azra. "Ulama Indonesia di Haramayn: Pasang Surut Sebuah Wacana Intelektual-Keagamaan. Jurnal Ulumul Quran, hlm. 76-85. Edisi dan tahun, tak terlacak.

Fauzi MO Bafadhal. 2008. Sejarah Sosial Pendidikan Islam di Jambi: Studi Terhadap Masalah Nurul Iman. Disertasi. UIN Syarif Hidayatullah.

Muhammad Rosadi. 2014. Menelusuri Kitab Karya Ulama Pondok Pesantren di Provinsi Jambi. Jurnal Bimantara, vol. 5 No. 2, Oktober 2014.


Tag : #ulama jambi #Madrasah Nurul Iman Ulu Gedong #Seberang Jambi



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui