Selasa, 25 Juni 2019


Senin, 20 Mei 2019 09:12 WIB

Goenawan Mohamad

Reporter :
Kategori : Sosok

Penulis. Riwanto Tirtosudarmo

Oleh: Riwanto Tirtosudarmo*

Tak banyak intelektual Indonesia yang dikaruniahi kesehatan, umur panjang dengan karya yang terjaga mutunya. Arief Budiman, teman baik Goenawan Mohamad, suatu saat di Salatiga berkomentar tentang catatan pinggir yang ditulis setiap akhir pekan oleh Goenawan Mohamad, selalu bagus dan kritis, tidak banyak orang bisa seperti itu, katanya. Karena Goenawan Mohamad melintasi berbagai rezim politik mungkin membuatnya dapat menulis dalam perspektif pergantian zaman yang bagi intelektual yang lebih muda sulit melakukannya.



Goenawan Mohamad sudah aktif menulis ketika Soekarno masih berkuasa, kemudian ikut meruntuhkannya dan hanyut bersama lahirnya Orde-Baru, meruntuhkannya lagi dan tetap independen dua dekade setelahnya.

Ket: Goenawan Mohammad. Sumber: Salihara

Dalam sebuah kesempatan, ketika para cendekiawan rame-rame membuat berbagai macam ikatan, Goenawan Mohamad cuma nyletuk, cendekiawan kan mestinya bekerja secara individual bukan bikin organisasi. Cendekiawan atau intelektual bagi Goenawan Mohamad, saya kira, adalah orang yang berpikir bebas tidak berpretensi mewakili perkumpulan apapun, meskipun pikiran yg diekspresikannya, langsung atau samar-samar, menyuarakan keresahan orang banyak, kegelisahan publik.  Walaupun demikian kita menyaksikan kiprah Goenawan Mohamad yang tidak ragu-ragu turun dan terlibat dalam gerakan untuk memprotes pemerintah, membela mereka yang dianiaya bahkan bergabung untuk mendirikan partai politik.

Politik masih dipercayai Goenawan Mohamad sebagai ruang publik mengupayakan kebaikan bersama, meskipun banyak kekecewaan dan kemurungan ketika menjalaninya. Membaca tulisan-tulisan Goenawan Mohamad kita merasakan kata adalah awal yang utama, bahan baku yang diolahnya begitu rupa, menjadi puisi menjadi esai yang  hampir selalu menukik dalam tentang sesuatu, kritis mencerahkan tapi juga indah. Goenawan Mohamad ternyata tidak hanya menulis puisi dan esai, tapi juga novel, naskah drama (libretto), menggubah tari Jawa klasik; dan juga melukis.

Sebagai wartawan dia tidak sekedar reporter tapi mendirikan dan memimpin sebuah majalah mingguan yang bergengsi.  Sebagai penyair dan esais dia tidak hanya menulis tetapi membangun tempat untuk menyemai komunitas bersama merayakan kemerdekaan dan kebebasan kreatif. Sebagai bagian dari generasi intelektual yang dibesarkan ketika Jakarta memiliki Ali Sadikin yang tidak saja memperbaiki kampung-kampung kumuh, tetapi juga membangun pusat kesenian Taman Ismail Marzuki, Goenawan Mohamad sangat menyadari pentingnya  tempat bertemunya berbagai gagasan dan ekspresi kreatif. Saya kira dia juga meyakini bahwa kebudayaan yang sehat hanya mungkin tumbuh karena tersebarnya komunitas-komunitas kesenian yang beragam dan tidak perlu harus adanya sebuah pusat.

Membaca tulisan-tulisan Goenawan Mohamad, seperti sudah banyak dikomentari orang, lirih bertanya-tanya menyentuh banyak hal, mengutip banyak buku, menceritakan tentang tokoh-tokoh, mengabarkan tentang berbagai tempat yang pernah disinggahinya; mengulas berbagai hal bahkan yang muskil seperti Tuhan dan hal-hal yang belum selesai.

Goenawan Mohamad jelas tidak hanya dikaruniahi kesempatan mengarungi kehidupan dari zaman dan politik yang berbeda, namun juga melayari peradaban yang tak bertepi dan menyinggahi banyak tempat; dengan daya imajinasinya yang terasah diolahnya menjadi berbagai karya yang unggul.

Goenawan Mohamad terlibat dan melibatkan diri dalam politik setiap zaman yang dilaluinya, dan politik hampir selalu berarti membuat pilihan, memihak, dan karena itu niscaya memiliki lawan, mereka yang berada di pihak sana. Goenawan Mohamad dari kacamata mereka yang memilih berada di pihak sana, tentu memiliki cela dan celah untuk dikritik. Kritik, saya kira, bagian penting bagi dan dalam kehidupan Goenawan Mohamad sebagai seorang intelektual publik.

 

*Peneliti. Karya tulis Dr. Riwanto Tirtosudarmo terbit dalam bentuk buku, jurnal ilmiah (nasional-internasional) maupun populer. Catatan ini merupakan seri intelektual publik yang akan tayang setiap hari senin di rubrik sosok Kajanglako.com


Tag : #Goenawan Mohamad #catatan pinggir



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui