Selasa, 25 Juni 2019


Sabtu, 25 Mei 2019 10:39 WIB

Labu Kering Beranyam Rotam

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Selain bercocok-tanam, beberapa orang warga Talang Berboenga bekerja menempa besi: mereka terutama membuat cincin-cincin tembaga yang disebut kekolong yang biasanya dikenakan di pinggang. Mereka juga membuat payung, anting-anting dan timbal untuk rantai pemberat jaring penangkap ikan.



Di dusun ini juga ada beberapa orang yang membuat benda-benda dari kayu: piring atau pinggan. Biasanya kayu yang hendak diolah diletakkan di atas piringan yang diputar-putar ke satu arah sementara perajinnya membentuk kayu itu menjadi benda yang diinginkan.

Di Talang Berboenga, piringan putar itu diganti dengan tongkat kayu kokoh yang ditanam di tanah. Di bagian atas, dipasangkan seutas tali yang beberapa kali diputar sepanjang tongkat itu. Di bagian bawah, tasi itu terikat pada sebuah pedal. Dengan menggoyangkan pedal itu, tongkat kayu tadi berputar-putar ke dua arah. Selanjutnya, teknik pengolahan kayu tadi tetap sama: yaitu dibentuk ketika tongkat tadi sedang berputar.

Koleksi alat-alat rumah tangga masyarakat Melayu yang dikumpulkan oleh tim penjelajahan itu semakin banyak dan beragam. Tentunya tak ada kesulitan untuk memperoleh barang-barang seperti itu di tempat-tempat pembuatannya, akan tetapi banyak peralatan yang dibuat sendiri ketika alat itu diperlukan. Alat-alat seperti ini sulit diperoleh karena biasanya si pemilik hanya membuat sebuah saja. Sebagai contoh, di pagu di dalam setiap rumah Melayu terdapat kaitan untuk mengikat jendela yang sedang dibuka. Terkadang, kaitan itu sederhana sekali dan terbuat dari ranting pohon yang bengkok.

Namun, sering juga kaitan jendela itu sengaja dibuat dari kayu yang kemudian dihiasi dengan ukiran bagus. Bila kaitan jendela berukir seperti itu yang ingin dikoleksi, tentu saja pemilik rumah akan berkeberatan memberikannya. Ia memerlukan alat itu untuk mengaitkan jendelanya setiap hari. Namun seringkali, dengan ganti rugi berupa uang alat seperti itu dapat diperoleh untuk memperkaya koleksi benda-benda etnografi penjelajahan.

Suatu saat, dalam rangka berburu benda etnografi, di ujung sebuah desa, mereka melihat sebuah lapau. Di jendelanya tergantung sebuah labu (kalebas) yang sudah dikeringkan. Bagian luarnya terbungkus dengan anyaman roti. Labu itu diberi kaki untuk tempatnya bertumpu dari anyaman rotan juga.  Labu berhias itu digunakan sebagai wadah kapur untuk sirih. Bentuknya yang artistik dan bagus segera menarik perhatian para penjelajah Belanda itu. Apakah labu itu boleh dibeli? Apakah uang ƒ1,- cukup untuk membelinya?

Pemilik labu itu menggelengkan kepala. Labu itu tidak dijual karena benda itu termasuk harta pusaka keluarga besarnya. Benda itu tak dapat diberikan atau dijual begitu saja tanpa persetujuan anggota keluarga lainnya. Karena menghargai aturan-aturan adat berkenaan dengan pemilikan dan pewarisan harta di masyarakat setempat, van Hasselt dan Veth tidak lagi berusaha membujuk sang pemilik agar memberikan labu itu untuk koleksi penjelajahan. Mereka sangat terkesan pada sikap lelaki tadi yang menunjukkan kepatuhannya pada aturan-aturan adat.

Oleh banyaknya hal lain yang harus dipikirkan dan diurus, mereka kemudian tidak memikirkan wadah unik dari labu itu. Namun, rupanya cerita labu itu belum berakhir di situ saja. Beberapa saat sebelum mereka meninggalkan dusun  itu, datanglah lelaki pemilik lapau. Di tangannya, labu berhias yang menarik perhatian van Hasselt dan Veth!Rupanya—barangkali setelah berunding dengan kerabatnya—ia bersedia menjual labu hias itu kepada tim penjelajahan.  Dengan senang hati, van Hasselt menyerahkan uang ƒ1,- kepadanya. Labu itu dibungkus dan disimpan di dalam peti untuk dibawa pulang.

Pada tanggal 1 Oktober, mereka melanjutkan perjalanan. Para kuli sudah berangkat duluan menuju Soengei Aboe. Jalan yang ditempuh hari ini melewati Sarik Alahan Tiga. Jalan itu terawat baik. Jalan itu—yang dibuat di dinding gunung--berbelok-belok menyesuaikan dengan Lembah Goemanti.

Di jalan di antara Talang Berboenga dan Sarik terdapat banyak kebun kopi. Ada juga beberapa dusun kecil seperti Batoe Banyak di tepian kiri dan Pinti Kajoe di tepian kanan sungai. Tanah yang tidak diolah untuk pertanian penuh dengan tanaman pimping, timbaro dan aneka jenis pakis. Banyak sungai, yang airnya mengalir dari atas gunung dan memotong jalan, berjembatan. Supaya tidak cepat lapuk, jembatan-jembatan dilindungi dengan atap ijuk.

Menjelang siang, mereka tiba di dusun Barong-barong Rendah. Di sini terdapat sebuah gudang kopi, rumah Kepala Gudang dan sebuah balai negari. Sebuah pasar dan beberapa rumah baru yang tampak rapi dibangun berhadap-hadapan. Di rumahnya, Kepala Gudang menyuguhkan secangkir kopi dan cerutu Manilla kepada mereka. Dengan ramah, ia menceritakan pengalamannya bekerja sebagai ‘Angkoe Pakoes’ (Istilah ‘Pakoes’ berasal dari kata ‘pakhuis’ dalam bahasa Belanda, yang berarti ‘gudang’).

Sarik terletak beberapa ratus meter di atas kompleks gudang kopi ini dan dapat dicapai melalui jalan yang menanjak curam. Karena Veth telah pernah mengunjungi Sarik, mereka memutuskan untuk meneruskan perjalanan tanpa mampir lagi di Sarik.

Gudang kopi di Barong-barong Rendah itu merupakan permukiman terakhir di daerah ini. Setelah meninggalkan tempat itu, jalan yang ditelusuri semakin lama semakin menyempit sehingga akhirnya menjadi jalan setapak. Di musim hujan, jalan setapak yang melewati hutan dan bentangan tanaman pakis itu pastilah hampir tak dapat dilalui dengan berkuda.

Tak lama setelah meninggalkan Goemanti, tampak di kejauhan, di atas bukit, Teratak Teling. Dari tempat ini, di sebelah kiri terlihat pegunungan yang memisahkan Goemanti dan Sikiah dengan Boekit Djoejoeng sebagai puncaknya. Lebih jauh ke kiri lagi, terdapat jalan dari Soengei Pengale ke Grabak.

Selain menyeberangi Batang Lolo, sebelum tiba di Soengei Aboe, mereka masih harus melewati beberapa sungai kecil. Mereka juga akan melewati Boekit Tambang Lalang yang menyajikan pemandangan mengasyikkan ke arah Sarik, Talauk dan daerah-daerah sekitarnya. Konon di daerah ini dahulu kala banyak diadakan adu ayam secara besar-besaran. Akan tetapi, mereka tidak menyaksikan itu. Yang tampak hanyalah hutan dengan rumpun-rumpun rotan berbatang besar: manau dan danem. Untunglah rotan-rotan itu tidak tumbuh di jalan setapak yang sedang ditelusuri. Perjalanan mereka tidak terhambat sedikit pun.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sumatra tengah #ekspedisi belanda #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui