Selasa, 25 Juni 2019


Rabu, 29 Mei 2019 17:03 WIB

Motif Batik Diplagiasi, Zainul Bahri: Kami Butuh Dilindungi, Bukan Dikhianati

Reporter :
Kategori : Sosok

Zainul Bahri. Dok. Pribadi

Oleh: Jumardi Putra*

“Mengapa kami pencipta seni harus didholimi. Kami butuh dilindungi bukan dikhianati. Seluruh hidup kami berjihad untuk seni dan budaya Nusantara. Apa yang kami perbuat di sisa hidup ini hanya sebutir debu yang tidak berarti.”



Kekhawatiran saya nyatanya terjadi. Hanya berselang satu bulan setelah perjumpaan kami di rumahnya, yang berlokasi di kampung Danau Sipin, Kelurahan Legok, Kecamatan Danau Sipin, Kota Jambi. Apa pasal?

Canting cap batik bermotif Ikan Botia dan Ikan Ringo karya perajin batik senior Jambi, Zainul Bahri, dijiplak dan diperjual-belikan oleh seseorang di Pekalongan tanpa restu darinya. 

Sontak kabar ini menjadi buah bibir di kalangan seniman dan penyuka batik tanah air, setelah pria yang akrab disapa Datuk Zainul ini menyebarluaskannya di dinding facebook (26/4/19) pribadinya, sebagaimana kalimat pembuka tulisan di atas dengan disertai foto canting cap batik yang dimaksud.

Umumnya nitizen mensesalkan praktek plagisasi sekaligus menyarankan Datuk menempuh jalur hukum dan segera mendaftarkan seluruh kaya motif batik miliknya ke Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Depkumham daerah setempat. 

Ket: Canting cap batik karya Zainul Bahri yang diplagiasi dan diperjual belikan tanpa seizin dirinya. DOk. Pribadi

Peristiwa di penghujung April ini sejatinya mengulang kembali kejadian awal April (6/4/19), yakni desain motif batik Bungo Sekat dan Incung Beruk miliknya dijiplak oleh kompetitor sesama perajin batik dan dipasarkan secara bebas di toko-toko batik. Zainul masygul. 

Inikah kali terakhir plagiasi terhadap motif karya pembatik yang senantiasa memakai lacak di kepalanya ini? Barangkali mengenali sepak terjang Datuk Zainul Bahri di jalan seni batik, salah satu cara kita menyibak tabir laju batik di Jambi sekarang ini.

*** 

Zainul Bahri bukanlah nama asing di kalangan perajin batik. Pria kelahiran 27 Mei 1960 ini mengakrabi batik Jambi dimulai sejak dirinya masih duduk di bangku Sekolah Dasar dengan mengikuti jejak sang nenek.

Namun sejak 1996 Datuk Zainul mulai merintis usaha sendiri dengan bendera Bahri Batik, dan namanya terus moncer melalui karya-karya batik berbahan dasar alami, berupa kulit kayu dan daun-daunan.   

Meski tak lagi muda, bapak beranak dua ini masih aktif mengikuti pelbagai iven pameran batik, seperti baru-baru ini INACRAFT 24-28 April 2019 dan Gelar Batik Nusantara (GBN) 8-12 Mei 2019. Kedua kegiatan ini berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC). Hebatnya, di sela perhelatan INACRAFT, Datuk Zainul Bahri, mewakili perajin batik Jambi, berkesempatan bertemu dan bercakap-cakap langsung dengan orang nomor satu di Republik Indonesia, Presiden Joko Widodo, di depan stand Dekranasda pemerintah Kota Jambi.

Ket: Datuk Zainul sedang berbincang dengan Presiden Jokowi di INACRAFT, 25 April 2019 di JCC. DOk. Pribadi

Di samping usahanya melebarkan sayap bisnis bahri batik miliknya, Datuk juga aktif sebagai pembina kelompok batik Sipin Jajaran dan menerima komunitas atau perorangan untuk belajar batik, yang bertempat di Rumah Tenun, Binaan Disperindag Kota Jambi, tak jauh dari tempat tinggalnya sehari-hari.

Dalam pada itu, berkat kesungguhan (kalau bukan cinta) pada batik Jambi membuat batik replika motif kuno kaligrafi karya Zainul diabadikan oleh Nian S. Djoemena dalam bukunya, “Ungkapan sehelai batik = Batik, its mystery and meaning”, penerjemah, Margareta M. Alibasah (Djambatan, 1990), dan bahkan batik motif Bungo Tanjung dan Eluk Paku karyanya pernah dipakai Presiden Megawati Soekarnoputri saat memimpin Sidang Paripurna DPR/MPR RI.

Seturut hal itu, sederet desainer ternama tanah air, sebut saja, Itang Yunasz, Iwan Tirta, Edwar Hutabarat, Ramli, Karmanita, turut mempopulerkan karya-karyanya. Begitu juga bersama perajin batik Jambi, Susi Songket dan Cik Mia Songket, motif batik Jambi karya Datuk Zainul dituangkan dalam kain songket dan penggalian warna alam Jambi untuk pewarnaan batik Jambi, antara lain, dari getah jernang, serbuk Bulian, kayu surian, kulit jengkol, daun alpukat, sabut kelapa dan lain-lain.

“Capaian-capaian tersebut sebuah kehormatan bagi seorang perajin batik seperti saya,” tuturnya.

***

Masih segar dalam ingatan saya, utamanya saat bersama Asikin Hasan, kurator seni rupa dan Iskandar dari Direktorat Seni, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, berkunjung ke kediaman Zainul Bahri (20/3/19).

Posisi rumah Datuk Zainal terbilang strategis karena menghadap ke jalan utama sekaligus Danau Sipin yang membentang luas. Apatahlagi, tiga tahun terakhir ini, pemerintah provinsi bersama kota Jambi memusatkan perhatian pada Danau Sipin yang digadang-gadang sebagai ikon wisata baru di Kota Jambi.

Ket: Ki-ka: Iskandar, Zainul Bahri, Asikin Hasan dan Jumardi Putra (Penulis). Dok. Pribadi

Sesampai di lokasi,  kami tidak langsung naik ke rumah panggungnya, tetapi oleh Datuk kami diajak menyusuri sisi kiri hingga bagian belakang rumahnya. Dalam pada itu, kami menjumpai dua orang tukang yang tengah membuat peralatan pendukung kerja membatik Datuk zainal.

“Di sinilah sehari-hari saya dan beberapa pekerja mengolah warna alami dan membuat kain batik Jambi. Rumah sebagai tempat tinggal keluarga sekaligus berfungsi sebagai rumah produksi bahri batik,” kilahnya seraya menunjukkan hasil pewarnaan alam dan canting cap batik bermotif klenteng Hwa Leng Keng dan Stufa Solok Sipin.

Percakapan antara kami berlanjut di dalam rumah. Ruang tamu di rumahnya jelas menunjukkan profesinya sebagai perajin batik. Lemari berwarna kuning keemasan penuh oleh bahan pakaian batik Jambi pesanan konsumen. Dinding ruang tamu di rumahnya dipenuhi piagam penghargaan maupun foto-foto keikutsertannya selama menekuni batik. Selain itu, sebuah ruangan berukuran 3x3 meter, di sisi kanan ruang tamu, adalah kamar khusus bagi Datuk membuat desain motif batik.

Sementara di atas meja di ruang tamu tergeletak dua album foto, yang mengabadikan perjalanannya sebagai perajin batik Jambi. Satu di antara banyak foto di dalamnya, kegiatannya bolak-balik masuk-keluar hutan dan pergi-pulang pasar guna mendapatkan bahan perwarnaan alami memberi kesan kuat kesungguhannya melestarikan batik klasik Jambi.

“Terkadang saya dibilang aneh ketika mengangkut berkarung-karung serbuk bulian, kulit jengkol, daun alpukat, dan sabut kelapa di pasar, yang saya olah untuk perwarnaan batik warna alami,” ceritanya.

Tidak berhenti di situ saja, ketakjuban saya menemui puncaknya saat dihadapkan pada 460 lembar desain motif batik karyanya dan 40 replika atas motif batik kuno Jambi. “Luar biasa,” imbuhku dalam hati. Betapa tidak, desain motif batik tersebut, selain menunjukkan banyak dari sisi jumlah, juga kemampuannya mengartikulasi kekayaan khazanah budaya Jambi ke dalam dimensi visual motif batik.

“Keseluruhan motif batik yang saya buat mereprsentasikan identitas sejarah dan keanekaragaman budaya di Bumi Pucuk Jambi Sembilan Lurah. Bahkan tempat di mana saya tinggal sekarang, Danau Sipin, menjadi salah satu motif unggulan yang saya eksplorasi terus menerus hingga sekarang,” imbuhnya penuh semangat.

Pada momen ini muncul kekhawatiran saya bila ratusan desain motif batik miliknya tidak segera didaftarkan sebagai hak cipta (HKI). Betapa tidak, silih berganti orang menemui Datuk di rumahnya, atau di banyak tempat lainnya, lalu di saat bersamaan Datuk memperlihatkan secara terbuka keseluruhan motif batik hasil desainnya, sehingga terbuka kesempatan  terjadinya praktek-praktek tidak bertanggung jawab oleh seseorang/kelompok untuk kepentingan di luar pembelajaran (baca: bisnis). Sebut saja, praktek plagiasi motif batik bren miliknya yang berulangkali terjadi.

“Saya hanya berharap perajin batik atau mereka yang menekuni bisnis batik berlaku jujur. Tidak memakai (baca: menjual) motif batik karya orang lain, kecuali seizin pemilik motif batik atau dengan kata lain terjalin kerjasama saling menguntungkan”, ungkapnya.

“Adakah upaya mendaftarkan hak cipta ke Ditjen HKI?”

“Sudah saya daftarkan, tetapi prosesnya rumit dan jatah sertifikasinya tidak banyak. Bahkan sampai sekarang baru tiga karya batik milik saya terdaftar HKI,” balasnya.

“Sudahkah ditulis atau didigitalisasi keseluruhan desain motif batik milik Datuk?,” sambung saya.

“Belum,” jawabnya.

Ket: Zainul Bahri bersama bren Bahri Batik miliknya. DOk. Pribadi.

***

“Selain plagiasi, adakah hal lain yang menjadi kecemasan bagi perajin batik sekarang ini?,” tanya saya.

Menurut kakek empat cucu ini, bagi para perajin yang kurang telaten dan sabar umumnya beralih ke pewarnaan kimia, yang proses pewarnaannya lebih cepat, yang mengakibatkan lambat laun penggunaan pewarna alami, kian ditinggalkan oleh perajin batik Jambi.

Di samping itu, lanjutnya, harga batik tulis bervariasi dan terhitung mahal. Mulai dari Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta per meternya. Situasi ini pula yang turut menyebabkan banyak perajin batik pindah ke batik dengan pewarnaan sintesis.

“Bahan-bahan baku masih banyak yang kita datangkan dari pulau Jawa, andai semua ada di sini (Jambi), sudah pasti harganya bisa lebih murah dan bersaing dengan  batik lainnya. Di sinilah keberadaan pemerintah menjadi niscaya,” tambahnya.

Keadaan demikian itu diakuinya tidak mudah, selain kita terus berharap pemerintah mencarikan solusi, dirinya secara pribadi terus melakukan penggalian kembali penggunaan zat warna alam yang banyak tersedia, di samping pangsa pasar tekstil di negara Eropa juga menghendaki batik dengan menggunakan pewarna alam.

Tak terasa, berkat keramahan serta keterbukaannya, percakapan kami berjalan penuh keakraban. Namun demikian raut lelah di wajah sang Datuk seolah mengabarkan betapa menekuni batik mesti siap dengan suka-dukanya. “Tidak semua orang menaruh apresiasi bagi kerja seni semacam ini,” celetuknya.

“Apa makna batik Jambi bagi dinamika kebudayaan sekarang ini?,” tanya saya

“Melalui batik Jambi, sesungguhnya kita diajarkan hidup dalam keberagaman. Ada empat unsur kebudayaan yang terkandung di dalam batik Jambi, yakni meliputi budaya India (corak patola,) unsur Arab (corak kaligrafi), unsur China (motif bunga), dan yang terakhir unsur Jawa (Solo dan Yogyakarta),” ungkap kakek yang dihadiahi empat cucu ini.

“Artinya?”

“Keempat unsur yang terkandung di dalam batik Jambi menjelaskan kebudayaan Jambi tidak bersifat tunggal. Telah terjadi silang budaya. Saling memperkaya. Bukan saling meniadakan.”

“Apa harapan Datuk untuk batik Jambi?,” sambung saya.

“Saya ingin sekali memiliki sanggar latihan membatik pribadi. Saya sudah sediakan sepetak tanah tepat di depan laman rumah saya. Proposal sudah saya susun. Sudah saya usulkan ke pemerintah daerah maupun pihak swasta, tetapi hingga sekarang belum dapat bantuan. Sempat hampir dapat bantuan dari Pertamina, tetapi gagal.

Ket: Zainul Bahri mengajarkan pembuatan motif batik di Rumah Tenun, Danau Sipin. Dok. Pribadi

 

“Sampai kapan Datuk membatik,” tanya saya sebelum undur diri.

“Selagi hayat dikandung badan. Ada ataupun tidak ada bantuan bagi kerja-kerja pemberdayaan saya pada seni batik Jambi (terutama motif klasik), saya akan terus jalan. Karena di jalan inilah kebahagiaan (batin) saya dapatkan, dan saya tular kembali pada mereka yang memilih hidup di jalan seni. Tidak mudah, memang,” tegasnya.

 

*Penulis pecinta buku dan kesenian. Kini tinggal dan bekerja di Kota Jambi.


Tag : #bahri batik #batik jambi #plagiasi motif batik #batik tulis



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui