Selasa, 23 Juli 2019


Sabtu, 04 Mei 2019 13:41 WIB

Moeara Ajer

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di ujung dusun Pantjong Tabal, sebuah jembatan yang terbuat dari bambu batung menyeberangi sungai ke tepian kanan. Jalan yang ditelusuri berlanjut di tepian itu. Lembah yang mereka lewati semakin menyempit dan sawah-sawah serta rumah-rumah  penduduk pun berkurang.



Tak jauh, dinding pegunungan mulai ditumbuhi hutan sampai ke puncak. Akhirnya, mereka sebuah jurang dengan jalan berbatu-batu. Air sungai deras mengalir dan tampak berbusa-busa ketika menghantam bebatuan di air. Percikan air itu membasahi ranting dan dedaunan yang tergantung rendah di atas sungai.

Waktu sudah menunjukkan pk 16.00. Mereka masih saja bertemu dengan orang-orang yang pulang dari pasar. Wajah mereka tampak terheran-heran kertemu dengan  beberapa orang Eropa di tengah hutan.

Jurang sempit itu tidak terlalu panjang. Sebentar saja, pemandangan di depan mata mulai melebar lagi. Beberapa kali mereka menyeberangi sungai; mereka melewati jembatan bambu yang bertumpu pada bebatuan besar di tepian kiri-kanan. Di tengah-tengah, jembatan itu bergantung pada rotan-rotan besar yang diikatkan pada pepohonan di tepian. Moeara Ajer terdapat di dekat bukit yang tampak di sebelah barat, di pertemuan Njello Bajang dan Ngalo Gedang. Sebuah jembatan bambu yang serupa dengan jembatan yang digambarkan di atas membawa mereka ke dusun itu.

Pk 17.00, mereka disambut oleh Kepala Negari. Penghoeloe Kepala Ngalo Gedang telah mengabarkan kedatangan van Hasselt dan Veth kepadanya. Walau demikian, dengan mengenakan celana pendek dan sebuah kain basahan yang disampirkan di bahu, setengah menutupi dadanya yang telanjang. Ia duduk di balai. 

Bangunan balai itu sendiri berhadapan dengan jembatan dan seolah-olah menutup salah satu sisi dusun itu. Bagian tengahnya terbuka di kedua sisinya, akan tetapi andjoeng, yaitu bagian bangunan yang lebih tinggi berdinding kayu. Andjoeng itu cocok digunakan sebagai ruangan untuk tidur. Di bagian tengah yang terbuka, terdapat sebuah meja sederhana dan sebuah bangku kayu.

Sambutan kepala negari itu tidak sehangat di Ngalo Gedang. Van Hasselt dan Veth berlaku seolah-olah tidak menyadari hal itu. Mereka menyapa semua orang dan membagikan uang kecil serta kembang api kecil kepada anak-anak yang duduk di depan balai dan di atas tangganya. Anak-anak itu bercanda dan tertawa mengomentari penampilan kedua lelaki Belanda itu. Dalam waktu singkat, suasana di balai itu mencair. Beberapa orang menawarkan segala-sesuatu yang diperlukan untuk masak-memasak. Seseorang bahkan menawarkan untuk meminjamkan lampu minyaknya. Sayangnya, lampu minyak kecil itu tak banyak berhasil menerangi balai. Karena itu, setelah pk 20.00, ketika para kuli tiba, lampu itu segera dimatikan dan mereka tidur lelap.

Keesokan harinya, 18 September, Veth bangun pagi-pagi untuk membuat foto jembatan. Di bagian dusun, jembatan itu bertumpu di pohon koebang raksasa. Akar-akar pohon itu melebar seperti jari-jemari yang mencengkeram tanah di bawahnya. Ruang di antara akar-akar itu diisi dengan bebatuan agar pegangannya lebih kuat. Akar-akar itulah yang menjadi penyangga jembatan.

Di Moeara Ajer terdapat 20 buah rumah yang kokoh. Seperti halnya di Ngalo Gedang, rumah-rumah itu bertingkat. Dibandingkan dengan kaum perempuan di daerah Dataran Tinggi, kaum perempuan di dusun ini berkulit lebih putih. Pandangan mata mereka tampak tajam dan cerdas.

Pk 9.00, van Hasselt dan Veth menunggang kuda masing-masing. Keberangkatan mereka diiringi oleh anak-anak lelaki yang berteriak-teriak gembira. Jalan yang hari ini ditelusuri mengikuti aliran Njello Bajang. Jalan itu dengan mudah dapat dilalui oleh kuda. Dalam waktu sebentar saja, kuda-kuda itu sudah jauh meninggalkan para kuli yang membawa barang dan perbekalan penjelajahan.  Jalan itu berkelok-kelok mendaki bukit. Mereka melewati kebun-kebun kopi dan beberapa buah rumah.

Di tempat-tempat lain, mereka melewati tanah belukar yang ditumbuhi pohon gandoeng dan simantoeng, silih berganti dengan pohon soerian dan dadap. Terkecuali seekor tupai yang diam-diam mengamati mereka di balik dedaunan, tak tampak binatang lainnya. Di jalan, mereka bertemu dengan beberapa orang Melayu yang datang dari daerah Dataran Tinggi. Mereka membawa gambir untuk dijual di daerah pesisir.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah



Berita Terbaru

 

Menggugat Hasil Pileg 2019
Selasa, 23 Juli 2019 12:30 WIB

Sidang PHPU PKB Provinsi Jambi Lanjut Dipersidangan Pembuktian


Sidang PHPU PKB Provinsi Jambi Lanjut Dipersidangan Pembuktian Kajanglako.com, Jakarta - Eksepsi yang diajukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan pihak terkait

 

Polemik Cawagub Jambi
Selasa, 23 Juli 2019 12:24 WIB

Pilih Opsi Dua, Cornelis: Sekarang Bola Panas kita Lempar ke Gubernur


Pilih Opsi Dua, Cornelis: Sekarang Bola Panas kita Lempar ke Gubernur Kajanglako.com, Jambi – Melalui jumpa pers yang digelar, Selasa (23/07), pimpinan

 

Polemik Cawagub Jambi
Selasa, 23 Juli 2019 12:17 WIB

Sesuai Saran Pansel, Pimpinan Dewan pun Akhirnya Pilih Opsi Kedua


Sesuai Saran Pansel, Pimpinan Dewan pun Akhirnya Pilih Opsi Kedua Kajanglako.com, Jambi – Saran Panitia Seleksi (Pansel), melalui Ketua Pansel Nasri

 

Selasa, 23 Juli 2019 12:04 WIB

Tim Hongaria Uji Kualitas Air Perumda PDAM Merangin


Air Perumda PDAM Merangin di Uji Kualitasnya oleh Tim dari Hongaria Kajanglako.com, Merangin - Tim dari Hongaria turun langsung ke Perumda PDAM Desa Air

 

Kejurnas Dayung Pelajar 2019
Selasa, 23 Juli 2019 12:01 WIB

Bersama Walikota Jambi, Gubernur Fachrori Bahas Persiapan Kejurnas Dayung di Ruang Kerjanya


Bersama Walikota Jambi, Gubernur Fachrori Bahas Persiapan Kejurnas Dayung di Ruang Kerjanya Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar, berharap