Jumat, 05 Juni 2020


Sabtu, 11 Mei 2019 04:58 WIB

Tentang Akhir Bulan Puasa dan Umpan untuk Harimau

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di kaki Boekit Gandoeng terdapat dusun bernama Ampoean. Nama ini berarti tempat yang terendam banjir. Tempat itu merupakan perbatasan dengan Sarik Bajang yang masih termasuk ke dalam wilayah Alahan Pandjang.



Tak jauh, jalan yang ditelusuri memasuki rimba dan mulai mendaki. Kesenyapan hutan tiba-tiba dipecahkan oleh suara ribut sekawanan siamang di rumpun-rumpun bambu talang di dekat jalan. Monyet-monyet itu berteriak, melompat dari cabang dan ranting pepohonan, lalu menghilang.

Setelah Boekit Gandoeng, mereka mulai mendaki Boekit Kamboet. Mereka melewati beberapa pondok di kebun-kebun kopi yang terawat rapi. Pepohonan kopi di ladang-ladang itu ditanam berjarak 2 meter satu sama lain dan puncuknya rata dipangkas setinggi 1,5 meter. Di antara pepohonan kopi, ditanam juga pepohonan kayu manis—juga berjarak 2 meter satu sama lain. Daun-daun kemerahan kayu manis berkontras menarik dengan dedaunan kopi yang berwarna biru-kehijauan dan bunganya yang putih.

Sarik Bajang adalah dusun dengan rumah-rumah yang tersebar sepanjang 1,5 km di dinding bukit. Penduduknya berkebun kopi, nanas, tebu, enau, dan kayu manis, selain tentu saja, bersawah. Jalan penghubung di antara Sarik Bajang dan Alahan Pandjang diperkeras dengan bebatuan. Jalan itu sungguh menyiksa kaki kuda, akan tetapi memberikan pemandangan bagus: danau serta pondok-pondok para penangkap ikan.

Dusun terakhir yang dilewati adalah Teratak Lagoendi. Dusun ini terletak di jalan menuju Pekan Rebaa. Menjelang sore, mereka sudah tiba kembali di Danau di Atas. Kembalinya rombongan penjelajah itu membuat rumah, yang menjadi markas mereka di Alahan Pandjang, ramai lagi dengan berbagai kesibukan. Aneka lumut dari Boekit Barisan yang telah dikumpulkan oleh van Hasselt dikeringkan—bila perlu, diatur, dibungkus dan disimpan bersama koleksi binatang dari Alahan Pandjang yang telah dikumpulkan oleh Snelleman. Koleksi benda-benda etnografi yang dikumpulkan pun sudah semakin banyak. Begitu pula lempeng-lempeng kaca berisi foto-foto negatif yang dibuat oleh Veth. Semua itu memenuhi delapan buah peti.

Akhir September. Bulan puasa sudah hampir berakhir. Dalam perhelatan masyarakat Melayu, biasanya makanan dan minuman yang disajikan merupakan hal yang penting. Begitu pula halnya dengan perhelatan menjelang dan pada akhir puasa.

Di segala dusun, kaum perempuan—tua dan muda—sibuk menumbuk padi di lesung-lesung yang ditanam sebagian di dalam tanah. Bila lesung-lesung itu diangkat, akan tampak batok-batok kelapa di bawahnya. Batok-batok kelapa itu memantulkan dan memperkeras suara tumbukan di lesung. Untuk apa? Rupanya hal itu dilakukan supaya suaranya terdengar sampai jauh. Orang yang mendengar suara itu akan berpikir bahwa padi yang dipanen pastilah banyak sekali!

Sejauh ini, tak banyak yang diceritakan mengenai Raja Hutan yang ditakuti: harimau. Barangkali karenanya, ada beberapa pembaca yang berpikir bahwa penduduk daerah ini jarang terancam oleh binatang buas itu. Namun, hal itu sama sekali tak benar. Jalan menuju Alahan Pandjang sebetulnya ditakuti karena di antara Boekit Ranipoeng dan titik tertinggi jalan itu, pagi-pagi seringkali tampak jejak-jejak harimau di tanah. Bila malam menjelang, tak ada orang yang berani menempuh jalan itu—kecuali petugas pos yang terpaksa mengantarkan surat penting. Mungkinkah surat atau dokumen yang dibawanya merupakan semacam jimat? Hampir tak ada cerita mengenai petugas pos yang diserang harimau.

Pada suatu hari ketika mereka hampir meninggalkan markas penjelajahan di daerah ini, tak jauh dari dusun, di dekat jalan menuju Lolo, beberapa ekor sapi dimangsa oleh harimau. Ketika itu, pemilik sapi-sapi tadi sedang ke pasar di Alahan Pandjang. Di sana, ia sudah merasa tidak enak hati. Pastilah ada sesuatu, pikirnya di dalam hati. Ternyata, memang demikian halnya. Sekembalinya ke dusun, barulah dilihatnya sapi-sapinya tergeletak tak bernyawa di padang rumput. Sepintas lalu, tak tampak luka apa pun pada binatang-binatang. Namun, setelah diperiksa lebih teliti, barulah terlihat bekas cakaran kuku harimau.

Tujuh ekor sapi dikuburnya. Walaupun di Padang, kulit sapi banyak dan laku sekali dijual di pasar, ketujuh sapi itu tidak dikuliti lebih dahulu sebelum dikuburkan. Sapi terakhir tidak dikuburkan tetapi digunakannya sebagai umpan untuk menangkap harimau itu. Bangkai binatang itu diikatkan pada pelatuk sebuah senapan. Bila harimau itu datang dan mulai menggerogoti daging sapi itu, senapan itu akan meledak dan harimau itu tertembak. Akan tetapi, harimau itu tidak datang lagi dan tentunya, tidak tertembak.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Jumat, 05 Juni 2020 06:59 WIB

Merawat Keragaman Budaya, Melindungi Keanekaragaman Hayati


Oleh: Ali Yansyah Abdurrahim* Setiap 5 Juni, segenap warga dunia merayakan Hari Lingkungan Hidup [1]. Peringatan ini dilakukan sejak tahun 1974 sebagai

 

Kamis, 04 Juni 2020 21:07 WIB

Ruas Jalan di Tebo Lonsor, Fachrori: Segera Kita Perbaiki


Kajanglako.com, Tebo - Usai menyalurkan bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Covid-19 kepada masyarakat Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo, Gubernur Jambi,

 

Kamis, 04 Juni 2020 20:53 WIB

Lagi, Gubernur salurkan Bantuan JPS Covid-19 di Tebo


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi H Fachrori Umar menyampaikan, bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) merupakan kebijakan dari Pemerintah Provinsi

 

Kamis, 04 Juni 2020 19:50 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 di Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Gubernur Jambi H Fachrori Umar menyampaikan, Jaring Pengaman Sosial (JPS) merupakan salah Satu upaya dan bentuk kontribusi nyata

 

Kamis, 04 Juni 2020 15:53 WIB

Gubernur Salurkan Bantuan JPS Covid-19 di Sungai Penuh


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Dr H Fachrori Umar, selaku Ketua Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jambi menyalurkan Jaring Pengaman Sosial Covid-19