Selasa, 25 Juni 2019


Minggu, 19 Mei 2019 08:08 WIB

Selimpat dan Talang Berboenga

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Hari-hari terakhir di Alahan Pandjang menyebalkan. Tak ada hari yang lebih menyebalkan daripada hari yang melulu dipenuhi dengan kegiatan membereskan, menyimpan dan mengepak barang, memaku tutup peti-peti kayu dan mensolder kaleng-kaleng agar segala koleksi dapat dibawa dan aman sampai di tujuan.



Di hari-hari terakhir itu, anggota-anggota tim penjelajahan itu hidup dengan barang-barang pinjaman dari para tetangga: palu untuk memaku peti, pisau untuk memotong sayur dan ayam serta lampu untuk menerangi malam. Peralatan dan perbekalan penjelajahan sudah dipak rapi ke dalam peti!

Tujuan mereka adalah Moeara Laboeh. Mereka memilih untuk tidak mengambil jalan besar yang melalui Lolo, melainkan jalan kecil melalui Talang Berboenga, Soengei Aboe dan hutan-hutan untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik mengenai lingkungan alam daerah itu. Tak banyak yang harus dibawa untuk perjalanan itu. Sebagian perbekalan yang diperlukan di Moeara Laboeh dibawa pedati ke dusun itu dan sebagian lagi dibawa oleh para kuli yang akan berjalan melalui Lolo.

30 September. Pk. 15.45. Beberapa ekor kuda yang akan ditunggangi menempuh perjalanan sudah siap dan mereka segera berangkat menuju Selimpat. Jalan yang lebar dan terawat baik menghubungkan Alahan Pandjang dengan Selimpat, Talang Berboenga dan Sarik. Jalan itu melewati lembah Goemanti dan menyajikan pemandangan mengasyikkan ke sawah-sawah serta gunung yang mengelilingi lembah. Rumah-rumah tersebar di sana-sini. Dari balik pepohonan terkadang tampak asap membubung—menandakan adanya orang yang membuka hutan, menyiapkan lahan untuk menanam padi atau jagung.

Sebagian besar jalan itu dibuat dengan memotong dinding jurang yang teramat curam. Ini adalah pekerjaan yang sangat berat dan sulit. Ketika tim penjelajahan itu melewatinya, jalan itu sudah rampung lima tahun sebelumnya dan kini sudah pula dicantumkan dalam di dalam kontrak transportasi kopi dari perkebunan-perkebunan Hindia-Belanda. Lalu, jalan menurun tajam ke titik pertemuan Soengei Nanam dan Goemanti.

Di titik pertemuan aliran kedua sungai itulah terdapat Selimpat, nagari yang kaya dengan sawah-sawah yang lebih subur daripada di Alahan Pandjang. Dusun itu  terbakar beberapa waktu lalu, namun banyak warganya masih tinggal di pondok-pondok di sana. Mereka sibuk mencat dan mengukir dinding-dinding rumah yang baru dibangun lagi.

Selimpat terdapat di tepian kiri sungai, berseberangan dengan Teratak Baroe, sebuah dusun yang rapi dengan delapan buah rumah dan sebuah mesjid. Jalan itu perlahan-lahan turun hingga melewati sawah-sawah yang terbentang di antara Selimpat sampai ke Tandjoeng Balit. Sebatang pohon koebang raksasa menandai dusun ini. Batang dan akar gantungnya berdiameter lebih dari 20 meter!

Selewat Tandjoeng Balit, jalan itu menyeberangi sebuah anak Soengei Goemanti dan mulai menurun sampai lembah di bawahnya membentuk celah yang sempit. Sebuah jembatan terentang menyeberangi sungai. Di tepian kanan sungai itu, dinding gunung yang tertutup pakis dikikis untuk membuat jalan yang mendaki terus. Di puncak, tampak lembah yang berbentuk wajan dengan Talang Berboenga di dalamnya. Rumah-rumah penduduknya dikelilingi oleh pepohonan pinang, tjoebadak dan enau.

Talang Berboenga terhubung dengan dusun-dusun di sekitarnya oleh beberapa jalan yang melintasi belantara. Jalan-jalan itu tak mudah dilalui. Ada jalan menuju Lolo dan jalan ke Soengei Pengale. Di sini terdapat pertemuan jalan dari Sarik dan Grabak. Jalan ketiga menuju ke Sabit Ajer dan jalan keempat menuju Kengkiang Loeloes.

Jarak di antara Alahan Pandjang dan Talang Berboenga tidak terlalu jauh. Menjelang pk 18.00 mereka sudah tiba. Malam itu mereka menginap di balai negari yang belum lama dibangun. Bangunan itu sangat cocok untuk diinapi beberapa malam. Di dalamnya terdapat sebuah meja dan penghoeloe kepala negari itu meminjamkan sebuah kursi. Sebuah mesjid dan surau dibangun di dekatnya. Di belakang, di dekat sungai, terdapat tempat untuk masak. Dapur sederhana itu beratap daun dan sepintas lalu tampak seperti pedati yang didudukkan di tanah.

Talang Berboenga merupakan dusun yang betul-betul memiliki jalan-jalan yang saling memotong di dalamnya—persis layaknya sebuah kota. Rumah-rumah warganya dibangun rapi mengikuti alur jalan-jalan itu. Pagi-pagi tanggal 1 Oktober, para penjelajah itu berkeliling untuk mencatat keadaan dusun itu. Kebanyakan rumah-rumah warganya tampak sudah tua; namun, di masa lalu, rumah-rumah itu pastilah tampak sangat bagus. Beberapa di antaranya berhiaskan ukiran-ukiran cantik.

Sebuah suara menderit yang keras. Suara penggilingan tebu. Di sebuah tanah lapang tampak tabung-tabung silinder yang besar. Salah sebuah diputar oleh tongkat kayu yang panjang; tabung yang satu lagi ikut terputar oleh gerak tabung yang pertama. Kedua tabung itu memeras batang-batang tebu yang terpotong oleh pisau-pisau tajam di antara kedua tabung tadi. Beberapa orang pemuda mendorong batang-batang tebu yang hendak diperas ke antara gilingan itu.

Di dekat tabung-tabung penggilingan itu, di bawah atap, air tebu yang telah diperas dan disaring, dimasak sampai menjadi sirop atau cairan gula yang kental.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #ekspedisi sumatra tengah #sejarah jambi #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Pidana Pemilu
Selasa, 25 Juni 2019 18:02 WIB

Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa


Akui Coblos Sisa Surat Suara di Persidangan, Ini Tuntutan JPU kepada Terdakwa Kajanglako.com, Sarolangun – Sedikitnya lima orang terdakwa tindak

 

Selasa, 25 Juni 2019 17:40 WIB

HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam


HUT Bhayangkara ke 73, Polri dan TNI Kunjungi Kediaman Suku Anak Dalam Kajanglako.com, Sarolangun – Polri dan TNI berkunjung ke kediaman Suku Anak

 

Sail Nias Sumut 2019
Selasa, 25 Juni 2019 17:29 WIB

Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019


Tiga Anak Muda ini Wakili Jambi di Sail Nias Sumut 2019 Kajanglako.com, Jambi – Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Diskepora) Provinsi Jambi mengutus

 

Pilbup Batanghari 2020
Selasa, 25 Juni 2019 15:15 WIB

Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari


Bermodal Raih 4.923 Suara di Pileg Lalu, Yuninta Asmara Disebut Layak Maju di Pilkada Batanghari Kajanglako.com, Batanghari – Yuninta Asmara, istri

 

Selasa, 25 Juni 2019 14:54 WIB

Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori


Dinas Pendidikan Pemprov Disebut Tak Mampu Urus SMA/SMK, Ini Tanggapan Gubernur Fachrori Kajanglako.com, Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi melalui