Selasa, 25 Juni 2019


Kamis, 30 Mei 2019 13:40 WIB

VPN dan Hancurnya Generasi Lanjutan

Reporter :
Kategori : Sudut

ilustrasi

Oleh: Jon Afrizal*

Gegap gempita Pesta Demokrasi 2019, terutama di jaga maya, membuat pemerintah harus tertindak tegas. Yakni men-shut down lalu lintas media sosial (medsos) sejenis layanan WhatsApp, Tweeter, Instagram terutama Facebook.



Pada tanggal 23 hingga 25 Mei, teramat sulit untuk mengakses layanan medsos itu bagi penggunanya. Tetapi, setiap orang sepertinya bergantung sepenuhnya kepada layanan medsos, baik untuk mencari informasi hingga ke hal-hal yang tidak begitu penting, seperti bercanda gurau, misalnya.

Satu atau dua orang yang lebih "melek" internet pun memberikan solusi kepada yang kurang memahami. Yup, gunakan saja Vitual Private Network (VPN) agar anda tetap nyaman berselancar di internet.

Maka berbagai jenis aplikasi VPN pun segera dilirik banyak orang untuk diunduh. Semua orang -- terhitung mulai dari usia remaja hingga yang bangkotan pun akhirnya kembali eksis di medsos berkat VPN.

Kekacauan ini, bagi yang mengerti, sepertinya harus segera ditindak. Pemerintah, di berbagai media informasi, meminta maaf kepada publik atas terganggunya kenyamanan mereka untuk ber-medsos.

Sekaligus, himbauan untuk tidak menggunakan VPN. Maka, whuzz, layanan internet tidak shut down lagi.

Sayangnya, berbagai jenis aplikasi VPN telah ter-install di banyak smartphone. Seperti yang ku katakan, semua orang.

For God Shake's. Pada hari-hari kelabu gangguan layanan medsos, aku memilih tidak menggunakan VPN, untuk alasan yang jelas. Sehingga, untuk update status di WhatsApp pun selalu tertulis "can't not send" selama beberapa hari.

Malam itu, seperti biasa, ketika sedang nongkrong di warung kopi, tetiba keluar keluh kesah dari mulutku. Sure, seorang remaja di sebelahku dengan arif dan bijaksana berkata, "Pake VPN aja, om."

Bam! Jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku pun berkata, "Tidak, biarlah. Aku bersabar saja hingga layanan internet membaik."

Tidak begitu canggih ilmu internet yang ku miliki. Tetapi tidak lah juga seperti "manusia gua". Anda bisa bayangkan sendiri apa yang bisa anda "raih" dengan menggunakan VPN.

Seperti namanya, VPN tentunya sangat bersifat pribadi bagi penggunanya. Ada banyak tamatan sekolah tinggi ilmu komputer di kota ini. Tentu penjelasannya lebih patent dari penjabaranku ini.

Sedikit informasi, dengan menggunakan VPN maka anda dapat melongok ke situs berkonten apa saja tanpa perlu capek-capek mencari password, jika laman-nya diberi gembok. Ingat, apa saja.

Seterusnya, pengguna gawai tidaklah hanya aku yang telah berusia dewasa saja. Tetapi juga tiga orang keponakanku yang berada di bangku SD, SMA dan perguruan tinggi.

Untuk si kecil yang masih duduk di bangku SD, tentunya hanya bisa menggunakan gadget-ku berdasarkan pengawasan yang teramat ketat dari aku, jika ia sedang bersamaku.

Tetapi, tidak untuk kedua keponakanku yang lainnya. Para guru dan dosen mereka, entah atas dasar apa, telah memperkenalkan penggunaan internet kepada mereka sejak duduk di bangku SMP.

Sejak saat itu, mereka pun memiliki gadget yang harganya lebih mahal dan teknologinya lebih canggih dari milikku. Sebab, berbagai tugas sekolah harus bertumpu pada internet.

Kembali kita pada situasi "chaos" tadi. Tepat sehari setelah layanan medsos membaik, aku secara iseng ngobrol dengan mereka berdua. Tentunya, bercerita remeh temeh soal medsos.

Oh My God, ternyata mereka berdua telah meng-install aplikasi VPN! What am I gonna do? Nothing!

Entah dari mana ilmu itu mereka dapat, yang jelas aplikasi itu telah berada di ponsel mereka. Katanya, untuk membantu agar tetap dapat mengakses layanan medsos di hari-hari kelabu itu.

Aku hanya bisa tercenung, memikirkan sebuah nama: VPN. Jika pun ku un-install aplikasi itu dari smartphone milik mereka, toh mereka juga bisa mengunduh aplikasi sejenis di play store masing-masing.

Mungkin saja, pada awalnya mereka tidak mengetahui "keuntungan" penggunaan aplikasi VPN. Tetapi, coba bayangkan diri anda sendiri. Anda begitu suka mengotak atik berbagai jenis aplikasi di ponsel masing-masing. Yup, kita semua adalah hacker.

Jika saja, kedua keponakanku ini bertindak demikian, mereka mengotak atik aplikasi VPN masing-masing, tentunya dengan modifikasi di sana sini, bukan lah tidak mungkin mereka dapat berkunjung ke laman laman yang tabu bahkan menurut orang western sekalipun. Wow, mereka berdua berubah menjadi cracker.

Tidak ada satu pun yang dapat ku lakukan saat ini. Melainkan merenung dampak lanjutan dari aplikasi VPN yang telah ter-install itu.

"Anda terlalu berlebihan," begitulah banyak orang di kota ini bicara. Yah, tentu saja, karena aku tidak bisa mengawasi penggunaan internet bagi keponakanku selama 24 jam setiap hari.

Seperti biasa, dianggap tidak nyata. Seperti biasa, jika semua telah terjadi, kita akan terpekur menyesali diri kenapa tidak bisa bertindak mencegahnya.

* Jurnalis TheJakartaPost dan anggota Majelis Etik (ME) AJI Kota Jambi


Tag : #media sosial #era digital #VPN



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui