Jumat, 23 Agustus 2019


Sabtu, 01 Juni 2019 06:09 WIB

Perpindahan Talauk dari Soengei Aboe ke Sarik

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Sebuah jembatan terbentang di atas Soengei Aboe. Atap ijuk yang menaungi jembatan itu sangat rendah sehingga orang yang berkuda menyeberanginya terpaksa membungkukkan badan. Di seberang, sawah-sawah tampak menghijau. Rumah-rumah di negari ini tersebar di antara Soengei Aboe dan Soengei Kaloeang.



Di Soengei Aboe terdapat beberapa dusun yang masing-masing memiliki nama tersendiri yang khas. Soengei Betarah dinamakan demikian karena letaknya di dekat sungai kecil yang mengalir masuk ke Soengei Aboe dari sebelah kanan. Tujuh buah rumah terdapat di dusun kecil ini, sedang di Talauk, hanya ada sebuah rumah saja. Teratak Baroe memiliki lima buah rumah. Mereka menginap di salah satu di antara empat buah rumah di Boeah Tabieng. Dusun kecil ini juga memiliki sebuah surau dan sebuah balai. Soengei Kaloeang memiliki 10 buah rumah biasa, tiga buah pondok yang lebih kecil dan dua buah surau. Semua bangunan itu tampak agak tidak terawat.

Di Boeah Tabieng, tempat mereka menginap, sebuah pohon koebang yang besar dulu meneduhkan ‘tampat galanggang’, yaitu tempat diadakannya sabung ayam. Gelanggang itu tampak seperti panggung yang dibuat dari tanah yang ditinggikan dan tertutup bebatuan. Tetapi kini, pohon itu sudah mati; batangnya yang membusuk sudah tumbang dan tampat galanggang itu sudah tertutup oleh semak-belukar.  

Di dusun itu, mereka lama sekali menunggu dan memanggil-manggil. Hanya sepi yang menjawab. Akhirnya, muncul seorang laki-laki yang menunjukkan rumah yang dapat diinapi. Rumah itu rumah yang sementara sedang kosong dan telah dibersihkan ala kadarnya.

Rumah itu terbagi menjadi dua bagian. Di dalam terdapat dua kamar yang panjang dan sempit dengan pintu-pintu di bagian depannya. Sinar matahari dan angin sepoi masuk melalui jendela-jendela yang besar. Plafon rumah itu menghitam oleh asap dan kayu yang banyak tersentuh oleh tubuh penghuni sebelumnya mengkilat dan halus seperti kayu eboni.

Semakin lama semakin banyak orang berdatangan. Sebagian besar berdiri atau duduk di depan rumah. Beberapa orang bahkan masuk ke dalam rumah untuk menonton sosok-sosok berkulit putih itu. Dengan penuh rasa ingin tahu, mereka bertanya: Ada apa? Mengapa datang ke dusun ini? Dan setelah mereka mendengar penjelasan mengenai tujuan penjelajahan itu dan rencana perjalanan selanjutnya, tanpa sungkan-sungkan mereka memberikan saran, kritik dan komentar tentang segala-sesuatunya. Orang-orang yang tidak berani masuk ke dalam rumah, memanjat pohon supaya dapat menonton dengan lebih baik.

Tak ada yang dapat dilakukan untuk menghadapi rasa ingin tahu yang besar seperti ini kecuali diam saja. Memindah-mindahkan barang atau membuka peti perbekalan atau menggantung pakaian akan membuat mereka semakin bersemangat menonton! Setelah satu jam menjadi tontonan, akhirnya satu per satu, orang-orang itu pergi. Setelah rumah itu kembali sepi, barulah van Hasselt, Veth dan seluruh tim penjelajahan dapat beristirahat.

Alam di sekitar rumah itu menyejukkan mata. Rumah itu dikelilingi hutan dengan pepohonan yang tak terlalu dekat. Tanah lapang di depan rumah itu dikelilingi oleh semak-semak rendah. Segala sesuatunya menghijau. Karena daerah itu terletak di dataran yang lebih rendah daripada Alahan Pandjang, suhu udara terasa sangat panas.

Selain bercocok-tanam padi, warga Soengei Aboe menambang. Di daerah ini banyak diketemukan emas yang kualitasnya tidak sebaik emas di daerah Soepajang. Timbal juga diketemukan di sini, walau penelitian CJ Schelle (ahli pertambangan) menunjukkan bahwa jumlahnya tidak terlalu banyak.

Dalam uraian sebelumnya, Talauk dicatat sebagai daerah yang termasuk dalam wilayah Soengei Aboe. Hal ini tidak sepenuhnya benar. Selama 10 tahun, Talauk tercakup di dalam wilayah Soengei Aboe. Akan tetapi sekitar enam bulan sebelum kedatangan tim penjelajahan itu, Talauk dipisahkan dari Soengei Aboe. Kini dusun itu tercakup dalam wilayah Sarik, sesuai dengan pembagian wilayah menurut adat.

Perubahan wilayah itu terjadi ketika Pakih Soetan, seorang lelaki Talauk, diangkat sebagai penghoeloe kapala Soengei Aboe. Ia menggantikan penghoeloe kapala sebelumnya yang meninggal dunia ketika sedang naik haji di Mekkah.

Pengangkatannya tidak disetujui oleh warga Soengei Aboe. Mereka menolak mengakui Pakih Soetan sebagai penghoeloe kapala. Karena itu, pemerintah Hindia-Belanda lalu mengangkat Malim Moelia (yang berasal dari Soengei Betarah) menjadi penghoeloe kapala, sedang Pakih Soetan diangkat menjadi Mantri Kopi.

Pengangkatan Malim Moelia menjadi penghoeloe kapala memuaskan hati warga Soengei Aboe. Akan tetapi kini, bergantian, warga Talauk-lah yang menolak penghoeloe kapala itu! Menghadapi penolakan itu, pemerintah Hindia-Belanda tidak lagi mengangkat penghoeloe kapala yang ketiga. Mereka memutuskan untuk memisahkan Talauk dari Soengei Aboe dan menggabungkannya dengan Sarik.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah #Pakih Sutan



Berita Terbaru

 

Warisan Budaya Tak Benda Indonesia
Kamis, 22 Agustus 2019 15:43 WIB

10 Karya Budaya Jambi Ditetapkan sebagai WBTB Indonesia 2019


Kajanglako.com: Sidang Tim Ahli Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia yang berlangsung pada 13 hingga 16 Agutus 2019, di Hotel Millenium, Jakarta,

 

Jemaah Haji
Kamis, 22 Agustus 2019 13:58 WIB

Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal


Dua Jamaah Haji Merangin Dipulangkan Lebih Awal Kajanglako.com, Merangin- Dua orang jemaah haji Kabupaten Merangin dipulangkan lebih awal dari rombongan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 12:49 WIB

Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin


Kinerja Empat OPD Ini Diaudit Inspektorat Merangin Kajanglako.com, Merangin - Inspektorat Merangin mengaudit kinerja empat Organisasi Perangkat Daerah

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:57 WIB

Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH Taman Angrek Jadi Tempat Mesum


Delapan Bulan Terbangkalai, Warga Khawatirkan RTH taman Angrek Jadi Tempat Mesum Kajanglako.com, Kota Jambi - Progres Pembangunan Jembatan Pedestrian dan

 

Kamis, 22 Agustus 2019 11:42 WIB

Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar


Pemilihan BPD Dusun Empelu Ricuh, Surat Suara Dibakar Kajanglako.com, Bungo - Pemilihan Badan Permusyaratan Dusun (BPD ) di Dusun Empelu Kecamatan Tanah