Selasa, 25 Juni 2019


Sabtu, 01 Juni 2019 06:09 WIB

Perpindahan Talauk dari Soengei Aboe ke Sarik

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sebuah jembatan terbentang di atas Soengei Aboe. Atap ijuk yang menaungi jembatan itu sangat rendah sehingga orang yang berkuda menyeberanginya terpaksa membungkukkan badan. Di seberang, sawah-sawah tampak menghijau. Rumah-rumah di negari ini tersebar di antara Soengei Aboe dan Soengei Kaloeang.



Di Soengei Aboe terdapat beberapa dusun yang masing-masing memiliki nama tersendiri yang khas. Soengei Betarah dinamakan demikian karena letaknya di dekat sungai kecil yang mengalir masuk ke Soengei Aboe dari sebelah kanan. Tujuh buah rumah terdapat di dusun kecil ini, sedang di Talauk, hanya ada sebuah rumah saja. Teratak Baroe memiliki lima buah rumah. Mereka menginap di salah satu di antara empat buah rumah di Boeah Tabieng. Dusun kecil ini juga memiliki sebuah surau dan sebuah balai. Soengei Kaloeang memiliki 10 buah rumah biasa, tiga buah pondok yang lebih kecil dan dua buah surau. Semua bangunan itu tampak agak tidak terawat.

Di Boeah Tabieng, tempat mereka menginap, sebuah pohon koebang yang besar dulu meneduhkan ‘tampat galanggang’, yaitu tempat diadakannya sabung ayam. Gelanggang itu tampak seperti panggung yang dibuat dari tanah yang ditinggikan dan tertutup bebatuan. Tetapi kini, pohon itu sudah mati; batangnya yang membusuk sudah tumbang dan tampat galanggang itu sudah tertutup oleh semak-belukar.  

Di dusun itu, mereka lama sekali menunggu dan memanggil-manggil. Hanya sepi yang menjawab. Akhirnya, muncul seorang laki-laki yang menunjukkan rumah yang dapat diinapi. Rumah itu rumah yang sementara sedang kosong dan telah dibersihkan ala kadarnya.

Rumah itu terbagi menjadi dua bagian. Di dalam terdapat dua kamar yang panjang dan sempit dengan pintu-pintu di bagian depannya. Sinar matahari dan angin sepoi masuk melalui jendela-jendela yang besar. Plafon rumah itu menghitam oleh asap dan kayu yang banyak tersentuh oleh tubuh penghuni sebelumnya mengkilat dan halus seperti kayu eboni.

Semakin lama semakin banyak orang berdatangan. Sebagian besar berdiri atau duduk di depan rumah. Beberapa orang bahkan masuk ke dalam rumah untuk menonton sosok-sosok berkulit putih itu. Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka bertanya: Ada apa? Mengapa datang ke dusun ini? Dan setelah mereka mendengar penjelasan mengenai tujuan penjelajahan itu dan rencana perjalanan selanjutnya, tanpa sungkan-sungkan mereka memberikan saran, kritik dan komentar tentang segala-sesuatunya. Orang-orang yang tidak berani masuk ke dalam rumah, memanjat pohon supaya dapat menonton dengan lebih baik.

Tak ada yang dapat dilakukan untuk menghadapi rasa ingin tahu yang besar seperti ini kecuali diam saja. Memindah-mindahkan barang atau membuka peti perbekalan atau menggantung pakaian akan membuat mereka semakin bersemangat menonton! Setelah satu jam menjadi tontonan, akhirnya satu per satu, orang-orang itu pergi. Setelah rumah itu kembali sepi, barulah van Hasselt, Veth dan seluruh tim penjelajahan dapat beristirahat.

Alam di sekitar rumah itu menyejukkan mata. Rumah itu dikelilingi hutan dengan pepohonan yang tak terlalu dekat. Tanah lapang di depan rumah itu dikelilingi oleh semak-semak rendah. Segala sesuatunya menghijau. Karena daerah itu terletak di dataran yang lebih rendah daripada Alahan Pandjang, suhu udara terasa sangat panas.

Selain bercocok-tanam padi, warga Soengei Aboe menambang. Di daerah ini banyak diketemukan emas yang kualitasnya tidak sebaik emas di daerah Soepajang. Timbal juga diketemukan di sini, walau penelitian CJ Schelle (ahli pertambangan) menunjukkan bahwa jumlahnya tidak terlalu banyak.

Dalam uraian sebelumnya, Talauk dicatat sebagai daerah yang termasuk dalam wilayah Soengei Aboe. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Selama 10 tahun, Talauk tercakup di dalam wilayah Soengei Aboe. Akan tetapi sekitar enam bulan sebelum kedatangan tim penjelajahan itu, Talauk dipisahkan dari Soengei Aboe. Kini dusun itu tercakup dalam wilayah Sarik, sesuai dengan pembagian wilayah menurut adat.

Perubahan wilayah itu terjadi ketika Pakih Soetan, seorang lelaki Talauk, diangkat sebagai penghoeloe kapala Soengei Aboe. Ia menggantikan penghoeloe kapala sebelumnya yang meninggal dunia ketika sedang naik haji di Mekkah.

Pengangkatannya tidak disetujui oleh warga Soengei Aboe. Mereka menolak mengakui Pakih Soetan sebagai penghoeloe kapala. Karena itu, pemerintah Hindia-Belanda lalu mengangkat Malim Moelia (yang berasal dari Soengei Betarah) menjadi penghoeloe kapala, sedang Pakih Soetan diangkat menjadi Mantri Kopi.

Pengangkatan Malim Moelia menjadi penghoeloe kapala memuaskan hati warga Soengei Aboe. Akan tetapi kini, bergantian, warga Talauk-lah yang menolak penghoeloe kapala itu! Menghadapi penolakan itu, pemerintah Hindia-Belanda tidak lagi mengangkat penghoeloe kapala yang ketiga. Mereka memutuskan untuk memisahkan Talauk dari Soengei Aboe dan menggabungkannya dengan Sarik.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah #Pakih Sutan



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui