Minggu, 19 Mei 2019


Sabtu, 04 Mei 2019 13:41 WIB

Moeara Ajer

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Di ujung dusun Pantjong Tabal, sebuah jembatan yang terbuat dari bambu batung menyeberangi sungai ke tepian kanan. Jalan yang ditelusuri berlanjut di tepian itu. Lembah yang mereka lewati semakin menyempit dan sawah-sawah serta rumah-rumah  penduduk pun berkurang.



Tak jauh, dinding pegunungan mulai ditumbuhi hutan sampai ke puncak. Akhirnya, mereka sebuah jurang dengan jalan berbatu-batu. Air sungai deras mengalir dan tampak berbusa-busa ketika menghantam bebatuan di air. Percikan air itu membasahi ranting dan dedaunan yang tergantung rendah di atas sungai.

Waktu sudah menunjukkan pk 16.00. Mereka masih saja bertemu dengan orang-orang yang pulang dari pasar. Wajah mereka tampak terheran-heran kertemu dengan  beberapa orang Eropa di tengah hutan.

Jurang sempit itu tidak terlalu panjang. Sebentar saja, pemandangan di depan mata mulai melebar lagi. Beberapa kali mereka menyeberangi sungai; mereka melewati jembatan bambu yang bertumpu pada bebatuan besar di tepian kiri-kanan. Di tengah-tengah, jembatan itu bergantung pada rotan-rotan besar yang diikatkan pada pepohonan di tepian. Moeara Ajer terdapat di dekat bukit yang tampak di sebelah barat, di pertemuan Njello Bajang dan Ngalo Gedang. Sebuah jembatan bambu yang serupa dengan jembatan yang digambarkan di atas membawa mereka ke dusun itu.

Pk 17.00, mereka disambut oleh Kepala Negari. Penghoeloe Kepala Ngalo Gedang telah mengabarkan kedatangan van Hasselt dan Veth kepadanya. Walau demikian, dengan mengenakan celana pendek dan sebuah kain basahan yang disampirkan di bahu, setengah menutupi dadanya yang telanjang. Ia duduk di balai. 

Bangunan balai itu sendiri berhadapan dengan jembatan dan seolah-olah menutup salah satu sisi dusun itu. Bagian tengahnya terbuka di kedua sisinya, akan tetapi andjoeng, yaitu bagian bangunan yang lebih tinggi berdinding kayu. Andjoeng itu cocok digunakan sebagai ruangan untuk tidur. Di bagian tengah yang terbuka, terdapat sebuah meja sederhana dan sebuah bangku kayu.

Sambutan kepala negari itu tidak sehangat di Ngalo Gedang. Van Hasselt dan Veth berlaku seolah-olah tidak menyadari hal itu. Mereka menyapa semua orang dan membagikan uang kecil serta kembang api kecil kepada anak-anak yang duduk di depan balai dan di atas tangganya. Anak-anak itu bercanda dan tertawa mengomentari penampilan kedua lelaki Belanda itu. Dalam waktu singkat, suasana di balai itu mencair. Beberapa orang menawarkan segala-sesuatu yang diperlukan untuk masak-memasak. Seseorang bahkan menawarkan untuk meminjamkan lampu minyaknya. Sayangnya, lampu minyak kecil itu tak banyak berhasil menerangi balai. Karena itu, setelah pk 20.00, ketika para kuli tiba, lampu itu segera dimatikan dan mereka tidur lelap.

Keesokan harinya, 18 September, Veth bangun pagi-pagi untuk membuat foto jembatan. Di bagian dusun, jembatan itu bertumpu di pohon koebang raksasa. Akar-akar pohon itu melebar seperti jari-jemari yang mencengkeram tanah di bawahnya. Ruang di antara akar-akar itu diisi dengan bebatuan agar pegangannya lebih kuat. Akar-akar itulah yang menjadi penyangga jembatan.

Di Moeara Ajer terdapat 20 buah rumah yang kokoh. Seperti halnya di Ngalo Gedang, rumah-rumah itu bertingkat. Dibandingkan dengan kaum perempuan di daerah Dataran Tinggi, kaum perempuan di dusun ini berkulit lebih putih. Pandangan mata mereka tampak tajam dan cerdas.

Pk 9.00, van Hasselt dan Veth menunggang kuda masing-masing. Keberangkatan mereka diiringi oleh anak-anak lelaki yang berteriak-teriak gembira. Jalan yang hari ini ditelusuri mengikuti aliran Njello Bajang. Jalan itu dengan mudah dapat dilalui oleh kuda. Dalam waktu sebentar saja, kuda-kuda itu sudah jauh meninggalkan para kuli yang membawa barang dan perbekalan penjelajahan.  Jalan itu berkelok-kelok mendaki bukit. Mereka melewati kebun-kebun kopi dan beberapa buah rumah.

Di tempat-tempat lain, mereka melewati tanah belukar yang ditumbuhi pohon gandoeng dan simantoeng, silih berganti dengan pohon soerian dan dadap. Terkecuali seekor tupai yang diam-diam mengamati mereka di balik dedaunan, tak tampak binatang lainnya. Di jalan, mereka bertemu dengan beberapa orang Melayu yang datang dari daerah Dataran Tinggi. Mereka membawa gambir untuk dijual di daerah pesisir.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #sejarah jambi #naskah klasik belanda #ekspedisi sumatra tengah



Berita Terbaru

 

Ekspedisi Belanda ke Djambi
Minggu, 19 Mei 2019 08:08 WIB

Selimpat dan Talang Berboenga


Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda) Hari-hari terakhir di Alahan Pandjang menyebalkan. Tak ada hari yang lebih menyebalkan daripada hari

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:23 WIB

Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat


Tak Rekomendasikan Desa Pasar Pelawan untuk Dana Desa, Ini Penjelasan Camat Kajanglako.com, Sarolangun – Desa Pasar Pelawan Kecamatan Pelawan Kabupaten

 

Dana Desa
Sabtu, 18 Mei 2019 20:11 WIB

Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair


Tak Direkomendasikan Camat, Dana Desa Pasar Pelawan Dipastikan Tidak Cair Kajanglako.com, Sarolangun – Pencairan Dana Dessa (DD) tahap pertama tahun

 

Waspada Kebakaran
Sabtu, 18 Mei 2019 19:53 WIB

Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran


Himbauan Kapolres Tanjabtim Terkait Bencana Kebakaran Kajanglako.com, Tanjabtim - Kondisi pemukiman penduduk yang padat, ditambah lagi dengan banyaknya

 

Laporan Keuangan
Sabtu, 18 Mei 2019 19:48 WIB

Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK


Pemkab Merangin Kembali Raih Opini WTP dari BPK Kajanglako.com, Merangin - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin kembali berhasil meraih predikat opini