Minggu, 19 Mei 2019


Sabtu, 11 Mei 2019 06:06 WIB

Asal Usul Beruk

Reporter :
Kategori : Sudut

Oleh: Jon Afrizal*

Di awal 2000-an, Conservation International (CI) yang kumintai keterangan menyatakan bahwa badak bercula dua di areal Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) hanya tinggal empat ekor saja. Sungguh, betapa terancamnya kehidupan satwa ini.



Hari ini, bahkan, tak seorang pun dari kita yang pernah mendengar walaupun hanya sekedar dongengan tentang badak Sumatera itu. Entah (si)apa yang terlebih dahulu punah, badak di TNKS atau badak Afrika. Ini tentu harus di-seminar-kan pula.

Seperti biasa, yang selalu "dibiasakan" di Jambi, tak seorang pun yang peduli. Malah, pada saat yang sama telah muncul sebuah binatang baru sejenis beruk (dalam bahasa Indonesia, umumnya, disebut monyet), yang dunia internasional menyebutnya "orangutan".

Saya pikir, Charles Darwin salah dalam menganalisa asal usul manusia dan beruk. Sebab, ternyata sejenis beruk ini punya kekerabatan khusus dengan gajah, yang tidak ada di buku wajib para Darwinist, The Origin Of Species.

Faktanya, pada saat yang sama, kedua binatang ini menjadi buah bibir untuk berada di sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Oh, poor Darwin.

Seperti biasa, badak tinggallah badak. Sekarang mari kita bicara masalah "project" beruk dan gajah.

Beruk dan sejenisnya, jika di Jambi, ada beberapa, seperti ungko atau simpai. Ada sebuah spesies simpai yang cukup nge-top bagi para pecinta beruk di Jambi di kitaran '80-an. Simpai petir, demikian penduduk menamainya.

Simpai jenis ini sangat bagus bulu dan warnanya. Berwarna dasar hitam dan ada warna kuning selayak warna petir di bagian dadanya.

Ketika itu, beberapa penduduk memeliharanya. Sebab belum begitu banyak yang memahami tentang betapa bahayanya pindah-memindah dan mengeluarkan satwa dari kelompok dan lingkungan tempat ia berasal.

Jika diperjualbelikan, harga simpai petir cukup mahal. Jadi wajar jika banyak yang tergoda untuk memburunya, jika melulu berpatok pada sisi ekonomi saja.

Simpai petir dikenal dengan suara lengkingannya yang --menurut para pecinta beruk-- sangat bagus. Ini tentu berbeda dengan ibu-ku yang selalu berseru terkejut setiap si beruk menjerit melengking di sebelah rumah kami sewaktu aku kecil, "Memekak," katanya.

Tetapi, lagi lagi, setiap satwa selalu berhubungan dengan metafisika, jika merunut pada sejarah Melayu Jambi. Para pecinta beruk mengatakan bahwa simpai petir akan menghilang jika percikan petir tengah mengudara.

Sehingga, "kalu diok ilang, kito cari lagi yang laen di hutan. Ado la, tu." Begitu tutur pecinta beruk.

Tetapi, kini, aku tidak pernah lagi mendengar cerita tentang simpai petir ini. Entah apa nasibnya, pun namanya juga sudah "unfollow" dari Instagram-ku.

Mungkin, seperti biasa, bisa jadi studi untuk di-seminar-kan hingga tingkat internasional. Itu jika kita semua mau berpikir tentang betapa pentingnya menjaga alam beserta isinya yang sangat terkait dengan alur berkehidupan sebuah komunal.

Tetapi, siapa yang menaruh kepedulian terhadap kondisi demikian itu? Ada jenis beruk baru yang begitu terancam, yang butuh tempat dan harus segera diselamatkan: orangutan.

Berdasarkan penelusuran-ku, tidak ada satu pun cerita rakyat Melayu Jambi tentang beruk jenis ini. (Ayo, kita buatkan ceritanya!). Tetapi, cerita sejenis memang tumbuh subur di khalayak Borneo sana.

Namun, beberapa ahli yang sangat ahli berkata bahwa beruk jenis ini pernah hidup di sekitar areal yang sekarang disebut TNBD pada 500 tahun yang lalu atau bahkan lebih. Dan, entah mengapa, hilang sirna selayak Kota Atlantis.

Penelitan terkini: akibat maraknya pembalakan (liar) sehingga habitat mereka rusak, dan, wham!!! para beruk mati. Sehingga, "kita kembalikan mereka ke rumahnya."

Tetapi, adalah sudah dibiasakan untuk kabur dalam melihat sejarah. Sebagai contoh, sangat kabur sekali sejarah terkait peristiwa di seputar '65. Begitu menurut banyak pemerhati kekaburan sejarah.

Sehingga, adalah lebih kabur lagi jika kita merunut ke era 500 tahun sebelum masa ini, atau bahkan lebih lama lagi.

Sebagai jurnalis, adalah kewajaran untuk menguji setiap sumber data, termasuk asal usul beruk tadi. Tetapi, seperti banyak pejabat berkata, "Kearifan Lokal".

Tentunya menjadi pijakan pula bagi saya yang kebetulan terlahir dan besar di Jambi untuk merujuknya. Dan, harus kukatakan, tidak ada rujukan tentang beruk sejenis di khasanah Melayu Jambi.

Aku, mungkin, bisa saja salah. Sama salahnya dengan cerita rakyat yang tidak ada itu. Dan, ini tentu teramat tidak seksi untuk di-studi-kan ataupun di-seminar-kan secara internasional.

 

*Jurnalis TheJakartaPost dan anggota Majelis Etik (ME) AJI Kota Jambi


Tag : #beruk #badak bercula dua #kerusakan hutan



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Minggu, 19 Mei 2019 08:08 WIB

Selimpat dan Talang Berboenga


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Hari-hari terakhir di Alahan Pandjang menyebalkan. Tak ada hari yang lebih menyebalkan daripada hari

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:23 WIB

Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat


Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat Kajanglako.com, Sarolangun – Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:11 WIB

Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair


Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair Kajanglako.com, Sarolangun – Pencairan Dana Dessa (DD) tahap pertama tahun

 

Waspada Kebakaran
Sabtu, 18 Mei 2019 19:53 WIB

Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran


Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran Kajanglako.com, Tanjabtim - Kondisi pemukiman penduduk yang padat, ditambah lagi dengan banyaknya

 

Laporan Keuangan
Sabtu, 18 Mei 2019 19:48 WIB

Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK


Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kembali berhasil meraih predikat opini