Jumat, 20 September 2019


Kamis, 02 Mei 2019 13:50 WIB

Khasiat Mani Gajah

Reporter :
Kategori : Oase Esai

Oleh: Jon Afrizal*

Aku menyukai bahasa sejak usia dini. Termasuk membaca kisah dalam berbagai bentuk. Mulai dari fabel hingga drama. Pun untuk skala lokal, yang acap dilupakan banyak orang.



Sewaktu kecil, siapa pun orang dewasa yang berkunjung ke rumah kami, akan aku paksa untuk bercerita, tentu dengan berbagai trik, yang hingga kini beberapa darinya masih saya terapkan untuk kegiatan jurnalistik.

Selalu, jika ada tamu yang berasal dari luar kota, secara panjang lebar mereka akan menjelaskan tentang gagahnya harimau dan para pawangnya. Sejenis kebanggaan penduduk asli terhadap alamnya. Sehingga, adalah wajar jika rimau mendapatkan gelar "datuk'.

Tetapi, sejak empat tahun terakhir, terdapat "datuk" lain, yang bakal menyaingi hebatnya harimau. "Datuk Gedang", begitu istilah itu terungkap dari pembicaraan di desa-desa di Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo.

Bahasa tercipta karena kebiasaan. Membiasakan diri mengucapkan istilah "datuk gedang" berarti juga membuatnya meng-ada. Yah, men-sah-kan bahwa ia ada.

Bagi kasanah Melayu Jambi, marilah kita mempraktekan slogan local wisdom, "datuk" adalah jabatan tertinggi. Merunut pada budaya Minangkabau, yang sangat dekat kekerabatannya dengan Melayu Jambi, "datuk" adalah jabatan tertinggi di sebuah komunal. Tidak ada jabatan lain di atas itu.

Begitu juga dengan harimau yang telah di-datuk-an, tidak boleh digantikan dengan datuk datuk lainnya. Begitulah adat Melayu Jambi meng-istiadat-kan.

Memberi gelar "datuk gedang" bagi gajah sama artinya dengan mengangkangi kebijakan dan kebajikan Melayu Jambi. Terpikirkah anda ke arah sana? Sebab kini kita sedang mempraktekan local wisdom, bukan men-slogan-kannya.

Sebuah pertanyaan mendasar, dari mana asal binatang tambun itu? Ada yang bisa menjelaskan?

Jika, ia ada sejak dulu, tentu saja telah ada para pawang gajah di kabupaten tempat berdiamnya Sultan Thaha itu. Tetapi, bertanyalah pada penduduk lokal, siapa pawang gajah yang mereka kenal.

Lain hal dengan "datuk sebenar datuk", para harimau penjaga hutan, jelaslah mereka memiliki pawang. Pawang itu bertempat di sekitar desa yang memiliki hutan yang dijaga harimau, hampir di seluruh penjuru negeri Jambi.

Pawang, biasanya, sangatlah berhubungan dengan sesuatu yang metafisik. Tingkah mereka terkadang ganjil, dan dianggap tidak sama dengan penduduk pada umumnya.

"Ilmunya tinggi," begitu tutur penduduk. Ilmu, sesuai local wisdom, adalah keahlian yang tidak sejenis dengan bertani atau berkebun. Ilmu, adalah kekuatan untuk melakukan hal-hal yang bagi manusia modern disebut di luar nalar.

Adalah pawang hujan, seseorang yang bisa menggeser dan mengubah arah jatuhnya tetesan air hujan. Ini umumnya digunakan untuk perhelatan.

Begitu juga dengan pawang harimau. Sang pawang, setidaknya, dapat "menghalau" si datuk, jika datuk sedikit bergurau mengganggu penduduk.

Intinya, sang pawang akan membuat penduduk paham akan kesalahan yang telah mereka lakukan, disengaja atau tidak, secara adat yang berlaku.

Lalu, berbagai bentuk kegiatan dilakukan, ada pihak yang bisa menjelaskan lebih dari paparanku ini. Sehingga datuk tidak "nyagil" penduduk lagi.

Jadi, bukan menghalau dalam artian harfiah, seperti penduduk menghalau hewan kerbau, kambing atau bebek.

Terkait upaya menghalau gajah yang kini telah menjadi "hama" bagi penduduk di Sumay, beberapa orang berkata kepadaku, "Iya, jika itu bukan asli dari sana, persoalan saat ini adalah bagaimana mengusirnya?"

Lho, bagaimana aku harus merunut norma etika kebiasaan adat istiadat yang berlaku di sana? Tidak ada penduduk di sana yang paham cara itu. Sebab tidak pernah ada pawang gajah di sana. Can you hear that?

Lalu, "ini tentunya masalah kita bersama." For God shake's.

Ada satu kisah yang juga terkait dengan metafisika, jika bicara masalah gajah. Mani gajah. Tuturan orangtua, jika mereka mendapatkan mani gajah, maka mereka akan mendapatkan suatu keahlian terkait rayu-merayu wanita.

Lalu, ku tanyakan, "dimana menemukannya?"  Para orangtua biasanya menjawab, "di hutan, sangat jauh dari sini."

Tuturan mereka, mani gajah, adalah bertemunya sperma gajah jantan dan betina saat kawin. Tetapi, kata mereka lagi, "dak keruan bentuknyo," ketika menceritakan tata cara kawinnya gajah.

"Bumi bergetar. Banyak batang kayu rubuh," lanjut mereka lagi.

Setelah sesi kebirahian itu selesai, maka sperma yang bercampur itu, dikuburkan oleh gajah jantan. Menurut mereka, bentuknya seperti cairan air yang kental. Tetapi dibaluti gumpalan tanah.

Mereka tidak mau menjelaskan rahasia proses pemisahan antara cairan dan gumpalan tanah. Tetapi, hasilnya biasa dimasukan ke dalam tabung kaca kecil untuk sejenis parfum isi ulang yang kini tengah trend.

Lalu, tabung itu dibawa ke "orang pintar". Bukan, bukan guru atau dosen atau profesor, tetapi orang yang biasa terlibat dalam berbagai kegiatan metafisika.

Jampi-jampian dan, ehm, biasanya "mahar", maka tabung berisi mani gajah dapat dibawa pulang untuk segera dibuktikan khasiatnya. Tentunya, si orang pintar menambahkan, "ada hal-hal yang dipantangkan, yakni....."

Begitulah. Ayo, buatlah cerita sejenis, agar rakyat Jambi yakin bahwa gajah memang "datuk gedang" di Sumay. Sehingga bisa menjadi masalah kita bersama.

* Jurnalis TheJakartaPost dan anggota Majelis Etik (ME) AJI Kota Jamb.


Tag : #kearifan lokal #lingkungan



Berita Terbaru

 

Kamis, 19 September 2019 23:56 WIB

Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi


Fachrori Datangi DPC PDI Perjuangan, Ambil Formulir Cagub Jambi Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Fachrori Umar akhirnya mengambil formulir di PDI

 

Kamis, 19 September 2019 23:53 WIB

Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP


Melalui Timnya, Cek Endra Ambil Formulir Cagub Jambi di PDIP Kajanglako.com, Jambi - Tim dari Cek Endra akhirnya mendatangi Kantor DPD PDIP Provinsi Jambi,

 

Kamis, 19 September 2019 23:44 WIB

PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat


PETI di Arai Makan Korban, Satu Orang Tewas Tertimbun Longsor dan Satu Sekarat Kajanglako.com, Merangin - Aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

 

Kamis, 19 September 2019 23:32 WIB

Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21


Berkas Slamat Sitompul TSK Kasus Karhutla 2,7 Hektar di Sarolangun Akhirnya P.21 Kajanglako.com, Jambi - Slamat Situmpul (45) tersangka kasus Karhutla,

 

Kamis, 19 September 2019 23:19 WIB

Ditelpon Mahasiswa, Kapolda Jambi Langsung Turun Temui Pengunjuk Rasa


Ditelpon Mahasiswa, Kapolda Jambi Langsung Turun Temui Pengunjuk Rasa Kajanglako.com, Jambi - Puluhan mahasiswa Unbari Jambi yang melakukan aksi unjuk