Jumat, 05 Juni 2020


Sabtu, 27 April 2019 08:13 WIB

Ngalo Gedang

Reporter :
Kategori : Telusur

Oleh: Frieda Amran (Antropolog. Mukim di Belanda)

Dari jauh, tampak banyak perempuan bekerja di dekat hampir semua rumah. Mereka sibuk menjemur padi dan buah kopi atau melepaskan biji-biji kopi dari daging buahnya. Rambut mereka tampak tersisir rapi dan digelung di belakang kepala. Anting-anting perak tergantung di telinga. Anting-anting seperti ini serupa dengan perhiasan kuping yang biasa digunakan di Alahan Pandjang.



Sebagian besar perempuan itu mengenakan baju bermotif bunga-bunga. Akan tetapi, ketika mereka melihat kapal uap muncul, mereka segera menghentikan segala kegiatan dan tergesa-gesa menyelamatkan diri. Tentulah ketakutan akan orang-orang berkulit putih membuat mereka  berlarian seolah-olah sedang dikejar oleh seekor harimau buas.

Menjelang pk 14.00, mereka mulai dekat dengan dusun Ngalo Gedang. Seorang penghoeloe dusun itu menyongsong. Tampaknya ia agak was-was melihat kedatangan mereka. Dari mana datangnya tetamu ini? Mau ke mana? Mengapa anda datang tanpa membawa apa pun? Dan mengapa pula datang sendiri saja?

Para pemandu dan kuli-kuli yang membawa semua barang dan perbekalan memang sudah jauh tertinggal di belakang. Pakaian van Hasselt dan Veth yang terbuat dari bahan katun berwarna biru—seperti pakaian seragam yang acap dikenakan anggota militer Hindia-Belanda—membuat kepala adat itu yakin bahwa kedua peneliti itu merupakan tentara Belanda.

Setibanya mereka di batas dusun, penghoeloe itu menyuruh seorang anak lelaki untuk memberitahu Penghoeloe Kepala perihal kedatangan penjelajah-penjelajah asing itu. Untunglah peristiwa ini berakhir baik-baik saja karena Penghoeloe Kepala datang bersamaan dengan datangnya para pemandu. Kepala adat itu kemudian mempersilakan tetamunya untuk masuk ke dalam dusunnya. Di dalam rumah negari, tersedia kopi dan kekuehan yang membangkitkan selera setelah perjalanan jauh. Sayangnya, ‘sipoeloet’ yang disajikan tampaknya sudah agak tua dan di permukaannya berjamur.

Tak lama kemudian, para kuli tiba. Setelah beristirahat, mereka diperintahkan untuk meneruskan perjalanan ke Moeara Ajer. Sang Penghoeloe Kepala tampak agak kecewa bahwa mereka tidak akan menginap di negarinya. Kekecewaan itu tidak mengherankan mengingat bahwa hidup sehari-hari lelaki itu pastilah membosankan. Tetapi, apa boleh buat. Keesokan harinya, perjalanan yang panjang masih menunggu.

Penghoeloe Kepala dan beberapa warganya mengantar mereka sampai ke perbatasan. Di jalan, lelaki itu bercerita bahwa setiap bulan ia menerima ‘persen-kopi’ sebanyak ƒ30,- per bulan. Persen-kopi merupakan uang komisi yang diberikan oleh pemerintah Hindia-Belanda kepada para kepala adat sebagai insentif untuk pikul-pikul kopi yang diserahkan oleh warga mereka ke gudang-gudang Hindia-Belanda. Uang itu dibayarkan setiap tiga bulan sekali (di daerah Dataran Tinggi Padang, uang ini dibayarkan dua kali setahun—enam bulan sekali).

Di sini, seperti juga halnya di tempat-tempat lain, beberapa semak terkena penyakit jamur daun. Perlu dicatat, bahwa penduduk di daerah ini membuat minuman kopi dari buah pohon itu. Ini berbeda dengan penduduk di daerah Dataran Tinggi yang membuat minuman kopi dari daun kopi. Kopi yang disuguhkan untuk para penjelajah tim ekspedisi itu pun dibuat dengan menyeduh buah kopi.

Beberapa bulan sebelumnya, warga dusun itu sudah memanen padinya. Kini, mereka sibuk mengairi sawah-sawahnya untuk masa tanam berikutnya. Di lembah Ngalo Gedang, bila padi yang ditanam mulai menguning, sawah-sawah itu dikeringkan. Hal ini tidak dilakukan di Alahan Pandjang. Di sana, sawah-sawah itu selalu diairi. Kemungkinan besar hal ini dilakukan karena orang beranggapan bahwa hal itu akan meningkatkan produksi karena di daerah-daerah tinggi yang dingin, biasanya tak banyak padi yang dihasilkan. Walau diberi pupuk, panen padi itu tidak lebih dari 30 kali bibit yang disemai.

Saat itu musim layang-layang. Di sawah-sawah di dekat dusun, tampak banyak anak laki-laki bermain laying-layang. Layang-layang itu dibuat dari lidi daun kelapa dengan sehelai kertas yang dipasang di lidi-lidi. Di langit, laying-layang itu tampak seperti burung elang (karena itu, van Hasselt mengira mainan itu disebut ‘alang-alang’). Layang-layang di daerah ini berbeda dengan layang-layang Belanda yang berbentuk seperti hati. Pun, tali yang biasanya terjuntai di ujung bawah laying-layang Belanda, tak ada.

Jalan yang kini ditelusuri mengikuti aliran air dan ganti-berganti melewati kebun-kebun kopi dan sawah. Ngalo Gedang—yang menginspirasi nama negari dan sungai di dekatnya—merupakan lubang dangkal di dalam sebuah balok kapur besar di tepian sungai dekat negari itu. Saking dangkalnya, lubang itu sebetulnya bukanlah gua.

Di antara Moeara Ajer dan negari yang baru saja ditinggalkan, hanya ada dusun Pantjong Tabal. Dusun ini terdapat di daerah lembah yang agak melebar dan dikelilingi oleh persawahan di kiri-kanan sungai. Di dusun itu, banyak rumah yang kokoh dan bagus serta sebuah surau yang bangunan berukir dan dicat dengan warna-warna yang cantik. Di atas pintunya, tertulis ayat dari Al-Quran. Sebuah mesjid terdapat di tepian kiri. Pepohonan kelapa--yang menyerupai hutan—mengeliling dusun itu. Buahnya belum banyak.

Dalam perjalanan, rombongan van Hasselt dan  Veth banyak bertemu dengan orang-orang—lelaki, perempuan dan anak-anak, yang baru pulang dari pasar di Asam Koembang. Mereka membawa pulang kelapa dari pasar itu. Asam Koembang, ibu kota daerah itu, tidak jauh letaknya dari Moeara Ajer.

*Acuan Kepustakaan: PJ Veth. Reizen en Onderzoekingen der Sumatra-Expeditie, uitgerust door het Aardrijkskundig Genootschap, 1877-1879 . Jilid II. Leiden: EJ Brill. 1882.


Tag : #jambi #ekspedisi sumatra tengah 1877 #naskah klasik belanda



Berita Terbaru

 

Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Jumat, 05 Juni 2020 06:59 WIB

Merawat Keragaman Budaya, Melindungi Keanekaragaman Hayati


Oleh: Ali Yansyah Abdurrahim* Setiap 5 Juni, segenap warga dunia merayakan Hari Lingkungan Hidup [1]. Peringatan ini dilakukan sejak tahun 1974 sebagai

 

Kamis, 04 Juni 2020 21:07 WIB

Ruas Jalan di Tebo Lonsor, Fachrori: Segera Kita Perbaiki


Kajanglako.com, Tebo - Usai menyalurkan bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Covid-19 kepada masyarakat Kabupaten Bungo dan Kabupaten Tebo, Gubernur Jambi,

 

Kamis, 04 Juni 2020 20:53 WIB

Lagi, Gubernur salurkan Bantuan JPS Covid-19 di Tebo


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi H Fachrori Umar menyampaikan, bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) merupakan kebijakan dari Pemerintah Provinsi

 

Kamis, 04 Juni 2020 19:50 WIB

Fachrori Salurkan JPS Covid-19 di Bungo


Kajanglako.com, Bungo - Gubernur Jambi H Fachrori Umar menyampaikan, Jaring Pengaman Sosial (JPS) merupakan salah Satu upaya dan bentuk kontribusi nyata

 

Kamis, 04 Juni 2020 15:53 WIB

Gubernur Salurkan Bantuan JPS Covid-19 di Sungai Penuh


Kajanglako.com, Jambi - Gubernur Jambi Dr H Fachrori Umar, selaku Ketua Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jambi menyalurkan Jaring Pengaman Sosial Covid-19